Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Bis



Cinta membutakan segalanya, bukan mau Rinda merendahkan diri, tapi hati yang tersangkut lumayan sulit untuk dipupus.


Raja pernah sangat baik, wanita mana yang tak tergoda bila mana seorang laki-laki tampan sekelas Raja menaruh perhatian padanya.


Yakin seribu persen, tak ada wanita yang mau menjadi pelakor, Rinda hanya terbiasa atas kedekatan mereka. Itu saja.


Setelah Aldo dan Doni melacak keberadaan Radit, pukul lima pagi gadis itu menemui Radit. Kantung darah yang Ansel miliki tinggal beberapa saja. Rinda semakin kalang kabut.


Suara gedor pintu membuat Radit, Anton, dan Karan menoleh serentak. "Siapa?"


Brakkk....


Wajah menangis Rinda tertampil di hadapan ketiga pemuda tampan itu. "Rinda?" Karan yang pertama kali menyeletuk.


"Lo ngapain?" Radit menyapanya dengan raut bingung.


Mereka tidak cukup kenal untuk saling membesuk. Terlebih, dandanan Rinda tak begitu baik. Lusuh, mata panda, menangis.


"Nyari kamu!" Kata Rinda lirih. Apa pun demi Ansel, Rinda rela menepis rasa malu hanya untuk Ansel.


"Buat?"


"Ansel!" Rinda semakin berkata lirih.


Raditya mengernyit. "Ansel? Siapa, ..."


"Ansel anakku, dia butuh donor darimu, ku mohon, aku membutuhkannya. Ku mohon, berikan darah mu untuk anakku." Gadis itu menghiba.


Anton menimpali ketus. "Lo gila? Radit ajah lagi sakit, Lo suruh dia donorin darahnya!"


"Tapi Ansel butuh!" Sergah Rinda beralih pada pemuda itu. Anton berdiri Karan pun sama, sementara Radit masih duduk bersandar pada kepala ranjang pasiennya.


"Apa urusannya sama Gue!" Rinda beralih pada Radit kembali, sesaat setelah adik sepupu Dhyrga Miller itu bersuara.


"Apa kamu siap mendengar kenyataan ini Tuan muda Radit?" Nanar, Rinda berujar.


"Nggak usah banyak muter-muter, Lo ngapain hah? Lo mau menawarkan jasa simpanan?"


Plakk... Tangan mulus Rinda telah sampai pada pipi Anton yang berpaling darinya. Tajam sekali ia menatap pemuda itu.


"Jangan kurang ajar Tuan muda!" Teriak Rinda. Ia sakit jika orang-orang terus menghardik status nya.


Rinda beralih pada Raditya yang kian menajamkan tatapan. Wanita cantik itu benar-benar aneh, sangat aneh bagi Radit.


"Sebenarnya apa mau Lo!"


"Baiklah aku kasih tahu kebenarannya dulu, Ansel yang kalian sangka anak hasil hubungan gelap ku, dia anak Nona mudaku, hasil perbuatan terlarangnya dengan mu." Jelas Rinda.


Radit terkekeh. "Lo nggak waras hah?" Tapi, jika benar begitu kenapa Killa tidak memberitahunya.


"Aku tidak peduli kamu anggap aku gila sekalipun, tapi aku butuh bantuan mu, Ansel sudah seperti anakku sendiri, dari dia lahir Ansel bersama ku, tolong, bantu aku ku mohon Raditya." Rinda menyatukan kedua tangannya. Menitihkan air mata permohonan.


Radit bukan orang yang buruk, selain dari kenakalan remajanya, Radit termasuk manusia peka seperti Abang Dhyrganya. Melihat luruhnya air mata Rinda, ia menjadi iba.


"Tolong aku, setidaknya besuk Ansel, seperti aku, kamu juga pasti tidak tega melihatnya terbaring lemah di atas ranjangnya." Lirih Rinda kembali.


...🎀🎀🎀...


Di lain tempat, beberapa saat kemudian. Killa duduk termenung menatap wajah tampan putranya.


Sampai detik ini, Ansel hanya berembus napas kecil itu pun dengan bantuan alat pernapasan.


Killa frustasi, tapi mencegah Rinda pun tak dapat dia lakukan, sejatinya Rinda benar, biar saja semua orang tahu, bahwa Ansel putra Raditya.


Kesalahan yang sempat terjadi di atas jok penumpang paling belakang bis omprengan, perjalanan Bandung menuju Jakarta.


Semua itu terjadi begitu saja, kedua remaja yang saling tertarik satu sama lain karena di picu oleh udara dingin.


Tepatnya tiga tahun lalu. Saat Raditya dan semua geng motornya mengikuti balap liar di daerah Bandung.


Anggota yang lain sudah pulang, hanya Radit dan Killa yang masih mengarungi jalanan yang sesekali terjal.


Kilas balik....


"Ah, sial!" Raditya mengumpat motor mogoknya, ini pasti karena terlalu dipaksakan untuk menang lomba padahal seharusnya motor itu sudah beristirahat.


"Kenapa Dit?" Killa melepas helm, turun dari motor. Wajah tampan Radit pun terlihat setelah ia melepas helm nya.


"Dia minta selesai. Kita perlu cari tumpangan." Raditya menepuk stang motornya, ia turun lalu menepikan kendaraannya.


Jalanan cukup sepi, di kelilingi pekarangan hampa. Banyak suara jangkrik yang membuat wilayah ini semakin mencekam.


Raditya terkekeh. "Lo nggak takut mati tapi takut setan!"


"Jangan nyebut sembarangan Lo! Di sini angker!" Pekik Killa. Raditya terkikik.


Cukup lama Radit dan Killa menunggu lewatnya pertolongan, kulit-kulit mulus mereka harus rela menjadi sasaran empuk nyamuk sawah.


Tin tin...


Sorot lampu dari mobil besar membuat keduanya refleks melambaikan tangannya.


"Om, ..."


Pintu bis terbuka tepat di depan keduanya, sepertinya sang sopir tahu bahwasanya kedua anak itu butuh pertolongannya.


"Mau kemana dek?"


"Jakarta Pak!" Teriak Radit.


"Wah, nggak sampai ke sana saya."


Radit naik untuk memberikan penawaran menarik. "Saya sewa berapa pun Pak, asal sampai ke Jakarta." Ia keluarkan gepokan uang yang menggiurkan.


"Ok lah, daripada sepi nggak ada penumpang!" Kata sopirnya.


Susah payah Radit menaikkan motornya kedalam bis tersebut, tentunya di bantu pak sopir yang baik hati.


Killa dan Radit duduk pada jok penumpang bagian belakang. Sepi, tak ada satu pun orang selain sopir dan kedua remaja itu.


"Syukurlah, kita bisa pulang ke rumah dengan tenang." Killa terkikik begitu pula dengan Radit. Mereka melewati malam yang seru.


Dingin, bis omprengan ini full angin. Laju mobilnya sangat cepat. Killa merapat pada Radit yang juga merapat padanya.


"Lo masih naksir cewek manja itu?" Killa bertanya basa basi. Tangannya ia gesekan demi mengurangi rasa dingin.


"Begitulah, dia spesial." Radit menjawab dengan bibir yang tersenyum.


"Lo nggak tertarik sama Gue hmm?"


Tersenyum kecil, Radit menatap wajah cantik Killa yang samar-samar karena lampu bis ini tidak dinyalakan. "Gue mau beralih dari Kimmy, tapi sulit."


"Lo yakin?" Killa membuka jaket hitamnya, bahkan kaos t-shirt miliknya. "Lo yakin nggak tertarik sama Gue?" Gadis itu terkikik geli melihat ekspresi Radit yang terkejut lucu.


"Lo emang nggak waras!"


"Cuma sama Lo!" Tak cukup kata-kata, Raditya menyambar bibir tipis gadis itu.


Siapa yang rela, melihat gundukan padat itu menganggur. Tentu saja Radit meremasnya kuat-kuat.


Kecupan kian liar. Killa pandai melakukan hal itu, Radit menyukai perlawanan gadis ini. Sungguh sapuan indera perasa Killa begitu lihai. Sementara Raditya baru pertama kalinya melakukan pertempelan bibir, ia polos.


Tangan Radit menyingkirkan rambut panjang Killa yang beterbangan kemana-mana. Ia berusaha tak terganggu oleh helaian halus itu.


Tersengat gai-rah, Raditya ingin lebih dari itu, terlebih saat Killa meraba-raba bagian bawahnya. "Sial, Lo pinter banget buat Gue sa-nge njerr!" Radit mengumpat.


Killa terkikik. "Lo mau coba?"


"Lo udah pernah?"


"Sama Andrews Gue cuma main luar, tapi Gue cinta mati sama Lo Dit, Gue rela Lo apain aja. Tapi dengan syarat, Lo berhenti ngejar-ngejar cewek manja itu lagi!"


"Ok." Radit menyambar kembali bibir Killa, ia setuju bukan karena ingin melakukan itu saja, karena sejatinya Radit ingin sekali melupakan Kimmy yang sering menolak cinta nya.


Mungkin Killa akan menjadi akhir dari pencarian cintanya. Killa hebat, Killa mandiri, Killa bisa diajak seru-seruan di jalanan, Killa tidak cengeng, jauh sekali jika dibandingkan dengan kepribadian Kimmy.


Memupuskan separuh celana, Radit siap saat gadis itu berusaha memakan miliknya. Killa berada di pangkuan Raditya. Susah payah untuk bisa masuk tapi berhasil pula.


Keduanya tergelak. Ini hal yang seru. "Gila, Lo buat Gue nggak perjaka lagi Killa!" Di jawab dengan gelak tawa wanita itu.


Killa mulai naik turun. De-sah keduanya terbawa angin malam. Sesekali mengamati sang sopir yang sibuk menelepon istrinya di kampung dengan headset di telinganya.


"Ahh!"


"Sakit?"


"Sejak kapan Killa sakit? Ini seru Dit, ini enak! Kita bisa coba lagi nanti!" Keduanya terkikik bersamaan. Bercampur lennguh erotis, Radit melewati malam ini.


Kilas balik selesai...