Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Keribetan cewek



Dhyrga menjatuhkan tubuhnya, duduk merentang sebelah tangan pada sofa abu-abu tua yang di duduki Rachel dan Ryan.


Kompaknya adalah, mereka bertiga sama-sama mengenakan kaos putih, bedanya milik Dhyrga bertuliskan Gucci.


Queen tidur setelah mandi besar, Dhyrga sengaja memilih keluar kamar dari pada harus terus menerus menegang.


Kasihan pula istrinya kalau harus di hujam tanpa jeda. Pengantin baru memang lain, tapi yang membuat lain lagi adalah keduanya sama-sama hyp mungkin.


"Kalian ngapain? Diem-dieman gitu?" Dhyrga menyorot tajam pada Rachel yang merengut.


Gadis itu melenggang tatapan pada sang Tuan. "Ryan nyium Rachel, ini gara-gara kalian!" Tukasnya.


Pernyataan ini mengundang kernyit di dahi Dhyrga dan Ryan bersamaan.


"Bukannya kamu juga terima, bukan cuma aku, posisinya kita sama-sama mau!" Ryan menyerobot, yang mana membuat Rachel dan Dhyrga menoleh padanya.


"Tapi Gue nggak tertarik sama Lo!" Ketus Rachel.


"Anggap semua itu angin lalu kalo begitu!" Ryan menyanggah enteng. Seringai kecilnya menunjukkan hal itu.


"Lo di depan mata Gue Ryan, gimana bisa anggap angin lalu?" Rachel menunjuk ujung hidungnya sendiri.


"Hanya sebuah ciuman. Lalu, mau aku nikahin sekarang?" Tantang Ryan.


"Kok Lo gitu?"


"Karena seolah protes mu sentilan, kalo minta di tanggung jawabi bilang, aku siap!"


"Dih!" Rachel menautkan alis yang sedikit terangkat. Masalahnya adalah, ciuman pertamanya di lakukan karena sebuah insiden yang di sebabkan oleh mobil bergoyang.


Dhyrga menggeleng ringan menyaksikan perdebatan sengit keduanya. "Kalian mau nikah? Kita barengan resepsinya?" Meski hanya seorang asisten Dhyrga sudah menyayangi gadis itu seperti adiknya. Jika harus menikahkan Rachel, siapa takut.


"Ogah!" Rachel bangkit dan pergi, membuat Ryan tersenyum kesal samar-samar.


"Sabar, ngerti cewek emang lebih rumit dari rumus akar-akar persamaan kuartik!" Dhyrga tergelak kecil.


"Setuju." Ryan bersandar lelah pada kepala sofa.


Dhyrga pun sama. "Orang WO kapan datang?" Lanjutnya.


"Sore."


Dhyrga manggut-manggut dengan bibir 'oh' nya. Setidaknya, Queen punya waktu untuk istirahat.


...🎀🎀🎀...


^^^Pada lain waktu dan tempat.^^^


Di ruang tengah Krystal mengatur segala sesuatu yang perlu di siapkan oleh pekerja- pekerjanya. Satu Minggu lagi pernikahan putrinya, Krystal mau semua berjalan lancar tanpa sedikitpun kendala.


Dalam ruangan lainnya Dhyrga dan Queen baru saja selesai menjajal busana pengantin. Fitting baju kalo kata orang mah.


Dhyrga sengaja bolos dari kantor, hanya untuk melakukan hal ini. Satu Minggu lagi pesta resepsinya, semua orang di sibukkan dengan acaranya.


Bukan hanya itu saja, Queen juga mencoba gaun-gaun tidur tipis yang di tawarkan oleh desainer.



"Yang ini bagus nggak?" Queen memutar tubuhnya di depan cermin lalu menoleh pada suaminya yang mendekat.


"Seksi, Baby cocok pakai ini." Dhyrga peluk Queen dari belakang. Baru menempel saja, milik Dhyrga di buat terbangun.


Tak mau meladeninya, Queen bertanya kembali. "Kalo yang ini?" Gadis bergaun hijau itu menunjukkan gaun berwarna merah.


"Semuanya ambil, Baby cocok pakai apa pun." Dhyrga hirup dalam-dalam ceruk leher wanita itu. Kedua tangannya menggerayangi kain licin yang Queen pakai.


"Ini kita lagi pilih baju loh." Queen protes, sudah hampir satu bulan menikah, Dhyrga seperti anak kecil jika sudah bersama istrinya. "Fokus pilihin baju dulu kenapa sih?"


"Setelah ini ada meeting, dan aku harus ke kantor lagi, kalo waktu ketemunya cuma di pake buat pilih-pilih baju, sayang-sayang."


Queen memutar tubuh menatap wajah tampan suaminya. "Yakin setia pas kita LDR?"


...🎀🎀🎀...


Dalam kamar miliknya. Raja baru saja menyapu pelan matanya, tubuhnya meregang, menggeliat, merentang kecil di atas bantal dengan tatapan mengarah pada gadis gemoy yang duduk di sisi ranjang miliknya.


"Tumben tidur siangnya lama banget!" Gadis berpakaian hitam serba ketat ala bersepeda itu menepuk-nepuk pipi tunangannya.


Sedari kecil Raja terbiasa di ganggu gadis ini. Maka tak protes meski tidur pulas nya harus terbangun. "Kamu ngapain pakaian gini?"


"Baru pulang sepedaan di taman komplek, rame deh, sekali-kali kita sama-sama yuk, seru."


Raja periksa suhu tubuh tunangannya dengan menempelkan punggung tangan pada leher gadis itu. "Lo punya kebiasaan meriang kalo capek. Ngapain sepedaan?" Tukasnya.


"Olahraga."


"Dah makan?" Lanjut Raja.


"Enggak lah, kan dibilangin Kimi diet!" Gadis itu meninggikan suaranya.


"Ngapain?"


"Kimi pengen kurus kayak temen Raja yang dapet beasiswa di sekolah Raja itu!"


"Siapa?"


"Rinda!"


Raja berdecak kecil. "Jangan iri kepunyaan orang lain, harusnya bersyukur dengan apa yang Lo punya sekarang. Trust me, ... you're, ... My sexy little partner." Tuturnya.


"Little," Kimi tersenyum samar. "Gue gemuk Raja! Gimana bisa Lo bilang Gue little?"


"Come on! Pandangan orang beda-beda, menurut Gue, Lo udah cukup cantik dan seksi, nggak usah Lo iri sama orang lain." Hal paling Raja benci adalah, dietnya seorang Kimi.


"Tapi Raja suka kan sama dia?" Tukas Kimi, tiba-tiba nada gadis itu naik setengah oktaf.


"Siapa lagi?" Raja sampai bangkit dan bersandar pada pokok ranjangnya.


"Rinda!"


"B ajah!" Dengan santainya Raja menaikan kedua bahu bahkan bibirnya mencebik.


"Tapi Raja sering chat sama dia Gue liatin!"


"Lo ngawasin Gue?"


"Kenapa kalo iya? Nggak boleh? Bukannya pertunangan kita nanti akan berakhir menikah? Jadi harus ada keterbukaan dong!"


"Masih lama kita nikah Kimi Sayang, jadi buang jauh-jauh sikap posesif Lo." Raja menyentuh lengan Kimi yang lantas di tepis.


Kimi mulai malas melanjutkan percekcokan ini, terlihat sekali Raja tidak suka di awasi, tapi dirinya paling tidak suka ada yang di tutup-tutupi.


Raja merendahkan wajahnya, menatap dari bawah bibir manyun tunangannya. "Lo lagi kasih Gue kode?"


Terkikik kecil Raja mengusap lembut bibir ranum Kimi, meski hanya penolakan Kimi yang akhirnya dia dapati. "Apaan sih!"


"Dia tahu kan Lo tunangan Gue?" Tukas Kimi lagi. Jika urusan pihak ke tiga Kimi paling sensitif, tidak apa-apa pun wajah cerianya berubah menjadi sedu sedan.


"Belum, lagian pentingnya apa?" Bagi Raja mengerti wanita, tak semudah menciptakan rumus baru.


"Biar dia sadar diri, biar dia nggak ngarep! Cewek itu sensitif, di kasih respon dikit pasti nyangkanya lain! Apa lagi Lo kan selama ini dingin kayak freezer nya nelayan, Lo kaku kayak kanebo yang lupa narok nya, Lo tuh garing kronis, nggak asyik, terus tiba-tiba baik sama cewek gitu, apa coba maksudnya kalo nggak ada rasa suka? Bilang aja kalo Lo suka sama dia!"


Raja menghela napas, Kimi luar biasa kalau sudah begini. "Bentar lagi pernikahan Nuna loh, jangan sampai setelah itu Gue yang nikahin Lo!"


"Nggak lucu!" Bukannya menjelaskan perasaannya pada Rinda, atau hanya sekedar menyangkal bahwa tidak ada hubungan apa-apa saja Raja tidak bisa.


Gadis itu bangkit dari duduk, lalu melangkah pongah keluar dari kamar, percuma bicara dengan pemuda yang terlampau genius, mungkin Raja menganggap Kimi akan tahu isi hatinya tanpa dia mengatakannya. But, itu salah besar!


"Kim!" Raja mendengus menatap nanar menghilangnya tubuh gemoy Kimi yang tenggelam di balik pintu. "Ribet!"