Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
End musim pertama



Empat bulan sudah Queen menjadi istri Dhyrga Miller. Gadis kecil telah bertransformasi menjadi wanita anggun.


Pagi ini Queen baru saja keluar dari kamar miliknya, bibir merengut kecut. Langkahnya berlanjut sampai ke jendela kamar.


Ia membuka gorden, membuat laki-laki yang asyik dengan gulungan selimut tersentak kaget hingga kerutan di kening terulas samar.


"Sayang." Dhyrga mengusap mata agar membulat sempurna. "Sudah siang?"


"Hmm." Queen berdiri melipat tangan di dadanya, menatap geming pemandangan luar dari balik jendela.


Queen mengubah sebagian warna kamar ini, dari yang tadinya gelap menjadi penuh merah muda. Mau tak mau, Dhyrga harus ikut menyukainya.


Melihat wajah sendu istrinya, Dhyrga segera bangkit dari kenyamanannya. Melangkah pelan menuju wanita itu, kemudian menempatkan Queen ke dalam pelukan hangatnya.


Leher mulus menjadi sasaran empuk kecupan bibirnya. "Baby baik-baik saja?"


"Tidak." Geleng Queen.


"Why?"


"Datang bulan lagi." Queen merengut, ia putar tubuhnya menatap wajah tampan suaminya.


Entah kenapa, semakin bertambah usia semakin Dhyrga Miller menjadi laki-laki yang sangat tampan.


"Lalu?" Dhyrga mengerut kening samar. Sedikit bingung dengan ekspresi suram itu.


"Gimana kalo ternyata aku kayak Mammi Vio? Queen nggak bisa hamil. Apa Hubby juga akan menikah lagi kayak Daddy?"


Dhyrga terkekeh lirih. "Kita baru menikah empat bulan, Baby sudah cemas? Di luar sana bahkan ada yang empat tahun baru punya keturunan, please, santai Sayang." Tuturnya.


Queen peluk Dhyrga yang membalas pelukannya, seperti biasa dekapan ini menenangkan.


"Ada trauma tersendiri, ketika kita lahir dari keluarga yang tidak baik-baik saja." Katanya.


Dhyrga mengangguk. "I know, but, pikiran negatif juga bisa menjadi pengaruh besar untuk hal itu. Jadi lebih baik kita nikmati saja menjadi pasangan yang romantis tapi halal."


Queen mendongak sedikit tersenyum. Sepertinya Dhyrga bukan laki-laki yang goyah hanya karena alasan keturunan.


"Buang ketakutan yang tidak penting, semua orang punya cara tersendiri untuk mengatasi masalah, aku lebih memilih mengadopsi anak atau tidak usah punya anak, dari pada harus menyakiti mu bahkan menduakan mu."


"Aku yakin Daddy juga dulu sangat mencintai Mammi Vio, tapi keadaan memutar balikkan takdirnya. Pada akhirnya, Mammi Krystal yang menjadi jodohnya. Gimana kalo ini terjadi pada mu?"


"Baby meragukan ku?"


"Tidak." Queen menggeleng. Jika di pikir ulang, Dhyrga tak pernah merasa terancam oleh apa pun.


Lain halnya dengan Raka yang memiliki ketakutan akan harta dan kebahagiaan orang tuannya. Itu menjadi polemik awal dalam hubungan cinta segitiga memilukan.


Tapi Dhyrga, tak pernah takut dengan satu pun ancaman. Dhyrga bahkan acuh saja meski orang tuanya sempat menjodohkan dengan banyak perempuan cantik.


Dhyrga kokoh dalam pendirian, Dhyrga bukan laki-laki plin-plan, Dhyrga takkan goyah hanya karena orang tuanya menuntut keturunan.


"Bukti, lihat saja bukti cinta ku, karena aku yakin hanya dengan kata-kata saja akan membuat Baby muak." Ujar Dhyrga.


Queen tersenyum. "Maaf uncle." Ucapnya.


Dhyrga sentuh bibir mungil Queen. Baru saja pria itu menunduk. Telepon seluler meminta perhatian.


Kriiiiiing...


Queen kecup sekilas pipi Dhyrga yang merengut kecewa lalu beralih pada nakas. Sebuah nama di layar ponselnya tertuliskan 'Daddy'.


"Daddy." Sapa Queen setelah menekan tombol terima.


📞 "Sayang. Hari ini jadi ke Amerika kan?"


"Jadi dong." Queen menatap Dhyrga yang duduk kembali pada sisi ranjang.


📞 "Hari ini Daddy tidak ikut mengantar, Daddy banyak pertemuan penting sampai bulan depan, jadi Dhyrga saja yang akan mengantar mu, nggak apa-apa kan?"


"No problem." Queen mengangguk. Sebuah tarikan di baju tipisnya membuat Queen berangsur-angsur mendekati pria nakal itu.


📞 "Daddy love you." Kecupan terdengar dari seberang sana.


"Love you too. Daddy." Queen kecup telepon seluler miliknya lalu meletakkannya di atas nakas.


"Daddy bilang apa?" Dhyrga meraih pinggang ramping Queen agar duduk di atas pangkuannya.


Refleks, tangan Queen bertengger pada tengkuk suaminya. "Daddy nggak bisa ikut, jadi kita berempat cuma sama Bang Ryan dan Kak Rachel."


"No problem. Daddy pasti sibuk." Dhyrga menyapu pipi mulus Queen dengan bibir dan hidung lancipnya.


"Mandiin." Nada Dhyrga seperti bocah lima tahun. "Pengen mandi bareng lagi, sambil, ..."


"Nggak-nggak." Sergah Queen ketus.


"Why?"


"Gimana kalo Queen pengen, cowok mah enak, nggak di colokin juga bisa ngeluarin, cewek mah beda." Queen bangkit dari pangkuan suami hyp nya.


"Hehe." Dhyrga menyengir. "Ya udah kasih dikit ajah bekel mandi, ..." Dhyrga berdiri menarik tengkuk istrinya. Bibir- bibir itu bersatu, hawa panas meremang melingkupi keduanya.


Queen awalnya menolak. Kenyataannya, jika sudah seperti itu tubuh pun menegang, menginginkan kedutan manja di lubuk intinya.


Meremas dua bola kenyal milik Queen, Dhyrga candu hingga tangan kedua-duanya rakus menyikat itu.


Apa lagi Queen, rasanya ingin berkreasi yang lebih jauh lagi. Tapi ingat, "Aku datang bulan Dhyrga Miller ku Sayang!" Ketusnya.


Mereka terlerai. "Jangan egois!"


"I'm sorry." Lagi-lagi deretan gigi putih Dhyrga tertampil. "Aku mandi saja deh." Pria itu berjalan mundur sambil tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Queen menggeleng pelan. "Heran. Suka banget bikin pusing kepala om-om ini! Untung udah jadi suami." Rutuk nya.


Demi mengantar istrinya ke Amerika, Dhyrga rela cuti beberapa hari dari kantornya, masih ada pekerjaan yang dia kaji.


Juga pemberkasan yang dia periksa lewat daring. Rachel beserta beberapa sekertaris nya ikut serta. Ryan pun sama.


Dhyrga mengamati. Ada cinta di antara Ryan dan Rachel tapi masih sama-sama gengsi. Tak apa, kata orang yang sok bijak cinta akan indah pada waktunya.


...🎀🎀🎀...


Queen mengudara, di lain tempat saudara kembar tak sedarah nya baru saja tiba di rumah sakit.


Murni kontraksi rahim, magang telah usai, ia kembali kuliah normal dan pagi tadi Murni merasakan tidak nyaman di perutnya.


Satu pria tampan telah mengantarkannya ke rumah sakit elit ini, tapi keluar lagi untuk mengurus administrasi.


Murni di tangani beberapa dokter wanita. Murni berbaring di atas ranjang suite room.


"Syukur Nyonya dan bayinya baik-baik saja." Meski masih terlalu mungil, dokter selalu menyerukan sebutan itu teruntuk pasien hamilnya.


"Syukur lah, terima kasih Dok." Wanita itu tersenyum manis. Anak Murni laki-laki, dan sangat aktif. Itu juga yang membuat Murni kuat menjalani kehamilan ini sendiri.


"Saya tinggal dulu, selamat beristirahat."


Murni mengangguk membiarkan dokter keluar dari kamarnya bergantian dengan pria tampan yang masuk mengukir gurat cemas.


"Kamu kenapa?"


Murni mengalihkan pandangan ke arah jendela. Senyum untuk dokter lenyap ketika Joon datang. "Tidak apa-apa."


"Ngapain di sini kalo nggak apa-apa?" Joon mendengar berita ini dari orang-orang Raka yang diam-diam mengawasi Murni.


Murni menoleh. Raut cemas itu sempat membuatnya senang, tapi jika mengingat ucapan sarkas Joon, wanita itu menciut.


"Hanya kontraksi palsu kata dokter. Ini kan bulan ke delapan."


"Syukurlah." Joon lirih.


...SEASON SATU BERAKHIR....


Part di atas menjadi akhir, dari kisah Joon dan Murni di novel ini. Dia akan pindah ke judul lain wkwk.


Oya, sekalian nunggu Dhyrga dan Queen ada hal menarik dalam kehidupan mereka, plus punya Baby lucu kek bapak Bucin nya, aku mau perkenalkan dulu tokoh di season dua


...Sexy Little Partner Musim ke dua....


Visual Raja Kryska Rain.




Visual Kimmy Zoya.




Ada beberapa tokoh tambahan untuk bumbu bumbu cinta mereka, tapi nanti menyusul, Ok, season dua di tulis setelah beberapa bonus chapter yaaahh🤗🥳