Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
BC Musim pertama



Dalam pesawat Rachel duduk pada kursi nyamannya. Jet pribadi ini lumayan membuat Rachel termanjakan setelah banyaknya pekerjaan yang memforsir.


Perjalanan menuju Amerika cukup lama. Sedari beberapa jam yang lalu, Dhyrga dan Queen tak ada keluar dari kamarnya.


Setidaknya itu lebih baik, dari pada harus mendapati mereka melakukan 'ehek' lagi di jok penumpang. Rachel lebih dibuat protes.


"Minum?" Menawarkan satu botol teh dingin Ryan duduk pada jok yang teronggok di sisi gadis galak itu. "Dari tadi capek kan ngurusin kerjaan?"


Rachel menoleh, lama-lama Ryan kok terlihat sangat tampan di matanya. Bibir Ryan seperti ada belahan samar nya. Hidung Ryan runcing. Mata Ryan sudah mirip tokoh Krisna di film India.


"Lo ngapain sih deketin Gue mulu!" Ketus Rachel. Gengsi mengalahkan kagumnya pada pemuda tampan itu.


"Nggak boleh? Bukannya kita pernah lebih dekat dari ini?" Ryan tersenyum mengingat kembali bagaimana bibir Rachel bersatu dengan bibirnya.


Di tepi pantai, mereka melakukan sebuah sentuhan dan kecupan liar bahkan bisa dikatakan panas hanya karena tak kuasa mendengar dan melihat kegiatan 'ehek' Nyonya dan Tuan mudanya.


"Jangan bahas itu lagi!" Rachel mengalihkan pandangan ke jendela. Menatap awan-awan putih yang melayang indah.


"Tapi itu candu!" Ryan menyeletuk dan hanya mendapatkan sahutan ketus. "Mesum!"


Ryan terkekeh. Entah sejak kapan dia menjadi mesum begitu, mungkin semenjak mengenal gadis galak ini.


"Jauh-jauh sana!" Rachel mendorong setelah Ryan menyentuh tangan mulusnya. "Ngapain sih deketin Gue terus!"


Tak perlu waktu lama, Ryan bangkit lalu duduk di kursi lainnya. Yah, Ryan tak pernah bisa melakukan apa pun selain menurut saja.


"Aneh!" Rachel menggerutu seraya berpaling kembali pada jendela.


...🎀🎀🎀...


Tiba di bandara internasional Los Angeles, Dhyrga, Queen beserta rombongan langsung menuju hunian milik Raka di daerah Santa Monica. Dekat, hanya lima belas menit saja sudah sampai.


Sesampainya di sana masing-masing orang mengatur tubuh, di kamarnya sendiri-sendiri, melepas lelah yang masih menggerumut, hingga malam hari menghampiri.


Lapar membuat mereka keluar dari sarangnya masing-masing. Queen dan Dhyrga hanya memakai pakaian santai dengan warna yang senada. Belum ada niat jalan-jalan, mereka masih lelah.


Di meja makan bundar, Rachel menoleh ke kanan dan kiri, tak ada manusia datar yang biasanya merecoki pandangannya. "Rachel lapar Bos." Katanya.


Pria berkaos hitam itu duduk pada salah satu sofa ruang tengah. "Pesan di restoran Indonesian food, delivery saja, kita belum punya koki."


Pernyataan yang mengundang kernyit di dahi Rachel. "Kan Ryan bisa masak."


"Ryan lagi sibuk beres-beres mungkin, kan besok mau pulang dia." Sambung Dhyrga tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.


"Hah?" Rachel terkejut. "Dia izin pulang?" Di jawab oleh anggukan kepala Dhyrga Miller.


"Kok pulang?"


"Mengundurkan diri." Queen yang baru tiba, wanita bercelana pendek itu duduk di sisi suaminya.


"Serius?" Rachel mengerut kening, dan Queen mengangguk kembali. "Iya, tadi pas sampe bandara, Bang Ryan minta di alih tugaskan. Jadi mau nggak mau, Queen bilang ke Daddy supaya di tempatkan di perusahaan saja, kebetulan Bang Ryan lulusan S1 kan." Ujarnya.


"Kok gitu?" Rachel benar-benar siyok.


"Tanya sama orangnya." Queen mencuatkan wajah pada Ryan yang baru saja tiba. Pria datar itu menenteng banyak paper bag berisi makanan siap lahap.


"Nona muda makan dulu, semuanya sudah siap saji." Ryan meletakkan paper bag di atas meja makan. Yang mana ada Rachel dengan segala kebingungannya.


"Lo ngapain mengundurkan diri?" Ryan menoleh pada Rachel yang bingung menatapnya. Tapi, hanya senyum irit jawaban dari pria tampan itu.


Ryan keluar setelah meletakkan makanan teruntuk semua orang di rumah ini. Rachel yang masih penasaran, ia mengikuti langkah kaki Ryan sampai keluar rumah.


Ini hunian klasik, banyak bunga-bunga di sekitar bangunan. Udara cukup hangat untuk beberapa hari ini.


Langit gelap bertabur bintang rupanya. Ryan duduk pada bangku taman. Memanjakan mata dengan kelap kelip keindahan alam semesta yang tiada pernah berkurang.


"Lo ngapain sih pake undur diri segala?" Rachel duduk di sisi Ryan.


Laki-laki berkaos putih itu menoleh, mengamati raut kecut Rachel yang selalu tersuguh di hadapannya. "Ini hari terakhir kita dekat begini. Semoga kamu lebih betah bekerja di samping Tuan dan Nona muda."


"Kenapa emangnya? Lo benci Gue?"


"Lo kok gitu?" Tukas Rachel.


"Jadi ini salah ku lagi?" Salah Pasha, kenapa Ryan harus menjadi laki-laki, karena laki-laki selalu salah ternyata.


"Lo udah gerayangin Gue, cium Gue, terus Lo pergi gitu ajah!" Hardik Rachel.


Ryan sedikit memutar pundaknya, agar tepat menghadap wanitanya. "Lalu, mau mu apa?"


"Lo nggak usaha buat tanggung jawab gitu? Ciuman yang Lo ambil dari Gue empat bulan lalu itu ciuman pertama Gue tau!" Rachel memukul dada bidang pria itu.


"Maaf."


"Cuma maaf doang, brengsek emang." Satu kali lagi pukulan manja yang tak terasa menyakiti Ryan.


"Kamu mau aku terjun bebas sampe semua bagian tubuhku terpisah-pisah?" Kata Ryan.


"Tau ah!" Rachel berpaling arah. Memutar duduknya membelakangi Ryan.


"Lah, terus?"


"Lo nggak bisa gitu bujuk Gue kayak Bos bujuk Nona Queen!" Sesekali Rachel melirik ke belakang. Marahnya sudah seperti akan menangis.


"Menangnya kamu mau aku ajakin ke hotel? Ayok kalo mau!" Tawar Ryan.


"Izz!" Rachel memutar duduknya kembali. Ada tetesan air mata yang terjatuh bersamaan dengan itu.


"Maaf buat kamu nangis begitu." Ryan menunduk. Tak tega melihat air mata kesedihan di wajah cantik gadis itu.


"Maaf doang biasanya Lo mah! Emang dasar muka datar kayak patung selamat datang, mumi berjalan, Lo mah nggak ada usahanya, Lo mah emang, ..."


Cup....


Terhenti sudah ocehan Rachel oleh setangkup bibir Ryan yang membungkam mulutnya tiba-tiba. Hening seketika melingkupi keduanya.


Perlahan Ryan tarik kembali bibirnya, menatap Rachel dari kedekatan yang begitu tipis. "Capek kan ngoceh terus?"


Rachel menatap Ryan dengan bibir gemetar, jantungnya ber'dangdut ria. "Lo kok cium gitu?"


"Maaf." Ryan kembali menundukkan wajah sesalnya. Tak bisa di pungkiri, Rachel berhasil membuatnya candu. Jika terus menatapnya, bisa dipastikan Ryan akan khilaf kembali.


"Bukannya yang lama."


Ryan mengangkat pandangan, menatap ke dalam bola mata indah milik Rachel nya. "Apanya yang lama?" Tanyanya.


Rachel memalingkan wajah dengan sedikit senyum malu-malu. "Ciumnya."


"Jiaaaaaahhaha."


Dalam hati Ryan bersorak, jika tak ada Rachel mungkin pria itu sudah salto, jungkir balik sampai lupa bedain mana bumi mana matahari.


"Bujuknya nggak usah ke hotel yah? Mending duitnya buat lamaran." Ryan menyengir.


...🎀🎀🎀...


Di meja makan, Queen dan Dhyrga sudah duduk menikmati makan malamnya. Capcay kuah, nasi putih, ayam rica-rica adalah menu Indonesia yang mereka lahap.


Sedari tadi, ponsel Queen terus berdering, teman-teman kuliahnya mulai sibuk menghubungi, termasuk Arnold.


"Arnold masih chat lagi?" Dhyrga mengelap ujung bibir dengan tisu.


Queen mengangguk. "Iya. Dia nanyain buku yang waktu itu Queen pinjem. Nggak ada apa-apa kok, dia baik orangnya, dia tau posisi, Arnold nggak mungkin jadi orang ketiga di antara kita Hubby. Kamu segalanya untuk ku."


Dhyrga manggut-manggut. "Asal inget ajah, komitmen kita, Baby sudah punya suami jadi batasi semua pertemanan yang berpotensi merusak."


"Iya Hubby." Queen tersenyum. "Makasih yah, udah bebasin Queen buat lanjutin kuliah di sini."


"Apa pun untuk mu." Dhyrga kecup kening istrinya manis. "Palingan sepuluh hari aku dan Rachel di sini, Baby hati-hati, setiap bulannya aku usahain jenguk ke sini."


"Makasih handsome uncle."