
Sore itu saat melihat pangeran Rot datang, peri Bin segera menunduk hormat saat sang pangeran memasuki gerbang kerajaan.
Pangeran semakin nampak berbeda sekarang, ia lebih suka berada di luar istana sejak ia mulai menginjak usia remaja.
Bahkan tanpa pengawal satu pun.
"Kenapa paman gelisah?, paman tidak lupa akan jati diri ku yang sebenar nya bukan?," ucap pangeran Rot membuat peri Bin semakin menunduk saja.
Ada rasa takut dan khawatir dengan keselamatan keluarga nya jika ia semakin ingin tahu lebih banyak akan pangeran Rot.
"Tidak pangeran, hamba mohon maaf jika telah melakukan kesalahan" sahut peri Bin tak mau memperpanjang semua itu.
"Bagus kalau begitu," ucap pangeran Rot sembari menatap ke arah sang Ratu yang baru saja kembali dari ke kediaman Raja.
Hem, mereka habis bersenang senang rupa nya, membuat aku iri saja, batin pangeran Rot dengan tatapan yang begitu tak wajar ke arah Ratu Faya.
Kenapa pangeran menatap sang Ratu seperti itu?, batin peri Bin segera menepis pertanyaan nya itu sebelum sang pangeran membaca pikiran nya lagi.
Kini usia pangeran sudah memasuki masa remaja, gelagat nya pun sudah bisa di bedakan saat seorang lelaki tengah mengagumi dan menyukai sang lawan jenis.
Dengan cepat, pangeran segera bergegas menyusul serta mengikuti sang ibunda masuk ke kediaman permaisuri.
Karna ia adalah seorang pangeran kerajaan peri, serta merupakan anak dari Ratu dan Raja, tidak ada yang bersusah payah menghadang jalan nya dan menanyakan keperluan nya setiap akan masuk ke ke kediaman Ratu.
Itu sah sah saja dan di anggap wajar saat sang pangeran datang ke kediaman Ratu kapan pun ia mau.
"Di mana ibu ku?," seru pangeran Rot saat mendapati kamar sang ibu kosong.
"Ratu sedang mandi pangeran," sahut seorang dayang sembari menyiapkan baju tidur sang Ratu.
Baguslah, batin pangeran Rot segera memerintahkan para dayang untuk keluar dari kamar sang Ratu.
Mereka tanpa ragu dan curiga segera melaksanakan perintah dari sang pangeran, jika tidak!, mereka akan segera di laporkan langsung kepada Raja Zio dan mau tak mau harus mendapat hukuman berat dari nya.
"Ah!, nyaman sekali ranjang ini, selama aku jadi Troll aku tak pernah merasakan tempat tidur senyaman milik mereka, bahkan aku harus tinggal di rawa yang bau itu sampai kematian ku di masa lalu," keluh pangeran Rot begitu menikmati masa masa nya hidup sebagai seorang peri.
"Pangeran?," seru Ratu Faya begitu terkejut saat ia memasuki kamar nya dan mendapati sang putra telah berada di atas ranjang milik nya.
Mata pangeran Rot segera berkelana menatap sang Ratu yang hanya memakai kain penutup sederhana setelah mandi sore nya itu.
Dengan cekatan, sang Ratu segera menutup tubuh nya dengan jubah kebesaran milik nya.
"Sedang apa pangeran di sini?," tanya Ratu Faya begitu risih saat berhadapan dengan pangeran Rot dalam keadaan seperti itu.
Karna ia sudah tahu, sang putra bukanlah putra nya yang sebenar nya.
Semenjak ia tahu kenyataan itu, ia mencoba mencari tahu apa yang sebenar nya terjadi dan mencoba menjaga jarak sebisa mungkin dari sang pangeran.
Namun penyelidikan nya sampai kini tak kunjung membuahkan hasil.
"Dayang, pergilah!, aku yang akan membantu ibu ku bersiap," titah pangeran Rot segera membuat para dayang segera bergegas pergi dari sana.
Mereka semua takut nasib nya seperti para dayang yang harus di hukum lama di penjara bawah tanah hanya karna menolak perintah sang pangeran.
Bersamaan dengan itu, Ratu Faya berjalan pelan ke arah baju ganti nya dengan rasa takut yang begitu menyeruak dalam diri nya.
"Tidak nak, terima kasih. Kenapa kau tidak istirahat di kamar mu?, ibu dengar kau begitu sibuk berlatih di luar istana setiap hari nya," ucap Ratu Faya sembari mencoba mengganti baju nya di balik bilik ganti nya.
Sementara pangeran Rot masih mencoba mengintip nya sebisa mungkin.
Ia semakin merasa tak karuan saat melihat bekas pergulatan ganas di punggung dan leher sang Ratu yang selalu di tinggalkan Raja Zio setelah bercinta dengan sang Ratu.
"Aku tiba tiba ingat ibunda, dan ingin tidur di sini, boleh kan bunda?," seru pangeran Rot sembari mengusap liur nya yang menetes.
"Kau sudah remaja nak, apakah itu masih pantas kau lakukan?," sahut Ratu Faya masih mencoba mengulur waktu nya lebih lama lagi di dalam bilik ganti nya.
"Aku putra mu ibunda!, tidak ada yang salah dengan permintaan kecil ku itu bukan," seru pangeran Rot sembari merebahkan diri nya di atas ranjang sang Ratu dan mencoba bersantai di sana.
Sementara Ratu Faya semakin gelisah saat ingin melangkahkan kaki nya untuk keluar dari bilik itu.
Ratu Faya tak mau berfikir akan kecurigaan kecurigaan nya terhadap sang pangeran.
Karna ia merasa, setiap apa yang ia pikirkan akan di ketahui dengan mudah oleh sang putra, yang akan membuat diri nya bisa saja semakin terancam.
"Kenapa ibunda lama sekali?, kapan ibunda akan mendongeng untuk ku?," seru pangeran Rot dengan manja nya.
Namun dalam pikiran nya, hanya ada hal hal kotor yang bisa ia lakukan saat berbaring di sisi sang Ratu nanti nya.
"Ibunda sudah selesai," ucap sang Ratu terpaksa keluar dari bilik ganti nya karna tak mau membuat pangeran Rot curiga pada nya.
"Kemarilah bunda, aku sangat lelah dan ingin sekali tidur dalam dekapan ibunda, ibunda tak keberatan bukan?," seru pangeran Rot sembari terus memandang sang Ratu yang kini sudah berbalut baju tidur nya yang tipis dan selembut sutra itu.
"Ibu harus menyisir rambut dan berdandan sebentar, itu adalah aturan dari ayahanda mu," ucap Ratu Faya mencoba menghindar sebisa mungkin dari sang putra yang semakin menakutkan saja di mata nya.
"Baiklah, aku akan bantu," seru pangeran Rot mendengus pelan, dan mau tak mau harus membantu sang Ratu berdandan agar ia cepat bisa merasakan tidur di dekapan sang Ratu pujaan nya itu.
"Tidak usah pangeran, biar ibunda saja," seru Ratu Faya mencoba menghindar semakin jauh saat di dekati oleh pangeran Rot.
"Tenanglah ibunda, aku anak mu, aku tak akan menerkam ibunda ku sendiri," seru pangeran Rot membuat Ratu Faya tak ada alasan lagi untuk terus menghindar dari sang pangeran.
------
"Akhir nya ibunda ku terlihat semakin cantik," seru pangeran Rot menatap ibunda nya yang semakin terlihat cantik di pantulan cermin rias di hadapan mereka.
"T- terima kasih nak," ucap Ratu Faya malah semakin ketakutan di buat nya.
"Sekarang!, ayo bacakan aku sebuah cerita dan rangkul aku dengan erat agar aku bisa tertidur," seru pangeran Rot hanya di jawab anggukan kecil oleh sang Ratu.
Ketika sang Ratu akan berbaring di samping sang pangeran.
Tiba tiba terdengar suara pintu kamar di ketuk dari luar.
Membuat senyum pangeran Rot langsung hilang saat itu juga.
"Sebentar ya nak, mungkin itu hal penting," seru sang Ratu segera turun dari ranjang nya dengan begitu lega nya dan segera bergegas membuka pintu.
Puji Bapa Shein dan ibu Shenna, batin Ratu Faya tak henti henti nya bersyukur sembari menutup badan nya kembali dengan jubah kebesaran nya.
Sial!, akan ku cincang orang di balik pintu itu nanti!, batin pangeran Rot mendengus kesal.