
Karna kejaran bangsa manusia, Shein dan Shenna semakin sulit berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Terlebih setelah bangsa manusia itu bertemu dengan Rot.
"Lari Rot !, ada manusia !", teriak Ken ketakutan.
"Apa mata ku yang salah !, sepekan ini dua kali aku melihat Troll !, apakah yang kemarin itu juga khayalanku ?", seru manusia itu menepuk nepuk pipi nya sendiri.
"Kenapa manusia itu berkeliaran di sekitar sini ?", ucap Rot bergegas berlari bersama Ken.
Tapi langkah mereka terhenti saat mendengar ucapan manusia itu, yang Rot yakin dia sedang membicarakan Shein dan Shenna.
"Kalian komplotan Troll dan peri hutan yang ku lihat kemarin kan !, di mana mereka ?", seru manusia itu berharap itu bukan merupakan penglihatan palsu nya.
"Kau dengar itu !, siapa lagi Troll yang bersama seorang peri ", ucap Rot berbalik menghadap ke arah manusia itu.
Awalnya ia tak menyangka dengan apa yang ia lihat.
Tapi setelah ia mendekat dan semakin dekat kepada Rot dan Ken.
Ia pun percaya cerita tentang Troll dan peri hutan itu memang benar ada nya.
Dan penglihatan nya bukan merupakan imajinasi nya belaka.
"Arkk !", teriak Rot di hadapan manusia itu yang membuat manusia di hadapan nya sedikit ketakutan.
Manusia itu mencoba mengambil panah nya dan membidik Rot.
Tapi dengan cekatan, Rot merampas anak panah dan busur manusia itu dan mematahkan nya menjadi berkeping keping.
"Katakan !, dimana Shein dan peri itu ?", seru Rot membuat manusia itu mengerti bahwa Troll yang ia lihat pertama kali bukan merupakan kelompok kedua Troll di hadapan nya.
"Aku bisa jelaskan !, tapi biarkan aku hidup !", seru manusia itu memohon saat tubuh nya sudah di tarik ke atas oleh Rot dan siap di ***** kan.
Bahkan keberanian dan kekuatan manusia itu langsung hilang saat berhadapan dengan Rot.
Aku bisa menunda untuk memburu mereka , jika aku mati sekarang itu akan membuat kerja keras ku selama ini sia sia, gumam manusia itu dalam hati.
Perlahan, Rot mencoba menurunkan manusia itu dari cengkraman nya.
"Nama ku Pio, aku melihat mereka di kaki gunung bagian barat", ucap Pio memegangi leher nya yang masih terasa sakit.
"Kamu bisa tunjukkan arah nya ?", seru Ken.
"Asalkan kalian mau bekerja sama dengan ku ?", tawar Pio.
Seketika Rot kembali mencekik Pio dengan brutal nya.
"Kau mau bermain main dengan ku ?, apa tak pernah kau dengar bagaimana kami memperlakukan manusia ?, hah !", teriak Rot di telinga Pio.
"Jika aku mati, itu lebih tak ada guna nya lagi bagi mu", ucap Pio membuat Rot berfikir sejenak dan langsung menghempaskan Pio ke tanah.
"Apa yang sebenar nya yang kau inginkan ?, jangan harap aku akan muncul di depan bangsa mu sebagai sebuah tontonan", seru Rot dengan wajah bengis nya.
"Aku hanya minta kalian memberikan Troll yang kalian cari itu pada ku sebagai tawanan", ucap Pio membuat Rot tertawa.
"Kau bisa dapatkan yang kau mau, aku tak butuh dia", seru Rot berjalan mengikuti Pio yang masih meringis kesakitan di bagian leher nya.
__
Mimpi apa aku, harus bersama dengan kedua Troll bengis ini, harus nya mereka lah tawanan ku, gumam Pio dalam hati sembari menyalakan api unggun.
"Tidak, kenapa aku harus bermain main dengan keselamatan nyawa ku sendiri", ucap Pio.
"Lalu, kenapa kita tak kunjung menemukan mereka ?", sentak Ken.
"Besok kita akan sampai di tempat aku melihat mereka, dan sesuai perkiraan ku, mereka sudah berjalan jauh meninggalkan tempat itu, dan kita harus mengejarnya tanpa beristirahat esok hari", ucap Pio menjelaskan rute pencarian mereka.
"Baiklah, aku pegang kata kata mu !", sentak Rot menusuk sebuah babi buruan nya dan membakar nya di atas api unggun.
Dengan lahap, kedua Troll itu memakan babi panggang itu tanpa tersisa.
"Kau mau kemana ?, apa kau tak suka babi panggang ?", tanya Rot.
"Silahkan makan, aku akan beristirahat", ucap Pio menahan rasa mual nya melihat gaya makan Rot dan Ken.
Sementara Shein dan Shenna memutuskan untuk beristirahat kembali setelah seharian berjalan.
Mereka harus tetap beristirahat agar memiliki tenaga lagi untuk berjalan esok hari.
"Maafkan aku Shein, jika saja aku sudah bisa menguasai semua kekuatan sihir ku, pasti kita tak akan kelelahan seperti ini", ucap Shenna merasa bodoh.
"Ini bukan salah putri Shenna, kita akan berusaha sebisa kita untuk terhindar dari kejaran siapapun yang akan mencelakai kita", ucap Shein menyalakan api unggun.
"Gua ini lumayan untuk kita tinggali sementara waktu Shein", ucap Shenna berkeliling dinding gua.
"Tidak, kita hanya beristirahat malam ini, esok kita harus melanjutkan perjalanan, ada salah satu tempat yang cukup aman untuk kita berdua di wilayah lain", ucap Shein memberikan sebuah selimut pada Shenna.
Dengan tersenyum, Shenna menerima selimut pemberian Shein.
Aku memang rindu rumah, tapi aku juga merasa nyaman bersama nya, seakan aku ingin kebersamaan ini tak pernah berakhir, dengan bersama nya aku bisa belajar lebih banyak tentang semua hal dan mengerti akan beberapa hal penting di dunia ini, gumam Shenna dalam hati.
Tanpa ia sadari, Shein juga memikirkan hal yang sama layak nya Shenna.
Ia berfikir bagaimana kehidupan nya nanti jika Shenna telah berhasil pulang ke istana nya.
Shein bahkan sempat berfikir bahwa lebih baik ia mati dari pada hidup tak di inginkan seperti dahulu.
"Jika putri Shenna sudah berhasil pulang, tolong jangan lupakan Shein", ucap Shein menatap binar ke arah Shenna.
Seketika Shenna kembali bangun dari pembaringan nya dan duduk di dekat Shein sembari memegang tangan Shein erat erat.
"Aku janji, sekarang tidur lah", ucap Shenna mencoba menyanyikan lagu yang sama sebagai pengantar tidur khusus untuk Shein.
🎶Hemm....
🎶Rusa besar hidup di keras nya dunia
🎶Ku berdoa agar dunia memberi dia bahagia
🎶Lelah letih nya menjadi suka cita
🎶Yang mengajarkan dunia suatu hal istimewa
Tak berselang lama, Shein langsung terlelap dalam tidur nya.
Ayah, aku mencintai seorang Troll !, bagaimana jika kata kata itu ku ucapkan di hadapan ayah nanti ?, apakah aku akan tetap menjadi putri mu ?, sungguh aku tak bisa mengelak lagi ayah, aku tahu ini tidak mungkin, tapi sebuah cinta tak harus terikat sebuah pernikahan, aku siap tak menikah dan hanya akan menjadi partner hidup Shein jika itu memang harus.
Wahai ibu, dengarlah kegundahan putri mu ini, hadirlah di mimpi ku dan bicaralah apa yang harus aku lakukan, kebersamaan ini cepat atau lambat akan segera berakhir, dan aku tak mau itu terjadi, gumam Shenna dalam hati nya yang gundah gulana.