Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Brosur



Visual Kimmy setelah cat rambut hitam.



Menenteng notebook Kimmy mendatangi rumah kekasihnya. Ada sejumlah rencana yang harus mereka buat sebelum menikah.


Setelah bertanya pada semua penjaga dan pelayan, Kimmy diarahkan kepada kolam renang panjang yang terletak di belakang griya menawan ini.



"Ya ampun, Raja!" Kimmy membalik tubuhnya, mendapati Raja berjalan kearahnya hanya dengan celana pendek ketat yang basah.


Barusan saja Raja berenang, berjalan menuju Kimmy pemuda itu tersenyum simpul.


Sambil meraih handuk segi panjang. Tangan satunya iseng meraba perut kekasihnya dari belakang.


"Raja!" Gadis itu menepis. Lalu duduk tanpa mau melihat batang yang menyembul dari balik ketatnya celana Raja.


"Banyak pelayan dan kamu cuma pake celana begitu!" Kimmy ketus menegur kekasihnya.


"Mereka mana berani ngeliatin ke sini, kalo iya, pasti udah nggak kuat mau sentuh."


"Dih, GeEr." Kimmy menaikkan ujung bibirnya sementara Raja terkikik kecil.


Raja melingkarkan handuk di pinggang berototnya, kemudian duduk pada kursi yang bersisian dengan kursi malas Kimmy.


Meneguk lemon tea, Raja kembali menatap kekasihnya. "Tumben pake celana panjang." Ia elus paha Kimmy pelan.


"Biar aman!"


Raja terkekeh. Kekasihnya ini pelit jeprit pit terbirit-birit. Disentuh suka keenakan tapi menolak selalu.


"Sayang bawa apa?" Raja berbaring miring, bibirnya tersenyum menatap gadis cantik berkaos merah muda yang duduk tegak di kursi depannya.


"Kimmy mau ke sini." Kimmy menyodorkan brosur travel yang terlipat di dalam notebook miliknya.


"Jepang?" Sekilas Raja memindai lembaran kertas tersebut.


Kimmy mengangguk. "Hu'uh, bulan madunya di Jepang yah, Kimmy mau makan siang di bawah gugurnya bunga sakura, pasti romantis kan?"


"Boleh." Tangan nakal Raja merembet pada perut Kimmy yang terkikik kegelian.


"Jangan messum deh!" Tak ada yang Raja suarakan selain terkekeh.


Melihat kenakalan Raja, Queen dan Dhyrga mendatangi sepasang kekasih itu. Banyak acara dadakan yang harus mereka bicarakan bersama.


Gea dan Ameer sendiri masih melakukan kunjungan keliling ke semua outlet restonya sebelum benar-benar disibukkan dengan kegiatan persiapan pernikahan dadakan putrinya.


Rencananya pernikahan Raja Kimmy dilangsungkan pada hari yang sama saat pengangkatan CEO, satu bulan lagi.


"Apaan nih?" Queen merebut brosur dari tangan adiknya. Lalu duduk di sofa bersama suaminya.


Cuaca terik, ada sedikit atap yang terbuka dan membuat kolam renang ini menjadi lebih terang.


"Jepang? Kalian mau ke Jepang?" Secara bergantian Queen menatap Kimmy dan Raja.


Kimmy mengangguk antusias. "Iya, Kimmy mau pake baju adat mereka, pasti lucu deh."


"Kimmy lebih lucu tanpa baju." Raja berbisik pelan. Sebelum Kimmy memukul dada betonnya. "Bisa serius nggak?"


"Iya, serius." Raja manggut-manggut tersenyum. Dunianya indah setelah berada di Indonesia. Hal yang dahulu hanya Raja khayal kan di Kanada kini telah menjadi nyata.


Queen mencebik. "Mau juga ke Jepang."


"Kita boleh juga ikutan." Dhyrga menimpali tanpa beralih dari ponselnya.


"Iya ya, siapa tahu anak cowok kita nanti meluncur, kalo bisa sekalian barengan sama Kimmy." Sambung Queen.


"Nuna dulu saja, Kimmy masih kuliah, kasian kalo disuruh hamil." Raja menambahkan, dan sepertinya Kimmy tak setuju.


"Kan ada Raja yang urus semua tugas Kimmy di kampus. Nggak apa-apa juga kalo Kimmy hamil cepet-cepet." Sambungnya.


Raja mengerut kening tipis, sejatinya bukan soal kuliah, tapi lebih ke tidak tega membuat gadis manja itu berada di posisi tersulit sebagai seorang wanita.


Queen yang tangguh saja menangis kesakitan ketika melahirkan, dan Raja sudah mengalami trauma sebelum menikah.


"Kita bisa tunda dulu hamilnya." Raja berujar pelan-pelan membuat Kimmy merengut tanpa menjawab lagi.


Ditengah percakapan, Cheryl berlari setelah mendapati ayah ibunya duduk bersanding.


"Mammi!" Panggil nya.


"Sini Sayang!" Dhyrga merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan putrinya.


"Ada apa ini?" Dalam pelukan ayahnya, Cheryl menatap brosur yang ibunya baca.


"Uncle sama Auntie mau nikah. Kita ke Jepang setelah itu." Sahut Queen.


"Takut? Kenapa musti takut Sayang?" Kimmy mencondongkan tubuhnya menatap gemas gadis permata cinta Dhyrga.


"Iya, menikah itu menakutkan. Cheryl takut jadi siluman ular kalo malem." Kata Cheryl lagi.


"Hah?" Semua orang termasuk Raja dan Dhyrga mengulas kerutan di kening. "Siluman ular?"


Korban sinetron.


Cheryl mengangguk. "Soalnya Mammi Queen juga gitu, Mammi suka tiba-tiba mau gigit Daddy kayak siluman ular di film horor. Kan takut jadinya."


"Ya ampun Cheryl!" Queen meringkus tubuh mungil putrinya. Daripada bablas membongkar rahasia, lebih baik pergi saja.


Queen menggendong Cheryl, membawanya masuk kembali ke dalam rumah sang ayah.


Dhyrga bangkit, lalu berjalan merangkul istrinya. Keduanya hidup rukun dan bahagia meski putra pewaris tahta belum juga hadir di tengah-tengah mereka.


"Maaf kalo Mammi berubah jadi siluman terus Cheryl Mammi suruh pindah kamar, Cheryl kan tahu Mammi artis, sutradara juga, makanya Mammi perlu mendalami peran." Alibi Queen.


Dhyrga terkikik di sisinya. "Jadi Cheryl anak siluman ular." Lebih terpingkal-pingkal lagi ketika Cheryl melet-melet menirukan gaya ibunya.


"Ya Tuhan Cheryl!" Ketiganya berlalu meninggalkan sepasang calon pengantin.


Di tempatnya Kimmy termangu. Tak terbayangkan sebelumnya jika ia harus menghadapi kenalan kekasihnya setiap detik.


Apa lagi dia paling miskin ilmu untuk urusan ranjang. Berubah menjadi istri yang agresif seperti Queen, apakah mampu?


Raja menoel dagu Kimmy. "Nggak usah tegang gitu, nanti Kimmy nggak akan jadi siluman ular kok." Katanya menyengir.


"Apaan sih!"


Raja mendekat, lalu membisikkan sesuatu. "Kimmy mendingan, kemasukan ular, akting itu lebih gampang dari peran siluman ular."


"Nggak lucu!" Mendapati rona merah di wajah cantik calon istrinya, Raja tertawa renyah.


Sungguh, gadisnya ini terlalu polos, pasti menggemaskan jika setiap saat bersama.


Klik... Satu pesan teks meminta pengindahan. Segera Kimmy membuka kiriman dari sahabatnya.


šŸ“„ "Gue di rumah Lo Kim!"


"Raja, Kimmy ada Ashley, Kimmy mau ke depan, mau temui Ashley dulu yah."


"Ashley?"


"Iya." Kimmy mengecup sekilas pipi Raja yang seolah tak ingin ditinggalkan. "Sayang."


"Bentar aja!" Berteriak, Kimmy berlari keluar.


Raja mendengus kesepian, untung Aldo datang bersama Doni, mereka duduk pada sofa yang sebelumnya Queen duduki.


Sekilas Raja menoleh. Sepertinya Aldo dan Doni keletihan. Banyak hal yang mereka kerjakan akhir-akhir ini, pemesanan undangan, souvernir dan lainnya telah diurus.


"Kalian mau ke Jepang?" Doni memindai brosur travel milik Kimmy.


"Hmm." Sedikit respon Raja sambil menyesap lemon tea-nya.


Aldo berdecak sumringah. "Untung Gue udah belajar bahasa Jerman!"


"Garing!" Doni menjitak kepala pemuda itu.


Aldo duduk di sisi Doni, kacamata hitam ia sematkan demi menolak silaunya mentari.


"Lo tahu bahasa Jepangnya, saya dicopet?"


"Watashi wa suridesu." Jempol dan telunjuk Doni menempel pada dagu, khas anak itik-otok.


"Salah!" Tepis Aldo.


Doni tak terima. "Kan ada di film anime yang kemarin kita tonton! Lo nggak inget dialog nya? Lo inget kan Bos?" Doni sampai menoleh pada Raja.


"Bukan, yang bener tuh. Sakukudiraba Takurasa."


"Garing Aldo!" Jitakan di kepala Aldo lebih keras dari sebelumnya. Raja terkekeh, terlebih lagi Aldo.


"Biar Gue garing, daripada Lo, suka Rinda diem-diem bae!" Aldo membongkar rahasia Doni.


"Serius Lo?" Raja menimpali dengan serius.


"Apa sih, tuh mulut udah kayak ayakan gajah! Merojol semuanya! Nggak bisa nampung rahasia!" Doni ketus.


"Kejar sebelum di sikat sama orang!" Raja kembali menimpali.


"Dia sukanya sama Lo Bos, ya kali Gue maju, apalah arti Doni dimatanya yang indah."


"Cemen!" Aldo mengejek.