
Mobil sport putih melaju cepat, Kimmy duduk di sisi pengemudi, Raja sopirnya kali ini.
Sepanjang perjalanan, tangan Kimmy terus Raja genggam, sesekali ia mengecupnya. Kimmy mulai pegal terus berada di posisi yang sama.
"Raja nggak takut tangan Kimmy habis?" Raja terkekeh mendengar ketusnya Kimmy.
"Kimmy mau Raja nyium cewek lain?"
"Kalo mau Kimmy mutilasi coba aja!"
Raja terkikik. "Enggak Sayang, becanda."
"Pokoknya Kimmy nggak mau ada makhluk gaib sejenis pelakor apa lagi pebinor yang ngerecokin hubungan kita! Pokoknya Kimmy nggak suka deh!" Sambung Kimmy.
"Makhluk gaib?" Raja acak-acak kecil pucuk kepala wanita itu. Kimmy masih merasa, sentuhan lembut Raja obat terampuh penenang jiwa.
"Iya lah, mereka tuh keliatan kayak malaikat padahal laknat! Awas aja kalo sampe Raja sama Rinda ada main di kantor, gedung X-meria Kimmy ratakan sama tanah."
"Wuih, ampun suhu." Raja tergelak. Kimmy selalu membuatnya betah berlama-lama disisinya.
Keduanya terdiam, mobil telah sampai di halaman parkir rumah sakit ternama. Raja memarkir mobilnya sedikit dekat dengan lobby.
Ia turun lalu membuka pintu untuk istrinya. Dari sanalah keduanya berjalan beriringan memasuki bangunan.
Baru hari ini, Kimmy Raja ada waktu luang membesuk Radit dan Ansel. Kemarin-kemarin Kimmy masih malu keluar kamar perkara cara jalan Kimmy yang masih seperti pinguin.
Ada taman bunga yang terletak di sekitar suite room, Radit duduk di atas kursi roda. Kimmy dan Raja gegas menghampirinya.
"Dit." Kimmy memanggil. Raja hanya diam di sisi istrinya.
"Hmm?" Pemuda berkursi roda itu menoleh sekilas lalu pandangan lurus kembali. Hatinya tengah kacau, Radit bimbang harus menikahi Killa atau tidak.
Kimmy duduk di bangku yang berdekatan dengan kursi roda milik Radit, sementara Raja berdiri menyimpan kedua tangan ke dalam saku celananya.
"Maafin Kimmy ya, Kimmy sama Raja baru bisa besuk Radit. Kimmy juga mau kasih selamat, Radit ketemu sama Ansel." Ucapnya.
"Hmm." Radit sedikit mengangguk.
Melihat keputusasaan Radit, Raja berseru dingin. "Jadi segitu aja kekuatan Lo hmm?" Ejeknya.
"Lo menang lagi!" Sahut Radit lirih.
Raja beralih posisi, menjadi berhadapan dengan Radit yang terpaksa harus menatapnya. "Berdamai sama takdir, Lo udah punya Ansel, Gue harap nggak ada dendam lagi diantara kita." Katanya pelan.
Radit terkekeh kesal. "Lo bahagia?" Sekarang Kimmy utuh milik Raja, pertanyaan sampah yang Radit keluarkan hanya akan menyakiti hatinya sendiri saja.
"Bahagia Dit, tapi bukan berarti Gue mau bahagia di atas penderitaan Lo. Makanya bangkit, Lo punya Ansel yang butuh Lo sebagai ayahnya. Gentle, Lo cowok, anak Lo juga cowok, kasih Ansel contoh yang baik."
Raja maju dan memberikan tepukan kecil pada pundak Radit. "Keep strong."
"Thanks." Radit tersenyum kecil lalu menunduk. "Makasih kalian peduli sama Gue." Imbuhnya.
"Kita temen kan Dit? Dan selamanya akan seperti itu. Gue yakin Lo punya jodoh dan kehidupan yang lebih cocok sama Lo nantinya. Ansel mirip Lo, ganteng." Kimmy tersenyum.
Radit cukup nyaman dengan kehadiran Kimmy dan Raja. Setidaknya, ada dukungan positif dari mereka.
...🎀🎀🎀...
Waktu terus bergulir, semua terasa cepat bagi yang merasakan bahagia. Tapi tidak untuk yang menjumpai peliknya kehidupan.
Tak seperti manisnya cinta Kimmy dan Raja, hari ini Queen justru menelan pahitnya ucapan sang mertua.
Hanya sebulan sekali Queen mendatangi rumah keluarga Miller ini, tapi selalu saja berakhir dengan air mata yang menitih.
"Mammi kenapa?" Dua tangan mungil itu merangkum kedua pipi mulus ibunya.
Queen mengelap setitik air mata dengan jemari lentiknya. Ia menghela lalu tersenyum pada putrinya. "Mammi ok."
"Bener?"
"Bener Sayang." Queen berusaha kuat.
Semua yang melekat pada Queen terlihat sempurna, Queen memiliki putri yang cantik, cerdas, suami yang tampan lagi kaya raya, ia bahkan dilahirkan dari rahim wanita yang tangguh.
Ayahnya crazy rich, adiknya genius, tapi manusia tak lepas dari kekurangan. Dan Queen memiliki mertua yang tidak cukup ramah kata-katanya.
"Tunggu sebentar! Cheryl mau ganti kostum dulu. Mammi tunggu di sini!" Kata Cheryl.
"Ganti kostum? Buat apa Sayang?"
"Tunggu aja!"
"Ok!" Tersenyum, Queen memberikan tanda OK dengan jemarinya.
Berlalunya punggung kecil Cheryl membuat Queen kembali mengingat kata-kata pedas ibu mertuanya. Pagi tadi Dhyrga dan Rania adu mulut kembali. Dan Queen saksinya.
"Jangan nangis Queen, Mama kan ngomong bener. Ini demi kamu, demi Millers-Corpora group. Lihat, Radit saja sudah punya anak cowok, Mama takut, gimana jadinya kalau sampai anak haram itu jadi pemimpin perusahaan kita?"
"Ma!" Dhyrga sampai tak kuasa menyentak ibunya. "Tidak ada anak haram, semua bayi dilahirkan suci, jangan sangkut-paut kan haram nya hubungan mereka pada Ansel yang tidak tahu apa-apa!"
Di sofa Queen hanya terdiam pilu, entah kenapa ia sangat rapuh jika harus menghadapi ocehan mertuanya.
Bahkan, untuk membalas omongan pun Queen tak mau, Dhyrga lah alasan Queen menghormati Rania.
"Kenyataannya memang Ansel hasil dari hubungan haram kan? Ini bukan luar negeri. Ini Indonesia Dhyrga. Hubungan haram tetap saja haram! Begitu pun dengan hasilnya!"
"Ini sudah keterlaluan Ma!" Dhyrga menegur.
"Bukan keterlaluan. Percaya deh, Mama cuma khawatir sama kamu! Mama pengen putra kamu kelak yang menggantikan posisi mu! Kalau Cheryl, palingan cuma jadi model kayak Mammi nya." Sanggah Rania.
"Mama bicara seperti itu karena Mama nggak pernah tahu bagaimana putriku, dia gadis pintar, mandiri. Sama seperti Mammi Krys dan Queen. Kegigihan dan kepandaian Cheryl setara dengan anak laki-laki, atau mungkin akan melebihi laki-laki."
"Mama percaya sama cucu Mama, tapi laki-laki juga perlu, bukannya Queen masih bisa hamil lagi seharusnya! Lalu kenapa tidak? Mama curiga kalian menundanya."
"TARA!" Queen terkejut melihat Cheryl tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Ya ampun Cheryl!" Gadis lucu itu mengenakan kumis dan jambang dari solasi hitam, juga topi laki-laki. "Cheryl! Kamu apa-apaan?"
"Hehe." Gadis itu menyengir. "Cheryl juga bisa jadi cowok kok. Cheryl kuat kok. Cheryl yang akan buktiin nanti, kalo Cheryl nggak kalah dari anak cowok!"
"Cheryl." Queen tersentuh hingga menetes bulir bening tiada terasa.
Anaknya ini sangat peka, rupanya Cheryl tahu apa yang di ributkan neneknya selama ini.
"Mommy trusts. Serius deh, Mammi percaya Cheryl bisa lebih hebat dari siapa pun, tapi nggak perlu juga dandan kayak cowok gini. Be yourself. Ok."
"Ok."
Queen copot solasi hitam juga topi yang membuat anak gadisnya seperti laki-laki. Dia bersyukur memiliki Cheryl. Hanya karena Rania, Cheryl takkan menjadi siapa pun.
"Cheryl cantik. Mammi sayang Cheryl banyak banget. Jangan pernah lupa Cheryl cewek yang tangguh. Cheryl hebat."
Cheryl tersenyum. Dan cengiran gigi ompong anak itu lumayan meredam luka Queen. "Mommy love you, Baby."
"Love you too."