Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Bakso



"Kamu gila Killa!" Arnold mendelik tak percaya, Ansel di sekap di rumah utama keluarga besar Miller.


Sederet pengacara handal telah mendatangi rumah Hendra, dan menyampaikan tuntutan hak asuh anak.


Sebelum nantinya ke ranah meja hijau, mereka menggertak dengan cara menunjukkan video amoral Killa di atas mobil.


Arnold sangat tidak percaya, adiknya ini melakukan hal senonoh, buruk, bahkan bisa di katakan tidak Indonesia wi.


"Sudah-sudah, kita relakan saja Ansel." Dengan sangat terpaksa, Hendra pada akhirnya mencetuskan kata-kata itu.


Killa menggeleng tidak sependapat. "Tapi Pa!"


"Apa lagi?" Sergah Hendra memekik. Untung saja tangan itu tidak melayang ke udara, mengingat Killa satu-satunya putri di rumah ini. "Kamu mau video dan foto foto perbuatan amoral mu tersebar luas?" Bentak nya.


"Tapi Ansel anakku!"


"Oya?" Hendra tergelak sumbang. "Selama ini Ansel anak Rinda! Kerjaan kamu cuma sibuk pacaran, bermain-main, bahkan melakukan hal gila di luar pernikahan!" Sentak nya.


"Kamu membuat ku malu, Killa!" Arnold menimpali. Ia kecewa, dirinya saja tak pernah melakukan hubungan terlarang bersama seorang gadis, lalu adiknya ini sangat bebas.


"Hiks!" Killa menunduk pilu.


"Jangan menangis, ini semua salah mu, selama ini Mama selalu mengingatkan mu Killa!"


Tasya pergi dari tempat itu, seorang ibu yang sakit hati pada perilaku anak perempuan. Ia mengutuk keras dirinya sendiri, lebih baik tidak memiliki putri jika raga mulus yang dia rawat sedari merah itu di umbar pada setiap lelaki.


"Ansel anakku." Lirih Killa terisak.


"Kita sepakat, akan menutup rapat-rapat rahasia ini, Ansel tetap anak Rinda, dan hubungan mu dengan Ansel selesai!" Putus Hendra.


"Ansel berhak tahu Killa ibunya Pa!"


"Sudah terlambat!" Sela Arnold. "Kamu yang memilih berakhir seperti ini!" Lanjutnya.


"Pokoknya Papa tidak mau kalau sampai reputasi keluarga kita tercoreng dengan tersebarnya foto dan video amoral mu!" Imbuh Hendra.


"Kita tutup kasus ini, biarkan mereka memiliki Ansel, lagi pula, Ansel tidak akan sengsara hidup bersama keluarga Miller." Tambahnya lagi.


Tanpa bersuara, Killa menggeleng pelan, sejatinya bukan ketakutan tentang Ansel masalahnya, melainkan Killa tidak pernah menyukai kekalahan.


Namun sepertinya, kali ini posisi Killa cukup sulit, ayahnya sendiri membuat kesepakatan damai dengan keluarga Alfaro Miller demi menghalau tersebarnya bukti-bukti ketidak baikan Killa.


Keluarga Hendra Kenz masih mementingkan reputasi. Terlebih, perusahaan mereka bergerak di bidang pangan, adanya gosip tak baik akan menjadi penyebab utama penolakan masyarakat kelas menengah.


Mereka tahu, kelas menengah ke bawah cukup sensitif terhadap berita miring. Masyarakat bahkan rela tidak membeli produk hanya karena isu tak sedap.


...🎀🎀🎀...


Detik, menit, telah berlalu, esok kini berubah menjadi kemarin. Tanpa terasa, hari-hari Raja lalui bersama istri manjanya.


Beberapa Minggu ini Kimmy berdamai dengan Raja, tidurnya pun sudah saling memeluk kembali, bukan hanya pantat yang Kimmy beri melainkan seluruhnya lagi.


Raja mulai mengalah demi keharmonisan rumah tangga mereka. Raja berusaha lebih berdamai dengan keadaan. Ia setuju jika nantinya Kimmy hamil, meskipun kecemasan masih menyelubungi relung hati.


Terpaksa sekali, Raja sering membuang bibit ketampanannya masuk ke dalam sel telur milik istrinya. Semoga jadi, itu harapan utama Kimmy.


"Raja."


"Hmm?" Kimmy merangkul lengan suaminya, mereka berjalan beriringan keluar dari salah satu gerai merek ternama.


Paper bag penuh di lengan Raja, Aldo, Doni dan kedua bodyguard yang mengekor di belakang.


Lama sudah Kimmy tak berbelanja, sekalinya belanja, hampir semua toko branded ia masuki. Tas, sepatu, blouse, kaos oblong, celana, rok, bahkan lingerie seksi pun ia beli.


"Kimmy mau minta sesuatu boleh?" Rengek Kimmy.


Kimmy menyengir. "Setelah ini, Kimmy mau makan bakso." Pintanya.


Raja mengangguk satu kali. "Boleh, bila perlu semua pelayannya kita beli, kalau mau lagi, sekalian bapak pembuat baksonya beserta ketiga istri sirinya pun kita boyong."


Kimmy terkikik, Raja terlalu kaya untuk permintaan remeh seperti membelikan satu mangkuk bakso. Sampai-sampai, semua pelayannya mau dia beli.


Untung pemilik restoran baksonya bukan pak Ratno yang sekarang menjadi Pebinor diantara rumah tangga Buk Devi dan Pak Sulam.


"Tapi Kimmy mau makan ditempatnya, Raja tahu, kemarin Ashley posting makanan, dia makan bakso di jalan mentari. Kayaknya asyik tempatnya, abis ini kita ke sana yuk!" Ajak Kimmy.


"A-apa?" Mendengar tempat asing, Raja melepas rangkulan istrinya, ia tatap seksama wanita cantik itu. "Jalan mentari?"


Kimmy mengangguk. "Iya, jalan mentari."


"Di mana itu?"


"Depan gang kecil, tapi rameeee banget pembeli nya. Kimmy pengen deh makan di situ. Terus pulangnya naik Ojek. Kayaknya seru."


Brukkk...


Semua paper bag di lengan Raja, Aldo, Doni, dan dua bodyguard terjatuh bersamaan.


"W-what?" Raja mendelik. "Ojek?"


Kimmy antusias. "Iya Sayang, Kimmy pengen ngerasain jadi anak senja yang menikmati setiap momen bersama suami. Nggak peduli di mana pun tempatnya, Kimmy mau kita berdua bahagia." Ujarnya.


"Jangan aneh-aneh!" Setelah cukup lama terdiam tak mampu berkata-kata, Raja mencetus ketus.


"Aneh dari mananya?"


"Kamu dan OCD mu!" Raja mengingatkan.


"Kemarin Kimmy sama Ariani makan siomay di Abang Abang pinggir jalan juga nggak kenapa-kenapa kok, Kimmy udah sembuh OCD nya!" Sanggah Kimmy.


"Hah?" Raja lagi-lagi terperangah, ia shock mendengar pengakuan istrinya, begitu pula dengan empat lelaki di sisi Raja. "Makan apa?"


"Siomay abang-abang."


"Siomay abang-abang?" Raja mengulang pertanyaan, memastikan telinganya masih baik-baik saja.


"Iya, enak banget, Kimmy sampe nambah tiga kali loh. Makanya sekarang Kimmy gemukan kan? Kimmy banyak makan di kantin juga." Terang Kimmy.


"Sejak kapan kamu makan makanan kantin? Denger, kamu nggak pernah makan makanan kantin apa lagi pinggir jalan, jadi jangan buat aku cemas!" Raja berlebihan menurut Kimmy.


"Tapi Kimmy beneran nggak kenapa-kenapa suwer." Kimmy meyakinkan dengan dua jemarinya. Ia raih kembali lengan kekar suaminya, lalu bergelayut manja.


"Kimmy mau makan bakso di jalan mentari, beliin yah, please..." Rengek nya memelas.


Raja sempat menyuruh Aldo searching, demi mengetahui bagaimana kondisi kedai bakso yang Kimmy maksud, dan ternyata tempatnya rame maksimal.


"Kita makan di restoran biasa saja, tempat itu terlalu rame, ngantri panjang Sayang, apa lagi tempatnya kurang begitu bagus."


Kimmy mencebik. "Tapi Kimmy mendingan nggak makan daripada nggak makan bakso di sana!" Wanita itu ngeluyur pergi meninggalkan suaminya.


"Huff." Raja mendengus lirih.


"Yang sabar Bos." Aldo dan Doni menepuk pelan pundak sang Tuan. Mereka ikut shock mendengar permintaan Kimmy.


"Semangat menaklukkan your lioness, Rarrr!"


...Terimakasih partisipasi komentar nya Zeyyeng kooh 😘😍...