Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 3.



Sejak kelahiran putra mahkota, Ratu Faya terus saja terlihat murung.


Tidak seperti kebanyakan wanita pada umum nya yang nampak senang dengan kelahiran sang buah hati.


Ratu Faya malah terlihat gelisah sepanjang waktu.


Hingga asi nya di rasa tak bisa menghilangkan ras lapar sang putra, alhasil setiap hari nya pangeran Rot hanya menangis dan menangis karna lapar.


"Raja Zio datang!," seru penjaga pintu kediaman Ratu.


Segera para dayang dan pelayan menunduk hormat kepada Raja Zio, begitupun dengan Ratu Faya.


Melihat sang putra yang terus saja menangis.


Raja Zio mempercepat langkah kaki nya dan segera menggendong sang putra.


"Kenapa anak kita Ratu?," seru Raja Zio mencoba menenangkan sang putra.


Namun karna pangeran Rot terlalu lapar, ia tak mau diam walau di gendong oleh siapa pun juga.


"Dia mungkin lapar Raja", sahut Ratu Faya dengan muka yang begitu nampak kelelahan.


"Lapar?, anak seorang Raja bisa kelaparan?, bagaimana itu tabib!," sentak Raja Zio menatap sang tabib hingga tabib tak berani mengangkat pandangan nya.


"Ma, maaf Raja, sudah banyak ramuan yang hamba berikan pada Ratu, namun asi Ratu tetap saja sedikit," ucap sang tabib dengan nada ketakutan.


"Sedikit?, kenapa bisa begitu?, apa yang sebenar nya kamu ingin kan Ratu?, ucapkan saja!, biar para dayang yang menyiapkan nya untuk mu!," keluh Raja Zio.


"Ta, ta, tapi Raja, jika penyebab nya adalah kekurangan makanan, kurasa itu tidak mungkin, karna kami di sini menjamin itu semua untuk Ratu, tapi....," ucap sang tabib menatap ke arah sang Ratu.


"Tapi apa?, jangan bertele tele!, apa kamu mau diam sampai anak ku mati kelaparan!," sentak Raja Zio marah.


"Raja!," seru Ratu Faya tak suka dengan ucapan sang Raja.


"Kenapa Ratu?, aku benar bukan?, tanpa minum asi mu putra kita akan mati kelaparan!, dan aku akan sangat murka jika itu terjadi," seru Raja Zio membuat semua yang ada di ruangan itu menjadi amat ketakutan.


"Aku hanya kecapekan Raja, mungkin itu yang menyebabkan asi ku sedikit," sahut Ratu Faya.


"Tidak Raja!, itu tidak benar!," seru sang tabib membuat Ratu menatap tajam ke arah nya.


"Kamu dengar itu Ratu?, bagaimana lagi kamu mau membohongi ku?," seru Raja Zio menatap penuh amarah pada Ratu nya.


"A, a, aku hanya sering mimpi buruk, dan itu membuat ku tak bisa tidur dan gelisah sepanjang waktu," ucap Ratu Faya terbata bata.


"Dan semua itu menyebabkan asi


sang Ratu menjadi sedikit Raja," timpal sang tabib.


"Mimpi?," tanya Raja Zio merasa heran, mimpi macam apa yang bisa mengusik hidup seseorang hingga berdampak besar di dunia nyata.


"Aku bermimpi jika putra kita akan terbunuh mengenaskan dalam peperangan besar di masa depan," ucap Ratu membuat Raja Zio tertawa.


"Kamu mengkhawatirkan sebuah mimpi Ratu ku?," seru Raja Zio terus saja tertawa.


"Ini bukan mimpi biasa Raja ku!, mimpi ini seakan nyata!, bahkan mimpi ini selalu berulang saat aku tidur!," seru Ratu semakin nampak gelisah mengingat kengerian mimpi yang selalu datang berulang setiap hari nya, bahkan setiap ia mulai memejamkan mata nya.


"Omong kosong!, sekarang lupakan semua itu dan susui putra kita!," sentak Raja Zio tak percaya dengan semua ucapan Ratu Faya.


"Itu mungkin ada kaitan nya dengan nama putra kita Raja!, nama itu membawa nasib buruk kepada nya, sebelum terlambat, tolong ubah nama anak kita!," seru Ratu Faya dengan nada memohon.


"Kamu semakin bicara ngelantur Ratu!, nama itu sudah paling pantas untuk anak kita!, aku tak akan merubah nya!," sentak Raja Zio membuat pangeran Rot kembali menangis dengan kencang nya.


"Tapi Raja," ucap Ratu Faya bersikeras.


"Sudah cukup!," sentak Raja Zio menyerahkan pangeran Rot pada sang tabib.


"Jika kamu tak mau mengikuti saran ku dan tak bisa membuat putra kita kenyang, enyahlah dari hadapan ku!," ancam Raja Zio membuat Ratu Faya menangis.


Sementara Ratu Faya terus menangis menatap sang putra, ia merasa bersalah dan juga tak berdaya.


"Maafkan ibu nak!," seru Ratu Faya tersedu sedu.


Hingga membuat semua dayang dan sang tabib merasa iba pada Ratu mereka.


"Sudahlah Ratu, mungkin yang dikatakan Raja itu benar, mimpi biarlah menjadi bunga tidur, kita doakan saja pangeran Rot akan menjadi Raja peri paling berjaya melebihi sang Raja Zio di masa depan," ucap sang tabib mencoba menenangkan Ratu Faya.


Sementara di luar pintu masuk.


Peri Max masih belum beranjak dari tempat nya walaupun Raja Zio telah terlebih dulu pergi dari tempat itu.


Ia masih menyaksikan Ratu Faya menangis meratapi sang pangeran, yang Ratu rasa pangeran akan bernasib buruk dengan nama nya saat itu.


Langkah pertama sudah berhasil!, Raja Zio percaya pada semua ucapan ku, batin peri Max dengan senyum menyeringai nya sembari bergegas pergi dari tempat itu menyusul Raja Zio yang sudah sampai di pintu masuk ke kediaman Raja.


Dengan cepat ia menyusul Raja yang masih nampak kesal setelah bertemu dengan Ratu nya.


Aku hanya harus berusaha sedikit lagi untuk memastikan bahwa Raja tidak terhasut oleh perkataan Ratu, batin peri Max.


"Raja, apa Raja percaya dengan ucapan Ratu barusan?," tanya peri Max.


"Ratu hanya tertekan setelah melahirkan, lebih baik aku lupakan ucapan nya itu," seru Raja Zio bergegas duduk di singgasana nya.


"Sebaiknya begitu Raja, bagaimana mungkin sebuah nama membawa nasib buruk," ucap peri Max mulai menghasut Raja Zio kembali.


"Kamu benar!, aku menamai nya Rot agar dia gagah dan berani seperti Troll Rot di masa lalu, bukan untuk mendoakan dia mendapat nasib buruk," seru Raja Zio semakin kekeh pada pendirian nya.


Mendengar ucapan Raja Zio, seketika peri Max tersenyum senang.


Dia pasti senang mendengar kabar ini, setelah beratus ratus tahun akhir nya semua impian nya terwujud, dan aku akan menjadi Raja selanjut nya di kerajaan ini, batin peri Max sembari memberi hormat pada sang Raja dan bergegas pergi dari hadapan Raja.


Melihat gerak gerik peri Max yang mencurigakan.


Peri Gigo mencoba mengikuti kemana peri Max pergi.


Belum jauh mereka meninggalkan gerbang istana.


Peri Max sudah mengetahui bahwa ia telah di ikuti.


"Keluarlah!, jangan bersembunyi seperti tikus!," seru peri Max membuat peri Gigo tak ada pilihan lain lagi.


"Kemana kamu akan pergi?," tanya peri Gigo keluar dari persembunyian nya.


"Bukan urusan mu!," sahut peri Max.


"Baiklah kalau kamu tak mau memberitahuku, tapi jelaskan ini semua padaku!," seru peri Gigo menunjukkan sebuah buku mantra peri di tangan nya.


Sontak peri Max nampak tak suka dan mengacuhkan pedang nya seketika.


"Lancang!, kamu masuk rumah ku tanpa izin!," sentak Peri Max mengenali buku mantra milik nya yang berada di tangan peri Gigo.


"Aku tak akan membiarkan mu membangun mala petaka di kerajaan peri ini!," seru peri Gigo sembari menghunuskan pedang nya ke arah Peri Max.


"Terlambat!, ras peri murni sudah musnah, dan itu semua juga karna pertolongan dari mu bukan," seru Peri Max membuat peri Gigo semakin marah.


"Jadi semua itu untuk kepentingan mu?," seru peri Gigo tak menyangka.


"Apa kamu pikir itu ide Raja Zio sendiri?, itu salah besar!, memusnahkan ras peri murni untuk menyempurnakan kedudukan peri campuran di dunia itu hanya karangan ku saja untuk membuat Raja bodoh itu percaya dengan ide ku!," seru peri Max tertawa dengan kencang nya.


"Kurang aj*r!, penghianat!, musnahlah Max!," teriak peri Gigo sembari mulai menyerang peri Max dengan seluruh kekuatan nya.


"Hidup Troll Sean!," teriak peri Max sembari membalas semua serangan peri Gigo dengan brutal nya.