
Siang ini Kimmy mendatangi kantor tempat suaminya memimpin. Tak ada mata kuliah, Kimmy memutuskan untuk membawakan makan siang hasil masakannya sendiri.
Kotak makan bentuk love lima susun yang Kimmy tenteng dalam tasnya. Semua mata para karyawan tertuju padanya. Ini hari pertama Kimmy datang ke kantor.
Cantik, bersinar namun terlihat elegan. Menyandang dress hijau botol yang pendek roknya di atas lutut, sepatu heels silver, rambut terurai lurus.
Dari kejauhan, Kimmy bisa melihat isi dalam ruangan Raja yang di kelilingi kaca transparan. Ada ruangan Aldo dan Doni di sisi ruangan CEO.
Kimmy sempat memberhentikan langkah saat melihat wanita cantik yang sangat ia kenal duduk di depan kursi suaminya.
"Rinda?" Dulu mungkin Kimmy cengeng, curiga, lalu ngambek, kini Kimmy merasa sudah sangat mengenal suaminya.
Kimmy melangkah panjang menuju ruangan Raja. Pintu geser itu terbuka seiring dengan masuknya Kimmy Zoya.
Raja menoleh. Tapi Rinda masih menunduk dengan raut sendu nya, sebuah map ia genggam dengan tangan gemetar.
Kimmy berkerut kening menatap perempuan itu. "Lo ngapain di sini?" Kimmy mau tidak curiga, tapi tak mampu menyembunyikan ketidak sukanya.
"Sayang duduk dulu." Raja meraih tangan mulus Kimmy, menariknya untuk duduk di kursi putarnya. Semoga tidak ada lagi salah paham, itu harapan Raja.
Ia berdiri lalu mengusap punggung tegang istrinya. "Rinda ke sini, mau memberikan surat pengunduran diri."
Kimmy tak bersuara, tapi mulutnya ternganga tanda ia terkejut. Ia tatap dalam-dalam Rinda yang terus menekuk wajahnya.
"Kenapa ngundurin diri? Lo udah ada kerjaan lain?"
Rinda mengangkat pandangan, lurus terarah pada Kimmy. "Aku diterima di perusahaan Millers-Corpora. Satu Minggu lalu, aku melamar pekerjaan di sana, dan diterima" Ujarnya.
Kimmy manggut-manggut. "Oh. Semoga sukses kalo gitu." Ucapnya lirih. "Baguslah." Batinnya.
"Kalo begitu, aku permisi." Rinda merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan.
"Hmm." Sahut Raja.
Secara bergantian, Rinda tersenyum pada Kimmy dan Raja, lalu bangkit dan keluar dari ruangan CEO. Ada Doni dan Aldo yang menatap gadis itu berlalu dari ruangannya sendiri.
Kimmy beralih pada suaminya. Raja masih sangat tampan dengan kemeja putih slim fit dan dasi merah maroon nya.
"Rinda sampai mengundurkan diri begitu, dia pasti sakit terus ngeliat Raja yang sukar di raih." Katanya lirih.
"Aku milikmu." Bibir Raja tersenyum manis, mengusap lembut puncak kepala istrinya.
"Tapi semoga saja Rinda dapat jodoh yang baik. Dia anak baik, dia peduli sama anak Radit, Kimmy juga kasihan sama status nya yang selalu jadi gunjingan orang." Lirih Kimmy iba.
"Manusia punya Tuhan, biar Tuhan saja yang mengurusnya. Karena rencana Tuhan selalu lebih indah dari keinginan kita." Raja tersenyum.
...🎀 Di lain waktu dan tempat 🎀...
Setelah melakukan mediasi, Killa dan Radit memutuskan untuk menikah dan memilih sama-sama mengurus Ansel sebagai putra mereka.
Radit yakin Killa masih menyayanginya, terlebih Alfaro membutuhkan Ansel untuk penerusnya.
Bagi keluarga besar mereka, memiliki penerus laki-laki seperti mendapat bongkahan berlian.
Cukup berharga, mengingat semua keluarga Miller sulit memiliki keturunan. Alfaro hanya satu putra, Harlan pun sama, giliran dua anak Austin malah perempuan. Itu lah dasar Alfaro menginginkan Ansel jatuh padanya.
Akhirnya Alfaro melamar baik-baik Killa untuk Raditya.
Ansel memiliki tiga hari bersama keluarga Miller. Lalu empat hari bersama keluarga Hendra Kenz. Itupun setelah melakukan proses mediasi yang cukup pelik.
Killa melahirkan tanpa tanggung jawab Radit bukan karena Radit yang pergi, tapi kepergian Killa sesuai keinginannya sendiri.
Hendra setuju untuk menikahkan Radit dengan putrinya.
"Gila Lo! Lo beneran mau nikah sama Killa hah? Lo serius Dit?" Anton gusar mendengar keputusan sahabatnya.
"Gue yakin ini keputusan yang benar. Killa satu server sama Gue. Sebagai seorang istri, Killa bisa di andalkan."
Radit pernah berhubungan dengan Killa, dan wanita itu menarik dalam segala hal termasuk bercinta.
"Dia masih sayang sama Lo?" Anton ragu.
"Dia bilang masih, bahkan masih sangat mencintai Gue." Kemarin, Radit sempat mendengar sendiri bagaimana sulitnya Killa hamil Ansel tanpanya.
"Gue harap, Killa bisa jadi istri yang baik buat Lo!" Karan menimpali lirih. Wanita arogan seperti Killa bukan pilihan yang pas baginya, tapi jika Radit suka kenapa tidak.
...🎀🎀🎀...
Di ruangan lain yang tak jauh dari kamar Raditya. Queen menjatuhkan tubuhnya pada sofa empuk berwarna merah gelap.
Hari ini Queen baru pulang dari Jepang, dan rumah utama keluarga Miller yang dijadikan tempat persinggahan pertama.
Sekalian, Dhyrga mau membesuk Raditya yang masih dalam tahap penyembuhan.
Dokter bilang, sekitar 4bulanan, waktu yang diperlukan kaki Radit untuk bisa kembali semula.
"Kamu baru pulang Queen? Suamimu mana?" Rania duduk pada sofa itu. Harlan pun menyusul.
Queen mencium punggung tangan kedua mertuanya dengan khidmat lalu duduk tenang kembali.
"Ada di mobil Ma. Bawaannya lumayan banyak. Di bantu Bang Ryan juga." Jelas Queen.
Tak lama, Dhyrga yang dibicarakan datang, ia duduk di sisi istrinya setelah menyapa kedua orang tuanya. "Apa kabar Mama Papa?"
"Baik." Harlan menjawab lengkap dengan senyum. Sementara Rania merutuk.
"Hampir satu bulan perusahaan di tinggal pergi gitu aja! Lalu, gimana hasilnya?" Rania beralih pada mantunya. "Positif?"
Queen berkerut kening. Kemarin ucapan Rania masih terdengar biasa saja, tapi tidak dengan hari ini. Entah kenapa, Queen merasa ingin menjawabnya. "Apa proses punya anak semudah itu?"
Dhyrga dan Harlan tersentak dengan keberanian Queen. Selama ini putri Raka Rain itu selalu bersikap sopan pada yang lebih tua.
"Tentu saja. Masa kamu kalah sama Murni? Mama dengar, Murni lagi hamil lagi sekarang."
Queen maju untuk mencondongkan posisi duduknya. Menatap tidak betah mertua rewelnya. "Kenapa Mama nggak pernah menyaring dulu ucapan yang keluar dari mulut Mama?"
"Sayang?" Dhyrga menegur. Harlan pun terkejut, ada apa dengan Queen malam ini? Kenapa sensitif sekali.
"Kamu berani bilang begitu sama Mama Queen?" Rania mendelik, hampir sesak napas, sakit rasanya mendapat perlawanan dari menantunya.
Baru saja Queen membuka mulut, Dhyrga sudah menggeleng. "Sayang."
Queen beralih pada suaminya. "Itu bener kan Yank? Mama kamu memang selalu menyakiti hati ku. Kalau tidak ada dosa anak durhaka, mungkin Queen sudah tidak pernah lagi mampir ke sini!" Ucapnya.
"Permisi Pa." Queen masih ingat berpamitan pada Harlan sebelum berlari keluar dari ruangan itu.
"Nona?" Queen dan Ryan berpapasan. "Kita pulang, Queen muak kalo harus menghadapi ocehan mertua Queen." Ujarnya. Lalu, dijawab dengan anggukkan kepala Ryan.
Dhyrga bangkit dari duduk lalu berjalan cepat menyusul istrinya keluar, sementara Rania menatap suaminya sesenggukan. "Hiks!"
"Lihat Pa, ini, ini lah kenapa Mama tidak suka menjadi besan pria arogan seperti Raka yang tukang kawin itu! Lihat, Queen sudah tidak menghormati Mama."
"Rania." Harlan menukas. "Seharusnya kamu sadar, ucapan mu sendiri yang membuat Queen lelah menghormati mu. Dia akan bersikap baik jika kamu menunjukkan sikap baik pula. Siapa yang akan betah, jika terus menerus diberikan kata-kata sarkas?"