
"Dia sudah tidur?," tanya Raja Zio mendekati sang Ratu yang nampak begitu lelah, namun masih mencoba menidurkan bayi Rot.
"Dia baru saja terpejam Raja," ucap Ratu Faya terus mengayun bayi Rot dalam buaian nya.
"Sudah lah!, dia sudah terlelap!, letakkan dia!," titah Raja Zio.
"Tapi dia baru saja tertidur, biarkan dia puas tidur di buaian ku dulu Raja," sahut Ratu Faya tak menghiraukan lelah letih nya karna mengurus bayi Rot seharian.
"Aku minta layani aku sekarang!," seru Raja Zio dengan egois nya.
"Tapi aku sangat lelah Raja ku, tolong biarkan aku istirahat sejenak, dalam 3 jam lagi aku masih harus menyusui pangeran," pinta Ratu Faya dengan nada memohon.
"Kamu berani menolak untuk melayani ku!, sudah bosan kamu menjadi Ratu di kerajaan ini!," sentak Raja Zio hingga membuat bayi Rot kembali terbangun.
"Iya, iya!, terserah Raja ku, tapi bersabarlah sejenak, biar aku susui dan tidurkan dia lagi," sahut Ratu Faya hanya berfokus menenangkan kembali sang putra yang mulai menangis.
"Bagus!, sebaik nya jangan pernah kamu ulangi penolakan mu itu pada ku!," gertak Raja Zio menunjuk ke arah sang Ratu.
"Sesuai perintah Raja ku," ucap Ratu Faya hanya bisa menurut.
"Kamu ingat kan yang harus kamu lakukan?," ucap Raja Zio berkacak pinggang di hadapan Ratu Faya.
"Aku harus tanggalkan semua pakaian ku saat akan masuk ke dalam kamar," ucap Ratu Faya mengucapkan aturan pertama dalam hubungan ranjang mereka.
"Bagus," sahut Raja Zio senang, bahwa ternyata urusan tentang merawat sang putra tak membuat sang istri melupakan aturan ranjang mereka.
"Aku harus berias dan tercium harum di depan Raja," ujar Ratu Faya menyebutkan aturan kedua.
"Emmm, itu yang aku suka dari mu Ratu ku!," seru Raja Zio sembari mencium lekuk leher sang Ratu berulang ulang kali.
"Dan...," ucap Ratu Faya mencoba menyebutkan aturan ketiga mereka.
"Cukup!, aku sudah puas dengan dua jawaban mu itu, aku sudah tak sabar lagi beradu dengan mu, cepat tidurkan putra paling tampan ku ini, dan cepat cepatlah bersiap untuk Raja mu ini," seru Raja Zio berjalan menuju kamar sang Ratu dengan perasaan tak sabar.
"Kenapa Raja ku jadi berwatak keras seperti itu?, dulu saat aku menikah dengan nya bukan lelaki seperti itu yang aku lihat," keluh Ratu Faya sembari mencoba kembali menidurkan sang anak sebelum Raja Zio kembali marah.
-----
"Pelan pelan Raja!," ucap lirih Ratu Faya yang sudah tak berkutik di bawah dekapan Raja Zio yang terbuai akan kenikmatan penyatuan mereka.
"Tengah malam nanti, kita ulangi lagi, cantik ku!," ucap Raja Zio terus menghujam Ratu Faya hingga lemas.
"Sesuai perintah Raja ku," sahut Ratu Faya menurut, meskipun ia sudah merasa remuk dan sesak di bawah tubuh suami nya.
Saat Raja dan Ratu masih terbuai hasrat di atas ranjang.
Seseorang mencoba mencari kesempatan mengendap ngendap di area sekitar kediaman Ratu Faya.
Lelaki bertopeng itu segera memalingkan muka nya saat tak sengaja melihat adegan panas dari celah pintu kamar Ratu.
Bagus!, ini kesempatan besar untuk ku, batin lelaki bertopeng itu berusaha masuk ke kamar sang pangeran.
Nampak penjagaan mulai lengah karna sudah hampir tengah malam.
Sudah di pastikan para prajurit pun akan berusaha mencuri waktu untuk tidur meskipun di larang oleh pemimpin mereka.
Mereka hanya mengandalkan mantra peri pengaman pintu untuk keamanan kamar sang pangeran saat mereka mencoba untuk tidur sejenak.
Lelaki bertopeng itu segera menyebar sebuah serbuk ke arah para prajurit yang membuat semua prajurit tertidur lelap seperti orang pingsan.
"Mantra pintu?, ini terlalu kecil bagi ku!," ucap lelaki bertopeng sembari mengibaskan tangan nya beberapa kali.
Seketika pintu kamar bayi Rot terbuka dengan mudah nya.
Perlahan ia mulai mendekati bayi Rot.
Namun ada satu kecerobohan yang ia buat.
Serbuk yang ia bawa, tak ia taburkan ke arah sang bayi.
Sehingga, sebelum diri nya melangkah keluar dari istana, bayi Rot terbangun dan langsung menangis dengan kencang nya.
Tangisan nya sontak mengejutkan lelaki bertopeng itu sendiri beserta semua penghuni istana, terlebih Raja Zio dan Ratu Faya yang belum selesai dengan urusan ranjang mereka.
"Anak ku!," seru Ratu Faya segera mendorong Raja Zio yang belum terpuaskan sepenuh nya.
Dan segera bergegas memakai sebuah selimut lalu bergegas menuju kamar sang anak.
"Ratu!," seru Raja Zio merasa kesal dengan perlakuan Ratu pada nya, namun juga khawatir dengan tangisan sang putra.
"Asal suara nya bukan dari kamar pangeran, jangan, jangan!," seru Raja Zio segera bergegas mencari sumber suara.
"Gawat!," ucap lelaki bertopeng itu mau tak mau harus segera meletakkan kembali bayi itu, seakan ia tahu asal kepungan yang akan menyulitkan pelarian nya.
Saat ia meletakkan bayi Rot di tanah, tak sengaja serbuk yang ia bawa ikut terjatuh.
"Berhenti!," teriak sang Raja segera berlari mengejar lelaki bertopeng itu.
Namun lelaki bertopeng itu seperti nya bisa lolos dengan mudah dari cengkraman kepungan arah mata angin milik kerajaan peri Maxim.
Dengan cepat, Raja Zio bergegas mendekap sang putra dan terus menciumi nya.
"Di mana penculik itu!," sentak Raja Zio kepada para prajurit nya.
Namun para prajurit hanya bisa menunduk ketakutan karna tak bisa menangkap penculik bayi Rot.
"Kenapa bisa dia lolos!," teriak Raja Zio marah, hingga membuat bayi Rot menangis.
"Untung putra ku gagal di culik, atau kalian akan tahu akhibat nya!," sentak Raja Zio berjalan kembali ke kediaman sang Ratu.
Sementara di dalam kamar bayi Rot.
Ratu Faya nampak lemas dan terus menangis hingga Raja Zio kembali terlihat tengah bersama putra mereka.
"Pangeran ku!, terima kasih Raja," seru Ratu Faya menangis bahagia saat melihat bayi Rot telah selamat dari tangan sang penculik.
"Sudahlah, hentikan tangisan mu itu," ucap Raja Zio mencoba menenangkan sang Ratu.
Lalu pandangan Raja Zio tak sengaja menatap para prajurit nya yang sama sama mengarahkan pandangan nya ke arah sang Ratu.
Sesekali mereka mencoba menelan ludah dan mencoba menunduk saat menatap Ratu mereka.
Dengan sigap Raja Zio mendekat ke arah Ratu nya dan menutup tubuh sang Ratu dengan jubah nya.
"Aku akan bunuh kalian jika masih mencoba melihat tubuh istri ku!, cepat pergi dari sini!," sentak Raja Zio membuat semua prajurit berlari tunggang langgang pergi dari sana.
----
"Sial!," sentak lelaki bertopeng itu setelah merasa tak lagi ada prajurit yang mengejar nya.
"Padahal tinggal sedikit lagi," keluh lelaki bertopeng itu sembari melepas topeng nya dan membuang nya ke sungai.
"Bagaimana Max?," tanya peri Bin mencoba mendekati sang lelaki bertopeng yang tak lain ialah peri Max.
"Gagal!," ketus peri Max masih amat kesal dengan kegagalan nya.
"Mungkin yang kita lakukan ini salah Max, jadi semua rencana kita selalu gagal," seru peri Bin membuat peri Max semakin kesal.
"Cukup!, jika kamu tak suka dengan semua rencana ku, pergilah!," sentak peri Max bergegas pergi meninggalkan peri Bin.