Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
BC musim pertama²



Semua bahagia, Rachel dan Ryan menikah lalu tak lama terdengar kabar kehamilan gadis tomboi itu.


Murni juga melahirkan anak laki-laki dan kabarnya sikap Joon sudah banyak berubah.


Namun, Queen masih memiliki kehidupan yang sama, belum hamil-hamil juga.


Happy graduation, hari ini Queen lulus begitu juga dengan Murni, Joon dan yang lainnya.


Mereka menyandang gelar masing-masing, Queen dan Murni sarjana, sementara si cerdas Joon sudah magister dan sedang lanjut menuju doktor.


Kendati tidak menikah, kehidupan Joon dan Murni nyaris sempurna, ada anak yang lucu sedang berusaha mempersatukan kedua orang tuanya, setidaknya itu menurut Queen.


Lupakan soal itu, Dhyrga tengah dalam kondisi yang tidak ia sukai kali ini.


"Kapan Queen hamil Sayang? Kamu yakin Queen tidak menundanya? Dia publik figur, dia mungkin sengaja tidak mau hamil dengan diam-diam meminum pil, coba lagi di tanyakan."


Rania bertanya dengan nada yang sangat halus tapi menyakitkan bagi putranya.


Dhyrga Miller sudah berusia 32 tahun, tapi masih belum juga bisa memberikan owner Millers-Corpora Group keturunan.


Di atas meja makan panjang klasik rumah utama Harlan, Dhyrga beserta keluarga besarnya berkumpul. Tuntutan putra pewaris tahta sudah sering di sudut kan pada Dhyrga.


"Kalaupun menundanya, memang kenapa Mah, Queen baru ajah lulus tahun ini, justru kalau hamil dia repot sendirian di LA, Dhyrga sibuk, Rachel cuti, mungkin bulan depan atau bulan depannya lagi juga hamil, sabar saja." Dhyrga sedikit memamerkan protesnya.


"Leta saja sudah hamil, coba dulu kamu menikahnya sama Leta, pasti Mamah sudah punya cucu." Rania justru membahas wanita lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan hidup putranya.


"Kenapa jadi Leta sih di bahas? Apa hubungannya coba?" Radit sepupu Dhyrga menyeletuk. "Tante kok mirip mertua di sinetron azab sih?"


"Radit." Harlan menegur pemuda tampan berkaos hitam itu.


"Sorry Om, Tante, tapi menuntut sesuatu yang misteri itu sama saja Tante tidak bersyukur. Mendahului Tuhan jatuhnya nanti. Belum apa-apa Tante sudah pesimis. Leta yang super duper matre di jadiin mantu keluarga Miller, bisa bangkrut Millers-Corpora Group!"


"Radit." Harlan kembali menegur.


"Radit bener loh ngomongnya, ngapain di tegur sih?" Sanggah pemuda tampan itu.


"Tapi keturunan juga wajib ada untuk Millers-Corpora Group Radit!" Sela Rania. "Queen mungkin dapat kutukan dari istri pertama Raka makanya belum juga hamil."


"Rania!" Harlan kali ini menegur istrinya. Ucapan Rania sudah sangat keterlaluan.


"Ya Tuhan, jangan sampe Radit punya mertua yang mulutnya kayak bungkusan nasi goreng yang karetnya dua, pedes banget." Batin Radit menggerutu.


Dhyrga bangkit dari duduk, tak mau terus menerus mendengar ocehan ibunya, "Dhyrga sudah selesai, Dhyrga langsung berangkat." Pria itu mengecup pipi ibunya lalu menatap ayahnya. "Dhyrga ada pertemuan penting di Jakarta timur lalu sorenya langsung ke LA."


"Hati-hati Sayang." Harlan yang menurunkan pendirian kokoh Dhyrga. Jika sudah menikah, maka harusnya tak ada campur tangannya lagi. Harlan menghargai pilihan putranya.


Pada siapapun Dhyrga Miller berlabuh, Harlan setuju, bukan tak mau memiliki keturunan, tapi anak juga bagian dari rezeki yang sangat misteri, jika sudah waktunya akan datang jua.


Dhyrga tersenyum tipis sebelum ia melangkah gagah meninggalkan tempat itu. Biarkan Rania merutuk, Dhyrga tak mau pusing mendengarnya.


Bukan tidak mau, Queen juga sudah pusing dengan kondisi ini. Takut juga jika Dhyrga harus menikah lagi hanya karena tuntutan putra pewaris.


Dhyrga masuk ke dalam mobil. Sopir baru yang akan mengantarnya ke mana pun ia pergi. "Ke hotel Jaktim, kita ada pertemuan di sana." Titahnya.


...🎀🎀🎀...


Esok harinya.


...Pukul 07.00 pagi di Los Angeles....


Dari layar ponselnya. Satu foto milik Ji Young Jay 'putra perdana Joon' sedang Queen pandangi, Jay lucu menggemaskan, sangat mirip Ji Min Joon waktu kecil.


Tak terjawab, mungkin Murni sibuk dengan urusan pekerjaan rumahnya atau Baby Jay rewel. Di Indonesia pasti masih malam.


Setelah lulus Murni langsung bekerja di perusahaan Raka. Ditempatkan di bagian keuangan sesuai jurusan yang Murni ambil.


Queen mendengus mendapati centang dua tapi tak terbaca, jenuh juga hanya leha-leha di kamarnya.


Queen bangkit dari gulungan selimut tebalnya, ia melangkah menuju cermin besar yang terletak di sudut ruangan.


Queen amati baik-baik tubuhnya yang banyak berubah. Menstruasi lancar setiap bulannya, tapi perut sudah dua bulan ini membuncit.


Sering lemas, sering menangis tiba-tiba, sering kali perasaan aneh dia rasakan, Dhyrga jauh dan itu membuat Queen sering menangisinya.


Ting tong....


Bel berbunyi, sepertinya itu Dhyrga, Queen menoleh kemudian berjalan cepat keluar dari kamar menuju pintu utama.


Ryan dan Rachel cuti bersama, Queen seorang diri di rumah sebesar ini. Lagi pun, semua keluarga Queen akan datang untuk menjemputnya.


Queen membuka pintu dan sebuket bunga mawar merah besar tersuguh di hadapannya. Ada pria gagah yang bersembunyi di balik bunga itu.


"Happy graduation istriku." Dhyrga tersenyum setelah menurunkan bunga mawar merah dari wajahnya.


"Ueeeghh." Seketika Queen mundur setelah tersengat aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya. Refleks, Dhyrga memberhentikan langkah.


"Kenapa Yank?"


"J-jangan mendekat!" Pekik Queen.


"Why?"


"Bau, Queen nggak suka parfum, ..." Belum selesai bicara Queen sudah meluah kembali. Hidung mancungnya ia cubit rapat-rapat.


"Bukannya biasanya kamu suka parfum ini, ini kamu yang beliin loh?" Dhyrga letakan bunganya pada salah satu nakas, kemudian mengikuti langkah Queen menuju wastafel.


"Baby ngidam?"


Queen menatap protes Dhyrga setelah mencuci mulut di mangkuk wastafel. "Jangan bercanda deh, Queen ajah lagi dateng bulan sekarang."


"Emang ada kepastian orang hamil nggak bisa datang bulan begitu?" Sambung Dhyrga.


"Nggak juga sih. Tapi nggak mungkin itu terjadi sama Queen, aneh kan pastinya." Sanggah Queen.


"Baby gemukan loh." Dhyrga amati perut Queen juga semakin aneh bentuknya. Tidak seperti Queen yang biasanya.


Queen mengusap perut. "Ini pasti karena sering makan malam akhir akhir ini. Queen jadi gendut, maaf nggak bisa ngerawat diri buat kamu." Lirihnya.


"Nggak usah bahas gendut, cinta ku nggak akan berkurang hanya karena perubahan fisik."


"Sweet." Queen menyengir mendengar kebucinan suaminya. Ingin memeluk laki-laki tampan itu, tapi satu langkah saja mendekat Queen meluah mual.


"Ya Tuhan, aku kangen, kenapa mual terus? Baby asam lambung?" Dhyrga kesal.


"Nggak tahu, tapi mendingan Hubby mandi gih, jangan pake parfum! Nggak enak banget sumpah!"


Dhyrga mengerucut bibir. "Baru ketemu loh, pengen nyium dikit."


"Tapi mual! Cepetan mandi, ganti baju jangan lagi pake parfum itu!"


"Iya." Dhyrga berjalan lemah menuju kamar miliknya. Queen mendengus kesal. "Kenapa nyebelin banget sih dia ini, heran." Rutuk nya.