
Udara dingin pagi hari kota Paris mulai mencekik. Queen membuka mata perlahan, sipitnya berangsur terbuka hingga membulat sempurna.
Dhyrga Miller, paras rupawan pertama yang Queen pandangi setelah terjaga dari alam mimpi.
Semalaman keduanya tidur saling menautkan raganya, di bawah selimut tebal yang sama, kamar yang sama, dan menghirup udara yang sama.
Keduanya berhadapan, saling menggenggam erat tangan masing-masing. Queen mendongak menatap Dhyrga dari kedekatan yang sangat cekak.
Bibirnya tersenyum manis, teringat saat-saat Dhyrga menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya selama dua tahun terakhir.
Kerja, kerja dan kerja saja sampai kesuksesan tak jera mengapit nama Dhyrga Miller dan menjunjungnya tinggi-tinggi.
Sore tadi Dhyrga menyatakan cinta, dan Queen bahagia. Sejenak Queen mengingat kembali bagaimana kegiatan romansa mereka dimulai.
Dari lift lalu ke kamar, dan berlanjut dengan pernyataan cinta Dhyrga.
"Aku siap melamar mu sekarang juga, aku siap menikahi mu saat ini juga Queen." Sore tadi Dhyrga mengatakan itu tepat di depan embusan napasnya.
"Lalu gimana sama cinta mu?" Queen mendorong pongah dada Dhyrga setelah mengingat gadis cantik di kafe sebelumnya.
"Just for you." Lugas Dhyrga. Dhyrga pikir, cinta yang Queen tanyakan adalah rasa tulusnya.
"Oya? Gadis yang kamu bawa itu gimana? Kamu mau jadikan aku second wife seperti Mammi Krystal?"
"Queen!" Dhyrga menegur, itu hal yang tidak boleh terucap, karena setiap ucapan bisa saja terlaksana. Dhyrga hanya ingin satu Queen untuk selamanya.
"Queen tanya! Dulu Daddy pernah mengalami kehidupan yang sulit karena itu, Queen nggak mau terjerumus ke jurang yang sama dengan orang tua Queen, Queen mungkin pernah egois, Queen pernah kekanakan, tapi sekarang Queen berpikir, untuk memiliki pria yang hanya mencintai satu istri saja." Cetus Queen.
"Meski Queen mencintai mu Dhyrga, aku akan pergi jika kamu mendua." Tambahnya.
"Seandainya bisa terbagi rasaku, mungkin aku sudah menikah Queen. Sudah dua tahun aku menepis perasaan ku, tidak juga aku mampu melepaskan bayang mu." Sambung Dhyrga, melankolis.
"Sekarang aku nyata Dhyrga, gimana kalo ternyata bayangan Queen akan lebih sempurna dari queen sendiri? Siapa, dan apa posisi ku di hati mu saat ini, obsesi kah, atau cinta sesungguhnya?" Sergah Queen.
Dhyrga mendekat, kembali ia menautkan kedua kening mereka saat menyadari bibir Queen membeku biru. "Dingin?"
"Jawab dulu pertanyaan ku Dhyrga." Sanggah Queen.
Dhyrga mengangguk. "Dengar Queen. First, aku hanya mencintai mu, dari awal hingga akhir. Second, aku ingin memiliki mu seutuhnya. Third, bahagia bersama memiliki keturunan yang lucu-lucu. Selanjutnya biarkan Tuhan yang mengabulkan." Ujarnya.
"Kamu belum jawab pertanyaan ku." Queen ketus.
"Apa lagi?"
"Gimana sama cewek yang kamu bawa? Kamu panggil dia cinta, tapi kamu tinggalin gitu aja!" Tukas Queen.
Dhyrga menutup mulutnya dengan kepalan tangan, ia terkikik geli hingga Queen berkerut kening. "Jangan bercanda!" Queen tatap laki-laki itu seksama.
"Cinta itu namanya, Cinta Amara, itu namanya. Dia masih kerabat dekat Papah, Cinta ke sini karena tahu aku di sini. Kami tidak datang sama-sama, dia menyusul karena Papah memberitahukan keberadaan ku, di sini di kota ini." Jelas Dhyrga.
"Aku ke sini karena ingin melupakan mu. Tapi ternyata, aku tidak pernah mampu melakukan hal itu, lihatlah, aku mengejarmu padahal tahu kamu memiliki kekasih." Imbuh nya lagi.
"Jangan sok tahu kamu!" Queen menukas.
"Arnoldus Reynolds, dia pacar mu bukan?" Tuding Dhyrga.
"Kamu mengawasi ku?" Tatapan mereka kembali menajam.
"Ada selentingan di meja makan relasi ku, Tuan Raka dan Tuan Hendra akan menjadi besan." Kata Dhyrga.
"Aku harap kata-kata mu benar, karena siapa pun yang memiliki mu, aku mau merebutnya!"
"Don't go anymore!" Jangan pergi lagi! Di sela lamunan Queen, keheningan terpecah oleh igauan Dhyrga Miller yang masih tertidur pulas.
Tangan Dhyrga mempererat genggaman mereka juga mendekatkan wajahnya pada pucuk kepala Queen.
Tak ada yang terjadi malam tadi, Dhyrga meraih selimut saat Queen kedinginan tanpa baju hangatnya.
Mereka mengobrol, makan malam romantis ala honeymoon, berbagi cerita dari yang getir sampai yang elok, keduanya saling memuji bahkan mengumpat melontarkan kekesalan yang terbendung selama dua tahun lamanya.
Queen membawa jari telunjuknya menempel pada ujung hidung Dhyrga, membuat wajah tampan kekasihnya mengernyit terkejut.
"Baby." Dhyrga bersuara parau. Sedikit demi sedikit mata pria itu terbuka sipit seolah malas melebar tapi bibir senyum Queen memberikan semangat juang pada Dhyrga untuk membesarkan bukaan matanya.
"Morning My wife." Ucap Dhyrga tersenyum samar-samar. Meski demikian terlihat manis dan tampan.
"Belum juga nikah, udah panggil my wife!" Protes Queen.
"Kan latihan dulu kita." Dhyrga mengecup lembut tangan mulus yang berada di dalam genggamannya.
"Kita pergi hari ini?" Tanya Queen.
"Ke KUA?"
"Dhyrga!" Queen menepuk pipi Dhyrga sedikit keras supaya terbangun dari mimpinya.
"Aku mau kita menikah secepatnya Sayang."
"Apa begitu caramu mempersunting ku?"
"Setidaknya kamu setuju untuk aku lamar kembali, dan jangan tolak aku lagi. Jangan cintai aku karena ketampanan ku tapi ketulusan ku, karena aku juga sangat mencintai mu bahkan setelah kamu menjadi Murni, aku tahu aku ganteng, tapi setidaknya tulus lah mencintai ku." Dhyrga menguraikan unek-uneknya.
"Percaya diri sekali Anda!" Queen menarik sudut bibirnya ke atas dan Dhyrga hanya terkekeh.
"Sepuluh hari lagi Baby ulang tahun, apa yang Baby mau dariku?" Sesekali Dhyrga mengecup jari-jari Queen, netra-netra itu silih menatap lekat-lekat.
"Kenapa bertanya? Kamu masih belum menyelami sifat ku?" Tuduh Queen.
Dhyrga menggeleng. "Bukan begitu Yank." Sanggah nya. "Sekarang dengarkan aku, mungkin mudah memberikan sesuatu pada gadis biasa, contohnya Murni, Cinta, Rachel, atau lainnya, tapi Queen Kirana Rain putri Raka Rain. Sulit bagiku memberikan sesuatu padamu, semuanya sudah kamu miliki dari orang tua mu, aku kecil hati." Lirihnya.
"Perjuangan mu sudah cukup untuk ku Dhyrga." Ucap Queen serius. "Kalau memang benar kamu mencintai ku, menginginkan ku, menyayangi ku, bahkan ingin hidup bahagia bersama ku, perjuangkan aku." Timpalnya.
"I love you." Dhyrga menautkan bibirnya kembali. Tak sampai mendalam, mereka baru saja bangun tidur, masih malu untuk bertukar saliva.
Queen bangkit dari posisinya, menyingkirkan selimut lalu keluar dari kamar ke balkon. "Queen lapar handsome uncle." Celetuknya.
Dhyrga terkekeh, sebutan uncle sudah tidak lagi mesra, sekarang Queen lebih cocok memanggilnya Dhyrga.
"Tunggu sebentar, setelah mandi aku pesan makan." Dhyrga beranjak dari selimut berjalan tidak seimbang menuju kamar mandi.
Klikk..
📩 "Kamu di Paris dan tidak memberitahu ku Queen?" Pesan teks dari Arnold Queen dapati.
Maaf semalem ketiduran sampe lupa nulis, hihi.... makasih vote nya kalian semua, lope you...