Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 8.



"Sudahlah, kita bisa coba lain kali," ucap Troll Sean membuat peri Max kembali tersenyum lega.


"Terima kasih tetua, terima kasih atas kemurahan hati mu, aku berjanji akan berusaha membawa bayi Rot kehadapan mu secepat nya," seru peri Max kembali memberi hormat dan segera pergi dari kawasan Troll.


Dasar tak berguna, batin Troll Sean sembari mencoba memanggil abdi setia nya.


"Salam tetua," ucap seorang Troll segera masuk ke dalam gubuk.


"Kamu awasi pergerakan peri tak berguna itu dari jauh, jangan sampai terlihat oleh peri lain, jika peri itu masih tak bisa menyelesaikan tugas apapun dari ku, bunuh saja dia, kau paham Fos?," seru Troll Sean.


"Kenapa harus menunggu lagi tetua?, kita bisa melakukan semua rencana kita sendiri," sahut Troll Fos.


"Tidak!, ini bukan waktu yang tepat, kawanan kita belum siap menghadapi ras peri, aku tak mau kita kalah seperti di masa lalu," seru Troll Sean mengingat saat saat dia menatap mayat sang ayah yang sudah terbujur kaku di masa silam.


"Sesuai perintah Tetua, saya mohon pamit," sahut Troll Fos bergegas meninggalkan gubuk sang tetua.


 


"Salam Raja, apa gerangan yang membuat Raja memanggil hamba," ucap peri Max langsung menghadap Raja Zio saat ia diperlukan.


"Carikan aku seorang peri peramal!," titah Raja Zio seketika.


Mendengar perintah Raja Zio, entah kenapa ia merasa perintah itu seakan bisa membahayakan posisi nya sebagai kaki tangan terbaik sang Raja.


"Peramal Raja ku?," seru peri Max merasa heran dengan permintaan Raja Zio.


"Apa ucapan ku kurang jelas!," seru Raja Zio naik pitan.


"Sesuai permintaan Raja ku," sahut peri Max tak berani menolak perintah dari sang Raja.


Sial!, peramal!, dia bisa membongkar semua rencana ku!, batin peri Max sembari berjalan meninggalkan aula kerajaan.


Tak berselang lama.


Peri Max nampak sudah kembali dari menjalankan tugas nya.


"Lepaskan aku!, lepaskan!," teriak seorang peri dengan kondisi tangan yang di tarik paksa oleh peri Max menuju aula singgasana.


Kejadian itu membuat semua mentri sihir beserta Raja dan sang Ratu begitu terkejut di buat nya.


"Ada apa ini Max!," seru Raja Zio berdiri dari singgasana nya.


"Hamba sudah bawakan seorang peramal termasyur untuk Raja ku, karna dia memberontak hamba terpaksa kasar pada nya" seru peri Max membuat sang Ratu memandang nya dengan tatapan kesal.


"Kamu berani perlakukan wanita seperti itu?," seru Ratu Faya tak suka dengan perlakukan peri Max pada peri peramal yang ia bawa.


Namun ucapan sang Ratu tetap tak membuat peri Max melepaskan tangan sang peramal.


"Dari sekian banyak mata yang melihat ketidak benaran ini!, tak ada satu pun yang sudi menolong wanita tua ini!," sentak peri peramal mulai marah.


"Sudah, sudah!, tenanglah peramal, Max memang agak keterlaluan, tapi itu semua demi menjalankan perintah dari ku, Kamu saja yang sulit di ajak ke kerajaan ku ini sehingga membuat Max sedikit kasar pada mu," ucap Raja Zio membuat Ratu Faya memeluk erat bayi Rot dengan perasaan cemas.


"Raja ku, kamu membela kesalahan nya?," seru Ratu Faya tak menyangka.


"Sudahlah Ratu, jika kamu tak suka kamu bisa pergi ke kamar mu!," seru Raja Zio dengan angkuh nya.


"Turunkan nada bicara mu itu!, kamu tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa?," sentak peri Max mendorong peri peramal hingga jatuh tersungkur.


Semua peri malah tertawa puas saat melihat sang peramal jatuh tersungkur, kecuali Ratu Faya.


"Hentikan semua ini Raja!," ucap Ratu Faya tak tega melihat perundungan itu lagi.


"Sudahlah Ratu!, biarkan mereka puas tertawa sebelum mereka tidak bisa tertawa lagi nanti nya," seru sang peramal membuat semua peri berhenti tertawa.


"Apa maksud mu?, kamu mau membungkam mulut kami?," seru Raja Zio kembali tertawa.


"Bukan aku yang akan membungkam kalian!, tapi takdir lah yang akan membungkam nya!," seru sang peramal membuat semua orang tercengang.


"Tutup mulut mu!," sentak Raja Zio tak terima.


"Sejak kapan sikap dan watak peri hutan menjadi brutal seperti ini?, kalian tak sadar telah berubah menjadi monster!," seru peri peramal membuat Ratu Faya meneteskan air mata.


"Cukup bicara mu!," sentak peri Max.


"Dengarlah Raja Zio!, kamu mencari ku untuk meramal nasib anak mu bukan?," seru sang peramal membuat semua orang tercengang.


"Apa kamu mau melakukan nya?," seru Ratu Faya dengan penuh harap, terlebih setelah kejadian bayi Rot yang hampir di culik dari istana.


"Aku akan melakukan nya, meskipun perlakuan kalian sudah tak sopan pada ku!, bahkan aku akan memberi dua ramalan ku untuk kalian," seru sang peramal menatap ke arah peri Max.


Hingga tatapan itu membuat peri Max nampak ketakutan.


"Izinkan hamba membawa nya pergi dari sini Raja, dia sudah terlalu banyak bicara dan menghina kita," seru peri Max kembali menarik tangan sang peramal dengan kasar nya.


"Lepaskan Max!, kita dengarkan dulu apa yang dia dapatkan dari ramalan nya itu," ucap Raja Zio membuat peri Max mau tak mau harus menuruti nya.


"Musuh kerajaan ini bukan lah orang lain, camkan itu baik baik Raja!, itu tergantung pada Raja sendiri, jika Raja salah melangkah aku pastikan kerajaan ini akan hancur!," seru sang peramal menciptakan kegemparan besar di aula singgasana serta membuat Raja begitu ketakutan dan lemas.


Namun, hal itu tak membuat Ratu Faya tertarik.


Ia masih menunggu ramalan lain, yaitu ramalan tentang sang anak.


"Lalu bagaimana dengan masa depan dan keselamatan anak ku?," seru Ratu Faya di saat semua orang masih syok dengan kabar masa depan kerajaan mereka.


"Ratu percaya dengan ada nya reinkarnasi?,", tanya sang peramal.


"A-apa maksud mu?, anak ku seorang reinkarnasi?," sahut Ratu Faya tak percaya.


"Pangeran adalah reinkarnasi dari sebuah kehidupan di masa lalu," ucap sang peramal kembali menatap peri Max yang nampak gusar.


"Bagaimana mungkin?," seru Ratu Faya semakin erat mendekap sang putra.


"Maaf Ratu, itulah kenyataan nya," ucap sang peramal.


"Siapa anak ku di masa lalu?," tanya Raja Zio semakin penasaran di buat nya.


"Siapapun dia di masa lalu, tergantung pada didikan kalian sebagai orang tua nya di masa kini, dan mohon maaf jika kalian salah mendidik nya, dia akan jadi salah satu alasan kerajaan ini runtuh, itu saja yang bisa hamba sampaikan, hamba mohon pamit," seru sang peramal menepis tangan peri Max dan segera bergegas meninggalkan istana.


"Tunggu!. Raja, cegah dia pergi Raja!, kita harus buat dia menjelaskan semua nya lebih perinci lagi," seru Ratu Faya mencoba mengguncang tubuh Raja Zio yang masih mematung tak percaya dengan semua ramalan itu.