
Dalam mobil mewah berjenis SUV, Rachel duduk di jok penumpang bagian depan sementara Ryan mengemudikan kendaraan.
Setelah acara sakral di lakukan sang Tuan dan Nyonya muda. Keduanya harus rela mengawal mobil sport merah tanpa atap yang melaju di depan sana.
Harlan Rania pulang ke rumah utama, dan rencananya membiarkan Dhyrga membawa istrinya ke Penthouse untuk malam ini saja.
Besok, pengantin baru itu masih harus sama-sama mengurus persiapan pernikahan mereka. Souvernir, undangan, fitting baju, bahkan foto prewed pun akan segera di buat.
"Ini mau ke mana sih kita? Kenapa jalannya jadi jauh begini?" Rachel menggerutu, jalan yang di tuju bukan jalan menuju Penthouse milik Dhyrga.
"Kayaknya mau ke pantai." Jawab Ryan.
Rachel berdecak. "Sialan emang si Bos!"
"Mereka pengantin baru, mungkin mau honey moon." Ryan selalu bertutur datar, yah begitulah perangainya.
"Mentang-mentang malam per-tama." Rachel mengerucutkan bibirnya merutuk.
"Ini sudah pagi." Kata Ryan.
"Ck, lagian ngapain coba di sini? Bukannya malam per-tama lebih enak di lakukan di rumah?"
Ryan menggeleng. "Mana ku tahu, aku belum pernah."
"Sialan!"
...🎀🎀🎀...
^^^Di lain mobil.^^^
"Uaaahhh, ini menakjubkan Ga." Queen mengedarkan pandangannya. Udara dingin tak lantas membuatnya merengek. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa.
Di mana pantai tampak lebih eksotis jika dilihat dini hari begini. Jam yang tertampil pada layar dasbor mobil menunjukkan pukul 03.00.
Dhyrga memberhentikan mobilnya bahkan mendekat ke pesisir pantai. Tak sulit, karena ban mobil mewah itu dibuat khusus agar bisa melaju bagaimanapun medannya.
Jalanan masih gelap, deburan ombak nyaring terdengar. Angin pantai menerpa raga kedua insan rupawan itu.
"Sudah lama aku mau mengajak Baby ke sini, tapi baru terlaksana setelah menikah." Dhyrga tersenyum tipis lalu menoleh pada gadisnya.
"Maacih suami ku." Queen merangkum kedua pipi berjambang suaminya.
"Baby dingin?" Dhyrga merasai telapak tangan Queen sedingin es. "Emmh." Gadis itu mengangguk mengiyakan.
Beruntung Queen mengenakkan mantel tebal, juga selimut yang menutupi paha mulus dan kaki mungilnya.
Sebelum pergi Dhyrga menyuruh Queen memakainya. Rupanya pantai tempat yang ingin mereka kunjungi setelah ijab.
Seharusnya pulang ke apartemen tapi tidak, mereka memilih berjalan-jalan, berpacaran setelah halal.
"Kita pulang?" Tawar Dhyrga.
Queen menggeleng. "Jangan, Queen mau sampai pagi di sini." Ucapnya.
"Yakin nggak kedinginan?"
"Enggak. Pasti indah banget, menikmati terbitnya matahari bersama yang terkasih di kota kelahiran kita sendiri, ya walaupun terbitnya bukan dari arah pantai kayak di Bali, tapi seenggaknya kita bisa menikmati udara segar di sini kan?"
"Iya." Dhyrga tersenyum manis, di mana pun tempatnya asal bersama Queen semuanya terasa indah.
Menyusun senyum manis Dhyrga meraih sebelah pipi Queen. "Ini seperti mimpi, aku bisa memiliki mu seutuhnya." Lirihnya.
Queen menyengir. "Kalau dulu kita nggak pisah, mungkin nggak sih, sekarang kita udah punya Baby kecil? Emang bisa gitu kita tahan buat nggak saling menyentuh?"
"Aku tahan, ... Tapi kurang tahu kalo Baby."
"Hieleh!" Queen mencebik tak percaya. Dhyrga terlampau agresif jika untuk urusan sentuh menyentuh.
Dingin, Queen menggesekkan kedua telapak tangannya beberapa kali. Lalu meletakkan kepalanya pada pundak nyaman suaminya, netra nya menatap lekat deburan ombak di pantai sana.
Indah, seperti dunia milik berdua, bahkan Hotman Paris saja ngontrak.
Dhyrga menunduk, ia sentuh ujung hidung Queen, terasa dingin. Perlahan tapi pasti Dhyrga mengikis jarak. Selain saling menghangatkan. Mau apa lagi memangnya?
Menyadari adanya pendekatan, Queen mendongak menatap wajah tampan suaminya yang kian mendekat. "Kita nggak akan melakukannya di sini kan?"
"Tidak, cukup kiss saja, mengurangi dingin." Terkekeh kecil Dhyrga berucap.
"Emmh." Queen menerima pelan tempelan benda lembut itu. Terpejam sayu matanya kini, menikmati serangan kelembutan yang perlahan merangsek pada langit-langit mulutnya.
Perlahan Dhyrga menuntun tangan mulus Queen mengusap bagian yang akhir akhir ini sering terbangun. Celana bahan itu lembut, Queen menyukainya. Ramah di genggaman.
Dhyrga membawa tangannya menyisir ceruk leher beku Queen, ia sedang mencoba mencairkan kebekuan gadisnya.
Tak ada rencana bermalam per-tama, tapi apakah mungkin? Lihatlah, ....
Gairah Dhyrga sudah seperti magma yang kian membuncah dan berontak seolah ingin menyemburkan hawa panas dari sang raga lalu mentransfernya pada istrinya.
"Aw." Gemas Dhyrga menggigit bibir bawah istrinya hingga mengeluh. "Yank."
"Ahh." Bibir terlepas begitu saja. Masih terbungkus rapi, Dhyrga meremas lembut butiran besar nan empuk milik Queen.
"Emmh." Terbuka tertutup mata Queen merasai kenikmatan yang Dhyrga berikan.
Tak puas hanya dari luar, tangan besar Dhyrga menuju tepian rok, dari bawah ia menyelusup masuk, sementara Queen menarik selimut demi menutup kenakalan tangan suaminya.
Sesekali Dhyrga melirik ke arah mobil Ryan dan Rachel, sepertinya mereka masih mengawasinya.
"Boleh, kita main-main dulu, di sini" Queen tersenyum mengangguk. Dress pendek membuat Queen lebih mudah di jangkau.
Sampai pada kain tipis yang melingkari pinggang ramping Queen, Dhyrga merabanya pelan, menurunkannya hingga kebawah lutut.
"Jangan berteriak, atau Ryan akan mendengar suara seksi mu." Kata Dhyrga.
"Sebelum kita masukkan yang asli, kita coba pakai yang ini." Dhyrga sudah sering mempelajari cara-cara untuk tidak menyakiti Queen dari buku-buku pengetahuan yang dia baca.
"Kamu yakin Ga?"
"Why?"
"Orang bilang, sensasi merobek selaput dara itu lebih enak, kamu yakin nggak mau itu?"
"Aku tidak peduli." Queen memejamkan mata saat jemari Dhyrga berputar pada bagian paling sensitif nya.
"Kamu tahu Queen, saat aku bermimpi menikahi mu, yang ada dalam pikiran ku hanya membuat mu bahagia, tak mau aku mengerang kenikmatan di atas kesakitan dan air mata mu."
Queen terenyuh, tapi bagian sensitifnya telah di sentuh bahkan di mainkan secara cepat. "Ahh." Napas Queen mengacau, rasa nikmat ini terlalu asing, sungguh, tiada pernah dia dapati sebelumnya.
"Enak?" Queen mengangguk. Ia setuju jika kali ini Dhyrga menyatakan dirinya mahir. Lihatlah, Queen di buat tak bisa merelakan sentuhan ini. "Lagi yang atasnya." Instruksinya berbisik.
Dhyrga memagut bibir mungil itu, sementara jemari tangannya menari-nari pada liang surganya para kaum hawa.
"Ahh, Dhyrga pelan-pelan." Queen sedikit meninggikan suaranya.
"Sssuuuuutttt, Ryan di sekitar sini Yank." Sesekali matanya melirik pada mobil hitam yang terparkir tak jauh dari mobilnya.
"Kita pindah saja gimana?" Queen merengek, wajahnya memelas meminta sesuatu yang lebih dari ini.
Queen tekan tombol kuning, menutup atap mobil sementara Dhyrga menekan tombol merah demi menurunkan sandaran jok istrinya.
"Nggak usah pindah. Di sini saja, mau? Mumpung jalanan masih sepi." Adrenalin merasa tertantang, sepertinya akan lebih asyik berjuang di dalam mobil.
Atap telah tertutup rapat, Queen berani menanggalkan mantel tebal miliknya, lantas membuangnya ke jok belakang.
Jendela di biarkan terbuka, agar angin pantai masih bisa masuk menggulung raga bersuhu tinggi mereka.
Dhyrga memainkan jemarinya di bagian dada Queen, melepas dua kancing Sanghai itu hingga bra tipisnya pun Dhyrga tarik ke bawah.
Tak ada kata-kata, Dhyrga menatap kagum kelembutan dan kemulusan yang membusung di depan istrinya.
Ujung pink yang semula hanya Dhyrga jumpai dalam angan kini nyata di hadapannya. Pucuk merah muda itu Dhyrga pelintir, kemudian meremas buah empuknya gemas. "Emmh, ough ahh."
Dhyrga menurunkan bibirnya, menuju pucuk merah muda milik istrinya. Menyesap perlahan dan menghasilkan suara lenguh tanpa peluh.
Mendengar itu, tak kuasa Dhyrga mencegah. Ia lepas ikat pinggang miliknya tanpa berhenti dari aktivitas bibirnya, berusaha kuat Dhyrga memupuskan separuh celana bahannya.
Menerima sentuhan dari benda tegas nan besar, Queen mengerling ke bawah. "Ssuutt."
"Jangan menatapnya." Dhyrga tutup mata Queen dengan sebelah tangan. Ia sengaja memakai trik ini agar tak ada trauma sebelum masuknya sang tongkat.
"Dhyrgahh." Queen membelalakkan mata nanar nya dengan menderu dera napas kacaunya. Dhyrga tersenyum, cara ini akan membuat Queen lebih santai saat menerima pemasukan besarnya.
"Gahh!"
"Cup, cup, relaxe, Baby bisa." Dhyrga kecup kening wanita itu pelan. Separuh sudah miliknya tenggelam. Queen masih berusaha untuk menerima pemasukan besarnya baik-baik meski harus sedikit merasai robekan demi robekan yang kian pedih.
"Dhyrgahh."
"Sakit?"
Queen mengangguk. "Tapi ini lebih enak dari sebelumnya." Ucapnya.
"Benarkah?" Dhyrga cubit dagu manis wanita itu. Mendaratkan kecupan ringan di bibirnya.
Mungkin dengan begitu, Queen tak terlalu fokus pada terbukanya segel pertamanya.
Perlahan tapi pasti, Dhyrga dorong miliknya hingga amblas tenggelam memenuhi kesempitan yang meremas kuat miliknya.
"Agh!" Dhyrga terpejam menikmati setiap detik kebersamaan yang terasa hangat ini. Bukan ilusi, ini nyata dan lebih indah dari mimpinya selama ini.
Dari sana mereka memulainya, Dhyrga bergerak naik turun dari yang pelan hingga yang tercepat sekalipun, persis seperti gerakan push up di atas jok mobil yang meleyeh.
Mobil itu bergoyang, berderit seiring dengan gerakan gagah Dhyrga Miller.
Kecupan lembut Dhyrga berikan, remasan erotis pria itu suguhkan. Membuat Queen tak mampu menghentikan raungannya yang menggila.
"Gila kamu Gah!" Queen mengarahkan kepalan tangannya pada kerah kemeja milik suaminya.
Kecapan kedua bibir beradu merajainya. Seolah detik tak bersaat ketika terdengar kain yang terkoyak bahkan kancing yang runtuh.
Queen menariknya tanpa sadar. Angin pantai mendayu-dayu. Mengiringi setiap embusan napas yang bergemuruh seakan berlomba dengan deburan ombak, siapa yang lebih merajam suaranya.
"Kamu seksi Sayang." Puji Dhyrga. Queen yang melayang semakin tak tahu arah pulang ketika pujian demi pujian tercetus dari bibir sensual suaminya.
Cukup lama keduanya memerah keringat. Lelah dengan gerakan yang satu ini. Dhyrga menyudahinya, ia duduk kembali pada joknya. Menata deru napas yang bertampiaran tak keruan. "Istirahat dulu." Bibirnya tersenyum puas.
Tak rela di sudahi, Queen meraih sebelah rahang suaminya, ia mendekat, melangkah pada benda yang barusan membuatnya melayang.
Dhyrga tersenyum, kepala dan punggung bersandar pada joknya sementara Queen berada di atasnya. "Baby mau mencobanya?"
"Emmh." Kembali Queen menautkan kedua inti penghidupan mereka, cukup sulit karena masih terlalu sempit.
Mungkin hanya Dhyrga yang mampu membuat Queen candu karena pembukaan perdananya tak menorehkan luka serius.
Dhyrga mahir tanpa perlu menjadi Casanova.
"Oh Queen." Kali ini Queen yang naik turun di atas pangkuan suaminya. Memanjakan pria tampan itu dengan tangan yang merengkuh bagian tengkuk.
Wajah Dhyrga tenggelam pada salah satu buah kenyal yang membusung di hadapannya.
Ombak yang menggulung tinggi, deburannya nyaring seiring dengan lenguhan dan erangan sepasang pengantin baru itu.
Ada orang kah di sini? 👀