
Mengenakan piyama pendek putih polos dan sendal pom-pom berwarna senada Kimmy berjalan merengut, pagi jam tujuh Ameer menyuruhnya menyampaikan makanan pada keluarga Raka.
Padahal Kimmy malas sekali kalau harus ke rumah utama Raka. Bertemu Raja menjadi alasan utama gadis itu cemberut.
Sudah menolak, tapi Ameer memaksanya. Sepertinya Ameer masih bersemangat menjodohkan putrinya, Raja calon menantu yang baik dan sangat ideal.
Biasanya Kimmy masak sendiri untuk Raja, tapi semenjak pulang dari Kanada, Raja tak mendapat perlakuan manis dari tunangannya.
"Kimmy, ..." Raka duduk di sofa ruang tengah menyambut kedatangan calon menantu.
Hari Sabtu Raka dan Krystal pasti libur. Mereka duduk bersisian menikmati waktu berkualitas bersama di masa senja.
"Om, Tante." Kimmy menyengir. Yang bersalah Raja bukan orang tuanya, Kimmy masih menghormati juga menyayangi Raka dan Krystal.
"Kok Kimmy baru datang ke sini sih, Kimmy lupa jalan ke rumah Om?" Sindir Raka, dan Krystal hanya terkekeh.
"Kimmy banyak tugas."
Raka mengernyit tipis, sedari masih kecil Raja yang mengerjakan tugas Kimmy. Bahkan tak segan Kimmy mengganggu kuliah Raja di Kanada hanya untuk mengerjakan tugasnya. Lalu, kali ini alasan Kimmy banyak tugas?
"Bukan karena kalian berantem kan?" Raka menimpali dengan asumsi.
Kimmy merengut. "Salah satunya itu."
"Berantem apa lagi?" Tanya Krystal.
"Raja selingkuh!"
"Selingkuh?" Raka menatap istrinya lalu kembali memandang Kimmy. "Selingkuh bagaimana?"
"Om cari tahu saja sendiri, Kimmy males ceritanya." Kimmy berjalan ke arah meja makan, meletakkan rantang berisi masakan ibunya.
Sementara Raka dan Krystal saling bertanya kebingungan, selama bertahun-tahun Raja tak menunjukkan pembangkangan, apa iya di balik semua itu ada perselingkuhan?
"Wah, Bibi nggak perlu masak dong." Pelayan menyengir sembari membantu Kimmy memindahkan makanan dari rantang ke mangkuk cantik. "Ini Den Raja pasti cepat sembuh kalo makan sama sup begini."
Lupakan soal marah, mendengar Raja sakit Kimmy menoleh penasaran. "Raja sakit Bi?"
"Iya, flu, bersin mulu dari subuh tadi, kasihan."
"Pasti gara-gara nyium Gue semalem, syukur." Kimmy menyengir setan. "Eh, Gue tilik ajah ke kamarnya. Lagian sepeda Gue juga belum di balikin." Suara batinnya.
Kimmy berlari menaiki lift, lantai empat yang Kimmy tuju. Beberapa kamar di rumah ini memang seluas tanah dasar rumahnya.
Queen di lantai tiga, Raka dan Elevy di lantai dua, sementara lantai lima dan enam untuk para tamu yang biasa menginap.
Tiba di lantai empat, Kimmy langsung menjumpai pintu kamar milik tunangannya. Ia melangkah gontai lalu mendorong pintu kamar itu.
Tak ada sosok tampan yang biasa duduk di kursi belajar. "Kemana tuh orang?" Gumamnya.
Kimmy mengedar pandangan, seluruh dinding kamar ini di isi oleh foto-foto kecilnya bersama Raja.
Ada yang memeluk Raja, ada yang mencium pipi Raja, ada pula foto pertunangan mereka.
Semua terlihat manis, sampai bulan lalu semuanya terlihat baik-baik saja, tapi entah kenapa saat ini pemandangan itu terasa menyakitkan, dilihat dari sisi manapun tak satupun foto Raja yang terlihat tersenyum.
Raja datar, bukan pula Raja yang memeluknya, tapi Kimmy dan selalu Kimmy yang merangkul, memeluk bahkan mencium.
Tring...
Seketika Kimmy menoleh pada laptop buatan Xmeria yang teronggok di atas meja kerja Raja. Ada pesan dari seseorang, Kimmy penasaran dengan itu.
Menundukkan tubuhnya, Kimmy membuka dan membaca percakapan Aldo, Doni dan Raja.
Aldo [Nanti malam acaranya kan? Gue masih bisa tidur dong sekarang? Lagian ni kalung udah di tangan Gue.]
Raja [Jangan sampai lecet!]
Doni [Wokehh Wakpresdir!]
"Achim!" Kimmy menoleh pada pemuda tampan tak berbaju. Menampilkan tubuh seksinya. Raja hanya memakai handuk di pinggang kokohnya.
Alis Raja naik sebelah, bibirnya pun menyeringai, pemuda itu berdiri di sisi ranjang menatap Kimmy yang berjarak dua meter.
"Ngapain pagi-pagi ke sini? Kangen? Pengen di cium lagi hmm?"
"GeEr!"
Raja terkekeh, bersin tak lantas membuat pemuda itu merengek. Dengan percaya diri Raja membuka handuk miliknya di hadapan Kimmy.
Sontak Kimmy berpaling. "Raja! Gila Lo hah! Ada Gue di sini!"
"Nggak usah kaget, nanti juga punya Lo!" Raja tersenyum kecil, ia masih acuh memakai satu persatu pakaian miliknya.
"Percaya diri banget Lo, Gue mau kita putus!"
Selesai memakai celana jeans hitam panjang, Raja meraih t-shirt miliknya, ia pakai sembari melangkah menuju kekasihnya. "Lo yakin bisa lebih bahagia tanpa Gue?" Bisiknya di telinga.
Kimmy membalikkan tubuh ke arahnya, Raja memang tidak merengek tapi hidung bangir pemuda itu terlihat memerah.
"Lo mampu bahagia tanpa Gue?" Ulang Raja.
"Bisa lah, buat apa Gue berpatokan sama Lo, soal kebahagiaan Gue cuma Tuhan yang bisa atur! Sama siapa pun Gue menikah, asal saling setia pasti bahagia!"
"Gimana kalo ternyata, takdir Tuhan sendiri yang menyatukan kita?" Sambung Raja.
"Jangan ngarep Lo!"
"Kata orang level tertinggi mencintai adalah merelakan, kalo Lo lebih bahagia tanpa Gue, mungkin Gue berhenti seperti yang Lo mau, tapi kalo Lo minus kebahagiaan, jangan salahkan Gue, ..."
Kimmy menahan napas saat Raja menautkan telunjuknya pada ujung hidungnya. "Karena Lo harus setiap hari berhadapan sama Gue!" Saling menatap, mereka terdiam sunyi.
Kriiiiiing....
Gawai pipih dari atas nakas berdering, keheningan terpecah oleh suara itu, sontak Kimmy memindai layar ponsel milik tunangannya. "Rinda?" Ia terkekeh samar melihat nama tersebut.
"Di depan Gue, tuh anak parasit berani telepon Lo!" Raja meraih gawai tipisnya tapi Kimmy merebutnya. "Biar Gue yang ngomong!"
Raja menatap diam murka gadis itu, indah saat di cemburui begini, tapi sakit melihat kesakitan yang Kimmy dapati. Dan ini, karena isi otak mereka tidak sinkron.
"Yah, mau ngapain Lo?" Kimmy jutek berbicara pada gadis di seberang telepon, bahkan wajahnya mencuat seperti mau menantang.
📞 "Raja, bukannya ini HP Raja?"
"Nggak usah sok lembut deh Lo, ngapain telepon? Lo mau minta apa lagi dari cowok Gue?"
Raja samar-samar tersenyum. Kimmy yang ia kenal tak pernah berkata kasar seperti ini, tapi rupanya lucu juga ledakan-ledakan itu.
📞 "Minta? Bukan, aku cuma mau tanya, apa undangan pesta pengangkatan direkturnya malam ini?"
Tuuuut....
Kimmy mematikan panggilan secara sepihak, ia tatap tajam-tajam wajah tampan Raja yang masih hanya datar tanpa rasa bersalah.
"Jadi Lo ngundang dia ke pesta malam ini hah?"
Raja menggeleng. "Bukan Gue yang ngundang."
"Terus siapa Om Raka?" Kimmy menyela, bibirnya tersenyum pahit. "Oh, jadi kalung yang Lo pesan itu mau buat dia gitu?"
"Mungkin perusahaan yang ngundang, sekarang dia kerja di perusahaan kita."
"Hh?" Kimmy terkekeh kesal.
"Kalian kerja di perusahaan yang sama, setahun kemudian Lo CEO nya dan dia sekertaris nya, ok, nanti Lo keluar kota sama dia nginep di hotel dan kamar yang sama, sementara Gue nunggu di rumah kayak orang bego gitu, wah, tercium busuknya kelakuan Lo dari sekarang!"
Ujuk-ujuk segelintir buntalan bening tergelincir dari sudut netra gadis cengeng itu.
Raja menghela pelan. "Saran Gue. Jangan kebanyakan nonton sinetron yang isinya pelakor. Nggak bagus buat kesehatan mental Lo."