Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 10.



"Maafkan hamba Raja, sang peramal itu terlalu licik untuk hambat tangkap," keluh peri Max sembari memegangi bahu nya yang berdarah.


"Sudah, sudah!, lupakan itu. Sekarang coba jelaskan kenapa bahu mu sampai berdarah seperti itu?, apa yang sudah di lakukan wanita itu pada mu?," seru Raja Zio lebih khawatir dengan keadaan abdi setia nya itu.


"Raja bilang lupakan?, bagaimana dengan nasib anak kita?," seru Ratu Faya tak terima.


"Pangeran akan baik baik saja Ratu, peramal itu hanya penyamun, ramalan milik nya semua bohong, lebih baik pangeran tidak dekat dekat dengan nya, atau hamba khawatir dia akan melukai pangeran juga," sahut peri Max dengan mudah nya mencoba menghasut Raja dan Ratu peri.


"Diam kau!, jangan menyela pembicaraan kami!," sentak Ratu Faya yang sedari awal memang tak suka pada peri Max yang selalu mengatur semua nya.


"Kau yang diam!, kau tak lihat dengan apa yang sudah dilakukan penipu itu pada prajurit ku!," sentak Raja Zio membuat Ratu Faya merasa tak dihargai lagi dan memilih pergi dari hadapan mereka.


Melihat semua itu, peri Max tersenyum puas sembari menatap luka di bahu nya.


Kecerdasan ku tak bisa diragukan lagi, batin peri Max senang.


Sementara peri Bin hanya bisa diam menatap semua ketidakbenaran yang dilakukan sahabat nya itu.


Tak berguna!, Jika aku mati di tangan nya pun itu tidak masalah bagi diri ku kali ini, tapi jika dia mengancam nyawa anak dan istri ku aku bisa apa, batin peri Bin memaki diri nya sendiri.


Beberapa saat kemudian, tabib kerajaan datang menghadap Raja Zio.


Saat sang tabib melewati peri Max, sontak peri Max berubah tegang dan berkeringat.


"Kau tak apa?, apa luka mu itu masih sakit?," tanya peri Bin heran.


Namun peri Max tetap diam dan terus menatap kantong yang sedang di bawa oleh sang tabib.


"Tabib?, apa gerangan yang membawa mu kemari?," tanya sang Raja penasaran.


"Salam Raja, hamba kesini ingin menyampaikan hasil akan serbuk ini," ucap sang tabib.


"Kau sudah mengetahui apa itu?, dan sudahkah kau mencari penawarnya untuk para prajurit ku yang masih tertidur?," tanya sang Raja tak sabar.


"Serbuk ini adalah serbuk bunga dresia Raja ku," sahut sang tabib membuat Raja Zio tercengang.


"Serbuk bunga dresia?," ucap peri Bin mencoba mengingat nya.


"Mustahil!," sentak Raja Zio membuat sang tabib ketakutan.


"Benar Raja ku, ini adalah serbuk dari bangsa Troll, dan orang yang terkena serbuk ini akan bangun dengan sendiri nya dalam beberapa hari ke depan," seru sang tabib membuat peri Bin kembali menatap ke arah peri Max.


"Kau meninggalkan bukti sepenting itu Max, bagaimana jika kita ketahuan?," bisik peri Bin syok.


"Jika kau tutup mulut, semua akan baik baik saja," ucap lirih peri Max.


"Max!, Bin!," seru Raja Zio langsung membuat kedua nya terkejut.


"Kami Raja ku," sahut peri Max dan Bin bersamaan.


"Kalian dengar kan ucapan tabib, kaum Troll mulai mengusik kerajaan kita lagi, dan kemungkinan dia memiliki orang dalam di kerajaan ini, jadi tugas kalian, cari mata mata itu sampai dapat!," perintah Raja Zio.


"Sesuai perintah Raja ku," sahut peri Max serta Bin bergegas pergi dari hadapan Raja Zio


-------


"Pangeran, angkat dagu mu ke atas, kau tak boleh menunduk pada siapa pun," ucap Raja Zio pada putra semata wayang nya.


Namun karna usia pangeran yang masih terlalu kecil, ia hanya mengerti akan bermain dan berlari.


"Pangeran!, kau mendengar ucapan ku!," sentak Raja Zio membuat pangeran Rot menangis.


"Kenapa kau sangat lemah sekali!," sentak Raja Zio lagi dan lagi.


"Hentikan!, jangan berani berani Raja menyentuh putra ku," seru Ratu Faya menepis tangan sang Raja yang hampir memukul pangeran.


"Berani kau sekarang!, hah!," sentak Raja Zio menghimpit tubuh Ratu Faya ke sebuah pohon dengan sekali gerakan.


"Kenapa aku harus takut, aku yang mengandung nya, aku lah ibu nya, kau sebagai ayah nya hanya bisa memarahi nya dan hanya bisa menuruti setiap ucapan prajurit setia mu itu!, apa kau tak sadar telah di perdaya oleh nya selama ini Raja," keluh Ratu Faya semakin membuat Raja Zio geram.


"Aku hanya mendidik putra ku agar kuat seperti ku!, bukan seperti ibu nya yang lemah dan bodoh seperti mu!," seru Raja Zio membuat Ratu Faya semakin tak menghargai suami nya.


"Apa Raja tak melihat?, pangeran Rot masih kecil, bahkan ia belum bisa mengangkat sebuah pedang, ia masih menangis tengah malam mencari ibu nya, dan ia juga masih menangis saat ia jatuh dan terluka, bahkan satu mantra peri pun belum bisa ia ucapkan dengan benar!," seru Ratu Faya mencoba meraih putra nya dari sisi suami nya.


"Apa kau mau bilang kalau aku buta!, hah!," sentak Raja Zio mencekik Ratu Faya.


"Hentikan Raja ku!, tolong lepaskan sang Ratu," seru para dayang hingga rela bersujud di kaki sang Raja.


"Biarkan!, biarkan Ratu mu ini mendapat pelajaran," sentak Raja Zio menendang para dayang hingga terpental.


Sedangkan peri Max hanya tersenyum menatap mereka dari kejauhan.


Bagus Raja ku, bagus, batin peri Max.


"Apa kau tak ingat tentang ramalan beberapa tahun lalu?," seru Ratu Faya sembari menggendong sang putra.


"Persetan dengan ramalan!," keluh Raja Zio.


"Anak kita akan menjadi alasan kerajaan ini hancur Raja, jika kau tetap mendidik nya seperti itu," seru Ratu Faya kesal.


"Cukup!, itu hanya ramalan palsu!, Max sendiri yang sudah memastikan nya, peramal itu penipu!," sentak Raja Zio tak terima.


"Max, Max, dan Max, apa hanya dia yang kau percaya Raja ku, bahkan sekarang aku saja sudah tak kau anggap lagi di sini," seru Ratu Faya meluapkan semua kekecewaan nya pada sang suami selama ini.


"Jika kau ingin pergi silahkan!, aku tak pernah melarang mu," seru Raja Zio membuat Ratu Faya tercengang tak percaya.


"Baik, jika itu keputusan mu, aku juga akan bawa pangeran Rot bersama ku," ucap Ratu Faya langsung mendapat sebuah tamparan dari Raja Zio.


"Jika kau berani melakukan itu, aku pastikan kedua tangan mu itu tak akan bisa memeluk anak kesayangan mu ini," ancam Raja Zio membuat semua dayang mencoba membawa Ratu Faya pergi dari hadapan Raja yang sedang marah.


"Ratu tak berguna!," keluh Raja Zio memukul sebuah pohon hingga berlubang.


"Hamba mohon jangan lukai tangan Raja ku yang berharga itu," seru peri Max berjalan mendekati sang Raja.


"Lalu aku harus bagaimana Max?, aku sudah muak menghadapi sikap istri ku itu, dan aku juga sudah lelah dengan semua teka teki akan teror kaum Troll pada kerajaan kita!, kenapa kamu tak segera menemukan mereka?, apa kau bersekongkol dengan mereka juga?," seru sang Raja membuat peri Max sedikit berhati hati dalam melakukan setiap permainan nya.


"Apa itu mungkin Raja?, hamba adalah tameng utama Raja Zio bukan?, hamba tidak akan mengkhianati kaum hamba sendiri, dan saran hamba, Raja ku tak usah mendengar semua ucapan Ratu yang terlalu mengkhawatirkan pangeran, begitulah memang seorang ibu, selalu mengkhawatirkan setiap hal tanpa mendasar," ucap peri Max kembali menghasut Raja Zio.


"Kau benar, aku butuh istirahat dari semua ini," sahut Raja Zio berjalan menuju kamar nya.