Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Rencana



Kecupan memaksa Raja berikan sebelum Kimmy keluar dari mobilnya. "Hati-hati Sayang." Ia mendengus saat wanita itu ngeluyur tanpa mau menyahuti.


Kimmy berjalan cemberut, Ashley dan Ariani menyatroni. "Ciyeeee yang lagi anget. Pagi gini udah di kasih bekel aja!"


"Apaan sih!" Kimmy melewati tubuh Ashley dan Ariani lalu kedua temannya mengiringi.


"Kok gitu? Raja berulah lagi?" Sahut Ashley. Ia selalu paham perangai sahabatnya itu.


"Iya!"


"Apa lagi?" Ariani menimpali.


"Dia nggak mau bikin Gue Hamil. Padahal Gue pengen banget hamil dan punya anak!" Kimmy ketus sampai tak sadar mengeraskan suaranya.


Ashley dan Ariani menoleh ke kanan dan kiri. Banyak mahasiswa lain yang terkikik aneh mendengar gerutu Kimmy barusan.


"Pelan dikit suara Lo, mereka pada denger!" Ashley menegur.


Satu persatu mereka duduk di masing-masing bangku kantinnya. Ariani menyambi melirik dosen tampan idolanya.


"Bodo!" Sahut Kimmy. "Gue sebel sama Raja, dia bilang mau nurutin semua kemauan Gue, masa bikin Gue hamil aja nggak mau!"


"Ya iya lah, orang Lo aja masih kuliah gimana dia mau, coba! Lo pikir Hamidah di usia muda gampang apa?" Ariani ketus. Sahabat cengengnya ini super aneh bin ajaib.


"Gue pengen."


"Pikir lagi deh mendingan, apa Lo rela berbagi cinta sama anak Lo? Bisa jadi setelah anak Lo lahir, Raja lebih sayang sama anak Lo." Peringat Ashley.


"Ya nggak apa-apa dong, daripada sayang sama pelakor!" Sanggah Kimmy.


"Iya juga sih."


Kimmy berdecak selalu. "Lo bantu Gue kek! Gimana gitu caranya!"


Mereka sempat terdiam, dan Ashley mulai memutar-mutar otaknya. "Gue sih ada ide, tapi ini agak ekstrim. Lo mau denger saran Gue atau enggak juga terserah Lo." Katanya.


"Apaan?" Sambung Ariani.


Ketiganya melingkar saling merangkul. Mereka menunduk dan Ashley mulai menyampaikan gagasan. "......"


"Gimana?" Ashley menaik-turunkan sebelah alisnya, saat bergantian menatap kedua temannya.


"Wanjay!" Ariani menggeleng salut. Ashley memang teman paling bisa diandalkan. "Keren sih!"


Kimmy menyengir. "Ide bagus, tapi kalian tolong bantu Gue buat cari bahannya dong!"


"Siap! Jadi pulang kuliah kita ke mall dulu yah, kita cari bahan-bahan yang diperlukan!" Kata Ariani.


"Wokeh!" Semuanya menyengir.


...🎀🎀🎀...


Detik demi detik Raja pun berlalu diiringi dengan cemas hati. Seharian ini Kimmy tak merespon panggilannya, pesan teksnya, bahkan apa pun itu.


Orang-orang Raja bilang, Kimmy dan teman-temannya pergi ke mall, berbelanja, ke salon, makan di restoran dan lainnya.


Raja tak tenang, hingga helaan napas panjang ia perdengarkan sesekali. Seperti hal yang sudah-sudah, Raja duduk di kursi penumpang bagian depan, Aldo menyetir dan Doni di belakang.


Pukul tujuh malam mobil hitam itu masih membelah jalanan kota Jakarta.


"Kalian setuju nggak, kalo Kimmy hamil?" Raja berujar tanpa beralih sedikit pun dari pandangan lurusnya.


"Setuju banget." Doni menyahut.


"Gue sih setuju aja, dengan begitu Nona muda enggak perlu temen-temennya lagi buat jalan-jalan ke sana ke mari."


"Bener tuh!"


Raja menoleh pada Doni dan Aldo secara bergantian. "Lo Lo pada nggak paham sih, Kimmy itu manusia terlemah, termanja, dan masih banyak ter ter lainnya yang buat Gue nggak bisa mengizinkan dia hamil."


"Lo terlalu bucin Bos, makanya over! Udah lebay gitu kadar kebucinan Lo, ntar lama-lama jadi males Nona Kimmy nya!"


"Hayys!" Raja berpaling kemudian berseru lirih. "Terus menurut kalian gimana bujuk Kimmy? Seenggaknya dia ngerti buat menunda kehamilan sampai lulus kuliah deh."


"Ini kan malam Minggu, mending Bos ajakin makan malam romantis atau apa gitu." Saran Aldo.


"Ok." Doni paham betul apa yang Raja pikirkan, sudah pasti Bos nya mau membeli sebuket bunga.


Mobil berhenti, bukannya turun Raja justru mengulas kerutan di kening. Ada sepasang kekasih tengah beradu bibir di depan toko bunga tersebut. "Killa, itu adik Bang Arnold kan?"


"Iya." Aldo mencondongkan tubuhnya demi menyelidik siapa wanita berpakaian mini itu.


Seperti tak tahu malu, Killa melakukan pertempelan raga dengan seorang pemuda tak di kenal. Mungkin, wanita itu terbiasa hidup di California.


"Bukannya Killa mau sama Raditya?" Doni menyahut setelah yakin itu Killa.


"Mungkin cowok ini selingannya." Aldo menimpali.


Raja tak mau bersuara, tangannya justru sibuk meraih ponsel miliknya kemudian mengabadikan ciuman panas Killa bersama pemuda selain Raditya.


Bersama pria tersebut Killa masuk ke dalam mobil merah menyala. Raja urung untuk turun dari mobil. Ia menepuk pundak Doni supaya bergegas mengikuti Killa.


"Kita ikuti mobil mereka!"


"Bunganya?"


"Persetan!" Pekik Raja.


Bunga bisa dibeli secara online, terpenting adalah malam ini mereka bisa menunjukkan pada Raditya bahwa calon istrinya tidak lebih dari seorang binal.


Kendati Radit menyukai Kimmy, setidaknya selama proses itu sendiri Radit bersaing sportif. Lagi pun, Radit masih anggota keluarga Abang Dhyrganya.


"Ok!" Secepat kilat Doni membawa kendaraannya, mengikuti ke mana mobil merah mengkilap itu melaju.


Bukan main, Raja dan kedua sahabatnya menjadi saksi hidup, bagaimana asyiknya Killa melakukan pergumulan di jok belakang.


Kamera dasbor tentu merekam ade-gan panas ini. Tubuh Killa naik turun di balik tengkuk leher pria itu.


"Gila, dia terlalu parah Bos! Dia pikir ini LA!"


Tak menyahut. Raja sibuk mengirim live streaming itu pada Raditya. Biar saja Radit tahu dan membatalkan rencana pernikahan mereka.


"Sampah!"


...🎀🎀🎀...


Pada lain tempat. Radit baru saja menyetujui permintaan life streaming dari nomor Raja.


Sejatinya Radit tak paham, apa yang Raja maksud kan. Radit memang bisa melihat isi video, tapi tak mengerti siapa yang berada di dalam mobil hitam tersebut.


Tak mau kebingungan, segera Radit melayangkan panggilan telepon pada kontak bertuliskan Raja.


📞 "Hmm." Sahutan kecil dari seberang.


"Lo kirim apaan?"


📞 "Itu video langsung, calon istri Lo. Mereka bercinta di dalam mobil. Lo yakin mau nikah sama cewek model begini?"


"Hah?"


📞 "Gue kirim foto yang lebih intens lagi. Mungkin itu bisa bermanfaat buat Lo suatu saat nanti."


"Ok, Gue tunggu." Belum sempat mengucapkan terima kasih, Raja sudah lebih dulu mengakhiri panggilan.


"Papa." Raditya mengalihkan pandangan pada bocah tampan berpiyama putih bermotif kartun roket lucu.


Duduk di ranjangnya, Ansel menyengir sembari menunjukkan mainan baru yang didapat dari Rinda.


"Would you like to play with me?" Mau nggak Papa main sama Ansel?


Raditya tersenyum. "Of course Papa will!" Tentu saja mau!


"Now Ansel eats. After that, Ansel can play again." Sekarang Ansel makan, Setelah itu boleh main lagi.


Datang dari arah pintu, Rinda menyahut seruan Ansel. Gadis itu membawa satu nampan berisi makanan sehat lengkap dengan obat-obatan Ansel.


Radit beralih pada Rinda, ia tersentuh, benar kata orang-orang, Rinda definisi cantik yang patut dikagumi, cerdas, mandiri, dewasa, terlebih, Rinda sangat peduli pada Ansel.


"Terima kasih yah. Lo udah mau ngurus Ansel kayak anak Lo sendiri." Rinda menjawab dengan tersenyum ketika mengalihkan pandangan ke arah pemuda tampan itu.