Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 11.



"Hamba tetap tak setuju Raja!," sahut Ratu Faya bersikeras.


"Aku hanya memberitahu mu, bukan untuk meminta izin mu," seru Raja Zio tanpa menatap ke arah Ratu nya.


"Maksud Raja?," ucap Ratu Faya heran.


"Max sudah pergi mengajak anak kita untuk berburu," seru Raja Zio sembari memakai jubah kebanggaan nya lagi.


Sementara Ratu Faya masih terdiam tak percaya di tempat nya, dengan tubuh yang masih polos bertutup kan sehelai selimut saja.


"Kenapa Raja selalu tak mendengar pendapat ku saat membuat keputusan untuk pangeran?," seru Ratu Faya tak terima.


"Tugas mu hanya mengandung, melahirkan, dan melayani ku, jadi tak usah berdebat akan hal yang sama setiap kali kita bicara?," seru Raja Zio melemparkan gaun tidur milik sang Ratu.


"Cepat pakai lah dan tidur sejenak, siang nanti kau harus bersiap menyambut para anak anak dari asrama ilmu ramuan bukan!, tapi ingat!, jangan berani berani membawa mereka keruang singgasana ku!," seru Raja Zio meninggalkan Ratu Faya begitu saja.


Tatapan Ratu Faya masih terpaku pada Raja Zio hingga Raja benar benar menghilang dari pandangan nya.


"Jika kerajaan ini hancur beserta diri mu di dalam nya aku tak keberatan lagi, ras peri lebih baik hidup tanpa pemimpin seperti mu dan para prajurit bermuka dua seperti Max," keluh Ratu Faya kesal.


------


Siang itu, Ratu Faya dengan senyum merekah sudah bersiap menyambut tamu nya di depan gerbang istana.


"Dayang!, apa kau sudah menyiapkan jamuan yang ku minta untuk mereka?," tanya Ratu Faya bersemangat.


"Semua sudah siap di ruang jamuan Ratu," sahut sang dayang membuat Ratu Faya semakin senang.


"Andai pangeran Rot ada di sini, dia pasti senang karna kedatangan banyak teman," seru Ratu Faya sembari menatap gerbang istana yang tak kunjung terbuka.


"Kabar nya pangeran akan pulang sore ini Ratu," sahut seorang dayang.


"Benarkah?, syukur kalau begitu, aku sangat cemas jika ia berlama lama di luar istana, terlebih bersama prajurit Max," seru Ratu Faya membayangkan jika nanti sang putra pulang dan bermain bersama anak anak dari asrama ramuan.


"Aku sebenar nya tak suka dengan kegiatan kegiatan Ratu yang tak ada guna nya itu," keluh Raja Zio menatap dari arah balkon istana.


"Mungkin Ratu hanya mencoba mengisi waktu luang nya Raja," sahut peri Bin.


"Benar juga, dengan begitu aku tak di buat kesal dengan ocehan nya tentang pangeran yang sedang ku kirim belajar berburu dengan Max, tapi kenapa dia harus mengundang tamu macam Priya" seru Raja Zio berjalan kembali menuju singgasana nya.


Tapi hamba khawatir Raja, mungkin belajar berburu itu cuma alasan Max untuk bisa membawa pangeran ke hadapan ras Troll, batin peri Bin cemas.


"Katakan pada ku!, kenapa kau tak ikut berburu dengan Max?, kalian kan begitu dekat?," tanya Raja Zio membuyarkan lamunan peri Bin.


"Bagaimana itu mungkin Raja," sahut peri Bin spontan.


"Bagaimana?, apa maksud mu?," seru Raja Zio bingung.


"Maaf Raja, hamba salah berucap," sahut peri Bin gugup.


"Oh, aku tahu!, kau mungkin rindu keluarga kecil mu itu kan?," seru Raja Zio tertawa.


"B-benar Raja," sahut peri Bin mencoba mengontrol kegugupan nya.


"Ya sudah!, pulanglah sebentar, kunjungi bayi mu dan istri mu, aku mau istirahat sejenak, malam tadi aku tidak cukup tidur," seru Raja Zio meninggalkan singgasana nya.


"Hamba undur diri," ucap peri Bin sembari menunduk hormat ketika sang Raja melewati nya.


Bagaimana mungkin aku bisa pergi dari istana ini, sedangkan Bin sudah mengancam ku agar terus mengawasi keadaan di istana selagi dia keluar bersama pangeran, ah!, sial!, batin peri Bin terduduk kesal di tangga singgasana.


---------


"Tetua ada?," tanya peri Max saat telah tiba di wilayah Troll.


"Masuk lah!, entah berapa lama tetua sudah menunggu mu," ketus Troll Fos mendengus pelan.


Dengan menggendong pangeran Rot yang masih tertidur, peri Max berjalan memasuki gubuk Troll Sean.


"Salam tetua," ucap peri Bin memberi hormat.


"Jika kau datang hanya ingin memberi janji kosong pada ku, lebih baik pergilah!," sentak Troll Sean sudah mulai memperlihatkan sifat asli nya.


"Tetua, Max datang dengan pangeran Rot," seru Troll Fos membuat Troll Sean segera bersusah payah berdiri dan mendekati nya.


Begitu pangeran membuka mata dan melihat sosok Troll Sean, ia langsung menangis histeris saat itu juga.


"Diam lah pangeran!," sentak peri Max bersikap agak kasar saat itu.


"Jangan bentak ayah ku!," sentak Troll Sean hingga membuat peri Max segera melepaskan dekapan nya pada tubuh pangeran Rot.


"M- maaf Tetua," ucap peri Max mulai menyadari sikap arogan Troll Sean saat itu.


"Fos!, segera bawa abu ayah ku kemari," perintah Troll Sean bersemangat.


Sementara pangeran terus saja menangis dan makin histeris saat Troll Sean mencoba meraih nya.


"Tunggu lah di luar!," seru troll Fos.


"Aku akan tetap di sini," sahut peri Max merasa takut akan kemarahan Raja Zio jika terjadi apa apa pada pangeran Rot.


"Keluarlah dulu!, apa kau tak dengar!," sentak Troll Sean membuat peri Max mau tak mau harus mengikuti perintah nya.


Sementara di luar, para Troll sudah berdiri di depan gubuk.


"Kau sudah membuka jalan masa lalu untuk kembali," ucap seorang Troll.


"Itukan yang kalian mau?," sahut peri Max dengan angkuh nya.


"Kau tidak tahu apa apa, sebaik nya jaga batasan mu!," ucap seorang troll lain sembari mendengus pelan.


Ada tatapan kesal dan marah dari mata mereka, yang semakin membuat bingung peri Max.


Ada apa sebenar nya ini?, apa kebangkitan Troll Rot hanya keinginan sepihak saja?, batin peri Max menerka nerka.


Ah, sudahlah!, yang terpenting aku akan menjadi Raja peri yang selanjut nya, batin peri Max senang.


-----


Sementara di istana, Ratu Faya begitu nampak bahagia saat melihat para peri kecil berlarian memasuki gerbang istana nya.


Mereka nampak bahagia dan ceria dengan cara nya masing masing.


Nampak seorang guru mencoba menertibkan mereka yang mulai tertarik dengan semua hal di dalam area istana.


"Tenang anak anak!, beri hormat dulu kepada Ratu kita," seru sang guru yang tak lain ialah Peri Priya.


"Salam Ratu," seru semua anak dengan lucu nya.


"Salam. Kalian tahu?, aku begitu bahagia kalian mau menerima undangan ku," seru Ratu Faya dengan ramah nya.


Membuat peri Priya hanya tersenyum kecil mendengar nya.


"Terlebih untuk mu peri Priya, aku tahu semua anggota kerajaan ini sudah mengolok ngolok mu dengan sangat buruk, aku atas nama suami ku dan semua nya yang sudah membuat hati mu sakit sekali lagi aku minta maaf," ucap Ratu Faya semakin membuat peri Priya tak tega jika harus memusuhi nya hanya karna kesalahan orang lain.


"Sudahlah Ratu, itu sudah berlalu, kini hamba sudah bahagia dengan kehidupan hamba dengan para anak anak ini," sahut peri Priya membuat Ratu Faya lega.


"Aku begitu salut dengan mu dan suami mu, kalian bisa membesarkan banyak anak anak terlantar, yang bahkan aku sendiri tak bisa melakukan nya," ucap Ratu Faya mengingat pertengkaran nya setiap hari dengan sang Raja hanya karna membesarkan satu orang putra.


"Ibu ku memang wanita hebat Ratu," seru seorang anak mendekati Ratu Faya.


Tatapan anak itu begitu mendamaikan hati dan pikiran nya.


Wajah cantik nya begitu menyihir suasana hati nya dalam sekali pandang.


"Ini?," tanya Ratu Faya.


"Dia putri ku Ratu, nama nya Shenna," seru peri Priya membuat Ratu Faya terkejut.


"Secantik ibu peri kita," ucap Ratu Faya sembari tersenyum menatap wajah lentik Shenna.


"Jangan lupakan aku bu," seru sebuah suara dari belakang badan peri Priya.


"Siapa itu?," tanya Ratu Faya penasaran.