
"Radit, putra?" Sashi nama perempuan cantik itu. Ia tersentak mendengar pernyataan gadis asing yang berdiri di sisi ranjang putra semata Alfaro nya.
Radit menoleh kejut. "Ma." Detak jantung lebih cepat. Sekarang ibunya tahu bahwa dirinya telah memiliki seorang putra seperti yang Rinda sampaikan barusan.
Sashi melangkah maju, ia geram memukuli pundak putranya. "Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu sangat keterlaluan Radit! Apa begini cara ku mendidik mu? Kamu menghamili anak gadis orang! Hiks!"
Semua orang terdiam, hanya Alfaro yang berani melerai mereka. "Sudah Ma! Radit kita masih sakit, kamu mau mematahkan tulangnya? Dia putra satu-satunya kita!" Pekiknya.
"Biar saja! Dia sudah kurang ajar!" Sashi terisak. Seorang ibu yang kecewa pada kelakuan nakal putranya.
Alfaro beralih pada putranya. "Kamu lagi, kegilaan macam apa ini hah?"
Radit meringis, menahan sakit di bagian pundaknya. Terlebih, kaki Radit masih belum bisa banyak bergerak. Ada keretakan serius.
Anton, Karan, dan Rinda hanya terdiam menyimak.
"Bisa-bisanya kamu berbuat tapi tidak tanggung jawab, kamu mau Mama dapat kutukan!"
"Radit beneran nggak tahu Ma, sumpah! Killa pergi dari Radit tanpa bilang apa pun."
Kembali Radit mengingat, bagaimana Killa menjauhinya tepat dua bulan setelah kejadian dalam bis itu.
Banyak pesan teks yang Radit kirim, tak satupun balasan dari Killa. Satu Minggu ini, Killa benar-benar menghilang bag ditelan bumi.
Kilas balik....
Tepatnya di bandara internasional, saat Radit mengantar Abangnya, tanpa sengaja Radit menjumpai Killa duduk termenung di salah satu kursi tunggu.
Killa yang ceria seperti tak terlihat kembali, Killa menjadi orang asing baginya, ia murung tak bersemangat.
Seperti biasanya, Radit mengenakan pakaian kasual. Celana jeans panjang juga jaket bomber ala anak motor.
"Killa!" Radit menyeletuk, dan gadis itu mendongak. Nanar, Killa menatapnya. "Dit!"
"Lo ngapain di sini?" Koper di sisi Killa menjadi jawaban pertanyaan Radit. "Lo mau kuliah di luar negeri hah?"
"Iya." Killa mengangguk pelan. Tak kuasa tapi akhirnya mereka dipertemukan.
Radit menarik handel koper Killa untuk dibawanya, kemudian wanita itu menghalanginya. "Dit, biarin Gue pergi Dit! Gue mau berangkat ke California!"
Radit menoleh sinis. "California?" Pemuda itu tersenyum samar. "Lo bilang mau kuliah di Indonesia, bareng Gue! Lo ingkar?" Tukasnya.
"Gue minta maaf Dit, Lo tahu kan, turun temurun keluarga Gue harus ke California, sama kayak Bang Arnold, Gue juga harus, ...."
"Tapi hubungan kita gimana?" Potong Radit kembali. "Cuma gara-gara ini, Lo ngilang gitu aja! Gue chat Lo juga nggak ada yang di bales! Lo kenapa sih? Gue punya salah ke Lo? Semuanya kan bisa di omongin baik-baik!"
"Lupain hubungan kita Dit! Gue tahu Lo juga masih sayang sama cewek cengeng itu, hubungan diantara kita nggak akan pernah bisa lebih dari temen." Sergah Killa.
"Lo lupa, sama yang udah pernah kita lakuin selama beberapa Minggu ini hmm? Kita sering ngelakuin itu, Lo yakin ninggalin Gue!" Radit ketus.
Killa mengangguk. "Yakin, karena Gue yakin kemarin kita cuma lagi kesetanan aja, kita nggak saling cinta sebenernya, percaya deh, kita pasti bisa lalui hari-hari biasanya tanpa S e x."
Raditya terkekeh kesal. "Lo biasa lakuin itu sama siapa aja? Sampai Lo mudah banget buat pergi dari Gue?" Tudingnya.
Killa menggeleng cepat. "Sumpah Dit, cuma sama Lo Gue begitu! Tapi Gue yakin kita nggak saling sayang. We are just friends and will always be friends."
Radit tersenyum getir. "Brengsek Lo!" Lirihnya mencemooh.
"Sorry." Killa menyatukan kedua tangannya. Ia juga sangat menyayangi Raditya, tapi ini terlalu dini untuk dilanjutkan.
Brakkk.... Radit menendang koper besar milik Killa hingga terguling. "Pergi! Jangan sampai Gue denger lagi kabar Lo! Brengsek!" Setelah itu Radit berlalu dari hadapan Killa.
Dua bulan ia merasa mampu melupakan Kimmy, lalu dengan mudahnya Killa pergi begitu saja menggores luka baru.
Seperti yang Radit pesankan, Killa benar-benar menghilang tanpa sedikitpun kabar. Di lain sisi, Andrews masih sering mencari huru-hara dengannya.
Kilas balik selesai.
Alfaro menatap Rinda. "Sekarang kasih tahu kami, di mana cucu Om? Siapa namanya? Om mau lihat, ambil darah Om sebanyak banyaknya, Om bersedia, Om juga akan bantu anak itu sampai tuntas pengobatannya." Ujarnya antusias.
Rinda tersenyum. "Terima kasih Om." Katanya. Ia bahkan mencium khidmat tangan kedua orang tua Radit secara bergantian. "Terima kasih Tante. Rinda ucapkan terima kasih."
"Iya Nak." Sahut Sashi.
Raditya memejamkan mata. "Apa lagi ini Tuhan, kenapa seperti tak ada habisnya masalah hidup Gue!" Lirihnya.
...🎀🎀🎀...
Pagi pun berlalu, embun yang menyejukkan telah terkikis oleh keangkuhan sang matahari.
Lalu, Raja tertidur setelah menghujam nya selama kurang lebih satu setengah jam.
Sakit di area bawahnya, tak seberapa jika dibandingkan dengan rasa nikmat yang Raja berikan padanya.
Mulai dari ranjang, pindah ke sofa, lalu ke meja rias. Raja tidur setelah puas. "Dasar Raja messum!" Rutuk nya.
Kimmy harus mandi, masih banyak hal yang perlu ia lakukan setelah ini. Pelan-pelan Kimmy mencoba menyingkirkan tangan yang membelenggu dadanya. Namun, suara berat Raja terdengar protes.
"Mau kemana hmm?"
Kimmy mendengus, apa begini tidurnya orang genius? Ia bahkan bisa merasakan secuil pun pergerakan. "Mandi, Kimmy mau mandi, Kimmy nggak suka lengket. Kimmy gerah."
"Sebentar lagi. Raja masih ngantuk." Raja tekan perut Kimmy kembali hingga melekat padanya lagi.
"Iya, makanya Raja bobok aja! Kan Kimmy yang mau mandi!" Ketus Kimmy.
"Tapi Raja mau ikut mandi juga nanti."
Kimmy berdecak. "Jangan lebay deh, bukannya mandi, nanti malah ngelakuin yang lain lagi! Kimmy capek! Kimmy juga mau makan, Kimmy laper."
"Hehe." Tergelak kecil pemuda itu seraya mengendus aroma damai dari puncak kepala istrinya. "Sayang ku lapar? Maaf, lupa ngasih makan."
"Suami apaan begitu, biarin istrinya kelaparan." Rutuk Kimmy kesempatan.
Raja melepas pelukannya setelah mengecup pipi wanita itu. "Mandi gih, aku pesan makan."
"Hmm." Kimmy bangkit, ada yang masih terasa nyeri saat bergerak. Sepertinya, lebam dan lecet. Tapi, ini pasti dirasakan oleh setiap wanita. Kimmy berusaha tak lagi manja.
"Jangan di kunci." Seruan Raja yang membuat Kimmy berkerut kening. "Ngapain?"
"Raja juga mau mandi."
"Ya!" Manyun nya Kimmy membuat Raja terkekeh. Kimmy berlalu ke kamar mandi. Sementara Raja berusaha melek sempurna dengan mengusap wajahnya sesekali.
Raja bangkit. Tanpa sengaja matanya menangkap sekelumit noda merah legam yang tercecer di sprei putihnya.
Senyum manis terbit seketika itu juga, noda ini menjadi bukti bahwasanya pagi tadi Kimmy Zoya melepas perawan untuknya.
"Aaa! Hiks hiks! Sakit!" Suara dari dalam kamar mandi membuat Raja membulat matanya.
"Kenapa?" Berwajah cemas, Raja melangkah cepat, ia datangi kamar mandi.
Rupanya Kimmy tengah menangis di atas toilet. Handuk separuhnya tak mampu menutupi buah kembar Kimmy yang super.
Kimmy selalu terlihat lucu di mata Raja, bahkan dalam keadaan apa pun.
"Hiks, sakit."
Raja mendekat. "Apanya?"
"Anunya! Apanya lagi!" Saking perihnya, Kimmy tak kuasa untuk tidak memekik.
"Lecet?" Raja berjongkok tepat di depan istri cengengnya.
"Iya, perih pipisnya! Ini gara-gara Raja!" Pundak Raja Kimmy pukuli pelan.
"Bukannya tadi pagi Kimmy bilang nggak sakit?"
"Tapi sekarang sakit, gimana sih! Kenapa malah nyalahin Kimmy!"
"Berarti mau lagi mungkin."
"Haaaaah?" Kimmy mengernyit, suaminya ini benar-benar menakjubkan, ia sendiri tak percaya Raja mengatakan hal itu.
"Mau lagi Raja bilang?" Kimmy melotot.
"Di bathtub kan kita belum mencobanya Yank, lagian, itu sakit karena Kimmy terlalu sempit, makanya kurangi main sepedanya dan sering-sering main itunya."
"Dih!"
Raja tergelak mendapati wajah aneh istri manisnya. "Kita jadi ke Jepang kan?"
"Enggak!"
"Ayolah, masa gitu aja nyerah? Katanya mau makan romantis di bawah gugurnya bunga sakura hmm?"