
"Queen, ..." Jee Yeon memudar raut bahagianya tatkala sang mantan berdiri sendu di hadapannya. Ada air mata yang berlinangan di pipi mulus gadis itu.
"Queen? Ada apa?" Jee Yeon mendekat perlahan menggamit sebuah rasa penasaran, dan tangis Queen pecah seketika itu juga.
"Ada apa?" Jee Yeon meraih lengan mantan kekasihnya. Menunduk, berusaha menatap wajah Queen yang menangis.
Queen seka buliran air itu singkat hingga tak bersisa kelicak nya.
"Queen Jee Yeon!" Secara mendadak para wartawan datang mengerumuni sepasang mantan kekasih itu. Sejumlah pertanyaan berbahasa Korea pun mengudara.
"Jee Yeon, Queen, apa benar kalian berpacaran?" Tiba-tiba saja banyak mic tersuguh di hadapan mulut mereka.
Jee Yeon dan Queen terkesiap saat mengedar pandangan, mereka lupa akan status publik figurnya hingga dengan cerobohnya mereka muncul di muka umum tanpa penutup wajah dan pengawasan manager ataupun asisten.
"Jee Yeon, tolong ceritakan pada kami, apa hubungan kalian?" Dengan bahasa Korea campuran Inggris mereka bertanya.
"Queen, apa setelah ini kalian akan meresmikan hubungan dan menikah?" Beberapa beralih pada Queen.
Lobby bangunan di penuhi orang-orang paparazi yang menguntit dokumentasi mereka berdua menggunakan kamera dan alat perekam lainnya.
"Kami, ..." Baru saja Jee Yeon berucap, Queen sudah lebih dulu menjawabnya lugas. "Kami hanya teman, dan selamanya akan seperti itu."
Ada seseorang di sudut tempat yang tersenyum manis menatapnya. Dhyrga Miller, tentu saja pria itu masih berada di lingkungan apartemen ini.
Sengaja Rachel dan Dhyrga menyaksikan dari kejauhan setelah menyadari ada Jee Yeon dalam gedung ini.
"Tapi kenapa Anda sampai mendatangi tempat Jee Yeon?" Satu wartawan mendesak kembali.
"Kami pernah menjalin hubungan, tapi itu dulu, dua tahun lalu, kedatangan ku ke sini hanya untuk adik dan ayah angkat ku. Ji Hyun Ki dan Ji Min Joon pemilik JM company." Jelas Queen.
Tak mau Queen menyakiti hati Dhyrga yang mungkin akan menyaksikan berita ini suatu saat nanti. Komitmen bukan hanya ucapan tapi juga pelaksanaan.
"Jadi Anda ke sini bukan untuk Jee Yeon?"
Queen menggeleng. "Bukan, di Indonesia Queen sudah punya kekasih, dan mungkin sebentar lagi kami akan menikah." Jawabnya lagi.
Jee Yeon menatap Queen. "Benar begitu?" Tanyanya. Berita ini baru Jee Yeon dengar secara langsung dari bibir Queen.
Queen menoleh. "Yah, bukankah kita teman Jee Yeon? Kita hanya teman biasa, kita masih berteman seperti kemarin." Ujarnya.
Setelah cukup lama bergeming. Jee Yeon mengangguk. "Yah, kita hanya teman biasa." Sambung nya mengakui. "Semoga bahagia bersama kekasih mu."
Ada senyum kesakitan yang dia tampilkan, tapi Jee Yeon paham benar bahwa cinta tak harus memiliki, perasaan seseorang tak bisa dipaksakan dan cinta bukan sesuatu yang perlu diperjuangkan seorang diri.
Sebab hal semacam itu terlalu menyakitkan!
"Sekarang sudah jelas kan? Kami hanya teman, Queen mohon maaf, Queen harus pulang, Queen punya urusan lain di rumah."
Berbahasa Korea Queen mengatakan itu sebelum kemudian ia menerobos keluar dari kerumunan orang-orang.
Sulit, itulah makanya manager dan tim Jee Yeon yang baru saja tiba, ikut membantu kelancaran langkah Queen hingga keduanya bisa keluar dari gedung.
Queen memang tak datang bersama Ryan. Malam tadi Queen tergesa-gesa dan tidak mengingat Ryan saat berangkat.
Queen masuk ke dalam mobil merah mudanya, sedang Jee Yeon menatap Queen dari ambang pintu. "Kamu serius tidak mau kembali bersama ku Queen?"
"Oppa, tolong mengerti." Rengek Queen memelas.
Jee Yeon mengangguk sendu. "Apa pun akan aku berikan untuk mu Queen, termasuk rela melepas mu, aku hanya berharap cukup kenang saja, bahwa aku pernah sangat tulus mencintai mu." Ucapnya tulus.
Queen berkaca-kaca mendengarnya, biar bagaimana pun, Jee Yeon orang yang sangat baik. Terlebih, pemuda itu pacar pertamanya.
"Bye Oppa." Senyum Queen begitu impresif.
Termenung Jee Yeon menatap wajah cantik Queen yang tenggelam seiring dengan tertutupnya pintu mobil.
Terkadang, hal terbaik yang bisa manusia lakukan untuk tercintanya adalah melepaskan, membebaskan, mendoakan.
Suatu saat Jee Yeon akan paham bahwa merelakan sebuah memori adalah awal kebahagiaan yang dirinya nanti. "Salanghae Queen." Ucapnya lirih.
...🎀🎀🎀...
"Huaaaa!" Dalam mobil, Queen melepaskan tangisannya, meraung sekeras-kerasnya, menumpahkan kekesalan dan kesakitan yang dia rasakan.
Pedih rasanya, saat seseorang yang sangat amat Queen sayangi melecehkan sebuah ikatan dalam hubungan. Joon berhasil melukainya.
Kriiiiiing....
Ponsel dari saku jaket Queen ambil, sedikit ia menekan tangisnya berusaha menjawab telepon dari sang kekasih tanpa suara seraknya.
"Hmm."
📞 "I love you."
"Hiks, ..." Tak tahan rasanya jika tidak meluah kan unek-uneknya, Queen terisak sesenggukan, yang mana membuat orang di seberang sana iba.
📞 "Turun dari mobil mu, aku dan Rachel ada di belakang."
"Hah?" Secara cepat Queen menoleh ke belakang, mengamati mobil yang melaju membuntutinya. "Dhyrga." Dia bahkan tak menyangka akan ada Dhyrga di saat ia membutuhkannya.
📞 "Aku di sini untuk mu."
Segera Queen menoleh ke depan dan menepuk bahu pak sopir cepat. "Berhenti di sini Pak! Queen mau turun!" Pintanya.
"Baik Nona." Sopir itu menepi lalu memberhentikan mobilnya. Gegas Queen keluar setelah pintu tergeser.
Queen berlari terisak menuju mobil di belakangnya, di depan sana Dhyrga Miller berdiri tegak dengan merentangkan kedua tangan yang menawarkan dekapan hangat perlindungan.
"Hiks."
Terurai air mata Queen membasahi kaos t-shirt milik kekasihnya. Bahkan long coat coklat susu yang Dhyrga pakai bisa menyembunyikan tubuh mungil Queen.
Dhyrga elus kepala gadis itu lembut. "Jangan bertindak sendiri lagi, aku di sini untuk mu." Katanya, ada senyum kecil yang terbit, mengulas keindahan di bibir bahagianya.
Tak sia-sia Dhyrga menyusul Queen sampai ke negeri ini. Beberapa saat yang lalu, Dhyrga mendengar sendiri ketulusan hati Queen.
Di depan awak media Queen menampik hubungannya bersama Jee Yeon, bahkan menyatakan bahwa dirinya telah memiliki kekasih. Dhyrga yakin, Queen tulus dan setia padanya.
"Bawa Queen pulang." Pinta Queen.
"Emmh." Dhyrga mengangguk lalu melerai pelukannya. Pria itu menunduk, mengusap linangan air mata dipipi kekasihnya. "Maaf aku mengikuti mu, maaf aku sempat ragu padamu. Maafkan aku Baby."
Menatap dalam-dalam wajah Dhyrga, gadis itu tersenyum nanar. Jadi begini rasanya jika di ikuti laki-laki yang sangat dia cintai. Sekarang Queen paham bagaimana rasanya Krystal saat Raka mencarinya kemanapun.
Rupanya perjuangan dari seseorang yang kita cintai teramat menyentuh relung hati. Seolah apa pun rela ia lakukan demi tetap bisa hidup bersama.
"Bernapas lah untuk kelangsungan hidup ku, tersenyum lah demi kebahagiaan ku, dan bahagia lah karena aku akan tetap hidup dengan kabar itu. Takkan aku biarkan setitik pun luka tergores di bilahan hati lembut mu, aku menyayangimu Queen."
Kembali Queen memeluk Dhyrga gemetar, sejatinya gadis itu masih shock atas perasaan cinta Joon. Tapi setidaknya mulai saat ini, akan ada bahu yang menjadi tempatnya bersandar, dan akan ada belaian lembut yang menentramkan jiwanya, akan ada kedamaian yang Dhyrga berikan untuknya.