
"Maaf Om Hendra, maaf Arnold, Queen sudah punya pilihan sendiri." Queen menunduk saat mengatakan itu.
"Gue kecewa sama Lo Queen!" Arnold bangkit dari duduk lalu pergi begitu saja dengan raut dingin.
Di sini, di restoran fine dining, Raka melakukan pertemuan bersama Hendra dan Arnold.
Satu jam mereka duduk melingkar dan membicarakan tentang pertunangan Queen bersama Dhyrga yang akan di langsungkan Minggu depan.
"Maaf Hendra." Raka sungkan pada relasi satu ini. Hendra juga sudah sangat baik padanya.
"Mereka tidak berjodoh, sudahlah, tidak perlu sungkan begitu." Hendra menepuk punggung Raka dengan senyuman.
...🎀🎀🎀...
^^^Desember di pucuk penutup.^^^
Minggu lalu saat ulang tahun Queen Dhyrga membawa Harlan dan Rania untuk melamar Queen Kirana Rain secara resmi.
Pertunangan lalu kemudian pernikahan pun akan di langsungkan di awal pembukaan tahun ini.
Mengingat usia matang putranya, Harlan dan Rania memaksa Raka untuk setuju mereka mempercepat pertunangan dan pernikahan, lagi pun mumpung Queen mengambil cuti kuliah semester ini.
Pada pesta kali ini Hyun dan keluarganya tidak datang, mereka sengaja akan hadir bulan depan tepat di acara pernikahan Queen dan Dhyrga.
Kemelut telah berlalu, Murni yakin dan kekeuh untuk hidup bahagia tanpa menikah.
Bicara tentang Jodoh, mungkin suatu saat nanti akan ada jodoh terbaik teruntuk dirinya yang penyayang dan lembut.
Dua Minggu lalu Joon pulang ke Korea, dan melanjutkan pendidikan di negaranya sementara Hyun Ki tetap bertanggung jawab pada Murni dengan cara memfasilitasi segala kebutuhan hidup wanita hamil berusia sembilan belas tahun itu.
Suara tepuk tangan memenuhi ballroom pesta keluarga besar Raka Rain, sesaat setelah Dhyrga menyematkan cincin berlian di jari manis sang Nona muda.
Malam ini Queen telah cantik dengan gaun putih panjang untuk pesta pertunangannya begitu pula dengan Dhyrga Miller yang tampan dan berwibawa dengan tuxedo hitamnya.
Senyum haru, bahagia, bersyukur, semuanya terbit di bibir Raka, Krystal, Harlan, Rania, Ray, Elevy, Murni, Raja, Kimi, terlebih Queen dan Dhyrga.
"Selamat Queen. Selamat Dhyrga." Ucapan yang Queen dan Dhyrga terima selama acara berlangsung.
Setelah penyematan cincin, semua orang melanjutkan acara masing-masing, ada yang makan malam, ada yang bernyanyi, ada juga yang berdansa.
Tepatnya di sisi kanan kolam renang, ada meja makan bundar berdiameter sedang yang di sediakan khusus untuk keluarga saja.
Queen duduk, Dhyrga di sisinya. Mereka juga perlu mengisi perut setelah sibuk dengan urusan persiapan pernikahan yang akan di laksanakan satu bulan kemudian.
Tak lupa pula Raka menyuruh satu orang pengawal untuk mengawasi kegiatan Queen dan Dhyrga, sebab keberadaan mereka sedikit jauh dari jangkauan para tamu lainnya.
Anehnya adalah, Raja dan Kimi saja tidak terlalu di awasi, tapi Dhyrga mendapatkan wanti-wanti. Mungkin karena Raka percaya pada Raja tapi tidak dengan Dhyrga dan Queen.
"Yang banyak makan nya Baby." Dhyrga menatap protes tunangannya. Jas hitam dia buka lalu meletakkannya pada kursi yang menganggur.
"Queen lagi diet, biar gaunnya nanti cantik gitu di pakenya. Lagian kenapa sih protes mulu, kan kalo bagus juga buat kamu Yank."
"Kimi yang gemoy ajah nggak di bolehin diet sama Raja, apa lagi kamu yang sudah ramping begini, sudah lah, nggak perlu diet. Tambah lagi makan nya." Dhyrga menjentikkan jari pada pengawal khusus di sudut tempat.
"Buatkan dua piring lagi macaroni schotel yang baru." Titahnya. Setidaknya itu sedikit lama untuk di siapkan.
"Yank!" Queen menggeleng, yang mana membuat pengawal itu bingung mau melaksanakan perintah Dhyrga atau tidak.
"Lakukan." Dhyrga mengulang titahnya.
"Baik Tuan muda." Pria itu menundukkan kepalanya sopan lalu pergi melaksanakan tugas.
Queen mendengus. "Kamu ini kenapa sih? Belum apa-apa udah gitu, terlalu protektif kayak Daddy, nyebelin!" Ketusnya merengut.
Bibir Queen yang merengut semakin terlihat menggemaskan bagi Dhyrga. "Maaf, yang tadi alibi saja, ..." Dhyrga berbisik di telinga Queen.
"Maksud mu?" Gadis itu menatap curiga cengiran bibir tunangannya.
Cup.... Satu kecupan manis Queen dapati. Rindu juga setelah berhari-hari tak berjumpa.
"Dih." Queen cubit kedua pipi berjambang milik calon suaminya. "Nakal kamu!"
"Kasih sedikit please." Setelah memastikan keadaan sekitar aman. Dhyrga menunduk mendekati Queen, lalu menyatukan kedua bibir mereka.
Bahkan sebelah tangan Dhyrga menekan kedua pipi gadisnya hingga terbuka lucu bak ikan kehausan, dengan begitu ia lebih mudah menyesap isi dalamnya.
"Manis."
Sesekali mata Queen mengerling, mengamati sekitar, takut jika sampai ada orang-orang Raka yang bersiaga di sekitarnya datang.
Bibir keduanya sempat terlepas untuk mengambil bekal napas, lalu beradu kembali dengan rakusnya. Lipstik pink nude milik Queen telah berpindah pada pria tampan itu.
Tangan-tangan mereka menggerilya kemana-mana. Desir yang memanas kian bertambah, membakar gelora asmara cinta mereka.
Jujur, Queen masih penasaran pada bagian bawah Dhyrga yang tanpa sadar ia elus setiap kali terlibat ciuman panas.
Dhyrga selalu berdesah ketika Queen sedikit menekan benda tegas itu. Benar-benar terdengar berat dan seksi.
Sungguh....
Wangi maskulin Dhyrga, sentuhan candu Dhyrga, erangan kecil Dhyrga saat Queen tak sengaja menggigit bibirnya, ingin Queen miliki seutuhnya malam ini juga.
Hilang mode sadar, Dhyrga dan Queen bangkit dari duduk, memilih tempat paling nyaman untuk melakukan penyatuan tubuh yang merindu.
Pilar besar penyangga atap kolam renang luas itu mereka jadikan tempat untuk melakukan pergulatan bibir.
Setidaknya, di sana kegiatan mereka tak terlihat oleh kerumunan para tamu undangan yang masih berlalu lalang.
"Ough!" Dhyrga tekan tubuh mungil Queen dengan raga bidangnya, beruntung Queen memakai sepatu hak tinggi, setidaknya sedikit lebih mudah terjangkau.
Pinggang ramping milik Queen, Dhyrga remas begitu gemas.
"Ahh." Lengan Queen menyilang pada tengkuk leher Dhyrga saat bibir pria itu beralih kecup ke bagian ceruk. "Ahh." Desah Queen semakin keras.
"Sssuuuuutttt, ..."
"Gah. Emmh, Dhyrgahh." Queen melenguh kala tangan besar Dhyrga meremas tonjolan dadanya. 'Pas' yah, ini ukuran yang pas bagi Dhyrga yang menyukai apa pun keindahan alami Queen. "Gah."
"Jangan bersuara begitu Yank." Dhyrga berkata lirih. Ini tempat umum, mereka bisa saja ketahuan, ralat, mungkin lebih tepatnya sudah ketahuan.
"Ekm Ekm." Sontak Dhyrga dan Queen melerai bibirnya sesaat setelah mendengar dahaman dari suara yang tidak asing bagi keduanya.
Secara bersamaan Queen dan Dhyrga menoleh ke arah sumber suara. Seketika netra iris birunya mendelik mendapati sosok Raka dan Harlan berdiri di sana.
"Daddy!"
"Papah!"
"Om!" Keduanya bersamaan memanggil calon mertuanya masing-masing.
Dhyrga menegakkan berdirinya dan Queen membetulkan kembali gaunnya. "Maaf." Sepasang kekasih itu menundukkan wajahnya, tak nyaman pada para orang tua mereka.
Ingin nya hanya sebentar saja, cukup melepas rindu dengan kecupan singkat, tapi tak bisa karena kegiatan ini terlalu candu.
"Satu bulan lagi kalian menikah, masih belum juga mau sabar? Dosa yang Daddy cetak secara mandiri sudah terlalu banyak, sekarang kalian menambahnya lagi!" Raka menggeleng ringan menatap keduanya bergantian.
"Maaf Om Dhyrga kelepasan barusan."
"Maaf Daddy Queen juga kelepasan."
Harlan menepuk punggung calon besannya tak nyaman. "Maafkan Dhyrga Ka, putraku sudah mengecewakan mu." Lirihnya.
Raut Raka mendingin, yang mana membuat Harlan, Queen, terutama Dhyrga takut akan keputusan yang mungkin tercetus dari bibir lelaki arogan itu.
"Maaf Om."
Raka berdecak sinis. "Kalian tidak bisa di percaya!" Pria itu melangkah pergi seraya berkata pada Ryan. "Panggil penghulu saja! Atau dosa ku semakin banyak karena ulah mereka!"
"Khaaaa?" Dhyrga dan Queen melotot sambil menutup mulutnya terkejut. "Penghulu?" Jadi kawin ini, eh nikah dulu.