
"Pangeran tak apa?," ucap peri Max berinisiatif melihat keadaan pangeran setelah kejadian di aula singgasana.
"Tidak apa kau bilang!, aku seakan di hina di dalam sana!," sentak pangeran Rot kesal.
"Lupakan saja pangeran, mereka tidak akan mempengaruhi kedudukan pangeran di istana ini," ucap peri Max.
"Jika cerita hari ini menyebar ke luar istana, apa semua masih tidak berpengaruh menurut mu?, hah!," ketus pangeran Rot.
"Lalu, hamba harus apa pangeran?, apa hamba harus beri pelajaran anak anak itu?," seru peri Max bersiap memegang erat pedang nya.
"Tidak!, itu hanya membuat citra ku semakin jelek di luar sana," sahut pangeran Rot.
"Apa ada yang bisa hamba lakukan pangeran?," tanya peri Max.
"Kamu cari tahu tentang mereka," titah pangeran Rot.
"Sudah jelas mereka bukan siapa siapa pangeran, mereka hanya anak peri biasa dan anak peri ramuan biasa, hamba juga sudah mengenal betul siapa orang tua mereka," ucap peri Max membuat raut wajah pangeran semakin kesal saja.
"Bodoh!, aku juga tahu itu semua!, jika mereka memang berasal dari keturunan peri biasa!, tapi cari tahu apa yang spesial dari mereka dan cerita apa di balik kelahiran kedua anak itu, aku mencurigai ada yang tak beres di sini," seru pangeran Rot masih belum bisa memastikan tebakan nya benar ataukah salah.
"Sesuai perintah pangeran," sahut peri Max tanpa berani membantah atau bertanya apapun lagi.
Saat ia berjalan meninggalkan istana, seketika peri Bin menghadang jalan nya.
"Apa tidak ada jalan lain yang bisa kau lalui Bin?," ketus peri Max.
"Kenapa kau begitu marah begitu?, aku hanya ingin bertanya sesuatu pada mu?," seru peri Bin mengimbangi langkah peri Max yang kembali melanjutkan perjalanan nya.
"Tak usah buang buang tenaga untuk bertanya pada ku Bin," seru peri Max.
"Maksud mu?," sahut peri Bin heran mendengar jawaban dari sahabat nya itu.
"Sebenarnya kau sudah tahu bukan?, hanya saja kau berusaha menepis kenyataan itu," ucap peri Max membuat langkah kaki peri Bin terhenti.
"Apa dia benar benar sudah bangkit?," tanya peri Bin mencari kepastian.
"Sesuai perkiraan mu," ucap peri Max tanpa menghentikan langkah kaki nya hingga hilang dari pandangan peri Bin.
"Kenapa kalian nakal sekali hari ini!," keluh peri Priya saat telah sampai di pondok.
"Apa kalian berulah di sana?," tanya peri Gigo penasaran.
"Mereka dengan sengaja membuat sang pangeran merasa malu, aku jadi tak enak hati dengan Ratu Faya," keluh peri Priya.
"Kalian kan sudah berjanji," ucap peri Gigo menghela nafas panjang.
"Maaf paman," sahut Shein sembari menunduk mengakui kesalahan nya.
"Shenna, apa kau tak mau bicara apapun?," tanya peri Gigo mendekati sang putri.
"Aku tidak salah ayah, pangeran saja yang terlalu sombong, dan ia kalah karna keangkuhan nya sendiri," sahut peri Shenna bergegas masuk kedalam kamar nya.
"Apa kau mau bersikap seperti itu juga Shein?," tanya peri Gigo menatap tajam ke arah Shein.
Shein hanya menggeleng tanpa berani menjawab lagi.
"Bagus, tunggu di sini, aku akan bersiap sebentar. Aku akan antar kamu pulang ke rumah orang tua mu," seru peri Gigo.
"Tapi paman!," sahut Shein keberatan.
"Jika kalian terus bersama, kalian akan terus berulah," seru peri Gigo sudah pada keputusan akhir nya.
"Baiklah," ucap Shein pasrah.
Sementara di luar pondok.
Peri Max sudah nampak tiba di depan pondok mereka.
"Ini dia!, aku harus mencari tahu kebenaran nya dari sini, sebelum Troll Rot marah padaku," ucap peri Max pada diri sendiri.
Seketika, identitas Bapa Shein muncul dalam diri Shein kecil.
Tanpa sadar, Shein kecil mencoba mengucap sebuah mantra dan mengarahkan nya pada peri Max.
Dalam sekejap, peri Max merasakan panas di sekujur tubuh nya.
"Kenapa dengan tubuh ku ini?," keluh peri Max dengan tergopoh gopoh bergegas mencari sungai terdekat.
Bersamaan dengan itu, Shein segera tersadar kembali sebagai diri nya.
Ia terkekeh kekeh saat menatap keluar jendela saat peri Max tergopoh gopoh berlari pergi.
"Kau kenapa Shein?," tanya peri Gigo bergegas mendekati Shein saat mendengar tawa Shein yang begitu kencang nya.
"Shein!, Shein!, ada apa?," tanya Shenna berlari keluar dari kamar nya.
"Apa ada sesuatu yang membuat mu begitu senang nya?," tanya peri Priya ikut penasaran.
"Aku tadi melihat prajurit Raja tergopoh gopoh kesakitan meninggalkan rumah kita ibu," seru Shein kembali tertawa.
"Prajurit?, prajurit yang mana?," tanya peri Priya mengintip keluar jendela.
"Prajurit yang selalu berada di samping pangeran ibu," sahut peri Priya langsung menatap ke arah peri Gigo.
"Siapa yang kalian bicarakan?," tanya peri Gigo masih tak mengerti.
"Prajurit Max," seru peri Priya membuat peri Gigo tercengang tak percaya.
"Katakan pada ibu, kenapa dia bisa sampai ke sini?, dan kenapa dia tiba tiba berlari pergi?," tanya peri Priya gelisah jikalau peri Max sempat melihat peri Gigo berada di pondok nya.
"Entah, saat aku melihat nya, dia sudah nampak tergopoh gopoh berlari menuju ke arah sungai," sahut Shein membuat peri Priya terdiam.
Apa bapa Shein yang telah mengusir peri Max dari sini?, batin peri Priya menerka nerka apa yang telah terjadi.