
Kimmy kurusan semenjak apa-apa melakukan sendiri tanpa Raja, dari ujian, membuat rangkuman, dan lainnya Kimmy usaha sendiri.
Banyak tugas yang menyita pikiran, Kimmy jadi lebih banyak gerak dan tidak lagi terima beres. Baru Lima Minggu saja, berat badan Kimmy sudah turun enam kilogram.
Kimmy semakin cantik, montok, dan menggemaskan. Ini pencapaian luar biasa dalam hidup Kimmy, bisa menurunkan berat badan secepat kilat.
Kimmy mempesona dengan balutan dress pendek merah muda juga sepatu sneaker putih. Tas kecil dia tenteng. Rambutnya di kuncir tinggi.
Sepulang kuliah Kimmy ikut teman-temannya menonton film di bioskop. Semenjak putus dari Raja, waktu Kimmy hanya dihabiskan bersama teman-temannya saja.
Anton menggandeng Ashley, Karan terpaksa bersisian dengan Ariani, dan Radit berjalan di sisi Kimmy.
Bibir Kimmy sumringah menatap eskrim yang biasanya Kimmy beli. "Raja, Kimmy mau es, ..." Ucapan gadis itu tergantung setelah sadar bahwa disisinya bukan Raja tapi Radit.
"Eh, Radit, maksudnya." Ralat nya.
Radit berusaha biasa saja, dia sadar Kimmy belum sepenuhnya move on. "Lo mau eskrim?"
"Iya." Angguk Kimmy.
"Biar Gue yang beliin." Radit meraih dompet dari saku belakang.
Ashley menimpali. "Eh, Gue tunggu di restoran biasa yah, Gue udah laper nih."
"Ya udah Gue ikut Radit dulu deh." Kimmy berjalan di belakang Radit, mengikuti sampai ke kasir outlet eskrim.
"Hey Aunt." Mendengar suara lucu tersebut Kimmy menoleh ke belakang, wajahnya kian berbinar seketika bocah tampan bermata biru menatapnya.
"Yah, Hay Baby." Telah lama Kimmy bermimpi memiliki adik, dan sampai sebesar ini Kimmy tak mendapatkannya. Melihat ketampanan anak itu Kimmy berbunga.
"Can you help me?" Tante bisa bantu aku?
"Well of course!" Yah tentu saja! Dengan senang hati Kimmy mengangguk.
"I'm lost." Aku tersesat.
"Hah," Kimmy mengedarkan pandangannya, sepertinya anak ini bukan asli warga negara Indonesia, dilihat dari bahasa Inggrisnya begitu pasih. "Where's your mother?"
Bocah itu menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. "Ulu Sayang, Be patient, Auntie will help find your mother." Sabar, Tante bantu cari ibumu. Kimmy usap lembut puncak kepala bocah kecil itu lalu menggendongnya.
"Thanks."
"What's your name?"
"Ansel."
Setelah memesan eskrim kesukaan Kimmy, Radit menoleh, kening mengerut menjumpai Kimmy menggendong bocah tampan berusia dua tahun. "Ini siapa?"
"Dia tersesat." Kimmy berujar pelan.
Radit menoleh ke kanan dan kiri, mall ini padat pengunjung, sampai pada saatnya mata biru Radit menangkap meja khusus untuk meminta layanan. "Kita ke customer servis." Ajaknya.
"Iya." Baru saja Kimmy dan Radit melangkah, teriakan histeris memekakkan telinga.
"Ansel!" Dua perempuan cantik berlari menuju Kimmy. Bukan Kimmy, lebih tepatnya pada anak tampan itu.
"Ya Tuhan, Ansel, kemana saja kamu Sayang. Mammi cemas!" Wanita itu merebut Ansel dari tangan Kimmy begitu saja.
Kimmy justru menatap ke arah perempuan satunya lagi. "Rinda." Celetuknya.
"Killa." Radit menatap kejut wanita yang merebut Ansel dari tangan Kimmy.
Wanita bernama lengkap Shaquilla itu menoleh pada Radit. Ada ludah yang tercekat masuk kedalam tenggorokan seketika itu juga. "Radit."
"Kamu di sini? Dia anak mu?" Radit bertanya memastikan, mengingat bagaimana Killa merebut Ansel dengan posesif.
"Hah?" Killa bingung harus berkata apa, ini terlalu mendesak. Hal yang tak ingin dia umbar apakah harus tercium masa.
"Jadi ini anak Lo Rin?" Kimmy menimpali setelah mengingat kembali ucapan Ashley yang mengatakan bahwa anak Rinda bule bermata biru.
"Emmh, I-iya, ini anakku." Rinda tersenyum paksa, gugup, dan rumit dijelaskan.
Killa menarik Rinda. "Kita cepetan pulang." Ucapnya lalu melengos pergi ke arah berlawanan tanpa mau basa-basi lagi.
"Iya Nona." Setelah itu, untuk sekilas Rinda menatap Kimmy yang masih setia menatapnya. "Terima kasih Kimmy." Katanya tersenyum.
"Sama-sama." Kimmy setia menatap punggung kedua wanita itu.
Jadi rupanya, Rinda yang pernah Raja kagumi semanis itu. Ia tak segan berterima kasih jika merasa berhutang budi.
Di sisi Kimmy Radit justru bergeming. Lama sudah Killa tak nampak di retinanya. Tiba-tiba hadir mengagetkan.
Sebelumnya Radit mengenal Rinda karena Rinda putri dari pembantu rumah tangga Killa. Tak jarang Killa menceritakan tentang Rinda yang mendapat beasiswa ke luar negeri.
"Lo kenal sama cewek yang sama Rinda tadi?" Kimmy menepuk lengan Radit hingga tersentak dari lamunan.
Radit menoleh dan mengangguk. "Iya, dia dulu temen nongkrong. Dia juga dulu anak motor, tapi lama nggak keliatan." Ujarnya jujur.
"Lo pernah ada hubungan sama dia?" Tanya Kimmy lagi mencecar.
"Just friend, dari dulu sampai sekarang, Gue cuma suka sama Lo doang." Jujur Radit lagi.
...🎀🎀🎀...
Hari berganti sesuai hukum alam semesta ini, bumi berputar pada porosnya dan tanpa sadar kita berpindah setiap menitnya.
Raja termenung, di rooftop gedung perkantoran ini, merasakan semilir angin siang hari, Raja bergelayut pada meja.
Angin terkadang kencang, terkadang angin seolah tak berembus. Cuaca siang ini cukup terik namun tidak dengan hati Raja yang redup.
Patah hati, mungkin Raja tengah mengalami. Minum tak nyaman, makan tak enak, tidurpun tak nyenyak, selalu terbayang wajah dan body gemoy Kimmy Zoya nya.
Visual Raja.
"Lo belum makan Bos! Inget, Lo mau diresmikan jadi CEO! Tenaga Lo kudu kuat buat salaman sama para tamu yang kasih selamat." Doni menegur.
Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan sang Tuan sembari menyesap rokok miliknya.
"Kimmy jadian sama Radit, Don." Raja mengangkat kepalanya, menatap Doni dengan nanar.
"Bos tahu dari mana?" Doni menggeleng sambil mengayunkan jari telunjuknya.
"Ini nih, ini kekurangan manusia genius kayak Lo ini! Punya kecerdasan jangan buat ngurusin hal pribadi deh! Tahu terlalu banyak urusan mereka jadi sakit sendiri kan!"
"Gue nggak meretas percakapan mereka, tapi Gue yakin mereka jadian setelah ini. Kemarin Kimmy khawatir banget sama Radit! Lo nggak liat sih!"
"Terus?" Doni bingung, bos nya ini terlalu ter Kimmy Kimmy, bukan berjuang malah terkesan sedikit-sedikit menyerah.
"Radit juga keliatannya sayang banget sama Kimmy. Mungkin merelakan lebih baik demi kebahagiaan Kimmy." Raja sendu, sedari pagi dia tak makan, sudah tak selera setelah semalaman otaknya dipenuhi Kimmy seorang.
"Bos nyerah?"
"Gue mau berjuang, tapi Kimmy udah muak sama Gue." Lirih Raja.
"Lo tahu, berjuang sendiri itu nggak enak. Sejauh Gue usaha, jawabannya cuma jutek. Dia benci sama Gue gara-gara perasaan labil Gue tujuh tahun lalu, mungkin Gue nggak layak dapetin dia." Timpalnya lagi.
Doni berdecak. "Kok jadi pesimis gini sih?"
...Terimakasih dukungannya, sayang sayang kooh, insya Allah OTW nulis lagi... Biar Nyambung dan cepet kelar......