Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Balkon



"Paket dateng, punya Raja." Queen baru sampai sudah di sambut kurir yang memberikan sebuah paket berbentuk kotak.


"Kayaknya punya Raja deh." Krystal menyahuti putrinya. "Dhyrga mana? Nggak dateng ke sini?"


"Nanti malem baru sampe, Daddy Cheryl lagi di luar kota." Kata Queen. Wanita cantik itu duduk di sofa yang berhadapan dengan ibunya.


"Suruh Dhyrga makan malam di sini dong, Mammi kangen kumpul-kumpul, apa lagi besok kan ulang tahun Kimmy."


"Apa ini paket Raja buat Kimmy?" Queen berasumsi.


"Mungkin."


"Coba Queen buka deh." Baru saja Queen melepas satu plester. Raja berlari merebutnya.


"Lo sembarangan aja!" Hanya itu yang Raja ketus kan sebelum ia kembali menaiki anak tangga.


"Kutub." Queen menggeleng ringan menatap berlalunya punggung bidang adiknya.


...🎀🎀🎀...


Sampai kamar Raja duduk di sofa hitamnya, membuka paket dengan sebilah pisau lipat kecil yang biasa ia letakkan di laci meja.


Kotak yang di kirim seaman mungkin, dengan menyertakan gulungan plastik bubble pletek-pletek.


Raja buka semua kulitnya, hingga boneka lucu di balik kotak transparan nampak di pandangannya.


Lama Raja pesan ini, bahkan sebelum pulang dari Kanada. Keluaran terbaru boneka limited edition yang biasanya Raja beli untuk Kimmy.


Raja kecut. "Gila, Gue tahu ni boneka nggak ada faedahnya, tapi Gue masih bela-belain beli. Kimmy memang luar biasa!" Gerutunya.


Klik...


Pesan dari Aldo muncul di layar ponselnya. Raja raih gawai pipih itu lalu membuka kiriman dari sahabat somplak nya.


📥 "Kimmy di ajak ke Asian food fine dining. Kayaknya Radit mau nembak deh." Kompor itu seringkali memanasi pemuda tampan ini.


Kepala Raja berasap. "Kalo sampai mereka jadian, Gue tebalikkin rumah Om Ameer!" Ketus nya.


Raja buka laptop miliknya, mengakses peretasan seperti yang ia inginkan. Kali ini sasarannya CCTV di restoran romantis yang Kimmy dan Radit singgahi.


Setelah memilah-milah sudut tempat. Ada satu ruangan khusus yang menjadi tempat makan malam Radit dan mantan kekasihnya.


Tak terdengar percakapan mereka, tapi dari kecumik bibirnya, Raja mampu membaca gestur bag pakar digital forensik.


Sayangnya keahlian itu tak ia gunakan selama Kimmy masih menjadi kekasihnya.


Ada yang bilang, manusia baru akan mendongak setelah burung terlepas dari genggaman.


...🎀🎀🎀...


"Gue suka sama Lo, Gue mau Lo jadi pacar Gue. Mungkin Gue belum sukses buat duduk di kursi perusahaan, tapi sayang Gue ke Lo bukan hal yang main-main, dari Gue kecil sampe sebesar ini, Gue cuma suka sama Lo."


Radit sengaja memesan kursi dan ruangan VVIP, ia lakukan itu demi memiliki banyak kesempatan mengutarakan perasaan yang selama ini terabaikan.


Di hadapannya, Kimmy gemetar kala tangan Radit menyentuh jemarinya. "Jadi pacar Gue yah, besok atau lusa Gue bawa orang tua Gue ke rumah Lo. Gimana?" Radit seserius itu menatapnya.


"Tapi, ..." Ucapan Kimmy terjeda ketika sebuah kotak berisikan kalung berlian Radit buka.


Radit tersenyum manis saat menyodorkan padanya. "Selamat ulang tahun, Kimmy Zoya." Ucapnya.


Kimmy berkerut kening. "Lo inget ulang tahun Gue?"


Radit mengangguk. "Yuapz, jam dua belas nanti Lo genap berusia dua puluh satu tahun. Happy birthday." Ujarnya.


Kimmy mendorong kembali kotak perhiasan berwarna biru itu. " Makasih Dit. Tapi ini terlalu mahal, Kimmy nggak mau terima ini, lagian Kimmy udah pake kalung juga."


Tangannya menyentuh kalung berlian miliknya pemberian dari Raja beberapa Minggu lalu saat anniversary.


"Gue nggak bisa terima. Maaf, mending yang lain aja, coklat atau traktir makan juga boleh, nggak usah diamond." Katanya lagi.


Radit mencebik. "Lo mau jalan sama Gue, tapi Lo belum mau terima cinta Gue."


"Gue, ..." Kimmy bingung harus mengatakan apa, ini terlalu rumit.


"Lo bingung sama perasaan Lo hmm?" Seperti tahu kegelisahan Kimmy, Radit berbisik mendekat.


Kimmy mengangguk. Jujur, Kimmy belum ada ketertarikan apa pun pada pemuda tampan di hadapannya ini. Pelarian saja, mungkin itu cara Kimmy lepas dari hubungan lamanya.


"Kalo gitu, Gue bantu Lo, buat pastiin perasaan Lo ke Gue." Perlahan Radit membawa sebelah tangannya mencubit dagu milik Kimmy.


Mata Kimmy membulat sempurna, mendapati wajah Radit kian mendekat padanya. Kimmy bernapas kasar. Tak ada sedikitpun niat untuk melakukan pertempelan bibir selain dengan Raja.


Napas Radit telah menabrak wajahnya, bukan terpejam Kimmy justru semakin mendelik penuh. "Dit!" Dorong nya.


Radit terhempas kembali ke posisinya. Ia tersenyum getir, rupanya Kimmy masih tak mau memilihnya, bahkan setelah beberapa Minggu ini membantunya move on, Kimmy tak menganggap perasaannya penting.


"Lo masih sayang sama Raja kan?" Tuding Radit.


"Hubungan Gue sama dia dimulai dari kecil, beneran deh, Gue butuh waktu buat membuka hati Gue lagi." Sanggah Kimmy, tak nyaman.


"Ok." Lirih Radit nanar.


Raja ada di lubuk hati Kimmy dan mungkin tidak akan tergantikan. Kenangan, kepedulian, posesifnya, semua tentang Raja masih terngiang di pikiran waras nya.


Beralih itu sulit, tidak semudah pura-pura tangguh. Wanita identik dengan acuan perasaan, dan logika dijadikan yang kesekian dalam hidupnya. Wanita spesial karena kerumitannya.


"Maaf Dit. Maaf."


"No problem."


...🎀🎀🎀...


Kimmy pulang dengan wajah sendu, barusan saja dia menolak cinta Raditya Miller. Pemuda tampan yang beberapa waktu terakhir mengisi hari-harinya.


Di luar hujan, Kimmy turun dari mobil setelah berpamitan pada Jono. Berlari, Kimmy menembus tirai hujan yang deras merenai.


Langkah larinya sampai ke teras rumah dan masuk ke dalam hunian mewah ayahnya dalam keadaan rambut setengah basah.


Terdengar dengusan kesah yang Kimmy keluarkan. Tak ada yang spesial di hari ulang tahunnya.


Lihatlah, Ameer dan Gea malah tidak menyambut kedatangannya. Padahal sebentar lagi jam dua belas malam.


Tepat di pergantian waktu dari H min 2jam menuju tanggal kelahirannya.


Kamar Kimmy berada di lantai dua, Kimmy menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam ruangan begitu saja.


Hempasan tasnya mengarah pada bantal berwarna merah muda.


Seperti biasanya, Kimmy mencuci muka, menggosok gigi, lalu berganti pakaian tidur.


Kimmy mencampakkan tubuh ke ranjang, ia menelungkup, tangannya mengulur ke atas bantal, meraih ponsel miliknya dari dalam tas kecilnya.


Melihat tak ada satupun pesan dari Raja Kimmy mendengus kesal. Biasanya Raja orang pertama yang memberikan ucapan selamat ulang tahun.


Namun, kali ini pemuda itu sudah bukan lagi kekasihnya. "Ngapain coba Gue ngarep banget Raja ngucapin. Palingan sekarang dia enak-enakan tidur." Gerutunya.


Dug Dug Dug.....


Kimmy terkaget, sontak kepalanya menoleh ke kiri, tempat di mana jendela kaca besarnya terdengar suara ketukan mengerikan.


Kimmy mendelik. "Hujan-hujan gini siapa yang ngetuk-ngetuk pintu balkon?" Gumamnya.


Dug Dug Dug Dug Dug....


Ketukan itu lebih kerap bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Kimmy bangkit, dengan langkah gemetar ia berjalan gamang menuju pintu balkon.


"Semoga cuma angin." Kimmy membawa tangannya, menyentuh kain gorden berwarna merah muda.


Seketika matanya membulat bersamaan dengan ternganga nya mulut. "Raja! Ngapain Lo!"


Pemuda tampan dengan pakaian basah di luar sana tersenyum gemetar sembari mengusap wajah yang dipenuhi bulir air hujan. Dari gestur tubuhnya sepertinya Raja kedinginan.


Cepat-cepat Kimmy buka pintu balkon, dan senyum manis pemuda itu terpampang di hadapannya. "Kimmy."


"Raja ngapain hujan-hujanan gini hah? Kurang kerjaan!" Kimmy mendekat, tak peduli busana tidurnya teramat tipis bahkan tak memakai bra. Kimmy shock pada ulah Raja kali ini.


"I Love you." Dengan bibir bergetar kedinginan Raja mengutarakan kata itu.


Terenyuh, Kimmy menatap gerakan tangan Raja yang mengeluarkan kotak dari balik punggungnya. "Happy birthday, Kimmy ku." Ujarnya tersendat-sendat.


Kimmy menutup mulut yang tanpa sengaja terbuka lebar. Haru, tersentuh, tengah malam begini, Raja bahkan rela naik ke lantai dua dalam keadaan hujan.


"Raja kurang kerjaan hah?" Kimmy pukul dada keras mantan kekasihnya, air mata murahnya meluncur, entah apa alasan Kimmy menangis kali ini. "Ngapain ke sini tengah malem begini hah!"


Raja mengangguk. "Yah, aku kurang kerjaan Kimmy," Ia menggeleng meralat ucapannya.


"Tidak, lebih tepatnya, Raja mu ini kurang waras!' Ungkapnya.


"Sekuat tenaga aku menolak mengemis padamu, tapi anggota tubuh lainnya berkhianat." Tambahnya.


Kimmy tersentuh.


"Kamu tahu Kimmy Zoya. Selama duniaku tanpa mu, waktu seakan tak ada yang berarti. Sampai untuk yang ke sekian kalinya, aku ke sini dan harus rela membujuk mu kembali."