Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 25.



"Raja, apa ini semua benar benar perlu untuk kita lakukan?," ucap Peri Max begitu keberatan dengan keputusan Raja saat itu.


Namun keluhan keluhan dari peri Max tak pernah Raja hiraukan selama perjalanan.


Keputusan itu ia anggap tidak hanya menjatuhkan kewibawaan Raja, melainkan citra diri nya di kalangan ras peri.


Jika ini benar benar terjadi, bisa malu aku di hadapan semua, seolah olah keberadaan ku sudah tidak berguna lagi di istana, batin peri Max begitu kesal di sepanjang perjalanan saat mengiring sang Raja untuk pergi ke pondok tempat tinggal Shenna.


Bukan hanya malu yang akan kau rasakan paman, tapi hinaan juga akan kau terima akibat ulah mu sendiri, batin Shein masih berada di dalam istana dan bersiap untuk menemui sang Ratu.


"Tenanglah Shein, kita sudah lakukan sebisa kita, selanjutnya biar takdir yang mengatur nya," ucap Shenna seakan selalu tahu apa yang ada di pikiran Shein.


"Tapi aku masih penasaran, kenapa kau bisa membujuk Raja keras kepala itu untuk datang ke pondok?," tanya Shein menatap heran ke arah Shenna.


Sesaat kemudian, Shenna langsung tertawa saat tatapan Shein semakin tajam dan penuh tanda tanya ke arah nya.


"Aku selalu suka tatapan itu Shein," seru Shenna tertawa terpingkal pingkal tanpa memperdulikan Shein yang benar benar penasaran dengan jawaban atas pertanyaan nya itu.


"Kau selalu saja seperti itu Shenna!, kau selalu bisa leluasa membaca pikiran ku, dan apa yang kau lakukan?, kau tak mengizinkan ku membaca pikiran mu dan membuatku berakhir seperti orang bodoh di masa lalu maupun masa kini" keluh Shein dengan wajah begitu cemberut nya.


"Jangan marah, suami ku," bisik Shenna sembari menggandeng tangan Shein dengan mesra nya.


Membuat Shein selalu berakhir luluh dengan rayuan rayuan Shenna.


"Ehem!, apa aku tak salah dengar barusan?, kau memanggil Shein dengan sebutan suami?," seru Ratu Faya berhasil mengejutkan mereka berdua.


Kedatangan nya bahkan tak di sadari sedikitpun oleh Shein maupun Shenna yang asyik bercanda saat itu.


"Salam Ratu," sapa Shein dengan gugup nya.


Membuat Ratu Faya merasa kata itu bukan hanya sekedar candaan mereka saja.


"Bapa Shein?," ucap Ratu Faya langsung membuat Shein dan Shenna tercengang bagai patung.


Astaga, bagaimana ini?, batin Shenna seakan kehabisan nafas di saat itu.


Ini menentang hukum alam Shenna, apa yang telah kau lakukan, batin Shein mencoba mengalihkan perhatian sang Ratu.


"Ra- Ratu, kami bisa jelaskan," ucap Shein mulai angkat bicara.


Dan mereka kembali di buat bingung saat sang Ratu tiba tiba tertawa terbahak bahak tanpa sebab.


"Maaf Shein, Shenna, apa kalian terkejut?, maaf aku hanya bercanda," seru Ratu Faya membuat Shein dan Shenna langsung bernafas lega.


Syukurlah, batin Shein menatap tajam ke arah Shenna yang hampir saja membuyarkan misi hidup mereka.


Biarpun mata mu sampai lepas pun aku tak akan takut pada mu, suami harus takut dengan istri nya bukan sebalik nya, walaupun memang aku yang bersalah kali ini, batin Shenna sembari mendengus pelan.


"Baiklah, katakan pada ku, kenapa kalian menemui ku sore ini?," tanya Ratu Faya mengembalikan fokus mereka berdua.


"Tapi bukan nya kalian tak akan mau melatih pangeran jika sang Raja belum meminta izin langsung kepada orang tua kalian?," tanya Ratu Faya penasaran.


"Raja sudah berangkat sejak tadi Ratu, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan, kami akan secepatnya melatih pangeran ilmu pedang," ucap Shein dengan memiliki sedikit niat terselubung di balik kesanggupan nya melatih sang pangeran beserta bala prajurit yang ada di kerajaan peri hutan Maxim.


 


"Apa benar ini pondok nya?," tanya sang Raja saat kuda nya tepat berhenti di sebuah pondok tua namun nampak terawat di hadapan nya.


Samar ia mencoba mengingat pondok peri Priya yang pernah menghina nya bertahun tahun silam saat dia pertama kali mengumumkan pembantaian habis kaum peri murni.


Peri satu satu nya yang berani menentang keputusan besar nya bertahun tahun silam.


"Sebaik nya kita pulang Raja, kita hanya akan di hina lagi di sini," ucap peri Max tak suka dengan setiap keburukan saat ia mencoba mendekati pondok itu.


"Lalu bagaimana nasib kerajaan kita jika para Troll dan kaum lain nya mencoba menyerang kita?, hah!, kau bahkan tak bisa di andalkan sampai detik ini melatih pangeran!," sentak Raja Zio merasa kecewa tuk pertama kali nya kepada peri Max, sang prajurit kepercayaan nya.


"Tapi kenapa kita harus meminta izin kepada mereka Raja, ini menghina Raja sendiri?," seru peri Max masih tak setuju akan ide itu.


"Ini syarat dari dua anak sialan itu, mereka tak akan membantu kita melatih pasukan kita jika kita tak meminta izin langsung kepada Priya dan suami nya.


Memalukan!, batin peri Max begitu geram mendengar nya.


"Baiklah. Prajurit!, cepat panggil peri Priya dan suami nya!, katakan ada Raja yang sedang berkunjung!, lebih cepat kita bertemu mereka itu lebih baik," seru peri Max memerintahkan beberapa bawahan nya untuk memanggil si tuan rumah.


Ia tak tahu hal besar apa yang akan ia hadapi saat bertemu dengan Priya dan suami nya nanti.


Mendengar ketukan dan seruan dari para prajurit yang mengabarkan Raja telah datang.


Seketika itu membuat peri Priya dan Gigo begitu gugup ketakutan di dalam pondok nya.


"Apa yang ada di pikiran kedua anak itu!, bisa bisa nya mereka memiliki ide gila ini," keluh peri Gigo begitu takut hanya dengan mendengar nama Raja serta peri Max sahabat nya dahulu.


"Tenanglah Gigo, ku rasa mereka ada benar nya juga, kita harus tegakkan keadilan untuk mu, prajurit Max harus mendapatkan hukuman atas semua kesalahan nya," seru peri Priya mencoba menumbuhkan keberanian dalam diri peri Gigo walaupun ia juga takut akan kemungkinan yang terburuk.


Bagaimana jika Raja malah menghukum Gigo karna lebih percaya dengan prajurit penipu itu?, oh Bapa Shein tolong bantu kami, batin peri Priya begitu gelisah terlebih saat para prajurit Raja semakin keras memanggil mereka.


"Lihatlah Raja, bahkan mereka tak menghiraukan kedatangan kita," seru peri Max mencoba mengajak sang Raja untuk kembali ke istana.


"Kita tunggu sebentar lagi, jika mereka memang berniat menghina kedatangan ku, akan ku bakar pondok itu sekarang juga," ucap sang Raja mulai tersulut emosi.


Mendengar ucapan sang Raja, peri Max tersenyum senang karna kemungkinan besar rencana Raja bertemu mereka akan dibatalkan dan dia akan tetap menjadi prajurit terhebat di istana peri, dan nama nya tak akan buruk di mata para peri hutan Maxim.


Sementara itu, pangeran Rot terus memacu kuda nya dengan cepat demi mencegah sang Raja melakukan hal konyol itu.


"Dimana jalan pikiran nya!, kenapa seorang Raja dengan mudah menuruti permintaan kedua anak ingusan itu," keluh sang pangeran begitu geram saat itu.