
Selesai dengan aktivitas subuh hari, Queen dan Dhyrga menyantap sarapan pagi bersama.
Badung memang kelakuan mereka, tapi jangan lupa pada yang menciptakan dunia fana. Adanya embusan napas karena ada sang pencipta alam semesta.
Berlatar belakang menara Eiffel, keduanya saling menyuapi makanan. Queen menikmati setiap detik bersama sang kekasih. Kecupan manis dari bibir Dhyrga selalu tercipta meski seringkali Queen menangkisnya.
Menyenangkan kala bernostalgia dengan menu yang sering Queen nikmati bersama ayah ibunya waktu kecil.
Soupe a l’oignon sajian berupa sup hangat yang terbuat dari kuah sapi bertekstur kental.
Disantap dengan potongan daging ayam dan parutan keju gruyère. Di nikmati dengan roti baguette.
Mentari samar-samar terbit, pagi terlewati. Dari hotel Queen dan Dhyrga langsung menuju rumah klasik milik Raka.
Bermobil berdua tanpa ada pengawal membuat sepasang kekasih ini nyaman. Tangan keduanya silih menggenggam erat satu sama lain.
Tak ada dua jam, mobil milik Queen yang Dhyrga kendarai memasuki gerbang rumah klasik milik Raka Rain.
Di teras sana rupanya Rachel dan Ryan sudah duduk berdiam diri menunggu sang Tuan dan Nona mudanya dengan ekspresi wajah masing-masing, Rachel jutek sementara Ryan datar seperti biasanya.
Dhyrga dan Queen turun dari mobil secara bersamaan. "Ya Tuhan, selamat Tuan dan Nona muda. Sudah berhasil membuat ku menunggu di sini dengan patung selamat datang." Rachel menyambut dengan protesnya.
Queen tergelak kecil, sudah pasti Rachel tak betah berdampingan dengan laki-laki formal seperti Ryan. "Maaf, dan makasih mau menjaga asisten ku Nona Rachel." Ucapnya seraya mendekat.
"Panggil aku Rachel saja Nona, aku tidak enak, Anda bukan Murni tapi Nona Queen yang Rachel idolakan." Rachel menyengir begitu juga dengan Queen.
"Kalian sudah makan?" Dhyrga menyeletukan pertanyaan, semalaman Dhyrga tak tahu kabar Rachel dan Cinta saking asyiknya berdua bersama Queen.
"Sudah." Ketus Rachel. Ekor matanya mengarah pada pria datar di sebelahnya. "Setidaknya patung selamat datang punya Nona Queen ini bisa masak enak." Ujarnya memuji.
Ryan hanya diam tanpa ekspresi, selama ini Ryan bisa tersenyum hanya saat bersama Queen saja, itu pun karena kedekatan mereka yang sudah seperti Abang adik.
"Awas. Kamu bisa jatuh cinta sama Ryan, Chel!" Dhyrga menegur.
Rachel memang tak pernah mau pacaran, bahkan ada selentingan kabar bahwa Rachel menyukai perempuan, tapi itu belum terbukti, maka bisa saja Ryan laki-laki datar pertama yang mengambil sebilah hatinya.
"Cih!"
"Masih ada jaran goyang di Indonesia Ryan, tenang." Dhyrga terkikik menimpali.
"Kalian tunggu di sini, Queen mau cek rumah Daddy." Queen melangkah pamit menuju pintu utama rumah klasik yang masih sama seperti tahun-tahun lalu.
Dhyrga mengiringi langkah kaki Queen meski jaraknya tidak terlalu dekat. Queen masuk seiring dengan terbukanya pintu, melanjutkan langkah menuju meja makan bulat, mengambil satu gelas heels dari atas meja.
Queen haus. Ia tuangkan air putih dari kan kaca ke dalam gelas miliknya. Pelan-pelan Queen teguk minumannya, menikmati suasana yang dia rindukan dari rumah ini.
Queen letakkan kembali gelasnya setelah habis tak bersisa. Dia ayunkan kakinya menuju taman di sisi kanan ruang makan.
Udara yang sejuk dan pemandangan mempesona membuat pikir pun merampak di tengah keheningan.
Di sini kota yang menjadi tempat awal pertemuan Queen dan Dhyrga, lalu apakah akan berakhir menikah seperti khayalannya?
Dalam asyiknya Queen bergeming, kelembutan menjamah perut ratanya. Aroma maskulin menguar dari belakang sosoknya.
Queen melirik tersenyum. Jambang tipis Dhyrga menggores, menguyel ujung hidung runcing milik Dhyrga di bagian ceruk. Menghirup dalam-dalam kedamaian yang tersiar dari leher mulus kekasihnya.
Tak cukup dengan itu, Dhyrga membalikkan tubuh Queen perlahan agar mengarah padanya, menunduk, menyesap, merenggut setangkup bibir Queen dengan mata tertutup.
Tiada bosan, ini kegiatan yang baru dan candu bagi sepasang kekasih itu. Tangan Queen meraba bagian bawah Dhyrga saat pria itu meremas bola kenyalnya.
"Gahh."
"Hmm?"
Queen mendorong dada bidang kekasihnya hingga terburai bibir keduanya. "Why? Apa aku menyakiti mu?"
"Ke Indonesia?" Dhyrga usap bibir basah Queen lembut.
"Iya, kita ngomong sama Daddy baik-baik gimana hubungan kita ini." Pinta Queen.
"Kamu siap aku lamar?" Queen menyengir mendengar pertanyaan itu. "Selagi bukan kakek kakek tua, Queen mau, hihi." Dhyrga terkekeh.
Darah Raka mengalir pada Queen yang selalu melihat tampilan sebelum hatinya. Terlepas dari semua itu, tindakan Queen masih terbilang manusiawi.
...🎀🎀🎀...
^^^Di Indonesia.^^^
"Ueeeghh!" Gadis yang saat ini menatap gemetar bayangan wajah cantiknya dari cermin adalah Murni.
Murni bergetar hebat, sembari memegangi tespack bergaris dua di tangan mungilnya, keringat memuai berbulir bulir tak terhitung jumlahnya.
"Ya Tuhan, ini tidak boleh terjadi." Lirihnya. Murni memejamkan mata, mengalir butiran bening merayapi pori-pori kulitnya.
"Kenapa kita tidur sama-sama?" Terngiang di telinga tatkala seorang pemuda mengatakan itu setelah merenggut kesuciannya.
Tok tok tok.....
"Kak, Kak Murni." Suara itu bersamaan dengan suara ketukan pintu.
"I-iya!" Murni menoleh terkesiap, spontan ia membuang benda bergaris dua itu pada tong sampah di pojokan kamar mandi.
Segera Murni mencuci tangan, lalu membuka pintu setelah mengusap air mata pilunya. "Iya, Kimi." Senyumnya terpaksa.
Kimi sudah lebih besar, bahkan tubuhnya semakin gemoy setelah dua tahun menjadi food vlogger.
"Kak Murni ngapain di kamar mandi lama banget, di cariin Tante Krystal loh, Raja sama Nuna mau pulang hari ini, jadi kita musti siapin banyak makanan."
"Oya?" Mata Murni berbinar mendengar berita dari bibir mungil Kimi.
Dua tahun sudah Murni tinggal di istana Raka, diberikan tempat tinggal di salah satu paviliun unik pada lingkungan istana ini.
Kehangatan Murni menghiasi istana Raka menggantikan Queen yang mengejar ilmu di Amerika.
Menjadi bagian dari keluarga Raka Rain sungguh menyenangkan, Yuni ibu Murni bahkan diberikan kepercayaan menjadi kepala dapur di kantin perusahaan Raka.
Ya memang sih, kantin mewah itu usaha kuliner milik orang tua Kimi yang menyewa tempat di ratusan perusahaan Raka.
Intinya, Murni sekarang sudah mengalami kemajuan hidup, bukan lagi anak yang di bully karena Raka sudah memfasilitasinya dengan uang jajan yang cukup, pakaian layak dan sekolah tinggi.
"Sekarang kita keluar yuk, Kimi mau buatin Raja makanan yang luar biasa." Gadis itu berdecak bersemangat.
"Ciyeeee, pasti Raja seneng banget dapetin calon istri kayak Kimi."
"Harus dong." Keduanya berjalan sembari bergelayutan menuju dapur bersih, di mana Krystal tengah berkutat dengan sejumlah bahan mentah.
Sayuran, daging, kulit lumpia, gyoza, dan lain sebagainya telah tersedia di atas meja dapur yang panjang nan luas tersebut. Ada juga beberapa pelayan yang membantu Krystal.
Krystal melirik sekilas pada Murni lalu kembali fokus pada olahan makanannya.
"Biar Murni bantu Mamm." Setelah mencuci tangan, Murni meraih satu gyoza lalu mengisinya dengan isian ayam yang telah tersedia.
Krystal menatap tanya Murni, ada hal yang aneh dari Murni akhir akhir ini. Dua tahun tinggal bersama, pasti Krystal hapal dengan tabiat perempuan itu. "Murni kenapa? Kok Mammi liat akhir akhir ini kamu lesu gitu?"
Murni menggeleng. "Nggak apa-apa Mamm." Sanggahnya.
"Bener?" Bukan Krystal jika percaya pada gelagat aneh yang terbaca ini.