
Raditya duduk berhadapan dengan Alfaro, Harlan dan Austin. Mereka perlu tahu perihal Killa yang sudah tidak bisa di tolerir.
"Anak kurang waras begitu mau kamu jadikan mantu ku, Al?" Harlan ketus.
Raditya, Rara dan Freya, mereka semua anak-anak kesayangan keluarga Miller. Tak mungkin Harlan lepas pada sembarang orang.
"Radit mantap mau batalin pernikahan ini. Kemarin Radit setuju menikah, hanya karena Ansel." Ngaku Radit pada akhirnya.
"Sekarang kita punya bukti atas ketidak becusan Killa mengurus Ansel, apa lagi kalau Rinda mau di ajak kerjasama. Rinda harus rela menjadi saksi atas perilaku buruk Killa selama ini. Pengadilan pasti akan memihak pada kita." Austin menggebu, ia pemilik dua putri, lelaki itu sangat senang jika Ansel akan terus mewarnai rumah ini.
"Urus sebisa mungkin, cari pengacara terbaik, buat Killa tidak pernah bisa mendapatkan hak asuh Ansel lagi! Dia tidak layak menjadi contoh bagi Ansel!" Harlan menimpali.
Alfaro manggut-manggut. "Besok, aku coba gaet semua pengacara handal, aku yakin kita bisa mendapatkan hak asuh Ansel meskipun Ansel lahir di luar pernikahan."
"Jangan lupa. Kamu juga perlu datang ke perlindungan anak. Pokoknya, jangan sampai Hendra Kenz menang di pengadilan." Sambung Harlan.
...🎀🎀🎀...
Selesai rundingan, Raditya kembali ke kamar miliknya. Usai sudah membereskan rencana, kini Radit kembali mengingat gadis cantik yang mungkin sudah tidur bersama putranya.
Hari ini karena permintaan keluarga Miller, Rinda terpaksa harus menginap. Ibunya pun sudah di amankan oleh orang-orang Miller di sebuah tempat.
Soal hutang-hutang ibu Rinda pada keluarga Hendra yang masih belum lunas, keluarga Miller akan menebusnya.
Rinda tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Ada keluarga Ansel yang bersedia memberikan dukungan.
Raditya berjalan dibantu oleh satu tongkat kruk di sebelah kirinya, "Kaki sialan, harusnya Lo cepetan sembuh! Kapan bisa ngebut lagi kalo begini terus?"
Merutuki kakinya, ia menuju pintu penghubung antara kamar miliknya dengan kamar milik Ansel.
Terdiam elegan Raditya di depan sana. Bimbang ragu dirinya, apakah harus membukanya atau tidak.
Sampai setan laknat membisikkan sesuatu untuk terus melanjutkan langkahnya memasuki kamar putranya.
Raditya mengedar pandangan. Hanya ada Ansel yang tidur di balik selimut tebal berwarna biru. Radit berdiri di sisi ranjang. Tersenyum ia menatap wajah damai putranya yang pulas.
"Dit." Rinda baru saja tiba, barusan ia selesai memakai kamar mandi. "Kamu, kamu ngapain ke sini?" Hari sudah mau pagi tapi Radit justru mendatangi kamar ini.
Rinda memakai dress tidur berbahan licin pemberian dari Sashi. Dan terlihat cocok pada tubuh ramping gadis itu.
"Sorry, Gue, ... Gue kangen Ansel." Benar atau tidak alasan itu, Raditya duduk pada ujung ranjang putranya.
"Oh."
"Duduk di sini." Radit menepuk permukaan ranjang milik Ansel, tapi Rinda lebih memilih duduk pada sofa.
"Aku di sini saja." Ucapnya.
Radit tersenyum, jelas Rinda berbeda dengan Killa yang terlalu gila s e x. Berdekatan dengan dirinya, tentu saja membuat Rinda risih dan takut.
"Ada apa? Lo mau ngomong apa?"
"Begini." Radit sedikit ragu tapi akhirnya berani juga mengutarakan sesuatu.
"Gue mau Lo jadi saksi di persidangan nanti. Gue minta tolong, bantu Gue dapetin hak asuh Ansel."
"Tapi anak di luar pernikahan itu memiliki hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya." Sanggah Rinda.
"Lo kan bisa jadi saksi hidup yang bisa membuat mereka nggak bisa merenggut Ansel dari keluarga Gue! Lo cukup bersaksi apa saja yang udah kalian lalui tanpa Killa seperti yang sempat Lo ceritain sore tadi." Sergah Raditya.
Rinda meredup ekspresi, ia menyesal telah mengatakan kebenaran itu, bagaimana kalau nantinya Ansel mendapatkan ibu tiri yang jahat.
"Tapi seburuk-buruknya Nona Killa, dia ibu kandungnya Dit." Sambung Rinda kemudian.
"Gimana kalo Ansel dapat ibu tiri yang buruk? Apa tidak dipikirkan matang-matang kembali keputusan mu ini? Orang lain belum tentu bisa baik seperti Nona Killa. Setidaknya, Nona Killa punya hubungan darah."
"Ansel lebih baik hidup sama ibu kayak Lo kan, daripada Killa?"
"Gimana kalo kita nikah?" Ajak Raditya. Tatapan mata yang begitu yakin saat menyuarakan gagasan.
Rinda terkekeh getir. "Jangan gila kamu Dit!"
Radit mengangguk. "Gue serius, udah lama Gue mikirin kedekatan Lo sama Ansel, gimana kalo kalian resmi jadi ibu dan anak saja." Cetusnya.
Rinda berdiri. "Jangan ngada-ngada kamu Dit, kamu pikir pernikahan ini kompromi yang seperti apa? Kamu menyukai Kimmy dan aku menyukai Raja, lalu apakah kita bisa mengarungi bahtera rumah tangga? Jangan gila!" Tegasnya.
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, Gue yakin kita bisa memulai hidup baru. Sama-sama kita mengais cinta yang belum terajut, mungkin Ansel alasan kita menikah, kedepannya, bisa saja cinta akan menjadi pelengkap hubungan ini."
"Aku mau membantu mu menjadi saksi di persidangan, tapi untuk menikah, aku belum memikirkan itu." Kata Rinda pada akhirnya.
...🎀🎀🎀...
...Sore tadi yang tak boleh terlewatkan untuk dibahas....
Raja masuk ke dalam kamar, menyimpan satu buket besar berisi bunga Daisy di balik punggungnya.
Sesekali membetulkan tatanan rambutnya persis seperti pemuda yang mau mengencani kekasihnya.
Gemercik air membuat pemuda tampan itu memilih berdiri di sisi pintu kamar mandi, menunggu setia keluarnya sang istri.
"Raja."
Senyum sumringah mekar tatkala matanya dimanjakan oleh sekujur raga mulus yang hanya dibalut handuk putih kecil.
Buliran air dari sisa mandi Kimmy membuat wanita itu terlihat segar. "Aku mencintai mu Sayang." Ia keluarkan lalu sodorkan bunganya pada Kimmy.
"Raja mandi gih. Kimmy mau ngomong, Kimmy tunggu." Kimmy ngeluyur masuk ke ruangan sebelahnya lalu mengganti pakaian.
Raja mendengus lemah, bahunya turun mendapat juteknya sang istri. "Kimmy masih sama saja, ngambeknya bisa seminggu baru kelar." Gerutunya.
Ia letakkan bunga Daisy miliknya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri, seperti yang di titah kan istri tercinta.
20 menit Raja keluar lagi. Wangi, dan lengkap dengan handuk yang melingkar di pinggang berototnya, Raja berjalan sambil menggosok rambut basahnya.
Tet tet tet teeeeww....
Mata itu terarah dan tak mau berkedip seketika menangkap sosok seksi di atas ranjang miliknya. "Sayang."
Kimmy mengenakan lingerie berwarna merah terang hanya sedikit kain transparan yang membalut tubuh berisi gadis itu.
Heels merah ini yang akan memudahkannya untuk melakukan penyatuan dari belakang. "Rarrr...."
Sungguh, Kimmy begitu menggoda. Dan yang pasti Kimmy terlalu manis untuk di abaikan. Baru melihat saja junior Raja sudah meronta.
"Sayang ngajakin?" Raja menyengir.
Kimmy bangkit dari duduk. Matanya begitu dalam menatap seksi suaminya. Meraba, dan kecup panas sempat terjadi beberapa menit.
Kimmy tarik Raja untuk duduk pada kursi kerjanya, wangi vanilla yang Raja hirup, seketika handuknya tanggal secara perlahan.
Mungkin dari sekian banyak gaya, posisi ini yang belum mereka coba. Raja melennguh mendapati usapan lembut dari sebelah tangan Kimmy.
"Sayang udah maafin Raja hmm? Ahh!" Raja tatap gerakan Kimmy yang menguasai bagian bawah dirinya. Baru kali ini, Kimmy memakan miliknya dengan begitu buas. "Cukup Sayang."
Raja menatap bingung, ketika Kimmy meraih pengikat tangan berupa borgol berwarna merah muda. "Sayang, ka-kamu mau ngapain hmm?"
Raja tak mencurigai sebelumnya, hingga dengan mudah Kimmy membelenggunya menggunakan borgol itu di kanan dan kiri kursi putar miliknya. "Kamu mau per,koskos aku, hah?" Tukasnya.
Kimmy menyengir, "Raja nggak bisa mengelak sekarang, Kimmy bakal dapetin apa yang Kimmy mau." Ucapnya.
Raja mendelik. Ngomong-ngomong, gimana cara membuang lahar putihnya ke luar? Sementara Kimmy menguasai pergerakannya.
"Jangan lakuin itu Yank, kamu gila hah! Ide gila macam apa ini!"