
Hujan mengguyur hutan hari itu.
Tapi hanya tubuh Shein lan yang basah akan air hujan.
Sedangkan tubuh Shenna tetap terlindungi akan dekapan dari tangan Shein.
Deras nya hujan membuat Shein berangsur angsur kembali mendapatkan kesadaran nya.
"Putri !", seruan lirih Shein yang terus mengkhawatirkan keselamatan Shenna, bahkan saat kondisi tubuh nya yang amat sangat lemah.
Demi melindungi Shenna dari deras nya hujan.
Shein tetap terdiam di tempat nya sampai hujan benar benar berhenti.
_______
"Shein ?", ucap lirih Shenna mencoba terbangun dari pingsan nya yang terbilang cukup lama.
"Diam dulu putri", seru Shein nampak sibuk mengobati tangan Shenna yang terluka saat terpental dari bahu Shein.
Sontak Shenna berdiri dan memarahi Shein.
"Kau mengobati luka ku yang kecil ini ?, bagaimana dengan punggung mu yang tertembus panah itu !, dan lihatlah tubuh mu !, basah kuyup !, tapi lihat tubuh ku !, tak basah sedikitpun", teriak Shenna membuat Shein tercengang.
"Biar aku obati luka mu", seru Shenna bergegas membersihkan luka Shein dan mengobati nya dengan ilmu sihir peri nya.
"Tapi tenaga mu bisa habis putri", ucap Shein.
"Sudah !, diam lah !, sentak Shenna sembari sibuk menyiapkan beberapa dedaunan dan meramu nya sebagai obat.
Shein hanya terdiam melihat Shenna yang sangat mengkhawatirkan nya.
"Pasti kau sedang berfikir bahwa aku ternyata mengkhawatirkan mu bukan ?", seru Shenna membuat Shein menunduk.
"Biar ku beritahu padamu !, yang kau lihat itu cinta Shein, sama seperti mu yang tanpa sengaja mengkhawatirkan ku dan melindungi ku bagaimana pun kondisi nya, bahkan sekeras apapun kau menolak kenyataan itu", ucap Shenna membuat pipi Shein memerah.
"Lupakan putri", seru Shein memalingkan wajah nya.
"Baiklah !, tapi kali ini ikuti semua rencana ku !, kita akan kembali pulang ke wilayah peri Maxim, dan setelah itu terserah kau mau berbuat apa", seru Shenna berharap Shein menyetujui rencana nya.
"Baiklah", ucap Shein meringis kesakitan.
Aku berharap kau mengerti arti semua ini sebelum kita sampai di hutan Maxim Shein, gumam Shenna dalam hati begitu tenggelam akan cinta nya pada Shein.
Setelah mengobati kedua luka tubuh Shein, Shenna bergegas membuat api unggun dan memasak.
Sontak Shein bangkit dari duduk nya dan berniat mencari buah dan sayuran sayuran.
"Eits !, duduk !", sentak Shenna membuat Shein tak berani menjawab nya.
"Aku yang akan memasak dan aku pula yang akan mencari bahan nya, kau duduk lah diam di sana !", seru Shenna sembari berkacak pinggang di hadapan Shein.
"Tapi, aku masih kuat putri", ucap lirih Shein.
"Kau mau berjalan jauh dengan punggung seperti itu ?, lihatlah ini !, aku bahkan bisa menumbuhkan buah dengan cepat di pohon yang ku mau", sentak Shenna bersikeras.
"Baiklah, ku akui memang kau yang terbaik putri", seru Shein tersenyum kecil melihat bentuk perhatian Shenna pada nya.
Membuat Shein langsung tertawa di buat nya.
"Baiklah, baiklah, bisa lepas penutup luka ku jika aku terus tertawa karna mu putri", seru Shein.
"Pastikan kau diam di situ !, aku akan butuh bahu mu nanti saat kita melanjutkan perjalanan pulang", ucap Shenna bergegas mencari bahan untuk memasak.
"Siap putri", seru Shein terus memandang peri yang ia cintai tanpa berani mengakui nya.
"Andai saja dewa menciptakan ku menjadi bagian kaum peri, bukan Troll buruk rupa yang ditakuti dan di hina oleh semua ras seperti ini", keluh Shein menatap langit.
Sore itu, awalnya Shein menurut dengan rencana Shenna dan terus melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.
Mereka menempuh jalur berbeda dengan jalan mereka yang lama.
Berulang kali Rot berhasil mendapatkan mereka.
Tapi berulang kali pula mereka bisa melarikan diri dari Rot dan kawanan nya.
"Kenapa dia sangat berambisi sekali menangkap kita ?", keluh Shenna masih mencoba mengatur nafas nya yang tak karuan.
"Dia ingin menaikkan derajat bangsa Troll", ucap Shein kembali mencari jalan yang tak mungkin bisa di tebak oleh Rot dan Ken.
Ucapan Shein membuat Shenna mengerti pokok permasalahan awal nya, dan alasan kenapa ia bisa di culik dari wilayah nya sendiri.
Keterlaluan !, aku akan bongkar kebusukan kedua Troll itu di hadapan ayahanda dan semua nya.
Sementara Rot dan Ken sedang kebingungan menebak jalan mana yang bisa menuntun nya ke tempat Shein berada.
"Sial !, kenapa mereka sulit sekali di tangkap !, selalu tinggal selangkah saja aku bisa mencengkram mereka !", keluh Rot kesal.
"Mereka terlalu licik Rot, terlebih peri itu", seru Ken.
"Jika aku benar, seperti nya mereka mencoba untuk kembali ke hutan Maxim", seru Rot.
"Gawat jika mereka sampai lebih dulu dan menceritakan semua nya Rot", seru Ken mulai gelisah.
"Oke kalau begitu, kita rubah rencana kita", ucap Rot dengan senyum licik nya.
"Maksud mu ?, kita menyerah begitu ?", seru Ken menebak.
"Bodoh !", sentak Rot mencekik Ken seketika.
Membuat Ken menunduk ketakutan.
"Kita akan mendahului mereka memasuki hutan Maxim, kita akan sebarkan Fitnah yang lebih kejam dan lebih buruk lagi tentang mereka", ucap Rot.
"Lalu ?", seru Ken.
"Kita tunggu hasil nya, saat mereka datang, jadi apa mereka nanti saat menghadapi dua kaum yang mengamuk sekaligus", seru Rot tertawa hingga terdengar jauh ke gendang telinga Shein.
"Ada apa Shein ?", tanya Shenna saat Shein menghentikan langkah nya.
"Tidak ada putri, kita lanjutkan saja perjalanan kita", ucap Shein tak mau membuat Shenna kembali khawatir.