Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Syukuran



"Menikah lagi?" Dhyrga terperanjat mendengar usulan dari ibunya.


"Apa alasannya? Mama sadar apa yang sudah Mama katakan barusan?" Tiba-tiba, Rania meminta Dhyrga menikah lagi.


"Supaya Raka tahu bagaimana kalau Queen menjadi istri pertama yang di duakan."


"Seharian Mama mu menangis, mungkin itu alasannya." Sashi menimpali dengan senyum samar. Ia tak paham dengan pemikiran kakak iparnya itu.


"Menangis? Kenapa?" Dhyrga berkerut kening. Selain pandai membuat istrinya menangis. Apakah seorang Rania bisa menangis?


"Gimana nggak nangis? Queen berani sama Mama mu. Itu lah makanya kamu di suruh menikah lagi Bang." Ibu Raditya terkikik kecil, tentu saja ia menertawakan kelakuan Rania.


Di rumah ini Sashi dan Rania sering berselisih paham, bertahannya Sashi di rumah ini hanya karena Harlan tak ingin berpisah dengan semua adik-adik dan keponakannya.


"Bukannya Mama yang menyakiti Queen?"


"Kamu semakin buta sama Queen!" Sanggah Rania.


Dhyrga menggeleng. Ibunya ini memang berbeda dari kebanyakan orang elit. Harlan memperistri Rania bukan karena perjodohan seperti Alfaro dan Austin, melainkan cinta tulus seorang CEO pada pelayan cantik di toko bunga.


Rania tumbuh di komplek perumahan yang dilengkapi kang sayur dan ibu-ibu tukang gosip. Jadi maklum kalau omongannya mirip petasan banting, singkat tapi membekas.


Meski tidak semua orang yang tumbuh di lingkungan itu kang gosip. Semua tergantung bagaimana mereka memilih, untuk terlibat atau terhindar dari gunjingan mengasyikkan tersebut.


"Queen sedang hamil Ma, sekarang Mama coba minta maaf, berdamai, lalu nanti malam datang ke rumah besan Mama. Mereka mengundang semua keluarga kita ikut ke acara syukuran kehamilan kedua Queen."


"Hamil?" Rania dan Sashi sama-sama mendelik penuh. Bedanya, Sashi lebih berbunga sedang Rania seperti tak percaya.


"Syukurlah." Sahut Sashi.


"Kamu yakin?" Rania menyeletuk.


Dhyrga mengangguk. "Sudah delapan Minggu, jadi sebenarnya Queen sudah hamil sebelum kami ke Jepang." Jelasnya. Berharap ibunya menutup mulut rumpi nya.


"Tuh kan, saking sibuknya Queen, dia hamil sampai tidak menyadarinya. Gimana kalo sampai keguguran? Kalau Istri mu peka. Kalian tidak perlu buang-buang duit buat bulan madu lagi selama satu bulan."


Apa pun yang Queen perbuat, Rania terlanjur membenci. Terlebih, dari dulu Rania tidak menyukai Queen, hanya karena gadis kecil itu yang menyebabkan Dhyrga selalu menolak perjodohan hingga berakhir menjadi Om Om tampan.


"Ya ampun Kak Rania, suami Queen kaya raya, ayah Queen lebih-lebih. Queen sendiri juga punya PH yang mampu menyetak bintang papan atas di negara ini. Apa masih pantas memikirkan uang?" Sashi terperangah.


Dhyrga dan Rania terdiam dengan pemikiran benarnya masing-masing.


"Jadi kita datang kan, ke acara syukuran nya Nuna Queen?" Indah istri Austin baru saja tiba bersama satu putrinya.


"Iya, Rara boleh ikut kan Bang Gaga?" Gadis itu bergelayut pada punggung Abangnya.


"Soalnya Rara juga mau liat Bang Raja yang gantengnya paripurna." Gadis itu terkikik.


"Sayang, sudah ada yang punya." Indah tergelak. Ia juga salah satu ibu-ibu yang setuju dengan ketampanan Raja.


"Kalian boleh ikut semua." Jawaban Dhyrga yang membuat Rara bersorak.


...🎀🎀🎀...


📥 "Maaf Queen, aku nggak bisa dateng lagi. Aku masih belum bisa pulang ke Indonesia."


Pesan dari Murni yang Queen kirim pagi tadi. Queen sempat mendengus kesal, Joon benar-benar tidak membiarkan Murni bernapas dengan baik. Joon over protective.


Syukuran kehamilan Queen dilakukan di rumah utama Raka Rain. Semua orang hadir, termasuk keluarga besar Miller.


Kali ini Raditya tidak ikut, pemuda tampan itu masih harus duduk di atas kursi roda.


"Selamat Queen." Harlan mengusap pucuk kepala menantunya. Hadiah spesial ia berikan teruntuk wanita hamil itu.


Queen menggeleng cepat. "Bukan, bukan begitu, Queen nggak suka aroma parfum Mama."


"Kenapa?" Rania menjadi lebih sensitif dari sebelumnya. Melihat semua orang bisa mendekat dan mengusap perut Queen, ia tak diperbolehkan.


"Mungkin ini bawaan bayinya." Harlan tergelak renyah, begitu pula dengan yang lainnya.


"Mama pengen nyapa cucu Mama juga. Masa nggak boleh sih?" Rania menjadi wanita melankolis. Sedikit-sedikit terbawa perasaan.


"Sudah-sudah, lebih baik kita lanjutkan saja acara makan malamnya." Raka mengajak para tamunya untuk duduk di masing-masing kursi meja makan panjang miliknya.


Rania mencebik. Apa hanya dia yang tidak berkesempatan menyentuh perut Queen. Padahal siang malam dirinya lah yang paling mengharapkan munculnya cucu kedua.


...🎀🎀🎀...


Rinda baru saja sampai di kediaman ayah biologis Ansel. Seperti biasa, Ia menggandeng putra asuhnya untuk diberikan pada keluarga ini.


Rinda mendapatkan fasilitas mobil mewah dari Alfaro, sebagai reward atas ketelatenan gadis itu mengurus Ansel meski dalam keadaan apa pun.


Ansel memang selalu ikut kemana pun Rinda pergi. Sebab sedari kecil, Ansel tak pernah di tinggal sendiri dengan pengasuh lainnya.


Itulah salah satu alasan mengapa Rinda dijuluki sebagai seorang simpanan. Rinda terlalu menyayangi Ansel, jika dilihat dari posisinya yang hanya seorang pengasuh.


Ansel tertidur maka Rinda menggendongnya hingga ke kamar. Kondisinya sepi, tentunya karena semua penghuni rumah masih berada di rumah utama Raka Rain.


Pelayan menemani Rinda ke dalam ruangan khusus milik Ansel yang sengaja di hubungkan dengan kamar milik Raditya.


"Ahh! Ohh. Ku mohon Dit."


"Killa, please!"


Suara itu membuat Rinda dan pelayan bernama Lavender menoleh ke arah pintu penghubung antara kamar Ansel dan kamar Raditya yang terbuka.


Rinda melanjutkan meletakkan Ansel pada ranjang empuknya. Lavender menggaruk tengkuk. "Apa mereka lagi bikin adik Ansel sebelum menikah?" Bisiknya.


"Kita tidak perlu tahu urusan mereka, lebih baik kita keluar dari sini." Ajak Rinda sembari menarik selimut Ansel.


Brakkk...


Sesuatu yang mengurungkan niat Rinda untuk keluar dari kamar itu. Ansel pasti terkejut jika kamar sebelah terus menerus bersuara gaduh.


"Udah Gue bilang, kita nggak akan ngelakuin ini sebelum menikah!" Suara Radit yang berteriak.


"Hidup di zaman apa Lo Dit? Bukannya Lo sempat candu sama Gue?" Killa tergelak samar.


"Itu kesalahan."


"Oh, jadi Ansel hasil dari kesalahan Lo, gitu? Lo nyesel punya Ansel? Terus ngapain Lo setuju nikah sama Gue? Apa cuma karena Ansel anak cowok? Sumpah yah, Lo masih sama, tipe Lo tuh cewek manja anak Mami kayak istrinya Raja itu! Lo nggak cocok sama Gue!" Teriakan terakhir Killa sebelum pergi dari kamar Raditya dengan membanting pintu keras-keras.


Setelah memastikan Ansel tak terbangun. Segera Rinda melongok kamar tersebut, ia sengaja memberi tahu sang empu tentang kedatangan Ansel.


"Rin, Lo di sini?" Radit menoleh malu, jadi rupanya Rinda mendengar semua percekcokan laknatnya bersama Killa.


Rinda menurunkan pandangan. "Maaf, aku datang di waktu yang salah, tapi Ansel susah di bawa ke sini. Padahal dari sore aku paksa dia ke sini. Dia aku boyong setelah tertidur."


"Tidak apa." Radit mengangguk. Jika dipikir lagi, tak pernah Killa terlihat bersama Ansel, justru Rinda yang tak ada lelahnya bolak-balik ke sana ke mari membawa Ansel.


"Ansel aku tinggal di kamarnya yah. Besok, aku jemput Ansel lagi setelah dia sarapan." Ujarnya lalu melengos pergi.


Langkah Rinda terhenti saat Radit menyeletuk. "Lo nggak nginep di sini aja?"