
^^^Seoul...^^^
Di meja makan panjang minimalis modern sebuah hunian mewah. Joon masih nyaman dengan lamunannya. Sumpit dia apit di antara jemari tangannya.
Malam tadi Raja memberitahukan pernikahan dadakan Queen. Sedikit aneh seperti tak ada rasa kesal, dan entah kenapa dia sudah ikhlas merelakannya.
"Jadi kandungan Murni sudah mau tiga bulan Oppa?" Hwa Young bertanya pada suaminya. Kendati pernah terpisahkan pada akhirnya cinta mempersatukan keduanya.
Hyun Ki mengangguk. "Hmm, untungnya sehat dan baik-baik saja, padahal Murni sambil kuliah." Jelasnya. Mereka menggunakan bahasa negaranya.
Hwa Young berkata dengan sedikit sedu sedan. "Aku, ingat masa-masa sulit itu Oppa, saat Joon masih dalam perutku, aku berjuang sendiri tanpa mu, pasti sulit menjadi Murni sekarang ini, setidaknya dulu aku yang lari darimu, bukan seperti Murni yang sengaja Joon tolak." Lirihnya.
"Bagaimana pun, dia cucuku, Joon mengakuinya atau tidak anak Murni cucuku." Timpal Hyun Ki.
"Kita kirim bantal juga selimut hamil yang nyaman, ini akan mengurangi kegelisahan tidurnya." Hwa Young bersemangat, dia paling mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ibu hamil tanpa suami.
"Terserah kamu." Angguk Hyun setuju.
Ae Rin hanya diam, gadis itu memang dingin seperti ayahnya. Joon apa lagi, mereka seperti keluarga freezer.
Mendengar pembahasan soal Murni. Joon meraih ponsel miliknya, dan iseng membuka media sosial milik ibu dari calon anak pertamanya.
Tak ada aktivitas lebay yang Murni unggah selain hanya kegiatan belajarnya bersama satu dua teman kampusnya.
Selalu senyum yang Murni tampilkan di balik rahasia kehamilannya. Jantung Joon berdesir mengingat kembali insiden kelamnya bersama wanita hamil itu.
Bukan apa-apa, ini hanya rasa bersalah yang terlambat datang. Yah, sebab tidak mungkin Joon mulai jatuh cinta hanya karena pe-mer-ko-sa-an yang tak di inginkan itu.
...🎀🎀🎀...
^^^Di lain negara yang lebih lambat dua jam dari negara Joon.^^^
Dhyrga dan Queen baru saja selesai bersih-bersih instan. Cukup dengan tisu basah dan kering mereka menghilangkan lengket di bagian intinya.
Dhyrga turun dan berjalan ke belakang, mengambil kaos yang dia simpan di bagasi mobilnya.
Kemeja miliknya robek, kancing pun tanggal semua. Dhyrga melepas kemeja tersebut lalu mengganti kaosnya sembari berjalan menuju pintu bagian kemudi kembali.
Haus, ia raih botol berisi air mineral, lantas meneguknya.
Sembari menyeka bibir basahnya Dhyrga menoleh pada Queen yang bersandar lemah di atas joknya.
Bibir Queen pucat, tapi kecantikan tak pernah lekang dari wajah wanita mungil itu. "Kenapa? Masih pedih?" Dhyrga mendekat mengusap lembut pipi mulusnya.
Queen menoleh. "Masih terasa, kayaknya berlubang sekarang." Cebik nya.
Dhyrga terkekeh kecil. "Itu hanya perasaan saja, saking elastis nya dia, makanya berasa ada yang mengganjal, but ini nggak akan berangsur lama, mungkin nanti ada drama nyeri saat buang air, tapi semua wanita yang menikah akan melewati proses ini."
"Gitu kah?"
"Hmm." Dhyrga mengangguk lalu melabuhkan kecupan manis pada kening wanita itu. "Lapar?" Tanyanya.
"Emmh." Queen mengangguk. "Apa ada restoran di sekitar sini?"
Dhyrga membuka satu storage mobil, meraih satu roti berbentuk segitiga. "Makan ini dulu untuk sementara, maaf cuma bisa kasih ini di hari pertama pernikahan kita, tak ada honey moon seperti di film romantis." Ujarnya.
"Bahagia tidak harus dengan kemewahan, iya kan? Cukup bersama dengan orang yang kita cinta Queen bahagia." Jawab Queen.
"Itu kata Baby yang lahir dari keluarga berada, tapi bagi orang sederhana seperti pak tua itu," Dhyrga menunjuk laki-laki berpakaian kusut yang berjalan di tepi pantai.
"Mereka bahkan rela berpisah dengan orang yang tercinta demi keutuhan rumah tangga." Imbuhnya.
"Hmm." Dhyrga mengangguk.
Sejenak Queen terdiam, memikirkan bagaimana kelanjutan cintanya, setelah cuti kuliahnya selesai Queen juga akan tinggal di Amerika lagi demi menyelesaikan pendidikannya. "Berarti, kita juga akan LDR dong?" Ucapnya.
"Lalu?"
"Apa bisa?" Queen memagut pelan roti isi coklat miliknya.
"Bisa dong, aku bisa bolak-balik menemui istri ku sambil mengurus pekerjaan kantor." Kata Dhyrga.
Queen tersenyum. "Kalau iya itu terjadi, kamu Sayang, akan Queen nobatkan sebagai suami ter perfect sedunia! Bisa menghandle perusahaan, juga menyenangkan istri."
Dhyrga tersenyum tipis. "Seperti kehidupan, hubungan juga punya hambatan. Ada petir, badai, guntur, dan lainnya. Ku harap, Baby tetap setia bersama ku sampai ajal memisahkan."
"Kenapa ada harapan seperti ini? Tentu saja Queen setia!" Dhyrga tutup mulut mungil itu dengan jemarinya, membiarkan Queen memakan dengan tenang potongan rotinya.
"Baby cantik, seksi, kaya raya, populer, mungkin akan mudah bagi Baby mencari pria yang lebih segalanya dari ku. But, pikir lagi, karena terkadang sang durjana datang menyuguhkan penawaran yang ternyata hanya fatamorgana."
Queen menyimak baik-baik setiap kata yang Dhyrga burai sembari menikmati sarapan sederhananya.
"Baby know. Jalan tak selamanya mulus, akan ada kerikil kecil yang mungkin bisa menghambat laju pedati pernikahan kita." Jelas Dhyrga pelan.
"Mau ku, ketika nanti dalam hubungan kita ada sedikit problem, jangan cari pria lain untuk bercerita, tapi berusaha meluangkan waktu untuk saling bicara." Imbuhnya.
"Tanyakan pada diri sendiri, apa yang membuat kita berseteru, dan pikir lagi, bagaimana kita mencapai titik ini. Bagaimana kosongnya kita tanpa kita selama ini. Apakah, bisa kita tanpa kita bersama seperti sekarang ini?" Tambahnya.
Queen terdiam menelaah. "Intinya, jangan pernah ada pihak ketiga dalam hubungan kita. Baby boleh ngambek, boleh marah-marah, boleh manja, boleh posesif, tapi jangan sampai ada orang lain yang masuk merecoki hubungan kita, because, itu bisa menjadi awal dari runtuhnya pernikahan, orang lain yang menenangkan mu saat bermasalah dengan ku, akan terlihat seperti malaikat, di saat aku tampak seperti penjahat."
Queen tersenyum. "Apa karena Queen jauh lebih muda darimu Yank? Ada keraguan di matamu."
"Anggap ini pondasi." Satu kecupan Dhyrga dapati. "Only you." Ucap Queen tersenyum.
Brugh.... Bantingan pintu yang terdengar membuat Queen menoleh ke arah lain.
"Apa kita terlalu lama? Kenapa sudah pagi begini?" Queen merotasi pandangan ke mana-mana.
Perasaan saat mengakhiri pergulatan mobil bergoyang pertamanya masih lumayan petang, lalu tiba-tiba alam menjadi terang benderang.
"Menjauh dariku Patung bergerak!" Di belakang sana Rachel berlari menjauhi mobil dengan raut cemberut lalu Ryan mengejarnya dari belakang seperti sedang membujuk gadis tomboi itu.
"Mereka kenapa?" Queen mengernyit heran menatapnya. Ini pemandangan pertama yang Queen dapati, saat Ryan merengek pada seorang gadis. "Apa ada sesuatu di antara mereka?"
"Mungkin Ryan menciumnya barusan, makanya Rachel ngambek." Dhyrga sedikit terkikik karena tidak begitu yakin dengan ucapannya.
"Nggak mungkin. Kalau Rachel yang mencium Bang Ryan, itu mungkin, tapi Bang Ryan terlalu datar jika untuk melakukannya terlebih dulu."
Dhyrga menekan tombol buka atap, dan kembali terlihat seluruh pemandangan di sekitarnya.
"Tapi mudah-mudahan mereka berjodoh." Ucapnya berlanjut.
"Aamiin." Sahut Dhyrga, mesin mobil ia nyalakan, yang mana membuat Queen menoleh pada pria itu. "Mau kemana?"
"Kita pulang ke apartemen, kita perlu istirahat sebentar, baru setelah itu kita persiapkan temu janji dengan orang-orang Wedding organizer."
"Baiklah." Queen meraih ponsel miliknya, ia melayangkan pesan teks pada asisten pribadinya.
📤 [Bang Ryan sama Rachel langsung pulang ke apartemen yah, Queen duluan.] Tulisnya dan terkirim.