
Tapi lagi lagi Shein terlalu takut untuk mengikuti rencana Shenna.
Tidak !, aku tak bisa mengambil resiko besar itu dan malah akan membuat nyawa Shenna kembali terancam, gumam Shein dalam hati masih dengan keputusan nya menunda kepulangan Shenna ke hutan Maxim sampai keadaan menjadi lebih baik.
"Itu mereka !", teriak sebuah suara tiba tiba mengejutkan kedua nya.
"Lari putri !", teriak Shein segera meraih tubuh Shenna dan memanggul nya di bahu.
"Jangan lari kalian !, Rot telah menemukan mu !", sentak suara itu lagi yang ternyata ialah Rot dan Ken.
Mereka terus berlari mengejar Shein yang mencoba menghindar dari kejaran Rot.
Shein terus berlari tanpa menoleh ke arah belakang.
"Shein !, mereka sudah sangat dekat dengan kita !", seru Shenna mencoba melumpuhkan Rot dan Ken dengan kekuatan peri nya.
Tapi itu tak bertahan lama, kekuatan Shenna terlalu lemah dan nanti nya juga akan berimbas pada tubuh nya jika ia terlalu sering menggunakan nya.
"Maaf Shein, aku tak kuat lagi", ucap Shenna memegangi dada nya yang mulai terasa sakit.
"Aku akan berusaha lari lebih cepat lagi putri, berpegangan lah !", seru Shein segera berlari sembari menyibak semak belukar dengan gesit nya.
"Rot, peri itu sudah berhenti menyerang kita, mungkin kekuatan nya sudah habis, dan Shein nampak menambah kecepatan lari nya, ini kesempatan kita Rot !", seru Ken mengeluarkan gada nya.
Seketika itu Rot juga segera mengeluarkan anak panah dan busur nya.
"Kau benar !, rasakan ini pengecut !", teriak Rot sembari membidik Shein yang terus berlari kencang di hadapan nya.
Anak panah segera melesat dengan kecepatan angin menerobos lebat nya hutan dan berhasil mendarat tepat di punggung Shein.
"Arrrrrrg !", teriakan Shein seketika terdengar di penjuru hutan.
Membuat semua hewan bahkan burung burung terbang meninggal tempat itu.
"Shein !", seru Shenna cemas menatap darah segar yang mengucur dari punggung Shein.
"Kena kau !", seru Rot tertawa dengan kencang nya.
Langkah kaki Shein mulai terhuyung huyung karna merasa amat sakit di punggung nya.
Mata nya mulai tak kuat terbuka, ia merasa begitu lemas saat itu.
Goresan pedang Shenna yang dahulu, tak ada apa apa nya ketimbang tusukan anak panah Rot yang begitu tajam dan besar itu.
Panah yang ia sengaja buat khusus untuk memburu Gajah dan hewan besar lain nya.
Bidikan nya tak pernah meleset sejak ia mengenal cara berburu dari orang tua nya.
"Ahh !, Shein !", teriak Shenna yang hampir terjatuh dari bahu Shein.
Seketika itu, teriakan Shenna membuat mata Shein kembali terbelalak.
Ia perlahan meraih Shenna yang hampir jatuh dengan tangan nya yang gemetar.
Aku harus kuat, meskipun bukan demi nyawa ku, tapi demi nyawa putri Shenna, gumam Shein dalam hati mencoba menapakkan kembali kaki nya ke tanah.
Membuat tawa Rot dan Ken berhenti seketika.
"Apa mata ku tak salah lihat ?", seru Ken mengusap berulang kali mata nya.
Seakan ia tak percaya dengan kembali nya tenaga Shein.
"Sial !", sentak Rot kembali membidik Shein dengan anak panah nya.
Crassst.......
Anak panah kedua kembali tepat sasaran.
Membuat Shein kali ini tersengkur.
"Ah !, sial !", sentak Shenna karna lagi lagi kekuatan peri nya tak bisa ia andalkan.
"Luar biasa Rot !, kau tak pernah mengecewakan dalam berburu", ucap Ken memuji kemahiran Rot dalam memanah.
"Aku baik baik saja putri", ucap Shein menahan sakit.
"Bagaimana bisa baik baik saja !, jangan selalu berbohong pada ku !", teriak Shenna dengan terus menangis dengan kencang nya.
Melihat Shenna yang terus menangis, Shein mencoba meraih anak panah yang ada di punggung nya.
"Arrrrggg !", teriakan Shein terdengar menusuk ke telinga saat anak panah pertama telah berhasil ia cabut.
Shenna yang melihat itu merasa begitu takut.
Terlebih melihat Shein yang amat kesakitan dengan darah yang terus mengucur dari punggung nya.
"Hentikan Shein !, aku tak mau kau mati !, aku benar benar tak mau !, aku tak mau kehilangan orang yang ku cintai, aku mohon !", seru Shenna dengan tersedu sedu.
Ucapan Shenna terdengar sampai ke telinga Rot dan Ken.
Mereka seakan mematung saat mendengar nya.
"B-ba, bagaimana mungkin ?", ucap Rot terbata bata saat mendengar ucapan dari mulut Shenna.
"Apa dia sudah gila !", seru Ken merasa paling buruk karna seorang pengecut bisa di cintai oleh ras peri, untuk membayangkan nya saja itu mustahil.
Berbeda dengan Shein.
Shein langsung tersenyum saat mendengar ucapan Shenna.
Ucapan Shenna seketika menjadi kekuatan tersendiri bagi nya.
Lalu dengan segera ia mencabut sisa panah yang menancap di punggung nya tanpa berteriak.
Shenna segera memeluk Shein kala itu sembari menangis sejadi jadi nya.
Walaupun yang bisa ia peluk hanya tangan nya saja, karna begitu berbeda nya ukuran mereka.
"Bisa putri menutup luka ku dengan sesuatu ?", ucap Shein.
Shenna segera mengerti maksud Shein dan langsung merobek baju nya dan menyelipkan nya ke dalam luka Shein.
"Rot !, mereka akan kabur !", seru Ken bergegas menuju ke arah Shein dan Shenna.
"Punya berapa nyawa dia !", keluh Rot bergegas mengejar Shein dan Shenna yang mulai berlari kembali.
Shein terus berlari kencang tanpa memperdulikan sakit nya.
Hingga Rot dan Ken kewalahan di buat nya.
"Gawat !, jejak darah nya pun tak ada, dia begitu cepat berlari", keluh Ken ngos ngosan.
"Arrrg !, lagi lagi kita kehilangan dia !", sentak Rot marah.
Di jarak yang sudah cukup jauh, Shein mulai kembali tak bisa menahan rasa sakit nya.
Ia terus melangkah dengan terhuyung huyung sambil mendekap tubuh Shenna di bahu nya agar tak terjatuh hanya demi sampai di sebuah tempat yang aman sebelum diri nya benar benar tumbang.
"Turunkan aku Shein", seru Shenna tapi sudah tak bisa di dengar oleh Shein yang mulai kehilangan kesadaran nya.
Brukk...
Shein terkapar dengan tengkurap di tanah.
Membuat Shenna juga ikut terjatuh dan terpental lalu pingsan seketika itu juga.
"Putri ?", ucap lirih Shein mencoba menutupi tubuh Shenna dengan telapak tangan nya sebelum ia juga benar benar pingsan.