Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Pertama bab satu




Pucat manai wajah Kimmy, gaun seberat 30 kg nya lumayan menyerap energi.


Kimmy berusaha kuat dengan duduk di kursi pelaminan, tapi kemudian Krystal dan Gea tak kuasa memaksa gadis cengeng itu tersiksa.


Pukul 20.40 Kimmy di bawa masuk ke dalam kamar pengantin. Sementara Raja masih duduk diantara kolega dan relasi ayahnya.


Setelah membantu Kimmy bersih-bersih dan mengganti dress tidur, Gea menyuapi putrinya makan malam.


"Setelah ini minum vitamin, terus tidur. Raja mungkin sampai pagi di luar." Kata Gea pelan.


"Iya." Kimmy mengangguk. Selesai itu, Gea menyuruh Kimmy berbaring di atas ranjang pengantin, menyelimutinya penuh kasih sayang.


Kecupan lembut Gea labuh kan pada kening Kimmy yang segera memejamkan mata lelahnya.


Sebagian lampu terang kamar di matikan, cahaya temaram hanya berasal dari pijar kecil dari lampu tidur di langit-langit.


Masih banyak tamu, Gea dan Krystal keluar kembali setelah menitipkan Kimmy pada beberapa pelayan.


Red, Yellow, Green, nama pelayan kembar tiga itu. Mereka duduk pada sofa yang teronggok di depan kamar pengantin.


Pukul tiga dini hari, Raja baru bisa pamit untuk masuk ke dalam kamar miliknya yang sekarang menjadi milik bersama istrinya.


Langkahnya gagah diiringi dua asisten personalnya.


Raja yakin Kimmy terlelap tidur, gadis cengeng itu tak pernah merasakan sulit jika soal tidur, bahkan dalam keadaan patah hati pun, Kimmy masih bisa nyenyak.


"Kalian ngapain ikut?" Raja melirik tajam pada Doni dan Aldo yang masih mengekor hingga ke pintu.


"Kali ajah ada live streaming. Astetew!" Doni tergelak begitu pula dengan Aldo.


"Otak jamur! Gih pergi!" Raja mengusir dengan mata tajamnya.


"Wokeh, Shihab!" Doni memberi hormat lalu pergi bersama Aldo sesuai perintah.


Raja terkekeh melihat kedua sahabatnya saling jitak satu sama lain saat duduk di sofa sana.


Aldo dan Doni bukan anak jomblo yang polos, mereka sering mengencani wanita, tapi sebulan kemudian mereka diputuskan secara sepihak, alasannya selalu sama, mereka lebih sibuk dengan pekerjaan daripada berkencan.


Masuk kamar, Raja menutup pintu pelan. Remang-remang ruangannya, Raja tersenyum tipis mendapati seorang gadis terbaring nyaman di balik selimut tebalnya.


Tak mau memicu OCD Kimmy, Raja lebih memilih untuk membersihkan diri dahulu sebelum beranjak ke tempat tidur.


Sepuluh menit. Keluar dari kamar mandi, Raja masuk ke dalam walk in closet. Mengganti pakaian tidur kimono berwarna biru gelap.


Berjalan gontai. Bibir Raja tersenyum, ia menatap Kimmy sembari menyimpulkan tali kimono. "Gadis ku sangat cantik bahkan dalam keadaan tertidur."


Tak terpikirkan untuk bermalam per-tama. Raja masuk ke dalam selimut tebal yang sama dengan istrinya.


Merasa kurang intens kedekatan mereka, Raja bergeser, memangkas jarak yang sudah tidak seharusnya ada diantara keduanya.


Berbaring miring dengan siku terlipat, Raja menatap wajah cantik alami istrinya. Pucat manai bibir gadis itu, tapi masih terlihat manis dan seksi.


"Akhirnya, kita menikah."


Membelai pelan pipi Kimmy, Raja mengikis sekali lagi jarak mereka. Kecupan lembut mendarat sempurna pada bibir mungil gadis itu.


Plakk... "Aw!"


Kimmy melotot seraya bangkit setelah berhasil menampar pipi suaminya. "Raja ngapain di sini?"


Raja tersenyum kesal. "Kita suami istri!"


"Eh, ya ampun." Kimmy mengusap usap dahinya. Sejenak, ia kumpulkan nyawa yang beterbangan kemana-mana. "Kimmy kurang fokus, maaf." Lirihnya.


Kimmy berkedip-kedip, berusaha eling dari mode linglung nya. Menghela sesekali, lalu menatap kembali wajah Raja yang tertekuk.


"Raja sakit?" Kimmy elus pipi Raja lembut.


"Banget."


Kimmy kecup pipi Raja sekilas. "Tayong, maafin Kimmy." Ucapnya lucu. Suaranya masih parau, terdengar sangat seksi bagi Raja.


"Sembuhin."


Kimmy mengernyit. "Emang sesakit itu?" Tukasnya. "Perasaan Raja nggak apa-apa pas kelahi sama musuh Radit! Masa di tampol Kimmy aja gitu!"


Kimmy pun melakukan hal yang sama, saling menatap keduanya duduk bersila. "Apa masalahnya? Cuma sebut doang!"


"Aku nggak suka ada nama cowok lain yang Kimmy sebut di atas ranjang kita! Kimmy tahu itu!" Secara dingin Raja palingkan pandangan ke arah lain.


Berasap punggungnya. "Huhh!" Untung sudah jadi istri.


Melihat Raja marah, Kimmy membawa tangannya menyentuh dada bidang pria itu. "Maaf." Ucapnya menyengir.


Awalnya Raja menghela dalam berusaha bertahan dengan ngambeknya. Namun, usapan Kimmy kian membuatnya menggelenyar. "Kalo ini, Raja suka nggak?"


Tipis, Raja mengulum senyum lalu beralih menatap Kimmy kembali. Tangannya mencekal sapuan kenakalan tangan Kimmy.


"Orang bodoh mana yang bilang tidak suka padamu hmm?" Ucapnya pelan.


Kimmy meneguk saliva. "Ya ampun, apa barusan aku yang menggodanya?"


Perlahan, Raja merangkum kedua rahang Kimmy dengan sapuan ibu jari, Raja kecup bibir Kimmy dari yang pelan sampai yang panas.


Raja mengalihkan pandangan, dari wajah turun ke dada. "Seksi." Belahan indah yang kemarin tak pernah bisa dia sentuh, kini utuh miliknya.


Kimmy terlahir berisi, sintal, gemoy, hingga apa pun yang dia miliki menjadi sangat seksi.


Mengingat status mereka telah berubah menikah. Jantung Raja berdetak lebih cepat begitu pun dengan Kimmy Zoya.


Raja turunkan tali kecil yang menggelayut di pundak mulus istrinya. Semakin jelas tonjolan empuk itu. Raja terpana pada kemulusannya.


Leher mulus Kimmy masih di lingkari kalung berlian pemberiannya.


Wajah Raja mendekat, sementara Kimmy mundur hingga tanpa sengaja ia terbaring di bawah kungkungan suaminya.


Tersenyum kecil Raja memberikan kecupan lembut pada telinga Kimmy yang bergidik geli.


"Sudah nyenyak tidur kan?" Bisik Raja.


"Hah?" Kimmy membulat matanya. "Jadi maksudnya Raja ngajakin main sampai pagi kayak yang di cerita CEO dingin jadi bucin?"


"Tapi Kimmy, ..." Terputus ucapan gugup gadis itu saat Raja bergumam kembali.


"Jangan beralasan mengantuk, Kimmy sudah tidur lama, dari jam sembilan sampai jam tiga." Bibirnya memberikan kecupan kecupan menggelitik pada leher istrinya yang sesak menahan napas.


"T-tapi, ..."


"Datang bulan?" Raja terkekeh kecil. "Raja tahu, Kimmy sedang dalam masa subur, Kimmy baru akan datang tamu dua Minggu lagi dari sekarang."


Kimmy mendengus. Geniusnya Raja hanya untuk mengorek keuntungan saja. "Gimana kalo kita tunda dulu?" Rengek nya memelas.


"Ashley bilang kalau begituan nanti nggak bisa jalan normal, terus pipisnya sakit sampe lima hari." Batin Kimmy.


"Yakin?" Bibir Raja telah sampai pada ujung pink yang ranum. Kimmy ternganga, napas kasar bergemuruh. Mau menolak tapi, sulit.


Terlebih, saat Raja meremas buah satunya lagi. Refleks, lutut Kimmy meronta kecil.


Kemudian sebelah tangan Raja menekan lutut itu hingga terdiam kembali Kimmy di bawah permainan romansanya.


"Relaxe, Kimmy percaya kan Raja bisa buat Kimmy tidak sakit?" Nanar. Iris biru itu menatap wajah takut istrinya. "Slowly."


"Emmh." Berusaha percaya pada suaminya, Kimmy mengangguk pelan.


Kembali Raja melakukan aktivitasnya. Bulu kuduk Kimmy berdiri, ia meremang merasai hisa-pan di pucuk dadanya yang semakin lama kian terasa menggigit.


"Oh, Rajahh." Mata hazel Kimmy nanar, namun terbelalak. De-sah Kimmy mulai memanas, sprei putih itu Kimmy remas kuat-kuat demi mengurangi goncangan dari getaran jiwanya.


"Hmm, ohh, ahh." Melengkung nikmat tubuh Kimmy hingga membentuk huruf M.


Mendongak, mele-nguh. Satu persatu Raja menjamah setiap lekuk tubuh Kimmy yang tak pernah ia sentuh sebelumnya. "Kenapa masih tegang? Relaxe Sayang."


Terdengar kembali bisikan yang membuat Kimmy candu. Bibir Kimmy terbuka kering, lalu, Raja memasukan jari telunjuknya, membiarkan Kimmy mengulum.


Menggigit bibir bawahnya, Raja tersenyum, sesuai keinginannya, rupanya Kimmy pintar membasahi jari telunjuknya.


Raja tarik jemari basahnya lalu menuju ke ruangan lain yang lebih berani lagi. "Ahh!"


"Relaxe." Raja terkekeh kecil, baru tersentuh luarnya saja De-sah Kimmy memekakkan telinga. "Hiks, itu sensitif!" Rengek nya.


...Uaaahhh, yg beginian susah ni buat lolos... Harap sabar... ...