
Beberapa hari ini, perjalanan pulang mereka tenang tanpa gangguan sedikit pun.
Bahkan Rot dan Ken sudah nampak tak terlihat mengejar mereka.
Namun entah kenapa, beberapa hari ini mereka terlihat nampak canggung satu sama lain.
Ada kegundahan di hati masing masing, mereka saling mempersiapkan diri untuk sebuah perpisahan yang mungkin terjadi.
Shein masih punya kesempatan dalam beberapa hari terakhir ini untuk mengucapkan salam perpisahan kepada putri Shenna, gumam Shein dalam hati.
Apa harus ada kata perpisahan saat sampai di sana nanti ?, keluh Shenna.
Ah !, tidak, kalau di ucapkan itu akan lebih terasa menyedihkan, ucap Shein dalam hati memikirkan sebuah cara lain.
Apa dia benar benar tak akan melakukan apa apa jika memang tak akan bertemu dengan ku lagi ?, ayolah Shein !, kenapa hanya aku di sini yang memikirkan tentang hubungan kita, keluh Shein dalam hati.
Mereka terus terdiam di sepanjang perjalanan.
Batin mereka terus mengeluarkan sejuta pertanyaan yang intinya adalah sama.
Mereka sama sama tak mau perpisahan itu sebenar nya terjadi.
Sesekali mereka saling lirik satu sama lain.
Kenapa juga hubungan peri hutan dan Troll tak bisa akur ?, ketus Shenna dalam hati.
Andai putri, andai saja !, ahh tidak mungkin !, berfikir apa aku ini, semua hanya akan memperburuk keadaan, gumam Shein dalam hati masih tak mau memikirkan akan cinta.
"Kita istirahat dulu di sini putri", seru Shein memecah keheningan di antara mereka.
"Baiklah", ucap Shenna turun dari bahu Shein dan mencoba menumbuhkan sebuah apel dari pohon nya.
Itu dia !, kenapa aku tak ungkap kan salam perpisahan itu dengan hal hal kesukaan nya, gumam Shein dalam hati beranjak dari duduk nya.
"Mau kemana lagi kau Shein ?, ini aku petik kan apel, makanlah dulu !", seru Shenna menyodorkan se tumpuk apel ke arah Shein.
"Aku tiba tiba ingin sup putri, sebentar ya !", ucap Shein bergegas mencari bahan bahan untuk memasak sup.
"Sup ?, wah !, pasti enak !, aku bantu buatin api unggun nya ya", seru Shenna langsung nampak kegirangan hanya dengan mendengar kata sup.
Berhasil, gumam Shein dalam hati merasa senang melihat rencana nya telah berhasil membuat Shenna tersenyum lagi.
Shein lalu meracik semua bahan yang ada dan mencoba seenak mungkin membuat sup nya saat itu, ia ingin sup itu menjadi sup terbaik dari sup sup yang pernah ia buat untuk Shenna.
Setidak nya salam perpisahan ku ini bisa membuat mu tak akan melupakan aku putri, gumam Shein dalam hati terus berusaha keras memasak.
Shenna juga tak tinggal diam, ia mencoba membantu Shein memasak, walaupun hanya sekedar memotong sayuran dan mengaduk kuali.
"Emmm, bau nya luar biasa Shein !", seru Shenna tak sabar lagi ingin menyantap nya.
"Putri bisa menghabiskan nya bila mau, aku akan berpuasa dulu kali ini", seru Shein sambil tertawa.
"Puasa !, perut mu itu bisa kehilangan kebulatan nya jika kau memaksa berpuasa Shein", timpal Shenna ikut tertawa dengan lepas nya.
"Putri suka sekali meledek ku ya !", seru Shein tersenyum.
Sontak ucapan Shenna semakin membuat Shein tertawa kencang.
Mereka berdua sama sama tertawa dengan bahagia nya dengan cara mereka sendiri, bahkan hanya dengan hal hal kecil yang sederhana serta yang tercipta begitu saja berhasil membuat mereka tertawa bersama dengan riang nya.
Namun tiba tiba, sebuah ucapan dari mulut Shenna membuat tawa Shein seketika berhenti.
"Sungguh brilian salam perpisahan dari mu ini Shein ?", seru Shenna mencoba meredakan tawa nya.
"Putri tahu ?", seru Shein terkejut karna rencana nya bisa di tebak dengan mudah oleh Shenna.
"Aku sudah berbulan bulan mengenal mu Shein, apa hal sekecil ini tak akan ku sadari, hem !", seru Shenna membuat Shein tertunduk malu.
"Aku hanya ingin membuat putri tersenyum untuk terakhir kali nya, aku tak sanggup jika mengucapkan langsung salam perpisahan itu dari mulut ku", ucap Shein berubah raut menjadi sedih.
"Aku hargai itu Shein", ucap Shenna kembali mengingat rasa sesak nya yang akan benar benar berpisah dari Shein.
"Mungkin 2 hari lagi kita akan sampai di hutan Maxim, tapi untuk saat ini, istirahatlah dulu, jaga kesehatan putri" seru Shein memilih berjaga di tepi sungai meninggalkan Shenna yang sendirian di depan api unggun mereka.
"Aku rindu kebersamaan kita dulu Shein, kau bahkan suka sekali melihat sihir warna ku dan sebuah nyanyian ku di depan api yang tengah berkobar ini", keluh Shenna tak terasa air mata nya ikut menetes.
🎶Hemm....
🎶Rusa besar hidup di keras nya dunia
🎶Ku berdoa agar dunia memberi dia bahagia
🎶Lelah letih nya menjadi suka cita
🎶Yang mengajarkan dunia suatu hal
istimewa.
🎶Kelinci kecil masuk dalam hidup nya.
🎶Merajut cerita, hari hari bersama.
🎶Namun dunia lah yang mengatur alur nya.
🎶Bagaimana akhir cerita mereka ?.
🎶Bagaimana akhir cerita mereka ?.
Seketika Shenna mulai menyanyi dengan merdu nya.
Membuat Shein berbinar menatap pantulan nya sendiri di atas aliran sungai, walaupun ia sangat tertarik untuk memandang dan melihat langsung wajah Shenna saat bernyanyi.
Ia mendengarkan dan terus mendengarkan sampai lagu itu selesai.
Membuat ia menyeka pipi nya berulang ulang kali.
Rusa sedang di hadang banyak pemburu putri, dan sang kelinci harus kembali ke kawanan nya, gumam Shein dalam hati sembari mencoba memejamkan mata nya malam itu.