
"Tunggu Sean!," seru pangeran Rot seketika menghentikan langkah kaki Sean.
Dengan perlahan, Troll Sean mencoba berbalik badan dan mencoba menatap kedatangan ayah nya itu meskipun hanya samar yang bisa ia lihat.
"Kebetulan ayah kesini, aku mau meluruskan sesuatu dengan mu," seru Troll Sean mencoba mengontrol emosi nya sampai ia tahu apa yang sebenar nya terjadi .
"Tentang laporan kaki tangan mu itu?," tanya pangeran Rot sembari menatap tajam ke arah Troll Foz.
Tanpa Troll Foz ketahui, pangeran Rot lebih cerdik berkali kali lipat dari nya.
Pangeran sudah tahu bahwa Troll Foz mengikuti nya saat berkunjung ke pohon suci beberapa saat yang lalu, namun ia memilih diam dan mencoba mengikuti rencana mereka.
"Bagaiman ayah tahu?, dan katakan pada ku, kabar itu tidak benar bukan?," seru Troll Sean begitu berharap semua itu adalah sebuah ke salah pahaman Troll Foz saja.
"Memang nya siapa yang kalian sedang mata matai, hah!, Aku Troll Rot!, Troll yang paling unggul dalam hal berburu dan mendengus keberadaan musuh," seru pangeran Rot membuat Troll Foz langsung menundukkan pandangan nya.
"Kau melaporkan hal palsu pada ku!, hah!," sentak Troll Sean menatap marah ke arah Troll Foz.
"M- maaf Tetua, tapi itulah yang benar benar saya lihat," sahut Troll Foz begitu takut nyawa nya tak akan selamat hari itu.
"Aku tidak berkata laporan nya itu salah Sean, aku hanya bilang aku tahu saat ia mengikuti ku" seru Pangeran Rot membuat Troll Sean kembali tercengang di buat nya.
"Apa maksud ayah?, jangan membuat aku bingung," keluh Troll Sean masih berharap semua itu tidak benar.
"Dia tak melakukan kesalahan apapun Sean, yang di katakan nya itu benar, aku memang menyukai seseorang saat ini," ucap pangeran Rot seketika membuat Troll Sean kembali marah.
"Itu tidak boleh terjadi ayah!," teriak Troll Sean naik pitan.
Ia begitu sakit mendengar kebenaran itu dari mulut ayah nya sendiri.
Terlebih saat ia mengingat betapa ibu nya begitu mencintai ayah nya, bahkan ibu nya mati dengan keadaan bersedih karna telah kehilangan suami nya saat itu.
"Ini hidup ku Sean, kenapa kau mau merusak kebahagiaan hidup ku?," seru pangeran Rot tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Jangan pernah melupakan kalau kau bisa hidup kembali karna diri ku ayah!," seru Troll Sean semakin tak terima.
Karna begitu marah nya, Troll Sean sampai memukul gubuk nya dengan begitu keras sampai gubuk itu ambruk dan hancur seketika.
Mendengar amukan Troll Sean, pangeran Rot malah tertawa dengan kencang nya.
Ia berharap ayah nya mengerti akan rasa sakit di hati nya.
Rasa lelah berkorban demi melihat sang ayah bisa hidup kembali seperti sekarang ini.
Dengan harapan, sang ayah mau meneruskan usaha nya terdahulu untuk meluluhlantahkan ras kaum peri dan mengangkat derajat kaum ras Troll di mata dunia.
"Justru aku sangat berterima kasih pada mu Sean, karna jika tidak ada kerja keras mu selama ini, aku tidak akan bisa melihat dunia indah ini lagi, tapi.....," ucap pangeran Rot dengan jiwa Troll Rot di dalam nya.
"Tapi apa?, cepat katakan!," sentak Troll Sean seketika itu juga.
"Tapi kau bukanlah anak kandung ku, jadi kenapa aku harus mengikuti perintah mu," seru pangeran Rot membuat Troll Sean seakan kehilangan kekuatan nya seketika itu juga.
"Bohong!, kau bicara seperti itu karna kau sudah terlena akan wanita itu bukan!," teriak Troll Sean mengguncang seisi hutan hingga membuat para kawanan Troll nya yang lain hanya bisa diam menatap nya.
"Sean, Sean. Saat aku bertemu ibu mu, dia sudah mengandung diri mu, jadi aku meninggalkan nya saat aku sudah merasa puas dengan nya," ucap pangeran Rot sembari tertawa terbahak bahak.
Mendengar itu semua, amarah Sean kian memuncak.
Kini bahkan tidak ada alasan aku harus hormat pada nya lagi, batin Troll mendengus pelan.
"Jadi aku katakan pada mu!, jangan pernah sekali kali mengatur hidup ku lagi, tugas mu sudah selesai, jika kau masih mengusik ku, aku akan buat perhitungan dengan kalian walaupun kalian adalah kaum ku sendiri," ancam pangeran Rot bergegas pergi dari sana dengan begitu cepat nya hingga tak terlihat lagi di pandangan semua Troll yang menatap nya.
Kini semua Troll hanya bisa memandang iba kepada sosok Tetua mereka.
Mereka begitu paham bagaimana perjuangan Troll Sean hingga ke titik ini.
Perlahan mereka mendekat kembali ke arah Tetua mereka.
Seakan mereka dengan lapang dada menerima Troll Sean lagi sebagai bagian dari mereka.
Amarah mereka langsung mereka lupakan saat itu juga.
"Bersabarlah Tetua, kami juga merasakan rasa sakit yang kau rasakan, itulah kenapa kami sempat marah saat kau membangkitkan dia yang licik itu, kami akan berjanji, kami akan membantu mu meluluhlantahkan ras peri di depan mata nya itu dan menunjukkan kekuatan terbesar kita, agar tak ada lagi yang meremehkan kita. Kau benar Tetua, ras peri memang tak pantas di kasihani," ucap Troll Yun mencoba meredam rasa sakit di hati Tetua mereka.
Sedangkan Troll Sean yang begitu terpukul saat itu, memilih pergi menyendiri tanpa berucap apapun juga.