
...Hayoo, kalian nungguin scene Kimmy pas per,koskos suaminya yak? Nggak ada nggak ada, entar nopel ini di take down lagi, wkwk......
...Untuk tidak menimbulkan pelaporan, Pasha skip ade-gan per,koskos itu yak, hihi, biar aman sejahtera sentosa dah lancar jaya. ...
^^^Tidak di take down lagi seperti kemarin. Kan sayang sayang kalau sampai di turunkan 😚^^^
...🎀🎀🎀...
Ansel sedang dalam pengawasan ketat, penjagaan di depan hunian mewah keluarga Miller pun diperkuat.
Mereka takut jika sampai orang-orang Arnold mengambil bocah tampan itu. Kasus telah menuju ke meja hijau.
Ansel menjadi perebutan dua kubu yang sama-sama berpengaruh. Tapi setidaknya, Miller memiliki Raka dan Raja.
Rumah keluarga Miller begitu ceria, kini sudah ada Tuan muda kecil yang mewarnainya.
Semua orang bahagia terkecuali Rania. Sedari kemarin Rania menekuk wajah cantiknya, suram seperti masa depan rumah tangga yang banyak pelakor'nya.
"Kak Rania kok diem mulu dari tadi, emangnya kenapa sih?" Sashi menegur. Buah mangga yang tengah wanita itu kupas di atas sofa biru.
Rania menoleh. "Kakak boleh minta tolong?"
"Apa?"
"Coba kamu yang telepon Queen, suruh dia datang, Kak Rania mau ketemu." Rengek Rania.
"Bukannya kalo Queen di sini Kakak emosi mulu bawaannya? Malahan kemarin nyuruh Bang Gaga nikah lagi." Sanggah Indah.
"Itu kan Kaka cuma terbawa emosi, kalian simpan baik-baik rahasia ini, jangan sampai Queen denger hal ini, nanti dia benci terus nggak ngenalin aku sama cucu kedua ku." Rania gusar lalu kembali beralih pada Sashi.
"Sekarang telepon gih, suruh Queen dateng, Kak Rania pengen banget ngelus perut Queen, takutnya nanti anaknya ileran kalo Kakak nggak ngelus perut Queen sekarang juga."
Sashi terkikik. "Lah, yang hamil siapa kenapa yang ngidam Kak Rania sih?"
Rania nanar. "Tapi bener deh, Kak Rania pengen banget ngelus perut Queen. Dari kemarin Kak Rania kepikiran terus. Masa kamu gitu sih sama Kakak ipar yang baik begini?"
"Iya deh iya, demi Kakak ipar yang baik hati, aku panggil Queen. Tapi kalo bumil itu nggak mau dateng, ya biarin dulu aja, mungkin baby-nya Queen lagi nggak mood buat dateng." Ujar Sashi.
"Iya." Rania meredup ekspresi. Sendu, sensitif, seolah dirinya dijauhi anak kandung.
Indah menggeleng sambil menahan tawanya, ketiga menantu di rumah ini cukup sering berselisih paham, meski demikian mereka hidup dalam keadaan baik-baik saja.
...🎀🎀🎀...
Di kampus, Kimmy dan teman-temannya duduk melingkar pada kursi kantin, mereka tertawa renyah, ketiganya puas setelah berhasil dengan rencana satu.
"Lo yakin masuk tuh kecebong?" Ariani bertanya. Ia menyengir seperti membayangkan sesuatu.
"Apaan sih, Gue nggak mau cerita itu, nanti Lo jadi bayangin suami Gue lagi!" Ketus Kimmy.
Ariani tergelak. "Ya ampun Kimmy, lagian Gue juga udah punya dosen ganteng kali."
"Dosen dingin, yang kakunya ngalahin kanebo kering." Sambar Ashley.
Kimmy terkikik. "Tapi btw, Gue ucapin terima kasih banget sama Lo semua. Makasih selalu jadi yang terbaik buat Gue." Ia peluk Ashley dan Ariani bersamaan.
"Ululuuu Tayong."
"Semoga jadi yah."
"Aamiin."
...🎀🎀🎀...
Raja mata panda, mendengus berkali-kali, di atas kursi kebesarannya pemuda beristri itu berputar-putar cemas.
Kenak mental, mungkin begitu kira-kira yang Raja alami saat ini. Rumus kecepatan seperti fluida dinamis di kait-kaitkan dengan peristiwa pemaksaan malam tadi.
Raja sedang menghitung kecepatan semburan lahar putihnya yang diperkirakan menembus sel telur istrinya saat dalam keadaan masa subur.
Semakin banyak gesekan yang terjadi semakin cepat laju cairan itu menyemprot masuk ke dalam dan membuahi. Itulah yang tengah Raja khawatirkan detik ini.
Raja akui ia terlena, ia menikmati, ia salut pada permainan Kimmy malam tadi.
Sumpah demi apa pun, Raja tak pernah mengira bahwa Kimmy bisa memberikan pengalaman seenak itu. Seolah-olah ini pemaksaan terindah dalam hidup Raja.
"Woy!" Aldo menyentak hingga kabur beterbangan rumus-rumus kecepatan yang mengambang di atas kepala Raja.
"Sialan Lo!" Raja mendengus kesal.
"Ngapain bengong?" Aldo duduk pada kursi putar yang terletak di depan meja sang Tuan.
"Gue lagi kacau, Kimmy bentar lagi hamil!" Usapan gusar Raja arahkan pada wajahnya.
"Bagus dong!"
Doni datang-datang menimpali, ia duduk mengutak-atik ponselnya, tengah mengatur jadwal pribadi Raja bersama calon klien baru.
Inilah salah satu pekerjaan asisten personal. Berbeda dengan sekertaris yang hanya sibuk mengurus pertemuan dan pekerjaan kantor.
Doni dan Aldo utamanya mengurus hal-hal kecil yang lebih bersifat pribadi.
Raja beralih pada Doni. "Lo kan tahu Gue nggak mau liat Kimmy hamil!"
"Emang Lo nggak pake pengaman Bos?" Sambar Aldo penasaran.
"Enggak!"
"Apa saking enaknya, sampe Lo lupa pake pengaman Bos?" Doni sampai beralih dari ponselnya.
"Bukan, tapi, ..." Raja bingung harus mengatakan apa, ia sendiri malu untuk menceritakan kelakuan istrinya.
"Ah sudahlah, Gue nggak mungkin cerita ke kalian gimana peristiwa sesungguhnya!"
Aldo mencebik remeh. "Sekali doang, nggak mungkin langsung jadi juga." Ujarnya.
"Posisinya dia lagi dalam masa subur, di tambah lagi, semalam dia juga mengalami orgas di waktu yang sama dengan keluarnya itu, Lo tahu, itu juga bisa menjadi pemicu kehamilan." Terang Raja gusar. Semakin tinggi pengetahuan semakin was-was dirinya.
Aldo berdecak. "Tapi kalian kan udah menikah, legal, resmi, sah dimata agama dan negara, terus ngapain juga kayak kebakaran jenggot gitu sih?"
"Gue parno bayangin Kimmy merengek minta ini minta itu, pagi-pagi ngeliat dia mual muntah, bahkan nggak mau makan, apa lagi pada saat dia berjuang melahirkan! Gue ngeri Don!" Raja berekspresi geregetan.
"Ya elah, Lo cowok kok cemen amat sih!" Sela Aldo.
"Gue lebih milih mengadopsi anak ketimbang liat itu semua!" Jelas Raja kembali.
"Tapi Lo butuh pewaris Bos, meskipun Nona kecil Cheryl dan anak-anak Nuna yang lainnya nggak licik kayak Om Darius. Tapi, Lo tetap butuh pewaris tahta Bos!" Sahut Doni.
"Tapi nggak sekarang juga." Raja tak pernah bisa lepas dari mode ketus.
"Terus gimana? Masa Nona Kimmy mau kita cekokin jus nanas, kan nggak lucu, udah kayak ABG yang abis tahun baruan dari villa aja!" Gerutu Aldo.
"Lo pengalaman yak?" Tuding Doni.
"Sorry. Aldo masih perjaka coy!" Aldo dengan bangganya mengatakan itu.
Doni berdecak beberapa kali. "Lo normal kan? Lo nggak ada naksir sama Gue kan?"
"Sialan Lo! Lo pikir Gue penggemar Minion!" Aldo mendelik.
Brakkk...
Raja menggebrak meja. "Kalian ribut mulu, Gue lagi pusing ini!" Ketusnya.