Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 37.



"Siapa yang berani mendekati pohon leluhur ku!," sentak ibu Shenna tepat saat ia telah sampai di gerbang pohon suci berada.


Mata nya begitu terbelalak tak percaya saat beberapa kawanan peri yang juga tak lain ialah bagian dari penghuni wilayah hutan Maxim mencoba menggiring banyak hewan untuk memporak porandakan pohon suci.


Setelah aku hilangkan kemampuan kalian mendekati pohon ku, nyata nya masih ada cara licik terbesit di otak kalian itu!, keluh ibu Shenna tak percaya dengan pemikiran dari ras peri di masa kini.


Melihat wujud tanpa raga melayang penuh amarah ke arah mereka, kawanan peri gembala suruhan Troll Rot pun akhir nya pergi tunggang langgang tanpa perlu di perintah.


"Pohon suci?," ucap bapa Shein sesaat setelah tiba di sana.


Dalam beberapa saat, mata nya sama sekali tak berkedip menyaksikan pembantaian itu.


Ia tak menyangka pohon suci yang masih di tinggalkan beberapa saat oleh mereka kini telah rusak karna serbuan para hewan.


Dengan cepat mereka berusaha mengusir kawanan hewan yang menyerang pohon suci mereka.


Namun nyata nya itu semua tidak mudah di lakukan.


Hewan hewan yang ada ternyata merupakan hewan liar yang sengaja di pilih untuk aksi itu.


"Lakukan sesuatu Shein!," seru ibu Shenna terus berupaya membuat para hewan menyudahi serangan nya sebelum pohon suci benar benar tumbang.


"Tak ku sangka ada kelemahan dari wujud kita saat ini," keluh bapa Shein mencoba membuat para hewan menjadi tenang dan terkendali dengan kondisi nya yang hanya sebuah jiwa tanpa raga.


Sementara di sisi lain.


Meskipun pertarungan antara Troll Rot dan kaum Troll belum juga usai.


Namun di sela sela pertarungan, Troll Rot tiba tiba tertawa tanpa sebab saat merasakan firasat bahwa musuh besar nya sedang kewalahan hanya untuk mengatasi kawanan hewan liar.


Bodoh!, itulah kenapa kita harus memiliki kemampuan berburu dan menjinakkan hewan, batin Troll Rot namun tanpa menghentikan serangan serangan nya ke arah kawanan kaum Troll.


"Dengarkan aku para Troll bodoh!, kedua peri yang kalian bela itu sebentar lagi akan kehilangan wujud nya. Saat pohon itu telah benar benar tumbang, mereka pun akan hilang dari dunia ini," seru Troll Rot seketika kembali tertawa lebih kencang dari sebelum nya.


"Itu belum terjadi Rot, jadi fokus lah ke pertarungan hari ini," ucap Raja Zio yang kini nampak telah terlihat bersiap dengan pasukan dan senjata nya.


Keberanian seketika muncul dalam diri Raja Zio saat ia telah menyadari sepenuh nya akan kesalahan nya selama ini.


Karna keburukan nya selama ini, putra nya lah yang harus menanggung semua nya.


Bahkan sang pangeran juga belum kunjung sadar sampai saat itu.


"Apa kau ingin mati Zio!," seru Troll Rot saat melihat keberanian Raja Zio saat itu adalah sebuah kebodohan besar di mata nya.


"Saat ini aku adalah seorang ayah yang memperjuangkan keadilan untuk putra nya, jadi bersiaplah kau!," sentak Raja Zio membuat Ratu Faya semakin erat memeluk sang pangeran yang belum juga siuman.


Lihatlah nak!, ayah mu berjuang demi diri mu, batin Ratu Faya melihat sebuah kebenaran dan hal baik tuk pertama kali nya di dalam diri Raja Zio.


"Kau hanyalah peri lemah Zio!," seru Troll Rot kembali tertawa hingga menggema ke seluruh penjuru hutan Maxim.


Hingga terdengar ke telinga ibu dan Bapa Shein.


"Akan ku berikan pelajaran berharga untuk nya jika masalah ini telah selesai," ucap ibu Shenna terus berupaya menggiring para hewan liar menjauh dari pohon suci yang sudah semakin melemah dan hampir tumbang.


"Shenna," ucap Bapa Shein tiba tiba di kejutkan dengan cahaya di jiwa nya yang semakin memudar.


Mengetahui akibat dari rusak nya pohon suci mulai berpengaruh kepada mereka.


Ibu Shenna begitu putus asa di buat nya.


"Apa kita akan berakhir seperti ini?, apakah kita tak bisa menyelamatkan keselarasan anak cucu kita Shein?," keluh ibu Shenna sembari menatap lekat lekat sang suami.


"Kita seperti ini juga atas izin dewa, biarlah dewa yang menunjukkan kuasa nya, kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk keselarasan kaum kita," ucap Bapa Shein memegang erat tangan ibu Shenna.


Mereka mencoba saling menguatkan dengan apa yang akan terjadi di masa depan.