
Di kamar presidential suite milik Raditya. Banyak orang duduk melingkar pada sofa. Diantara Dhyrga, Alfaro, Sashi, Arnold, Queen.
Hendra dan istrinya masih berada diluar negeri. Maka hanya ada Arnold yang menjadi wali Killa untuk melakukan mediasi.
Keluarga Miller menjadi pendonor bagi Ansel, Rinda bisa bernapas lega kali ini. Setidaknya, Ansel memiliki kesempatan lebih besar untuk hidup.
Untuk yang pertama kalinya, Killa dan Radit kembali bertatap muka dengan suasana yang tidak terduga. Kondisi kaki tangan Radit saat ini membuat Killa terenyuh.
"Ngapain Lo ke sini?" Radit menatap tidak betah wanita cantik yang telah melahirkan calon pewarisnya duduk di depannya.
Dhyrga dan lainnnya diam, membiarkan kedua orang itu menyelesaikan urusannya.
"Lo ugal-ugalan di jalan gara-gara cewek cengeng itu nikah sama anaknya Om Raka?" Killa terkekeh samar. "Liat diri Lo, apa jadinya kalo Gue masih sama Lo? Pasti Gue cuma bisa ngelus dada doang." Ujarnya.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan! Lo ke sini mau apa hah?" Bentak Raditya.
"Gue mau ketawa jahat, Lo menderita sekarang! Akhirnya Lo di tinggal nikah sama cewek manja itu!" Ejek Killa.
"Setidaknya dia lebih baik dari Lo yang lari saat hamil anak Gue!" Tukas Radit.
Killa terkikik. "Harusnya Lo seneng Dit! Gue bebasin Lo dari tanggung jawab. Lo jadi bisa jalan sama Kimmy. Tiga tahun dari Lo hubungan sama Gue. Lo ketemu anak Lo sendiri dan nggak ngenalin. Hebat!"
Lagi-lagi Killa tertawa getir. "Lo tahu gimana hancurnya Gue pas liat kalian berdua jalan beli eskrim sementara Gue ngurusin anak Lo!"
"Apa Lo pernah kasih tahu Gue soal itu?" Membentak, Raditya memangkas ucapan Killa.
"Buat apa! Lo sendiri yang bilang, jangan sampai Lo denger lagi kabar Gue!" Sergah Killa kembali.
"Jadi sekarang Lo nyalahin Gue?"
"Cukup!" Dhyrga menyentak tiba-tiba.
Mereka ini pasangan paling aneh yang pernah Dhyrga lihat. "Kalian mau menikah atau tidak, putuskan baik-baik! Bang Dhyrga membuat kalian bertemu bukan untuk ribut begitu, tapi untuk menyelesaikan masalah kalian!" Pekiknya.
"Tidak perlu saling menyalahkan, kalian berdua sudah salah dari awal! Sekarang waktunya kalian lanjut ke tahap berikutnya. Menjadi ayah dan ibu yang utuh untuk Ansel atau tidak." Tambahnya.
"Tidak! Tentu saja tidak, karena Killa tidak pantas disandingkan dengan adik mu yang nggak guna!"
Dhyrga menoleh ke sumber suara yang terdengar seperti setan neraka itu. Arnold berdiri menyingsing seringai ejekan.
"Aku lebih suka Ansel tanpa Ayah daripada harus memiliki Ayah sepertinya!"
"Kamu gila Arnold?" Dhyrga mencengkeram kuat kerah t-shirt milik mantan rival cintanya. Arnold menghunus tatapan menyayat begitu pula dengan Dhyrga.
"Cuma karena persaingan kita, kamu biarkan anak tidak berdosa itu lahir tanpa ayah! Bahkan lahir di luar pernikahan!" Dhyrga menohok leher laki-laki itu.
"Aku benci sama semua keluarga mu! Paham! Killa bisa hidup tanpa adik nggak berguna seperti Radit yang cuma bisa ngebut di jalanan! Sekarang apa, lihat, dia bahkan nggak bisa berpindah dari ranjangnya, cih!"
Arnold berdecih meremehkan. "Kakinya patah? Gimana cara dia kasih nafkah lahir batin ke Killa?" Tawanya.
"Kau!" Dhyrga semakin tersulut emosi.
"Sudah, kalian ngapain sih?" Queen melerai mereka. "Anak kecil!" Umpatnya.
"Jadi begini cara Lo Ar?" Queen menuding laki-laki seusianya. "Berapa lama kita temenan, Gue baru tahu asli Lo begini! Egois!"
"Benar begitu. Arnold memang egois!" Arnold pergi setelah mengatakan itu.
Sampai saat ini, Arnold belum mampu beralih pada yang lain. Ia belum mampu menemukan wanita se menyenangkan Queen. Ada sebagian manusia yang sulit move on.
Dua tahun Arnold menjadi kekasih bayangan Queen lalu pupus setelah Dhyrga Miller datang tanpa undangan. Hal yang lumayan menyisakan luka bagi calon CEO itu.
...🎀🎀🎀...
Rumah Raka masih ramai tamu, kamar-kamar di lantai lima dan enam masih dipenuhi relasi Raka dari yang luar kota sampai yang luar Indonesia.
Disaat begini, istana itu terlihat fungsinya, Raka tak perlu menyewa hotel untuk para tamunya. Mereka cukup menginap di lantai lima dan enam hunian mewah ini dengan segala fasilitas bintang limanya.
Para pelayan yang biasanya menganggur, kini tak ada yang mampu leha-leha, semuanya ripuh dengan masing-masing tugasnya.
Penjagaan rumah semakin diperketat, Raka tak mau ada satupun celah ketidak nyamanan bagi para tamunya.
Raja dan Kimmy tak akan keluar dari kamar, atau mereka mendapatkan ledekan dari semua orang.
Usai mandi besar dengan segudang drama ku- menangis, Raja dan Kimmy duduk bersisian pada kursi meja makan bundar berdiameter sedang di kamar pengantinnya.
Barusan pelayan masuk menyiapkan makan siang ala pengantin baru. Dan sesuai perintah Raja, pelayan menyuguhkan ginseng merah.
Kimmy merengut melihat minuman tersebut. Dirinya masih sakit tapi Raja justru memesan minuman yang dipercaya bisa meningkatkan libi-do.
"Jangan minum itu, Kimmy yakin, Raja berubah jadi setan yang lebih nyeremin dari tadi pagi kalo sampai Raja beneran minum itu!"
Raja terkekeh. "Enggak Sayang, enggak Raja minum kok, ini prank." Ujarnya. Ia geli menertawai istrinya.
"Bilang prank sekarang, tapi tadi pas Raja pesan pasti niatnya itu kan?" Tukas Kimmy lagi. "Jadi suami yang berakhlak dikit kenapa sih?"
Raja mengernyit. "Oh. Jadi dengan kata lain, Kimmy anggap Raja nggak ada akhlak gitu?"
"Hehe." Kimmy menyengir. "Nggak gitu, kan Raja sendiri barusan yang bilang." Katanya.
"Sekarang makan yang banyak. Ingat, Kimmy nggak boleh kurus, nanti di Jepang Raja pangling terus salah masuk kamar kan repot."
Kimmy mengambil sendok garpu, sama seperti Raja ia makan dengan kuah capcay dan bistik ayam.
Di sela makan mereka melanjutkan ngobrol. "Tapi kalo ke Jepang berarti cuma beberapa hari doang dong?"
Raja mengangguk. "Hmm, kan Kimmy masih ada kuliah." Katanya.
"Pasti nggak puas rasanya kalo cuma beberapa hari doang deh." Kimmy merengut memajukan bibirnya.
Lalu, Raja mengecupnya singkat. "Kita kan bisa ke sana lagi setelah liburan semester."
"Makanya itu, Kimmy takut betah terus jadi bolos kuliah lama." Sambung Kimmy.
"Jadi?"
"Kimmy tunggu liburan semester aja deh, Kimmy mau yang lama di sana. Biar enggak buru-buru juga jalan-jalannya." Putus Kimmy pada akhirnya.
"Terserah Kimmy saja." Mereka sempat terdiam sampai Kimmy kembali teringat sesuatu.
"Oya, jadi Radit sama Rinda gimana? Mereka udah ketemu?"
Raja mengangguk. "Doni bilang udah, Bang Dhyrga juga sekarang di sana mengurus masalah mereka." Ucapnya.
Kimmy mendengus. "Kenapa sampai Radit berbuat begitu? Mereka mabuk kayak Oppa Joon sama kak Murni dulu?" Tanyanya.
"Kurang tahu juga. Tapi mungkin saja begitu."
"Maaf ya, Kimmy sempat beranggapan kalau Ansel anak Raja sama Rinda." Kimmy meraih tangan suaminya. Tatapannya lekat, sedikit menyesal.
"Itu terjadi karena kesalahpahaman. Semua yang Kimmy lihat seolah nyata. Dan itu terjadi karena Raja kurang terbuka. So, maaf juga." Kata Raja.
Kimmy tersenyum. Jika dipikir lagi, bisa di bilang Raja ini perfect partner. Mereka relationship yang sesungguhnya.
Hanya saja, waktu itu Kimmy masih sering insecure dengan kondisi fisiknya yang gemuk, sementara Rinda langsing.
Apa prosesnya, Kimmy percaya semua masalah yang berhasil terlewati tidak hanya kebetulan semata.
Sebab dengan demikian, Raja menjadi lebih terbuka. Terlebih, sekarang Raja bisa terbuka hingga polos keduanya dalam kamar yang sama. It's so hot.....