Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Usulan



Kimmy masih berada di toilet, membersihkan wajah lengan dan kaki yang dirasa terkena udara angkutan umum.


Sedari dua jam yang lalu Kimmy berada di tempat ini, OCD Kimmy sering muncul setelah berada di tempat yang menurutnya sangat kotor.


"Kim! Lo udah dua jam loh di sini?" Ashley menatap sahabatnya yang tak lepas dari selang air dan sabun antibakteri.


"Ayok dong kita masuk kelas, tu Lektor baru kita yang gantengnya setara dewa-dewa udah masuk!"


Bersandar pada pintu, Ariani menyengir merasakan getaran lain di dadanya. Baru-baru ini gadis itu menyukai dosen tampan, genius nan termuda di kampus ini. Ali namanya.


"Iya." Kimmy meraih handuk kecil dari dalam tasnya lalu mengelap seluruh bagian tubuh yang basah.


Kimmy pakai sepatu sneaker putihnya kembali, membawa tas selempang nya kemudian menyusul kedua sahabatnya keluar dari toilet.


Ada Radit yang menyambut kedatangannya di depan pintu. "Lo masih OCD?" Tanyanya cemas.


Kimmy mengangguk pelan. "Kayaknya iya, tapi udah nggak apa-apa." Jawabnya.


Radit menatap kaki tangan Kimmy yang kian meradang. Kimmy secara berulang memakai sabun, hingga alergi pada akhirnya.


"Tapi kaki tangan Lo jadi merah-merah gitu."


"Pasti karena sabun nya." Kimmy berjalan menuju kelas di iringi pemuda itu.


"Lo mau Gue anterin pulang?"


"Nggak usah, kan kita mau ada ujian, Gue udah belajar dari semalem, jadi Gue yakin bisa dapet nilai bagus."


Radit menyengir. Keduanya berjalan beruntun dengan Ashley dan Ariani yang sudah mendahului.


"Honey, ..." Tiba di kelas rupanya Anton sudah duduk, pemuda ganteng itu menyengir lebar, mencolek sedikit tangan Ashley yang baru akan duduk di belakang kursinya.


Setelah melirik sekilas pada Kimmy, Anton memutar tubuh kebelakang. "Kimmy kenapa Yank?"


"Dia punya OCD. Gue jadi nyesel biarin dia naik Kopaja!" Ashley merutuki kebodohannya.


"Nggak apa-apa, jadi kan Radit ada kesempatan buat deketin Kimmy. Jadi nanti kalo nonton film, kita bisa double date."


"Semoga gitu yah." Ashley menyengir tak yakin, selama tiga Minggu ini Kimmy sibuk menjauh dari Raja bukan karena ingin berpindah hati, tapi karena jenuh dengan status pertunangan yang sudah di jalani dari kecil.


Masalah hati, Kimmy masih teruntuk Raja seorang. Minggu lalu sempat Kimmy mau membuang foto-foto bersama Raja, tapi pada akhirnya tidak mampu melakukannya.


Kimmy duduk di depan kursi Radit. Ariani memilih duduk di bangku paling depan demi melihat lebih intens dosen tampannya dengan dagu yang di sangga.


"Ok, silent please." Setelah cukup tenang. Ali melangkah mendekati deretan bangku peserta didiknya, hening, hanya ada suara dentuman sepatu dari dosen tampan itu saja.


Bagi Ariani, ada dentingan piano romantis saat Ali melewati kursinya. Wangi Ali begitu hangat dan damai hingga gadis itu menghirupnya dalam-dalam.


Lupakan. Menyebalkan nya adalah Ali justru berhenti tepat di sisi tempat duduk Kimmy.


"Siang, Kimmy Zoya."


Kimmy mendongak, menatap bingung wajah Ali yang sudah banyak berubah, dahulu Ali yang ia kenal berkacamata tebal, tapi sekarang bertransformasi menjadi dosen tampan.


Ali tersenyum manis, meletakkan krim alergi yang biasanya Kimmy pakai saat kulitnya bereaksi berlebihan terhadap sabun antibakteri.


"Kamu alergi?" Kimmy mengangguk mengiyakan.


Di depan sana Ariani merengut, kenapa semua orang tampan memilih Kimmy.


"Pakai dulu itu, sebelum kulitmu semakin meradang." Tersenyum, Ali bersuara kembali.


"I-iya, makasih Bang." Kimmy kikuk. Mau panggil Pak tapi masih seumuran, Kimmy nyaman dengan panggilan Abang.


Ali kembali ke kursinya. Sementara Karan menaikan satu alisnya, menatap pada Radit yang diam mengamati Kimmy mengoleskan krim anti alergi.


"Saingan baru Dit." Celetuk Karan.


"Alah. Dosen gitu doang, Kimmy mana tertarik, yakali dari Raja ke Ali." Anton menimpali dengan cibiran.


"Dia dosen kita tahu, panggil Abang kek!" Ariani menimpuk kepala Anton dengan pulpennya.


"Sssuuttt!" Desis Ali membuat ruangan seketika hening.


Materi pun di sampaikan, Ali menyuruh semua mahasiswa mengikuti ujian dengan laptop masing-masing.


Klik.... Kimmy mendelik. Soal yang lengkap dengan jawaban Kimmy dapati. Kimmy melirik pada Ali yang tersenyum padanya.


Sekarang Kimmy paham kenapa Ali memberinya krim alergi bermerek sama dengan miliknya, rupanya Ali ini sekutu Raja.


Kimmy mengangkat tangan. "Bang, maaf, kayaknya ada kesalahan deh, masa soal Kimmy sudah ada jawabannya."


Ruangan menjadi ramai karena pernyataan tersebut. "Wah, Kimmy dapet bocoran?"


"Sudah-sudah, tenang." Ali tersenyum getir. Sepertinya cukup sulit memberikan bantuan pada Kimmy. "Sorry, Ok, kalo gitu Kimmy unduh ulang soalnya." Titahnya.


"Iya." Angguk Kimmy.


"Lo gimana sih? Harusnya diem ajah!" Mencolek lengan Kimmy, Ashley protes dengan menekankan suaranya pelan.


Kimmy menoleh. "Jawaban itu pasti dari Raja, Gue nggak mau bergantung sama dia lagi!"


"Ck!" Ashley berdecak kesal. Kimmy terlalu ambisius untuk terlepas dari orang yang selalu memudahkan hidupnya hanya karena rasa tidak jelas di masa lalu.


...🎀🎀🎀...


"Ya Tuhan, Kimmy ku benar-benar luar biasa keras kepalanya." Raja menggerutu, berdecak, menghentak punggung pada sandaran kursi putarnya, frustasi.


Dari layar laptopnya ia mengamati Kimmy yang mengikuti ulangan dalam kelas. CCTV yang ia pasang melalui Ali teman geniusnya.


Ruangan formalnya serba hitam, perabotan luxury mendominasi tempat ini. Doni dan Aldo duduk di sofa.


"Hebat, seorang Kimmy tanpa Raja bisa dapet nilai B, ini baru tiga Minggu putus, kalau tiga bulan, bisa jadi dia lompat kelas." Aldo terkikik.


"Ah sialan emang!" Raja melempar buku tebal pada pemuda cekikikan yang tertawa di atas penderitaannya.


Doni ikut terkekeh. "Tapi bukannya harusnya Bos seneng, Nona Kimmy yang oon, sudah mandiri, bisa belajar menghapal jawaban soal-soal ilmu ekonomi, sekarang dia sudah tidak mengandalkan kemampuan Bos lagi."


"Kalo Kimmy mandiri, terus apa gunanya Gue?" Raja menyahut ketus.


"Bos sendiri yang mengagumi kemandirian Rinda, kenapa harus menolak saat seorang Kimmy yang melakukan itu?"


"Cinta dan kagum itu berbeda, ngeliat orang yang kita sayangi lemah dan bergantung, itu lebih baik daripada tidak di butuhkan sama sekali." Sambung Raja.


"Lalu, apa rencana selanjutnya?" Doni menimpali dengan kaki yang dia silangkan.


"Sulit. Apa lagi Radit sudah selangkah lebih maju dari Bos. Bukannya ngikut naik Kopaja tadi pagi, malah Nona Kimmy dibiarin gitu aja!" Cetus Aldo.


"Lo tahu, menempel sama orang yang sudah muak sama kita, bukan hal yang di anjurkan." Raja ketus selalu.


Ketiganya sempat terdiam, sama-sama memikirkan bagaimana cara Raja agar kembali mendapatkan cinta Kimmy.


"Gue tahu, Gue punya ide, hahay." Aldo berdiri dan mencetuskan kata-kata. "Gimana kalo kita pakai kekuasaan, ala crazy rich!" Usulnya.


"Maksud Lo?" Raja curiga menatap pemuda beralis tebal itu.


Aldo menarik kursi dan duduk di depan meja kerja Raja. "Perusahaan bokap Kimmy kan cuma bergantung sama perusahaan bokap Lo Bos,"


Raja dan Doni mengangguk. Memang benar adanya yang Aldo katakan itu.


"Hmm, lalu?"


"Jadi cekik mereka dengan memutuskan kerja sama. Nah, kalo kantin Om Ameer yang beroperasi di seluruh perusahaan Om Raka di tutup semuanya. Kimmy food akan mengalami bangkrut dan banyak hutang, lalu setelah itu, baru deh Bos ancam mereka dengan kekuasaan! Caranya, nikahkan Raja dengan Kimmy, kalo memang Om Ameer mau kerjasama kita kembali! Gitu dialognya!" Aldo antusias dengan gebrakan di mejanya.


Mendengar itu Doni terkikik. "Ya elah, Lo abis baca novel yang judulnya terpaksa menikah kali yak!"


"Iya, jadi kalo kisah Raja, cocoknya di kasih judul, terpaksa menikahi mantan tunangan sedingin Antartika!" Aldo tertawa renyah bersamaan dengan Doni.


"Emang temen nggak ada akhlak Lo pada!" Raja bangkit dari duduknya. Ia melangkah arogan menuju pintu keluar. "Temen susah bukan bantuin malah ketawa-ketawa!"


"Lo mau kemana Bos?" Doni bertanya memastikan.


"Ruangan Daddy!"


Jawaban Raja yang membuat Aldo menyengir lebar pada Doni. "Kayaknya ide Gue masuk Don!"


Pemuda itu terkikik geli, setelah memberikan saran encer yang dia ambil dari novel-novel sejenis, terpaksa dan dipaksa.