
"Aku nggak mau Dhyrga!" Queen meronta selalu namun Dhyrga tak pernah kesulitan mengendalikan tubuh kecilnya.
"Do not be afraid Baby, I'll take it slow." Jangan takut Sayang, aku pelan-pelan.
Sengaja Dhyrga bicara seperti itu, agar orang-orang di sekitarnya hanya menganggap Queen takut dengan malam panas.
Orang-orang terkikik sambil menutup mulutnya, sepasang suami istri rupawan ini begitu mengacaukan pikiran mereka.
"Becanda kamu Dhyrga!"
"Aku tidak main-main, aku mau kita melepas rindu."
"Sinting gila miring!"
Ting..... Cukup lama mereka berdiri di depan pintu lift, akhirnya terbuka pula.
Queen menggeleng, tubuhnya sengaja membatu agar Dhyrga tak bisa menyeretnya, tapi kemudian Dhyrga berhasil melempar tubuhnya ke dalam lift yang kosong.
Sepertinya keadaan sedang berpihak pada kegilaan Dhyrga Miller. Lantai enam tujuan mereka, Dhyrga yang menekan tombolnya.
"Jangan kurang ajar kamu Dhyrga! Aku bisa menuntut mu!"
Queen melangkah maju berusaha keluar tapi Dhyrga kembali mendorongnya bahkan menyudutkan tubuhnya pada dinding lift.
Brakkk...
"Ahh!" Dorongan tubuh Dhyrga mengenai buah dadanya. "Jangan gila kamu Dhyrga!" Kini kedua tangan Queen tercekal ke atas oleh pasungan sebelah tangan Dhyrga.
Queen mendongak, meloloskan tatapan tajam penuh dendam. Dua tahun Dhyrga tak mau tahu kabar darinya atau hanya sekedar memberi kabar.
"Ini semua karena mu! Dua tahun kamu terus saja membuat ku gila, bahkan setelah tak mendapat kabar darimu aku semakin gila! Aku kurang waras karena mu!" Dhyrga tekan perut rata Queen agar terus tersudut pada dinding.
Queen meronta. "Lepas Dhyrga!" Yah, mereka sama-sama tersakiti dan menyakiti.
"Kau pikir semudah itu?" Senyum seringai terbit dari sudut bibir Dhyrga saat ini.
"Jangan lupa siapa aku Dhyrga!"
Tak peduli meski Queen anak Raka Rain, tiada mau tahu jika Queen memiliki kekasih seorang idol, Dhyrga bisa gila jika lebih lama lagi tanpa Queen.
"Kalo bisa kita lakukan malam ini supaya aku bisa menikahi mu secepatnya! Kamu hanya milikku seutuhnya!"
Sebelah tangan Dhyrga masih mencekal kedua tangan Queen ke atas sedang sebelahnya lagi mendongakkan wajah Queen dengan cubitan di dagunya.
"Dhyrga!" Queen menggeleng menolak. Ini ciuman pertama, tak ingin Queen berikan pada sembarang orang. Ingat, Dhyrga masih memanggil Cinta pada gadis lain.
Cup.... Setitik di ujung bibir yang terkena, Queen terus menggeleng. "Ahh, sial ini manis." Umpat Dhyrga kesal.
"Lep, pas, ..." Teriakan Queen terjeda saat Dhyrga berhasil mematuk bibirnya. "Aw!"
Queen berhasil menggigit bibir bawah lawannya. "Sakit Baby!" Dhyrga melorot.
"Aku bisa panggil polisi Dhyrga!" Ancam Queen.
"Ayolah Sayang, kasihan tugas mereka sudah banyak, lebih baik panggil penghulu dari pada polisi, lagian mereka mana bisa menikahkan kita!" Sanggah Dhyrga.
"Dasar psikopat tidak waras!" Berang Queen. Masih berusaha terlepas namun tak jua berhasil. "Ahh." Dhyrga menekan tubuhnya, menunduk menuju bibir ranumnya.
"Emm... Stop Dhyrga, aku belum pernah ciuman!" Queen berteriak keras seraya menggeleng.
Dhyrga melepas, ia merangkum rahang gadis itu, sejenak ia menatap dalam-dalam netra biru gadis itu.
"Dengar Queen. Percaya atau tidak, aku juga sama, aku belum pernah melakukannya dengan siapapun, setiap hari hanya foto mu yang menjadi candu saat aku merindukanmu, dua tahun aku hanya berkhayal bisa menyentuh bibir mu, sekarang sama-sama kita nikmati saja ciuman pertama kita."
Queen termenung.
Sekali lagi Dhyrga memastikan. "Hmm, gimana?" Tanyanya penuh harap, sudah gatal bibir ini, tolong berikan izin. "Slowly." Ucapnya membujuk.
Queen menelan saliva, mempersiapkan momen pertama ini. Dia mendongak pasrah karena ingin mencobanya.
Cup... Secepat kilat Dhyrga memagut lembut bibir Queen. lalu, memejamkan mata perlahan. "Emhh," Suara yang berasal dari Queen menambah candu.
Tak puas dengan area luar, Dhyrga menggigit bibir bawah Queen agar sedikit terbuka, kemudian mengulurkan indera pengecap nya.
Lumayan lama sampai Queen mendorong sedikit pundak lelaki itu demi mendapatkan napas yang cukup.
"Gimana rasanya?" Dhyrga menatap Queen setelah melepasnya. Dia yakin, Queen masih menyayanginya, buktinya Queen mau di cium.
"Kamu brengsek!"
Brakkk.... Queen mendorong pongah dada Dhyrga hingga terpentok ke sisi lift.
Queen mendekati pria pasrah itu, ia menjingkat kakinya, kini giliran Queen yang memulai peraduan erotis bibir mereka sambil terpejam.
Queen menarik kerah jaket Dhyrga agar bisa mempertahankan posisinya. Cukup panas untuk ukuran amatir seperti Queen. Sesekali Queen menggigitnya.
"Akh, ..." Pedih yang Dhyrga terima tapi candu dengan pertautan ini. Takkan mampu Dhyrga tepis meski lecet di beberapa titik bibirnya membuatnya perih.
Queen rakus atau dendam entah juga. Yang pasti Dhyrga tak dapat menampiknya, ini terlalu manis untuk di relakan.
Dhyrga kembali mendorong tubuh Queen hingga tersudut. Dhyrga remas rambut tengkuk Queen agar mendongak ke atas. Menarik kerah leher tinggi milik Queen lalu mengarahkan bibirnya ke sana.
"Ough." Queen menarik rambut Dhyrga geram.
Dhyrga berhasil meninggalkan jejak kepemilikan di satu titik. Geli yang Queen rasakan, menggelitik, membuat bagian intinya berkedut.
Dari leher kecupan menepi ke dagu lalu kembali pada bibir merona yang terasa manis itu kembali. "Emmm."
Suara cecapan tergema dalam ruangan. Dhyrga membalikkan tubuhnya agar dirinya lebih mudah menatap ke arah pintu. Sesekali melirik layar biru di sisi pintu yang menunjukkan angka lima. Satu lantai lagi mereka sampai.
Ting..... Pintu lift terbuka.
Dhyrga melepas bibirnya, ia lantas meraih tubuh Queen untuk di gendong ala bridal style. Langkah Dhyrga terayun keluar dari lift.
"Jangan macam-macam Dhyrga! Kita bukan suami istri!" Queen menurut tapi berusaha mengingatkan.
"Aku tidak peduli!"
"Turunkan aku!" Dhyrga menurut untuk menurunkan Queen, tepat di depan pintu kamar hotelnya.
Queen tak bisa berlari, karena Dhyrga hanya menurunkan bukan membebaskannya.
Kembali Dhyrga menarik tangan Queen dan memasukkannya ke dalam kamar setelah membukanya dengan kartu.
Brakkk.... Pintu kamar tertutup. Hanya ada Queen dan Dhyrga. Setan apa yang merasuki, ini gila, sangat gila.
Tak ada aba-aba bibir mereka saling menyerang. Manis ini bukan ilusi, ini nyata dan begitu nikmat di rasa.
"Sial!" Dhyrga mulai gerah, ia melerai kecupan. Sekejap ia perlu membuka jaket tebalnya begitu pula dengan Queen yang melakukan hal sama.
Earmuff, jaket, syal, semuanya mereka lepaskan. Hanya ada t-shirt pendek nan ketat milik keduanya yang disisakan.
Lekukan tubuh Queen semakin membentuk gitar spanyol membuat Dhyrga menggeleng ringan.
"You're so hot Baby." Dhyrga merangkum rahang Queen dengan kedua tangan, kembali ia menyikat bibir mungil itu tanpa ragu.
Queen terdiam, menikmatinya. Ciuman pertama dan mungkin cinta pertama yang baru Queen sadari.
Lelah menunduk, Dhyrga mengutak-atik kepala gesper lalu membuang ikat pinggangnya serampangan. Segera ia mengangkat kaki Queen untuk di lingkarkan pada pinggangnya.
"Ough!"
Kali ini Dhyrga yang mendongak, merasakan jemari jemari Queen meremas rambut pada tengkuk miliknya.
Dhyrga beralih menghirup dan merasai leher mulus Queen saat gadis itu mendongak seraya terpejam.
"Ahh."
Kamar ini klasik, luas, ada sofa, meja makan, ranjang yang terdapat di sisi jendela besar, juga balkon kamar yang menyuguhkan Eiffel tower triangle.
Tanpa menghentikan aksinya, Dhyrga melangkah keluar balkon, ada meja bundar di sana.
Dhyrga mendudukkan Queen pada meja tersebut, saliva tercekat begitu sulit saat menyadari Queen semakin seksi setelah dua tahun tak bersua.
Queen ternganga, tak terpikirkan dalam nalar akan bisa bertemu dengan Dhyrga dan saling menyentuh seperti ini.
Pandangan mereka bertemu intens, Dhyrga menautkan keningnya pada kening kekasihnya, ini jarak yang begitu tipis celahnya. Deru napas keduanya bertempur, sahut menyahut mericuh.
Queen gemetar, seperti takut Dhyrga melanjutkan kegilaannya. Tapi, ini juga sangat nikmat untuk di tepis.
Seandainya bisa, sudah Queen tampar wajah tampan ini, tapi Queen justru ingin lebih jauh lagi.
Dhyrga membawa tangannya pada paha gadis itu, mata birunya menatap dua bulatan kenyal yang masih terbungkus rapi oleh kaos putih ketat menerawang.
Dari atas Dhyrga bisa melihat belahannya. Ada cap bra hitam yang tercetak. Sungguh ukuran yang pas jika di remas oleh tangan besar Dhyrga.
Saliva kembali terteguk, Queen yang ketakutan tentu saja bernapas kasar hingga dada miliknya berfluktuasi, naik turun seirama dengan tempo napas kacaunya.
"Aku mencintai mu Queen, tak peduli siapa yang menjadi kekasih mu sekarang, akan aku rebut kamu darinya!" Dhyrga mencetuskan ancaman.
...🎀🎀🎀...
Sampai nggak sih bahasa ku ke kalian? Eh tapi maaf enggak balas komentar satu-satu, ini aku juga diam-diam up nya, asal bisa nulis aku rela deh, bagi waktu. Hehe...