
Orang ramai memadati rumah Raka, tapi Raja masih mabok kuah bakso. Hidung Raja seolah Ter bakso bakso hingga tak mampu lagi mencium aroma lain.
Kimmy sudah cantik dengan gaun biru, lalu tubuh loyo suaminya membuat wanita cantik itu urung keluar.
"Raja kenapa Kim?" Krystal membuka pintu, ia berjalan menuju ranjang merah muda itu.
"Mabok kuah bakso." Kata Kimmy. Usapan lembut terus Kimmy berikan pada kening Raja yang panas.
Krystal terkekeh. "Mabok bakso?"
Raja merengut tampan, bukannya iba Krystal seolah menertawakan dirinya.
Sedikit, Krystal tilik kondisi Raja dengan menempelkan punggung tangannya pada leher putranya. "Kamu panas." Ucapnya.
"Maaf ya Mamm, Kimmy nggak bisa keluar, Raja perlu istirahat." Ujar Kimmy kembali.
Krystal mengangguk. "Iya, nggak apa-apa, biar nanti Mammi yang bilang ke Nuna, Raja sakit."
"Iya."
"Cepet sembuh Sayang." Krystal usap beberapa kali rambut di pucuk kepala putranya.
"Hmm."
Krystal keluar kamar, lalu Kimmy menarik selimut suaminya, pelan-pelan ia memijit suaminya, bukan senang Raja justru meraih tangan mulus wanita itu. "Nggak perlu."
"Kenapa?"
"Nggak tega." Raja tarik Kimmy untuk dipeluknya. "Gini aja, cukup." Lirihnya.
"Tapi Kimmy nggak betah." Kimmy melerai pelukan, bibirnya cemberut menatap suaminya.
"Kenapa?"
"Raja panas banget, Kimmy nya nggak betah."
Raja terkekeh. "Maaf." Ia tepuk bantal di sebelah kepalanya sambil tersenyum. "Kalo gitu bobok di sini." Katanya.
"Iya, tapi Kimmy mau ganti baju tidur dulu." Ucapan Kimmy yang di jawab dengan anggukan kepala suaminya.
...🎀🎀🎀...
Di lantai bawah. Pesta syukuran berlangsung, semua orang ramai-ramai mengucapkan selamat pada Dhyrga dan Queen kembali.
Sampai detik ini Queen tak mau dekat dengan Rania. Queen selalu mual saat menghirup aroma tubuh mertuanya.
Kali ini Queen mengenakkan masker, demi membuat Rania tidak bersedih lagi. Akhirnya, setelah lama Rania pilu, sekarang ia bisa tersenyum manis bahkan haru saat mengelus perut buncit menantunya.
Banyak kado yang Rania berikan hanya untuk meluluhkan kembali hati Queen. Rania sudah cukup merasa bersalah dan ketakutan, bilamana Queen menjauhkan cucu kembar itu darinya.
"Makasih Sayang." Dhyrga kecup kening istrinya. "Kamu masih Queen yang ku kenal." Bisiknya bangga.
"Maaf kalo selama ini Mammi ikut dendam sama Mama. Seharusnya, Mammi nggak boleh begitu kan?"
"Sudahlah, lupakan."
Kian bertambahnya usia kehamilan, Queen tak lagi mengalami gangguan kecemasan dan lainnya. Akhir akhir ini, emosinya terbilang cukup baik.
Dhyrga memamerkan buncitnya perut Queen pada semua orang. Ia bahagia, setelah sekian lama berusaha memiliki adik Cheryl, dua bayi sekaligus mendatanginya.
...🎀🎀🎀...
Pukul sebelas malam, Raditya dan Rinda sudah berada di bawah atap mobil yang sama.
Radit meninggalkan motornya, demi bisa mengantar putranya ke apartemen sang pengasuh.
Ansel tak setiap hari tidur di rumah keluarga Miller, terkadang ia rewel memaksa pulang ke apartemen baru ibu angkatnya.
Sebagai karyawan handal Millers-Corpora, tentu Rinda juga hadir dalam acara syukuran pak CEO.
Ansel tidur di jok belakang, sementara Rinda duduk di sisi Radit yang mengemudi. Rinda, Ansel dan Radit terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Sayangnya, sampai saat ini Rinda masih tak mau menerima lamaran Raditya.
Bukan tidak tertarik, hanya saja Rinda tak mau menikah karena keterpaksaan. Rinda ingin menikah oleh sebab cinta. Rinda masih meragu pada hati Tuan muda yang mengabu.
Sampai di parkiran basemen, Raditya memarkir mobil ke tempat biasa, ia turun lalu membuka pintu belakang demi mengambil putranya.
Radit menutup pintu bersamaan dengan tertutupnya pintu sebelah. "Kamu mengkhawatirkan ku?" Godanya.
"Dih!" Rinda mencebik. Kemudian berjalan menggendong Ansel memasuki bangunan.
Radit menyengir mengikuti langkah kaki Rinda, telah lama mereka sering bersama, bohong jika keduanya tak saling merasakan getaran apa pun.
"Pelakor!" Dari arah kiri, tiba-tiba suara sumbang itu menggema. Semua orang menoleh termasuk Rinda dan Raditya.
Di depan sana ada Killa yang mengatupkan bibirnya saat melangkah cepat menuju pengasuh cantik putranya. "Pelakor tidak tahu diri!"
Rinda mempererat pelukannya pada Ansel, ia sedang berusaha melindungi anak kecil itu. Lalu, Killa mendorongnya hingga terjatuh.
"Killa!" Radit menghalau gerakan laknat mantan kekasihnya. "Minggir Radit!"
"Dasar simpanan busuk! Pelakor! Wanita sundal!" Perhatian tersita oleh kegaduhan itu.
Rinda masih menenangkan Ansel yang terbangun karena kaget. "Ma."
"Sstt." Terduduk, Rinda berusaha memberikan perlindungan pada putra angkatnya.
"Bangun kamu!" Wanita itu meronta dari tubuh Radit, ia terus berusaha menyerang Rinda.
"Killa!" Raditya mencekal lengan Killa kuat-kuat. "Jangan memancing emosi ku!" Melotot nya.
Riksa alkohol yang cukup menyengat tersiar dari mulut Killa. Radit menghempas lengan wanita itu hingga terhuyung ke belakang.
"Oh." Killa tertawa getir. "Sekarang Lo mau menikah sama ni sundal?" Tudingnya pada Rinda.
"Pergi dari sini!"
Killa mencekal kerah jaket jeans hitam Radit dengan kedua tangan. "Denger Radit, Gue mau tuntut Lo!"
"Nuntut?" Radit terkekeh. "Menuntut apa? Lo berani?" Tatapan remeh Raditya berikan pada wanita tempramen itu.
"Gue mau Ansel, Gue nggak akan pernah ngalah. Ansel punya Gue!" Tapi di sudut tempat, anak itu justru bergetar hebat, ia ketakutan melihat kemarahan ibu biologisnya.
"Pikir lagi baik-baik, Lo begini bukan karena Ansel. Lo terobsesi dengan kemenangan. Lo ambisius. Lo nggak butuh Ansel. Saat ini Lo terlalu buruk untuk dijadikan seorang ibu."
"Dit!"
Tap tap tap.... derap langkah kaki terdengar mendekat. Mereka anak buah Arnold yang mengikuti Nona mudanya.
"Denger Dit!"
"Kita pulang Nona muda!" Belum selesai Killa membuka mulutnya, anak buah Arnold telah mengapit tubuhnya.
Killa terkesiap, secara bergantian ia menoleh pada kedua bodyguard suruhan Arnoldus Reynolds. "Brengsek! Lepas!"
Bagaimana pun, Hendra telah membuat kesepakatan damai. Hak asuh Ansel tetap akan jatuh pada tangan keluarga Miller.
Killa berteriak, kakinya mengayun, meronta. Semua orang menggeleng kepala heran menyaksikan adegan ini.
Sosok Killa tenggelam masuk ke dalam mobil Van milik orang-orang Arnold. Radit menoleh pada Rinda dan Ansel. "Maaf."
"Bukan salah mu Dit." Rinda bangkit lalu Radit membantunya berdiri dengan benar. "Hati-hati."
"I'm scared." Ansel merengek lirih. Sepertinya bocah tampan itu trauma. Melihat Rinda tersakiti, adalah hal yang tidak ingin Ansel lalui.
"Papa." Ansel mau Raditya melindunginya dengan tidur bersama di atas ranjang yang sama. "Sleep with me, please."
Demi membuat Ansel tenang, Raditya mengangguk. Mereka melanjutkan langkah menuju lift.
"Ekm." Radit canggung, malam ini ia harus tidur di apartemen milik Rinda. Dan apakah, Rinda membolehkannya tinggal?
"Aku akan pulang, setelah Ansel tidur." Seperti tak nyaman, Radit mengatakan itu.
Rinda menggeleng. "Tidak perlu. Kamu boleh menginap di sini sampai Ansel terbangun lagi."
"Serius?"
"Iya."
Radit tersenyum bersamaan dengan mekarnya senyum manis Rinda. "Makasih." Ucapnya.