Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 20.



"Aku tak menyangka akan melihat hal buruk itu di sini," keluh Ratu Faya sembari menabur bunga di depan gerbang masuk pohon suci selang satu purnama kematian sang dayang.


Ia mulai mengingat kedamaian di sekeliling pohon suci saat diri nya masih kecil.


Pohon yang selalu ramai akan banyak peri yang berkunjung dan berdoa di sana.


Masa dimana ras peri murni dan campuran masih rukun satu sama lain nya.


"Kini bahkan aku tak bisa menyentuh pohon itu, kami telah di kutuk oleh ibu dan bapa Shein karna dosa besar kaum kami, aku mewakili nama ras peri campuran memohon maaf atas kesalahan besar yang telah kami perbuat," ucap Ratu Faya dengan penuh ketidakberdayaan.


Dari kejauhan, nampak pangeran Rot menatap Ratu Faya dengan seksama.


"Dia memang cantik, aku bisa memanfaatkan tubuh kecil ku ini untuk mendekati nya," ucap pangeran Rot telah benar benar jatuh hati pada nya.


Tak membuang buang waktu lagi, pangeran Rot segera berjalan mendekati Ratu Faya dan memegang bahu nya.


Membuat Ratu Faya begitu terkejut saat melihat sang putra bisa sampai di tempat sejauh itu.


"Pangeran!, dengan siapa kau kemari?," seru Ratu Faya begitu risau.


Pasal nya, begitu mustahil bagi anak seumuran Pangeran sampai bisa mengikuti nya sejauh itu tanpa ia ketahui.


"Aku bersama paman Max ibunda, jangan khawatir," ucap pangeran Rot membuat Ratu Faya begitu heran dengan alasan nya.


"Tapi, dimana dia?," tanya Ratu Faya semakin heran, tak biasa nya peri Max tak menampakkan diri secara langung di hadapan nya.


Prajurit itu begitu suka mencari muka di hadapan ku dan Raja, kenapa kali ini ia tidak membanggakan diri nya?, ah sudahlah, batin Ratu Faya mencoba menepis rasa curiga nya.


"Baiklah, katakan pada ibunda, kenapa kau bisa sampai ke sini?," tanya Ratu Faya begitu penasaran.


"Aku rindu ibunda," ucap pangeran Rot segera memeluk Ratu Faya dengan begitu erat nya.


"Ibunda hanya pergi sehari saja pangeran, kenapa kau begitu aneh begitu?, seakan ibunda akan pergi jauh meninggalkan mu," ucap Ratu Faya mengelus lembut kepala sang pangeran.


"Tidak bolehkah aku rindu pada ibu ku sendiri?," ucap pangeran sembari mencium kedua pipi Ratu Faya.


Mendapat kecupan dari sang pangeran, Ratu Faya begitu senang karna pangeran adalah putra kandung nya, dan arti dari ciuman itu tak lebih adalah rasa kasih sayang antara ibu dan anak.


Tanpa ia tahu jati diri sebenar nya dari pangeran Rot saat itu.


Jika waktu nya sudah tepat, aku akan rubah wujud ku ini Ratu ku, dan aku akan menggantikan Raja Zio di samping mu, batin pangeran Rot kembali memeluk Ratu Faya dengan erat nya.


"Salam Ratu," seru sebuah suara membuyarkan angan angan indah pangeran Rot.


"Shenna?, Shein?, sedang apa kalian di sini?," seru Ratu Faya begitu membuat pangeran Rot jengkel.


Ratu Faya segera melepaskan pelukan pangeran Rot dari tubuh nya dan bergegas mendekat ke arah Shein dan Shenna.


Mereka lagi, batin pangeran Rot kesal.


"Kami di perintahkan ibu dan ayah untuk menabur bunga di sini Ratu," ucap Shenna membuat Ratu Faya bersyukur bahwa masih banyak peri berhati baik di kerajaan nya.


"Terima kasih," ucap Ratu Faya bahagia, setidak nya bukan hanya dia yang perduli akan nasib tak beruntung dayang nya itu.


Namun tidak dengan pangeran Rot.


Kini tatapan nya begitu tajam menatap Shein dan Shenna di hadapan nya.


"Ayo kita pulang ibunda," ucap pangeran Rot menarik tangan Ratu Faya.


"Kenapa terburu buru pangeran?, bermainlah dulu bersama kami," ucap Shein bersikap se ramah mungkin.


Namun kenyataan nya di hati ketiga nya sama sama bergejolak rasa ingin memberikan sebuah pelajaran kepada satu sama lain.


"Jangan pernah coba coba mengenal ku!, atau kalian akan berakhir dengan buruk!," sentak pangeran Rot tak bisa lagi menahan amarah nya.


Membuat Ratu Faya begitu terkejut dengan sikap kasar sang pangeran akhir akhir ini.


"Pangeran!, jaga sikap mu!. Shein, Shenna kami pamit dulu ya, maafkan atas ucapan pangeran," ucap Ratu Faya segera berjalan menuju tandu nya.


Ia tak mau sang putra hilang kendali di tempat itu.


Sementara di kejauhan, Troll Fos telah mengamati semua nya sejak awal.


"Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat, aku harus segera melaporkan ini pada tetua," ucap Troll Fos segera bergegas kembali ke kawasan kaum Troll nya.


-----


Selama perjalanan pulang sampai tiba di istana, pangeran Rot terus saja diam tanpa berucap apapun juga.


"Pangeran?, apa kau mau ke kediaman ibunda?," tanya Ratu Faya membujuk.


Namun suasana hati pangeran Rot sedang tak baik saat itu.


Karna itu, ia langsung menolak ajakan Ratu Faya saat itu.


"Aku lelah, aku akan beristirahat di kamar ku ibunda," ucap pangeran Rot sembari meneruskan langkah kaki nya menuju kamar nya.


Saat Ratu Faya melewati halaman belakang istana.


Tak sengaja ia melihat peri Max sedang berlatih pedang di sana.


"Prajurit?, kau sudah pulang?," tanya Ratu Faya membuat peri Max begitu keheranan.


Mungkin maksud Ratu, kepulangan ku dari patroli kerajaan, batin peri Max.


"Sudah Ratu, baru saja," sahut peri Max menghentikan gerakan pedang nya.


"Maaf jika kami tak pamit dahulu pada mu, karna aku tak bisa menemukan mu di mana pun," ucap Ratu Faya membuat peri Max semakin keheranan.


"Maaf Ratu. kami?, dan kenapa harus berpamitan kepada ku?," seru peri Max bingung.


Sejenak Ratu Faya terdiam, ia mulai merasa ada yang tak beres dengan pangeran dan istana nya.


"Kau tidak pergi ke pohon suci?," tanya Ratu Faya penasaran.


"Tidak, aku sejak pagi mengontrol keamanan desa, memang nya ada apa Ratu?," tanya peri Max masih tak mengerti.


"Ah, lupakan, aku mungkin hanya salah melihat seseorang yang mirip dengan mu," ucap Ratu Faya mencoba mengarang sebuah alasan sembari kembali berjalan menuju ke kediaman nya dengan penuh tanda tanya yang bergejolak di hati nya.


Lalu, apakah pangeran berbohong pada ku?, dan mustahil putra ku yang masih kecil itu bisa sampai di sana sendirian, batin Ratu Faya mempercepat langkah kaki nya.