Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 72.



Hari itu seluruh hutan Maxim begitu sunyi.


Bahkan begitu hening nya hingga hanya suara hembusan angin yang terdengar samar di telinga, menyeruak menembus jiwa jiwa yang kala itu begitu terasa tak berdaya untuk beberapa saat.


Perlahan, mata Shein dan Shenna mulai terbuka.


Kesadaran mereka sedikit mengobati rasa kepedihan dan kehilangan di hati peri Priya.


"Bangunlah anak anak ku," ucap peri Priya dengan senyum yang menyembunyikan semua kepedihan nya saat itu.


"Putra ibu sudah bangun," ucap peri Gee sembari mengusap lembut wajah sang putra yang masih nampak bingung dengan semua yang ia lihat saat membuka mata tuk pertama kali nya.


Namun sebelum mereka berdua mengungkapkan rasa ingin tahu mereka akan semua nya, peri Hill dengan cepat menyela semua pertanyaan pertanyaan itu sebelum sempat di utarakan.


"Nak, kami akan jelaskan pada kalian apa yang ingin kalian tahu, semua nya. Tapi untuk saat ini percayalah pada kami, kami benar benar menyayangi kalian sebagai anak anak kami," ucap peri Hill sembari memeluk Shein dan Shenna yang masih bingung dengan semua nya.


Sementara ibu Shenna masih belum bergeming sedikitpun dari memeluk jasad sang ayah saat itu.


Kesedihan yang besar masih terpancar jelas dari raut wajah nya.


"Sebaik nya kita segera bawa ayah ke tempat peristirahatan terakhir nya," ucap bapa Shein sembari membantu membawa jasad peri Gigo menuju ke area pohon suci.


Sesuai janji dari kaum Troll.


Mereka segera membentuk barisan dan membuka jalan untuk menghormati jasad peri Gigo saat itu.


Semua senjata dan semua gada yang telah ikut bertempur tinggi hari itu, kini merendah bersamaan dengan melebur nya perseteruan antara kedua kaum yang telah ada sejak beratus ratus tahun yang lalu.


Sinar mentari pun seakan meredup dan ikut bersedih di saat pengantaran jasad peri Gigo ke peristirahatan nya yang terakhir.


Dari kejauhan, pohon suci mulai menampakkan sinar terang nya kembali dan membuka gerbang jalan masuk untuk mereka semua.


Perlahan langkah kaum Troll dan para peri yang merasa bersalah akan semua yang telah terjadi hari itu mulai berhenti di tengah jalan.


"Kenapa kalian berhenti?," tanya bapa Shein begitu heran.


"Apakah pohon suci sudi untuk kami dekati?," tanya balik Raja Zio yang ikut serta dalam rombongan itu sembari membawa jasad sang istri dan raga sang putra yang belum juga tersadarkan diri.


"Pohon suci tahu kalau hati kalian sudah bersih, jadi hilangkan prasangka buruk itu," ucap ibu Shenna sembari terus berjalan menggiring jasad sang ayah semakin dekat menuju pohon suci.


Mendengar pernyataan itu, semua nya kini melangkah memasuki gerbang pohon suci tanpa keraguan.


Angin sejuk dari pusat pohon suci begitu membuat batin dan jiwa mereka terenyuh.


Ada sebuah rasa kedamaian yang tak pernah mereka dapatkan di tempat lain saat mereka menginjakkan kaki di sana.


"Sebaik nya aku jemput ibu Priya, tidak adil jika kita melakukan semua ini tanpa kehadiran nya," ucap bapa Shein membuat ibu Shenna seketika mengurungkan niat nya membuka akar pohon suci lebih awal.


Nampak para orang tua mereka tengah datang sembari memapah Shein dan Shenna kecil yang telah siuman.


"Mereka siuman Shenna!," seru bapa Shein begitu bahagia nya.


Perlahan senyum ibu Shenna mulai muncul, namun tatapan nya segera berpaling ke arah sang pangeran.


"Tapi bagaimana dengan pangeran?," keluh ibu Shenna menatap kesedihan di wajah Raja Zio yang begitu besar saat itu.


Bagaimana tidak, hidup nya mungkin di rasa runtuh karna dalam satu hari saja banyak kemalangan yang menimpa diri nya.


Istri nya yang paling setia telah meninggalkan nya untuk selama nya, penyesalan nya semakin besar karna di akhir hayat sang Ratu, Raja baru saja sadar akan semua kesalahan nya selama ini.


Hati nya juga semakin remuk redam karna sang putra pun belum menunjukkan tanda tanda kehidupan setelah terlepas dari jiwa Troll Rot yang mengikat nya.


"Dia akan baik baik saja," ucap bapa Shein mencoba memberi sebuah harapan kepada Raja Zio.


"Aku terima jika aku di hukum seumur hidup karna kesalahan ku, tapi izinkan putra ku hidup dan mewujudkan impian ibunda nya," ucap Raja Zio dengan berlinang air mata yang belum pernah di lihat oleh orang lain selama ini.


"Pasti dewa akan menolong nya kan Shenna?," tanya bapa Shein begitu berharap.


Namun ibu Shenna hanya terdiam pertanda ia juga tak bisa memastikan akan hal yang begitu di harapan semua orang saat itu.


Dengan lambaian lembut kedua tangan nya, perlahan akar pohon suci mulai terbuka kembali dan mulai membalut lembut jasad peri Gigo.


Dalam diam, ada sebuah tetesan air mata di kedua pelupuk mata peri Priya saat itu.


Sembari memeluk Shenna kecil dengan erat nya, peri Priya mencoba melepaskan semua beban nya saat itu juga.


Kita bertemu untuk waktu yang lama, suka duka telah kita lewati bersama, kali ini aku dengan bangga mengungkap kan isi hati ku ini. Aku begitu bahagia telah menghabiskan bertahun tahun hidup ku bersama mu, hari ini dan detik ini, kau adalah suami ku yang sesungguh nya, hubungan kita bukan lagi sebuah kepalsuan, terima kasih, aku mencintai mu, semoga dewa mempertemukan kita lagi di alam baka kelak, batin peri Priya hingga membuat hati ibu Shenna dan bapa Shein terenyuh dan remuk redam saat itu.


Meskipun mereka bisa mendengar keluh kesah peri Priya saat itu, mereka hanya bisa diam dan diam dengan semua yang telah di garis kan dewa di kehidupan mereka kini.


Aku begitu merasa tak berguna untuk ibu kita hari ini Shein, batin ibu Shenna sembari mengusap mata nya yang basah.


Dia wanita kuat, dia akan hidup lebih baik lagi setelah ini, percayalah, batin bapa Shein tuk pertama kali nya bisa leluasa berkomunikasi dengan pasangan nya sebebas itu.


Setelah ritual pemakaman jasad peri Gigo selesai, para kaum Troll dan para kaum peri mulai pergi dari tempat itu untuk menunaikan janji mereka masing masing demi perdamaian kedua kubu.


"Kau mau kemana?," seru ibu Shenna saat melihat sang Raja mulai berjalan pergi dengan membawa tandu nya.


"Izinkan aku pergi, aku ingin mengurus jasad istri ku dengan layak dan merawat putra ku dengan tenang," ucap Raja Zio dengan nada memohon.


"Tidak!, kau tetap di sini!," ucap ibu Shenna membuat Raja Zio hanya bisa tertunduk dan bersujud di hadapan ibu Shenna dan bapa Shein kala itu.


"Jangan hukum mereka akan kesalahan yang telah ku perbuat, aku mohon, tolong lepaskan mereka," seru Raja Zio tersedu sedu.