Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Random²



Dhyrga berdiri tegak di sisi ranjang pasien adik sepupunya. Radit ugal-ugalan dijalan demi mendapatkan sebuah kata tenang.


Alhasil, pemuda tampan itu harus terjatuh dari motor dan berakhir di atas ranjang pasien dengan kaki tangan di perban.


"Kadang-kadang frustasi memang bikin orang gila, tapi cobalah cari pelarian yang baik, sukses kan dirimu, bukan malah membahayakan nyawa mu!" Dhyrga merutuki adiknya.


Radit tak merespon. Berat dan sulit sekali walau sekedar mengangguk saja.


"Baik-baik di sini, Bang Dhyrga masih ada urusan lain. Anton dan Karan yang menemani mu. Ingat, jangan keluar sebelum diperbolehkan pulang!"


"Hmm." Angguk Radit.


Dhyrga tepuk punggung Radit pelan, sebelum kemudian ia melangkah keluar dari ruangan itu.


Luka Radit cukup rumit, ada yang retak dan perlu penanganan serius, tapi masih banyak hal yang harus Dhyrga lakukan terkait acara pernikahan adik ipar yang menjadi rival cinta adik sepupunya.


"Masuk lah, temani Radit, jangan sampai dia kabur dari rumah sakit sebelum dokter membolehkan pulang!" Dhyrga berbicara pada Anton dan Karan.


"Ok, siap!"


...🎀🎀🎀...


^^^Rumah utama Raka.^^^


"Pengajuan sekertaris? Rinda?" Raja menatap Doni, serius.


Membicarakan tentang pengalihan jabatan, Aldo, Doni, juga Raja duduk melingkar di atas sofa hitam.


Besok resepsi pernikahan sekaligus akad, mereka sangat minus waktu. Ada beberapa kegiatan yang terpaksa lembur demi selesai sebelum pesta.


"Iya." Doni mengangguk mengiyakan.


"Tolak!" Putus Raja. Adanya gangguan seperti hama pelakor memang sudah menjadi hal yang tabu di kalangan masyarakat kelas atas.


Ralat, hama muncul di kalangan manapun. Dari yang kelas bawah, menengah terlebih atas. Pelakor teri, lumba-lumba bahkan kakap semua ada.


"Ok!" Aldo yang menyahut kali ini, Doni tak mungkin tega mengusulkan menolak, sebab Rinda kesayangannya.


"Jadi Bos mau sekertaris nya cewek apa cowok nih?"


"Laki-laki!" Suara dari arah kiri Raja membuat ketiga pemuda itu menoleh.


"Semua pekerja yang dekat dengan Raja harus laki-laki, dari asisten personal, sekertaris, dan lainnya!"


"Ok!" Aldo segera menyahuti kata-kata sang Nyonya. Daripada memicu salah paham lagi, lebih baik menghalaunya. "Bos betina."


Krystal berdiri dengan tangan yang terlipat di dadanya. "Lihat Raja, orang yang selama ini kamu kasihani, dia mulai ngelunjak kan? Dari analis keuangan lalu mengajukan penempatan sekertaris, kan aneh."


"Lalu?" Raja bertanya, apa pun yang Krystal sarankan, akan ia turuti termasuk memutasi Rinda.


"Kenapa lalu?" Menatap kernyit putranya Krystal berujar ketus, masalah sekertaris lumayan sensitif, Krystal trauma dengan kata sekertaris, terlebih jika perempuan.


"Harusnya Raja berpikir cepat! Singkirkan semua batu kerikil sebelum melangkah ke jenjang pernikahan." Peringat nya.


"Ingat, Kimmy mu cengeng, rapuh, negatif thinking, Mammi nggak mau ada kata putus atau cerai setelah kalian menikah."


"Sudahlah, kenapa harus diributkan? Besok pindahkan saja anak itu ke cabang lain!" Raka datang dengan celetukannya.


Memindahkan pegawai memang perlu alasan. Tapi syarat menjadi karyawan X-meria, mereka harus rela di rolling kemana pun cabangnya.


"Kalo dia keberatan, silahkan cari pekerjaan lain, bukannya anak itu ahli angka?" Imbuh Raka.


Raja manggut-manggut kecil, sementara Doni sedikit muram, dan Aldo menyengir pada sahabatnya. "Lo mau di mutasi juga bareng Rinda?" Bisiknya.


"Berisik Lo!" Tukas Doni.


Krystal beralih pada Raka. "Mudah, memang mudah memindahkan pegawai biasa, Mammi meributkan ini karena barusan putramu yang kekurangan kata ini, Can only say, and then? Jadi di mana letak usaha dia untuk segera membuang hama?"


"Daddy benar." Raja mengimbuhi ucapan ayahnya. "Mammi nggak usah khawatir, Raja bisa mengatasi masalah Raja sendiri."


"Semoga sukses kutub." Queen menyeletuk dari sudut tempat. Godaan pewaris tahta memang tak jauh dari wanita. Tapi semoga adiknya itu berhasil melaluinya dengan baik.


Merasa tidak ada lagi pembahasan, Raja bangkit dari duduk, "Raja mau telepon Kimmy." Pamitnya. Ia perlu memastikan keadaan calon istrinya dalam keadaan baik.


Tiba di kamar Raja meraih ponsel dari saku celana pendeknya, kemudian melayangkan panggilan video pada Kimmy.


Rindu, tapi beberapa hari ini Kimmy tak mau ditemui. Kimmy bilang, calon pengantin harus rela dipingit sebelum acara sakral. Dan ini bagian yang Raja tidak sukai.


Raja duduk di sisi tempat tidur, ranjang klasik berkelambu yang akan menjadi saksi bisu pertempurannya bersama sang istri.


Beberapa nada sambung terdengar. Kimmy mengangkat telepon tapi sebalnya Kimmy mematikan kameranya.


"Hey, ayolah Sayang, sudah dari kemarin Kimmy nolak ketemu, sekarang matiin kamera?" Keluhnya protes.


📞 "Hehe." Hanya terdengar gelak tawa menyebalkan dari seberang sana.


"Nyalakan kameranya!"


📞 "Kimmy lagi treatment. Jadi nggak bisa."


"Ck!" Raja mematikan kameranya pun. Ini tidak adil, hanya Kimmy yang melihatnya sementara Raja tak bisa.


📞 "Raja ngambek sama Kimmy?"


"Kangen." Sangat lirih tak bersemangat, Raja mengatakan perasaannya.


Percaya atau tidak, saat jatuh cinta, hanya sekilas saja kelebatan raga sang kekasih akan menjadi penting untuk mendompleng spirit.


"Sepuluh hari kita nggak ketemu Yank." Lirih Raja lagi.


📞 "Biarin, kan Kimmy mau pas malam akad kita Raja jadi pangling sama Kimmy."


"Iya, kalo perlu sampai Raja nggak kenal lagi." Gumaman dingin Raja sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


Setidaknya wallpaper gadis cantik itu menjadi sedikit pengobat rindu. "Kamu keras kepala." Lirihnya tersenyum.


...🎀🎀🎀...


"Ansel!" Dalam mobil mewah berjenis SUV, Rinda duduk di jok penumpang bagian depan sementara Killa duduk pada kursi bagian kemudi.


Mobil itu melaju cepat. Sesekali terjeda karena macet. Penumpang dan sopirnya berwajah panik.


Rinda menangisi tubuh lunglai putra asuhnya yang pingsan berlumuran darah. Ansel terjatuh dari anak tangga saat ia titipkan pada ibu biologis anak tersebut.


Beberapa perban sementara membalut kepala anak kecil ini, tapi Ansel masih tak mau beringsut barang secuil. Lirihnya embusan napas Ansel lumayan membuat Rinda tak keruan.


Merawat Ansel sedari kecil membuat Rinda terikat pada putra asuhnya ini. Hingga kesakitan yang Ansel dapati akan otomatis menjadi lukanya.


"Lebih cepat Nona!"


"Sabar! Lo lupa, Gue Mammi dari anak yang Lo tangisi!" Ketus Killa menyahut. Lalu, Rinda terdiam setelah itu.


Menurutnya, kepedulian Killa hanya sebatas itu saja, bahkan terkesan membiarkan Ansel dengan keteledorannya.


Killa melepas Ansel naik turun tangga tanpa di awasi. Rinda menyesal meninggalkan Ansel bersama Nona muda arogannya.


Tiba di parkiran, segera Rinda membuka pintu dan berlari memasuki lobby rumah sakit.


"Dokter! Tolong anakku!" Teriaknya.


"Baik." Secara sigap, satu dokter IGD menyambut. Berlari, Killa menyusul Ansel dan Rinda masuk ke sebuah ruangan.


...Follow akun NT Pasha jangan lupa yah. Terima kasih sehat selalu kalian semua 🥰🥳...