
"Bodoh!, berani kau kembali tanpa membawa informasi apapun untuk ku!," sentak sang pangeran marah.
Ia bahkan tak mau menatap wajah peri Max yang sudah gagal mengerjakan satu tugas kecil dari nya.
Terlebih, peri Max datang dengan tampilan yang tak karuan setelah berendam cukup lama di air sungai.
"M- maaf pangeran," ucap peri Max juga merasa begitu bodoh saat itu.
Bisa bisa nya diri nya yang seorang prajurit besar kerajaan bisa di tipu daya oleh ilusi kedua anak anak ingusan itu.
"Katakan satu hal yang bisa kau laporkan pada ku!, atau pedang ku ini akan melukai tubuh mu itu!," seru pangeran Rot sembari dengan cepat nya berganti posisi ke samping peri Max dan dengan cepat nya pula menempelkan sebuah pedang mainan ke leher peri Max.
Sesaat peri Max hanya heran sembari mengeryitkan kening nya.
Pasal nya ia tahu benar, pedang yang di pegang erat oleh pangeran Rot itu hanyalah mainan.
Bagaimana pedang mainan bisa melukai nya?.
"Lihatlah ke cermin," bisik pangeran Rot membuat peri Max dengan santai nya memandang sebuah cermin tepat di depan nya.
Ia begitu tercengang saat itu juga, bahkan tubuh nya sedikit tersentak kebelakang demi menghindari sisi pedang agar tak semakin dekat dengan leher nya.
"Apa kau masih mau meremehkan ku?," ucap pangeran Rot membuat peri Max semakin ingin berdiri dan berlari dari kursi nya.
Agar bisa pergi jauh dari ancaman pangeran Rot yang nampak begitu menakutkan.
Ia kembali menatap pedang di leher nya.
Begitu nampak biasa dengan aksen kayu sebagai bahan utama pembuatan pedang mainan itu.
Namun saat ia kembali menatap cermin di hadapan nya, mata nya kembali terbelalak dengan keringat dingin mengucur di dahi.
Pedang itu begitu nampak mengkilap dan runcing serta tajam melebihi pedang perang nya.
"Me -menurut para peri yang mengenal mereka, Priya tidak pernah memiliki seorang suami sampai ia di ketahui telah mengandung dan melahirkan, ia menikah dengan suami nya yang sekarang berselang beberapa bulan setelah Shenna lahir," ucap peri Max dengan nada ketakutan.
"Lalu?, apa yang kau tahu tentang Shein?," tanya pangeran Rot tanpa mengendorkan pedang nya dari sisi leher peri Max.
"Cerita nya begitu berbeda pangeran, orang tua Shein sudah lama bersama dan tak kunjung memiliki anak, tapi dalam waktu semalam, mereka sudah memiliki Shein dalam gendongan mereka, mereka hanya mengatakan telah menerima nya dari seseorang yang bijaksana," ucap peri Max menjelaskan.
"Teruskan!," sentak pangeran Rot agak menekan pedang mainan nya di leher peri Max.
Ia begitu penasaran akan kelanjutan cerita yang di bawa peri Max.
Hingga peri Max sedikit merasa perih dan tergores di leher nya.
Namun aneh nya tak ada darah yang terlihat di sana.
Tapi berbeda saat ia menatap ke cermin.
Nampak darah segar sudah menetes dari leher nya, walaupun hanya sebuah tetesan dari sebuah luka kecil.
"Ampun Troll Rot," ucap peri Max memohon.
Tanpa di sadari ucapan nya terdengar oleh seorang dayang setia Ratu Faya.
Ia begitu syok dan perlahan pergi dari tempat itu dengan sangat hati hati agar tak di pergoki oleh sang pangeran dan prajurit Max.
"Paman Max!, apa kau sudah lupa?," sentak pangeran Rot lagi dan lagi.
"Ampun pangeran Rot. Yang aku dengar, mereka sering sekali secara diam diam datang ke pohon suci, terlebih saat anak anak mereka menangis di usia mereka yang masih bayi dulu," ucap peri Max mengatakan semua informasi yang ia tahu.
"Oh, jadi pohon itu masih ada sampai sekarang," seru pangeran Rot sembari melepaskan leher peri Max dari ancaman pedang nya.
"Luka itu telah hilang bahkan saat aku bercermin," ucap peri Max merasa semakin bingung namun juga merasa lega.
Tetapi rasa perih dan sakit di leher nya masih di rasakan nya sampai saat itu.
"Tenanglah, sakit di leher mu akan hilang dalam beberapa hari, sekarang pergilah dari hadapan ku, aku harus menyelesaikan hal lain nya sekarang," ucap pangeran Rot sembari memainkan pedang di tangan nya.
"Sesuai permintaan pangeran," sahut peri Max dengan tergopoh gopoh segera meninggalkan kamar sang pangeran.
"Tak ada yang boleh tahu identitas asli ku saat ini," ucap pangeran Rot sembari tersenyum dengan licik nya.
Kebetulan, aku rindu akan kebiasaan ku yang dulu, batin pangeran Rot segera bergegas keluar dari kamar nya dan berjalan menuju ke kediaman sang ibunda.
------
"Apa sebaiknya aku pergi dari sini?," ucap peri Gigo merasa gelisah, masih ada kemungkinan peri Max datang lagi ke pondok mereka.
Ia merasa keberadaan nya bisa mengancam nyawa priya dan Shenna.
"Priya sudah begitu baik pada ku", ucap peri Gigo mengingat bahwa kehidupan nya kini adalah berkat dari peri Priya.
Dan ia bisa tetap aman sampai kini juga berkat Priya yang bersedia menampung nya di pondok.
Seketika peri Gigo segera bergegas membereskan barang barang nya.
Namun ia tak memilih banyak barang untuk di bawa.
Ia hanya mengambil beberapa baju dan barang barang yang bisa mengingatkan nya pada anak dan istri nya, walaupun ia tahu status itu hanyalah sebuah kebohongan.
Tapi hubungan batin di antara mereka tak dapat di elakkan, kasih sayang dan cinta peri Gigo pada mereka bukan lah suatu kebohongan.
"Kau sedang apa?," seru peri Priya menghentikan langkah peri Gigo yang ingin melangkah keluar dari pondok.
"Aku sudah tidak bisa tinggal di sini lagi," sahut peri Gigo tanpa berani menatap peri Priya.
"Tapi, kenapa?, dan apa kau sudah lupa dengan janji mu?," seru peri Priya tak menyangka nya.
"Justru aku ingat itu semua, jadi aku tak mau mengambil resiko akan keselamatan kalian, hari ini Max sudah hampir masuk ke pondok, entah apa lagi berikut nya," ucap peri Gigo bersikeras.
"Dengarkan aku!, Max kesini bukan karna mencurigai kau ada di sini, tapi itu murni karna urusan dia dengan anak anak," seru peri Priya membuat peri Gigo terdiam.
"Sudahlah, keselamatan kami itu karna kamu ada di samping kami, percayalah," ucap peri Priya mencoba mengajak peri Gigo masuk kembali ke dalam pondok.
"Tapi aku masih takut!," seru peri Gigo menepis tangan peri Priya.
"Apa menurut mu aku tak takut?, aku ungkapkan satu rahasia besar pada mu, Shenna dan Shein itu adalah bentuk kehidupan kembali dari ibu Shenna dan Bapa Shein," seru peri Priya membuat peri Gigo begitu syok.
"Kau bercanda kan?," ucap peri Gigo hampir tak kuat menapak kan kaki nya ke tanah.
"Aku menciptakan kehamilan ku dari ramuan khusus yang ku buat untuk membangkitkan jiwa ibu Shenna, aku sudah muak dengan kepemimpinan Raja Zio terlebih saat ia memusnahkan ras peri campuran dengan seenak nya," ucap peri Priya mengingat perjuangan dan penderitaan nya dulu.
"Lalu, Shein?," tanya peri Gigo penasaran.
"Aku tidak tahu pasti dengan Shein, tapi aku yakin Hill dan Gee lah yang bisa menjawab itu semua, satu hal yang membuatku yakin ialah, ikatan pohon suci terhadap Shein yang begitu kuat, seperti layak nya Shenna kita.
Seketika peri Gigo terduduk lemas di tangga pondok.
Ia begitu terkejut akan kenyataan itu.
Ia tak menyangka akan hidup dan ikut serta dalam perjuangan bapa Shein dan ibu Shenna tuk yang kedua kali nya.
"Jadi jangan pergi, kami membutuhkan mu," ucap peri Priya memohon.