
Shein dan Shenna terus meneruskan perjalanan nya dengan menghindari beberapa jalan yang mungkin bisa membawa nya bertemu kembali dengan Rot dan Ken.
"Kau yakin ini jalan yang benar Shein ?", ucap Shenna ragu.
"Tenanglah putri, jalan ini tidak akan dia ketahui", ucap Shein menghilangkan keraguan Shenna.
Namun, jalan itu ternyata membawa nya bertemu dengan seseorang yang lain.
Shein mencoba menyibak pepohonan di hadapan nya, namun kemudian, langkah kaki nya terhenti seketika.
"Shein !, a, a, ada Troll lain, ayo kita lari !", seru Shenna ketakutan, namun kemudian merasa bingung setelah melihat ekspresi aneh dari Shein.
"Aku yakin suatu hari kau akan lewat jalan ini jika telah memutuskan untuk kembali pulang", ucap seorang Troll lelaki di hadapan mereka.
"Ternyata kau masih ingat jalan ini", ucap seorang Troll wanita dihadapan mereka.
Namun Shein tetap terdiam sembari menurunkan Shenna dari bahu nya.
"Apa yang kau lakukan Shein ?", seru Shenna kebingungan.
"Ayah, ibu ?, kalian di sini ?", ucap Shein membuat Shenna tercengang.
Jadi mereka orang tua Shein !, gumam Shenna dalam hati masih tak menyangka akan dihadang oleh orang tua Shein sendiri.
Shein mencoba melangkah maju mendekati mereka, namun nampak nya ada rasa marah di raut wajah kedua orang tua Shein.
"Hentikan !", sentak ayah Shein membuat Shein kehilangan senyum nya.
"Apa yang kau pikirkan sehingga berniat mendekati kami ?", seru wanita itu yang tak lain adalah ibu dari Shein.
"Jelas jelas kami tak menyukai mu sejak dulu !", sentak ayah Shein membuat Shein tertunduk sedih.
"Astaga", ucap lirih Shenna merasa iba terhadap Shein yang diperlakukan tak pantas oleh orang tua nya sendiri.
"Lalu kenapa kalian ada di sini ?, di tempat tinggal kita yang dulu", sahut Shein.
"Kami hanya tak sabar bertemu dengan mu dan membuat perhitungan dengan mu anak tak berguna !", teriak ayah Shein sembari menyambar tubuh Shein dengan sekali serangan.
Membuat tubuh mereka beradu dan bergulat di atas tanah dengan waktu yang cukup lama.
"Shein !", teriak Shenna merasa amat gelisah dengan kondisi Shein yang berada di cengkraman sang ayah.
"Anak tak berguna !, sudah membuat malu kami dengan tabiat lemah mu itu, dan sekarang kamu mencoreng nama kami dan nama kaum mu dengan menculik peri ini !, apa yang ingin kamu buktikan !", teriak ibu dari Shein marah.
Ayah Shein terus menyerang Shein tanpa memberi nya jeda, namun Shein tetap diam tanpa melakukan perlawanan.
Gawat !, seru Shenna dalam hati mencari cara membantu Shein yang terlihat tak mau menyerang ayah nya sendiri.
Saat diri nya akan mengeluarkan kekuatan nya.
Tubuh nya dengan cepat di sergap oleh tangan besar ibu dari Shein.
Membuat Shenna kini tak bisa berkutik.
"Putri !", seru Shein menatap ke arah Shenna yang sedang di tawan oleh ibu nya.
"Dasar peri tak berguna !, jika kami tidak mengingat ancaman ayah mu, aku sudah meremukkan tulang mu saat ini juga", sentak ibu Shein membuat Shein seketika memberontak.
"Jangan kalian sakiti dia !", sentak Shein mencoba melepaskan diri dari amukan sang ayah dan bergegas menyelamatkan Shenna.
"Jangan ibu, aku mohon !", seru Shein sampai bersimpuh di hadapan ibu dan ayah nya.
"Seperti nya kamu begitu memperdulikan nya ?, Ahh, tapi itu tak penting, kami kesini hanya ingin memperingatkan mu, selesaikan masalah ketegangan antara kaum Troll dan ras peri hutan Maxim tanpa menyeret kaum Troll yang lain, terlebih nama kami berdua, camkan itu !", sentak sang ayah nampak serius dengan ancaman nya.
"Kau dengar itu !, jangan berani berani kamu mencoreng nama kami lagi !", sentak sang ibu semakin membuat Shein terpuruk.
"Kenapa kalian begitu jahat pada anak kalian sendiri ?", seru Shenna tak terima.
"Bukan urusan mu peri tak berguna !", sentak ibu dari Shein melempar Shenna ke tanah.
Tapi beruntung bagi Shenna, Shein dengan sigap menangkap nya sebelum tubuh nya membentur tanah.
"Harus nya kalian beruntung memiliki anak seperti Shein, tanpa aku jelaskan pun seharusnya naluri orang tua bisa melihat nya sendiri", seru Shenna membuat orang tua Shein kembali kesal.
"Lancang sekali bicara mu !", sentak ayah Shein bersiap dengan gada nya.
"Seorang Troll tak memiliki yang nama nya naluri", sentak ibu dari Shein sembari mendekatkan wajah nya ke wajah Shenna.
"Sudahlah putri", ucap Shein tak mau memperpanjang masalah itu.
"Camkan ucapan ku kali ini, dewa sudah berbaik hati memberi kalian anak, tapi kalian sia sia kan karna perbedaan nya, dewa juga bisa mengambil nya dari tangan kalian nanti nya", seru Shenna dengan lantang.
Namun ucapan Shenna malah membuat kedua orang tua Shein tertawa.
"Kamu pikir kamu peduli !", seru ayah Shein segera bergegas meninggalkan tempat itu.
"Ingat yang telah kita bahas hari ini Shein !", seru sang ibu bergegas mengikuti langkah kaki sang suami.
Sementara Shein masih tertunduk lesu di tempat nya semula, seakan ia masih syok dengan sikap orang tua nya kepada dirinya yang semakin buruk saja.
Shenna yang melihat nya tak bisa berbuat apa apa.
Apa yang bisa ku katakan untuk menghibur mu ?, sementara aku sangat tahu bahwa hati mu tak bisa di hibur dengan apapun saat ini, gumam Shenna dalam hati memilih duduk bersandar di samping Shein.
Tak berselang lama, Shein tiba tiba beranjak dari duduk nya.
"Ayo kita teruskan perjalanan kita putri", ucap Shein sembari meraih tubuh Shenna dan meletakkan nya kembali di bahu nya.
"Kau yakin ?", tanya Shenna langsung di jawab sebuah anggukan oleh Shein.
Dalam perjalanan mereka kali ini, Shein terlihat tak banyak bicara dari pada sebelum nya.
Bahkan kata yang keluar dari mulut nya bisa di hitung jumlah nya, persis seperti saat pertama kali mereka bertemu.
"Kau tak apa Shein ?", tanya Shenna memecah keheningan diantara mereka.
"Aku ?, aku selalu baik baik saja Putri, tak usah hiraukan aku", sahut Shein kembali diam dan sunyi di sepanjang perjalanan.
"Hai Shein !, coba tebak apa yang sedang ku pikirkan sekarang ?", seru Shenna mencoba mengajak Shein mengobrol.
Namun Shein hanya memandang nya tanpa berkata apapun.
Membuat senyum Shenna memudar seketika.
"Kau tahu Shein, bahkan sebelum kita sampai di rumah dan menjalani hidup kita seperti dulu, aku sudah merasa kehilangan mu saat ini, meskipun kamu masih bersama ku saat ini", ucap lirih Shenna membuat langkah kaki Shein melambat.
Maafkan aku putri, aku butuh waktu untuk menenangkan diri, gumam Shein dalam hati kembali fokus membawa Shein pulang ke hutan Maxim sesuai rencana mereka yang telah sepakat untuk pulang dan menyelesaikan kesalahpahaman yang telah terjadi.