Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 14.



"Ayo, majulah!," seru pangeran Rot menantang.


"Baik, tapi pangeran jangan menangis jika kalah nanti nya ya," seru Shenna membuat sang Raja mendengus pelan.


"Dasar!, anak rendahan!," keluh Raja Zio berkacak pinggang.


"Jika kau kalah, apa yang akan aku dapatkan?," tantang pangeran Rot sembari mulai memainkan pedang nya.


"Apa yang pangeran minta?," ucap Shein balik menantang.


Sembari pedang mereka mulai beradu pelan, pangeran Rot mencoba memikirkan cara untuk memberi pelajaran Shein dan Shenna yang berani menantang nya.


"Ucapkan saja pangeran?, agar mereka berfikir ribuan kali untuk bermain main dengan kita," seru peri Max dari kejauhan.


"Paman, ini urusan antara anak anak, apa paman tidak malu ikut campur?," seru Shein membuat peri Max merasa terhina saat itu.


"Dasar!," seru peri Max mencoba mendekat ke arah Shein.


"Hentikan Max!, biarkan anak ku menyelesaikan masalah kecil ini," ucap Raja Zio menghadang jalan peri Max.


"Sesuai perintah Raja ku," sahut peri Max mencoba meredam amarah nya.


"Jika aku menang, kau harus menjadi budak ku selama satu purnama. Melayani setiap perintah ku, apapun itu, termasuk menyerahkan nyawa kalian!," seru pangeran Rot mulai mempercepat gerakan pedang nya.


"Lalu, apa yang akan kita dapatkan jika kita menang?," tanya Shenna.


"Apapun yang kalian mau," sahut pangeran Rot yakin akan menang dalam pertarungan itu.


"Tunjukkan semua yang di ajarkan paman Max pada mu pangeran, aku ingin tahu, seberapa keras kamu belajar di hutan hari ini," ucap Shenna semakin membuat pangeran Rot merasa tertantang.


"Wah!, hebat juga ilmu pedang pangeran," ucap Shenna membuat pangeran Rot tersenyum dengan sombong nya.


"Kalian kira kalian sedang berhadapan dengan siapa?," seru pangeran Rot dengan percaya diri terus melakukan serangan demi serangan ke arah Shein dan Shenna.


Semakin lama, pertarungan itu seakan lebih unggul di kubu pangeran Rot.


Shein dan Shenna terus saja menepis serangan pangeran tanpa sekalipun melakukan serangan balik.


Shein dan Shenna juga nampak kelelahan dan terus berjalan mundur saat serangan demi serangan pangeran Rot terus di berikan kepada mereka.


"Lihatlah putra ku!, dia begitu hebat!, luar biasa!," seru Raja Zio begitu bangga melihat pertempuran sang putra walaupun hanya dengan sebuah pedang mainan.


Dari arah gerbang aula, nampak Ratu Faya dan peri Priya tergopoh gopoh berlari memasuki aula singgasana.


Mereka begitu terkejut saat melihat pertarungan yang terjadi antara anak anak mereka.


"Apa ini Raja!. Pangeran!, hentikan semua ini!," sentak Ratu Faya seketika.


"Kenapa ibunda?, mereka lah yang menantang ku lebih dulu, jadi aku harus beri pelajaran atas kelancangan mereka," sahut pangeran Rot terus menerus menyerang Shein dan Shenna tanpa henti.


"Pangeran!, apa kau tak mendengar perintah ibunda!," seru Ratu Faya namun tak di hiraukan oleh sang putra.


"Stt!, bisa tidak kau diam dan lihat saja!," sentak Raja Zio.


"Pangeran, apa tenaga mu masih banyak?," ucap Shein membuat sang pangeran tersenyum licik ke arah nya.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita buat ini semakin seru," ucap Shenna tiba tiba kembali bugar penuh tenaga dan semangat.


Membuat semua yang ada di sana merasa terkejut di buat nya.


"A-apa ini?," seru pangeran Rot dalam sekejap di buat kewalahan oleh serangan kedua lawan nya itu.


"Kenapa mereka kini jadi lebih unggul ketimbang pangeran?. Max!, cepat bantu putra ku," titah Raja Zio.


"Ini tak adil Raja," ucap peri Bin.


"Apa yang tidak adil!, sejak awal mereka juga telah bertanding dua lawan satu, jadi apa salah nya jika Max membantu!," seru Raja Zio membuat peri Bin tak berucap apapun lagi.


"Nak, hentikan pertarungan ini!," seru peri Priya mencoba melerai.


"Sebentar lagi ibu, oke!," ucap Shein membuat kedua wanita itu semakin gelisah.


Kali ini, pertarungan menjadi dua lawan dua.


Namun dengan kemahiran bermain pedang serta ilmu perang yang di miliki peri Max, itu masih belum bisa mengimbangi permainan pedang dari Shein dan Shenna.


"Bagaimana pangeran?, kau sudah menyerang kami bertubi tubi, kini giliran kami yang menyerang," seru Shenna dengan senyum meledek.


"Dasar!," seru pangeran Rot semakin marah saat merasa jika ia akan kalah dalam pertarungan itu.


"Sebaiknya kalian menyerah!," sentak peri Max mencoba menggertak Shein dan Shenna.


"Paman saja yang pergi sana!," seru Shein tanpa rasa takut.


Pertarungan mereka terus berlangsung cukup lama, hingga akhir nya pangeran Rot dan peri Max nampak kehabisan tenaga.


Dan akhir nya, satu serangan terakhir dari Shein dan Shenna mampu membuat pangeran Rot dan peri Max jatuh tersungkur.


"Pangeran!," seru Ratu Faya mencoba mendekat dan memeriksa kondisi sang putra.


"Shein!, Shenna!, apa apa an ini semua!," keluh peri Priya mencubit telinga Shein dan Shenna.


"Ampun ibu!, awal nya kami hanya mau berkenalan dan bermain," ucap Shein dengan wajah menyesal yang nampak di buat buat.


"Kalian!, enyah dari istana ku ini!," sentak Raja Zio murka.


"Kami akan pergi tanpa Raja usir," sahut peri Priya menatap tak suka kepada Raja Zio.


"Lalu bagaimana dengan janji pangeran ibu?," tanya Shenna tanpa rasa takut.


"Sudahlah!, lupakan itu!," sahut peri Priya membungkam Shein dan Shenna seketika.


"Maafkan kelancangan anak anak ku Ratu, terima kasih atas semua nya. Kami mohon pamit," ucap peri Priya menunduk hormat dan segera pergi dari tempat itu secepat yang ia bisa.


"Apa sakit sayang?," tanya Ratu Faya khawatir.


"Aku tak apa ibunda!," ketus pangeran Rot marah sembari berlalu pergi menuju ke kamar nya.


Aku harus cari tahu tentang kedua anak itu!, batin pangeran Rot kesal.