Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 17.



"Ratu harus tahu semua nya!," ucap lirih sang dayang bergegas menuju ke kediaman sang Ratu.


Ia tak menyangka pangeran yang pulang sore itu bukan lah pangeran yang sebenar nya.


"Entah bagaimana reaksi Ratu Faya mengetahui semua ini, tapi dia harus tahu," seru sang dayang semakin mempercepat langkah nya.


"Tak usah terburu buru dayang," seru pangeran Rot tiba tiba muncul di hadapan nya.


Membuat sang dayang gemetar ketakutan dan hampir terjatuh hanya karna melihat tubuh anak anak di hadapan nya kini.


"Kau tak mau bermain dengan ku?, dayang?," ucap pangeran Rot semakin membuat sang dayang berusaha menjauh dari hadapan pangeran Rot.


"Ma- maaf pangeran, hamba terburu buru," ucap sang dayang dengan gugup nya.


"Kau tidak mau aku menangis karna penolakan mu kan dayang?," seru pangeran Rot semakin membuat sang dayang gusar.


"Siapapun kamu, jangan menipu kami lagi!, lepaskan pangeran!, dia masih kecil," seru sang dayang dengan mengumpulkan setumpuk kekuatan nya saat mengatakan itu.


Ucapan dari sang dayang seketika membuat pangeran Rot tertawa.


"Owh, jadi kau berniat melaporkan ku pada Raja dan Ratu?," seru pangeran Rot semakin mendekati sang dayang.


"Mundur!, atau aku akan teriak!," sentak sang dayang mencoba berani walaupun ketakutan dalam diri nya sudah tak terkontrol lagi.


"Coba kau pikir, apa kah Raja dan Ratu akan percaya ucapan mu itu, bisa bisa kepala mu yang jadi taruhan nya!," seru pangeran Rot berubah serius.


"Aku tak peduli, biarkan itu menjadi derita ku sendiri," sahut sang dayang mencoba melanjutkan langkah nya menuju ke kediaman Ratu Faya.


"Heh!, lancang!, kau belum tahu dan belum mengenal siapa aku!, berani nya kau menentang Troll Rot yang perkasa!," sentak pangeran Rot seketika membuat langkah kaki sang dayang kembali terhenti.


Wajah nya berubah pucat pasi dan tak berani lagi menatap ke arah pangeran Rot.


"Kemari kau!," sentak pangeran Rot lagi.


"Lepaskan aku!, tolong!," seru sang dayang mencoba memberontak dan melepaskan tarikan tangan mungil dari pangeran.


Namun sekuat tenaga ia melawan, tenaga nya tak ada apa apa nya di banding kan dengan tenaga tubuh pangeran Rot yang masih cukup kecil di bandingkan diri nya.


"Teriak lah sekencang kencang mu!, aku bukan orang bodoh yang tak melakukan apapun tanpa mempersiapkan segala nya dengan matang," seru pangeran Rot mengingat saat diri nya menaburkan serbuk bunga di setiap sudut istana saat ia berjalan menyusul sang dayang menuju ke kediaman Ratu.


"Mau apa kau sebenar nya!," seru sang dayang masih melakukan perlawanan saat itu.


"Aku akan tunjukkan pada mu cara seorang Troll Rot bersenang senang di masa lalu," seru pangeran Rot kembali tertawa dengan kencang nya.


"Tidak!, tidak!, lepaskan aku!," teriak sang dayang semakin histeris, karna semua peri pun tahu bagaimana kebiasaan buruk Troll Rot di masa lalu.


Troll yang suka sekali menculik seseorang hanya untuk ia siksa secara perlahan hingga mati mengenaskan.


---------


"Masuk!," sentak pangeran Rot memasukkan sang dayang ke sebuah gua tak jauh dari letak istana.


"Tolong lepaskan aku," ucap sang dayang mulai memohon dan merendah di hadapan pangeran Rot.


"Kemana keangkuhan mu barusan, hah!," sentak pangeran Rot membuat sang dayang kembali bersujud untuk mendapatkan sebuah pengampunan dari pangeran Rot.


"Terlambat!, hasrat berburu ku terlanjur meluap saat ini," ucap pangeran Rot sembari menarik sebuah rantai besi dari balik semak semak.


Sang dayang yang mencoba kabur tak bisa berbuat apa apa saat rantai itu dengan sendiri nya melingkar erat di tangan dan kaki nya hingga membuat nya menempel di tembok gua.


"Ini belum seberapa, tunggu sampai kau merasakan tulang tulang mu itu patah satu persatu," ucap pangeran Rot membuat sang dayang semakin menangis dengan histeris nya.


"Terlambat!," sentak pangeran Rot dengan auman khas Troll nya, auman yang berhasil membuat siapapun peri yang mendengar nya merasa tak memiliki nyali untuk menatap nya.


Dengan bringas nya, pakaian sang dayang segera ia cabik cabik dengan brutal nya.


Pangeran Rot menggunakan beragam benda tajam untuk menyakiti sang dayang dan untuk membuat nya mendapatkan teriakan memilukan dari korban nya.


"Ha, ha, ha, ha!, berteriak lah selagi jiwa mu itu masih melekat di raga mu," seru pangeran Rot dengan tangan berlumuran darah.


------


"Dayang, kemana dayang Dae?, dia seharusnya mendandani ku sejak tadi, dan kau pun sama, kenapa kau tak membangunkan ku? " tanya sang Ratu setelah terbangun dari tidur yang ia rasa begitu tak wajar bagi nya.


Pasal nya, ia malah dengan mudah nya tertidur dari pada mengerjakan tugas dari sang Raja yang mungkin sudah menanti nya sejak tadi di atas ranjang.


"Maaf Ratu, hamba juga entah kenapa baru saja terbangun dari tidur," ucap sang dayang kebingungan.


"Ada apa ini?," seru Ratu Faya heran dengan apa yang terjadi.


"Kau sudah siap?," seru sang Raja seketika mengejutkan Ratu beserta sang dayang, segera sang dayang memilih segera bergegas meninggalkan ruangan itu demi privasi Raja dan Ratu nya.


"A- ampun Raja, hamba telah lalai, entah kenapa hamba tertidur cukup lama sore ini," seru Ratu Faya gugup.


"Emm, sudahlah, kau ku ampuni, sekarang berdandan lah. Entah kenapa aku juga baru saja terbangun beberapa saat yang lalu," seru Raja Zio membuat sang Ratu begitu heran dengan hal yang kebetulan sama itu.


Tiba tiba, ia tercengang dan memikirkan akan keselamatan pangeran Rot.


"Anak ku!," seru Ratu Faya gelisah sembari bergegas ingin mencari sang putra.


Namun langkah nya seketika di cegah oleh Raja Zio.


"Putra kita tak apa, aku sudah mengecek nya barusan saat melewati kamar nya, jadi cepatlah bersiap, aku tunggu kau di kamar," seru Raja Zio pergi dari hadapan Ratu nya.


"Syukurlah, mungkin ini hanya perasaan ku saja, semoga tak ada hal buruk yang terjadi," ucap Ratu Faya sembari duduk di kursi rias nya dan mulai berias secantik mungkin untuk melayani Raja Zio malam itu.


-----


"Ayo kita berangkat nak," seru peri Priya mengajak Shenna untuk pergi ke pohon suci malam itu.


Malam rutin setiap satu kali dalam satu purnama mereka sempatkan untuk berkunjung ke pohon suci, sembari berdoa dan bertemu serta bercengkrama dengan keluarga Shein.


"Tidak ibu, aku tak mau pergi kesana malam ini," ucap Shenna tak bersemangat.


Seakan ada duka dalam tatapan nya saat itu.


"Kenapa sayang?, bukan nya ini malam yang begitu kau nantikan setiap hari nya?," tanya peri Gigo heran.


Bahkan setiap malam itu tiba, Shenna lah yang selalu bersemangat mengunjungi pohon suci, ia akan duduk di teras pondok dari sore sampai malam yang ia nantikan benar benar datang.


Tanpa menjawab, Shenna masuk ke dalam kamar nya dan mengunci nya dari dalam.


"Ada apa dengan anak itu?," tanya peri Gigo.


"Entahlah, seperti nya dia begitu sedih," ucap peri Priya.


"Pasti keluarga Shein sudah menunggu kita," ucap peri Gigo.


"Mungkin tidak, karna apa yang di pikirkan Shenna pasti akan ada di pikiran Shein pula," sahut peri Priya menatap bulan purnama malam itu.