Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Sepeda...



Sore tadi Kimmy di antar Radit. Rupanya Raja sudah jauh di dahului oleh Radit.


Siapa sih yang menolak pesona keluarga Miller? Meski badung Radit sudah barang tentu memiliki masa depan cerah.


Raja tak mungkin memakai cara yang Aldo katakan kemarin, sebab jika itu terjadi, sudah pasti Radit yang akan menolong keluarga Kimmy dari kebangkrutan.


Dari sana, Raja akan terlihat seperti penjahat sedang Radit malaikat. Setelah itu, bubar jalan hubungan yang di mulai sedari masih anak-anak.


Akhirnya pagi ini Raja mengeluarkan sepeda, setelah melihat gadis tetangga depan keluar dengan sepedanya, segera Raja mengayuh sepeda miliknya.


Rencananya hari ini Raja ingin melakukan apa yang ayahnya sarankan. Sejenak ia mengingat kembali bagaimana percakapannya bersama sang ayah siang kemarin.


"Menurut Daddy, wanita akan luluh karena apa? Kenapa dulu Daddy bisa merebut kembali cinta Mammi dari Om Hyun?"


Tentu saja Hyun Ki bukan saingan yang sepele, tapi Raka masih sanggup mengeruk kembali second wife nya.


Raka terkekeh. "Sungguh-sungguh, wanita hanya akan luluh dengan kesungguhan." Sedikit kata yang mungkin bisa membantu kecemasan Raja.


Tersenyum simpul Raja mempercepat kayuhan pedal nya, sepedanya mengejar sepeda milik Kimmy hingga sejajar keduanya di jalanan aspal sepi manusia.


"Ekm Ekm." Selalu jaket jeans yang Raja pakai, entahlah, Raja menyukai gaya kasual. Dahulu, Kimmy pencetus ide gaya tersebut.


Kimmy melirik sekilas lalu fokus kembali pada jalanan. Ia tak menyahut dahaman mantan kekasihnya.


"Gimana alerginya? Sudah mendingan? Demamnya sudah turun?" Raja mengulur tangan memeriksa dahi kekasihnya.


"Jangan terus menerus memforsir otak, nanti migrain." IQ rendah akan lebih mudah lelah saat di paksa berpikir keras.


Kimmy menepis. "Dari mana Raja tahu Gue demam? Dia pasang CCTV di kamar Gue kah?" Sesekali Kimmy melirik sipit pemuda itu curiga.


"Ah!"


Mendengar desah Raja, Kimmy menoleh tajam. "Kenapa Raja hah?" Ada khawatir di balik acuhnya.


Raja terkikik. "Barusan Raja tertusuk lirikan matamu!"


"Ueeeghh!" Kimmy mendadak mual mendengar gombalan Raja.


Gegas gadis itu menundukkan tubuhnya, demi mempercepat laju sepedanya. Raja pun tak mau kalah, posisi sepeda mereka imbang sejajar.


Untungnya, pagi begini jalanan masih sepi, hanya ada satpam komplek yang berjaga di pos.


"Jangan ngebut Yank." Raja memperingati.


"Sayang pala Lo peyang."


Kiick....


Kimmy menarik rem mendadak, ia tergelak seketika Raja bablas. Segera Kimmy berputar haluan, ia mencari arah lain yang tidak sama dengan Raja.


Raja menggeleng ringan, ia hentikan laju sepedanya lalu berputar arah dan mengejar sepeda milik Kimmy kembali. "Tunggu, Yank!"


Tak lama, sepeda keduanya sejajar kembali.


"Sejak kapan Raja mau sepedaan sama Kimmy! Pergi sana!" Kimmy ketus. Moodnya langsung anjlok hanya karena cengiran menyebalkan pemuda itu.


"Sejak Raja pulang dari Kanada, Kimmy mulai acuh, banyak hal yang pernah Raja khayal kan sebelum kejadian itu dan masih terkatung."


"Aaaa!" Kimmy mulai oleng saat sepeda Raja melipir ke kiri. "Stop Raja! Kita bisa jatuh bareng!"


Brakkk....


Keduanya terjatuh seperti ramalan Kimmy barusan. Mereka bahkan tak bisa mengatur posisi jatuh terbaik. Raja ke kanan dan Kimmy ke kiri.


"Aw aw. sakit!" Kimmy meringis, mengusap sebelah pantat gemoy miliknya yang memar.


Raja bangkit menepuk silangkan tangannya, hal yang pertama kali ia lakukan adalah mendekat dan membantu Kimmy berdiri.


"Maaf, Raja sengaja."


"Minggir, Kimmy bisa sendiri!" Gadis itu mengayunkan siku supaya Raja menjauh.


Berbibir merengut Kimmy raih kembali sepedanya, mata melotot penuh mendapati stang miliknya bengkok.


"Tuh kan, stang sepeda Kimmy jadi bengkok! Ini gara-gara Raja!" Dia injak sepatu sneaker Raja kuat-kuat.


"Ah!" Raja peluk Kimmy kesempatan. "Lepas! Mesum!" Teriaknya meronta.


Raja bawa Kimmy menuju sepedanya. Ia paksa gadis itu duduk di stang miliknya.


Ilustrasi



Kimmy kelojotan. "Nggak mau!"


Bugh!


"Ah!" Raja meringis membungkuk di depan dada Kimmy. Tendangan Kimmy mengarah pada benda pusaka original kepunyaannya yang masih bersegel.


"Sakit Yank! Jangan ngada-ngada kamu, ini aset berharga!"


"Bodo amat! Turunin Kimmy!" Pukulan bertubi-tubi mengenai pundak Raja.


Raja memaksa Kimmy berpegangan pada pundaknya. "Jangan turun, kita jalan sama-sama. Jalanan masih sepi. Kimmy seksi. Nanti di culik Om Om!"


"Daripada Raja yang nyulik! Mending Kimmy sama Om Om!" Kimmy ketus.


Raja tergelak. "Om Om mana ada yang ganteng kayak Raja hah."


"Dih. Om Om kalo kayak bang Dhyrga juga Kimmy mau!"


"Sayangnya Dhyrga Miller cuma satu, sudah di kuasai Nuna! Jangan menolak kalo kita berjodoh." Lagi-lagi cengiran gigi putih Raja membuat Kimmy sebal.


"Kita udah putus Raja!"


"Kan bisa balik." Raja mendekati wajah cantik Kimmy Zoya.


"Apaan sih!" Kimmy meronta tapi Raja lebih pandai menguasai pergerakan tubuhnya.


"Diam atau aku cium di sini?" Ancaman Raja yang sontak membuat Kimmy mendelik penuh.


"Hah!" Kimmy beku tak berkutik. Meski sudah beberapa kali berciuman, respon tubuhnya masih sama canggungnya.


"Silent please," Menatap dalam-dalam netra hazel milik Kimmy yang terdiam, Raja bertutur lembut.


Agar tak menghalangi pandangan, Raja menarik kepala Kimmy ke sebelah pundaknya.


Terpaksa, Kimmy melingkarkan tangan pada punggung pemuda itu. "Sepeda Kimmy gimana?" Lirihnya.


Ada hal yang masih sama setiap kali berdekatan. Kimmy masih merasa nyaman meski status mereka telah berganti mantan.


"Nanti Aldo yang ngambil." Perlahan Raja mulai mengayuh sepedanya, bibirnya tersenyum menikmati kedekatan yang cukup intens bersama sang pujaan.


Tiga Minggu lamanya Kimmy menghindar, akhirnya ada kesempatan pula baginya bersentuhan hingga sedekat ini.


"Pegal?" Setelah cukup jauh, Raja bertanya kembali. Kimmy tampak sering membetulkan posisinya. Bahkan, tak sadar dagunya menancap pada pundak pemuda itu.


"Emmh." Angguk Kimmy pelan.


"Tahan, sedikit lagi sampai." Raja sedikit bernapas kasar. Ada tanjakan di depan sana.


Sesekali, Raja sengaja mengendus aroma damai yang menguar dari pundak Kimmy demi menguatkan ayunan kaki.


"Kamu mau aku ceritakan saat Rinda mengembalikan kotak merah muda yang kamu temukan di laci ku?" Setelah jalan beraspal normal, Raja menyuarakan pertanyaan santai.


"Ogah!" Kimmy ketus menolak.


"Tapi aku mau cerita hal itu." Kimmy takkan paham bagaimana ia menolak perasaan Rinda dan mengatakan aku sangat mencintai Kimmy dengan bangganya malam itu.


"Nggak penting!" Sahut Kimmy, lebih jutek dari sebelumnya.


"Masalah kita belum berakhir, tapi kamu sudah buru-buru mengakhirinya." Lirih Raja.


"Putus ya putus ajah! Ngapain balik lagi, kayak nggak laku lagi ajah!"


Sontak, Raja menghentikan laju sepedanya, matanya menatap lekat wajah cantik Kimmy yang diam menurut. "Radit? Kimmy suka Radit hmm?" Tanyanya serius.


Kimmy mengangguk. "Dia ganteng!"


"Kimmy benar-benar serius sudah tidak menginginkan Raja lagi?"


"Hmm." Kimmy selalu mengangguk, tak peduli bagaimana sakitnya hati Raja saat mendapati pengakuan itu.


"Apa aku harus mundur demi membuat mu bahagia?" Raja semakin lirih suaranya. Lemas tubuhnya, sesak dada nya.


Terlebih, saat Kimmy menganggukkan kepalanya mengiyakan.


Kembali Raja menarik kepala Kimmy ke sebelah pundaknya. Lalu mengayuh lagi sepedanya. Kimmy tahu Raja kesakitan, tapi itu juga pernah dia rasakan.


"Doa ku hari ini dan seterusnya. Bersama siapa pun pasangan mu, Kimmy Zoya ku akan selalu bahagia." Lirih Raja sedang Kimmy mendengarnya setia.


"Tapi tolong. Tidak perlu memaksa naik Kopaja demi menghindari ku lagi. Dan jangan terlalu memforsir diri hanya untuk menunjukkan kamu bisa sukses tanpa bantuan Raja, percaya atau tidak, jauh darimu saja aku sudah tersiksa, tolong jangan buat aku semakin gila dengan berita-berita buruk mu."


Kimmy terdiam, peluh di pucuk matanya sedikit mengintip tapi Kimmy halau dengan mendongak dan berkedip.